
"Rem, aku berangkat dulu ya? Kamu kapan bangun? Bangun dong! Ntar ngga ada yang nemenin aku makan siomay lagi," ucapku lirih sembari mengusap air mata.
Di depanku sosok Remi masih terbaring kaku. Hanya dari keberadaan alat-alat di sampingnya-lah satu-satunya penanda jika ia masih hidup.
Aku bangkit dan merenggangkan badanku sebentar sebelum berjalan ke arah pintu ruang ICU. Sudah dari pagi aku berada di sini setelah mendengar kabar jika Remi akan dioperasi. Rambutnya dicukur habis dan menyisakan luka memanjang yang ditutupi perban. Dokter berkata, walaupun masa kritis sudah lewat, namun kondisinya masih belum sadar dan belum stabil.
"Udah?" tanya Nyx dari arah kursi tunggu. Aku mengangguk dan berjalan pelan diikuti olehnya.
"Headphone dari Bang Win ngga dipake lagi?" tanyanya begitu kami sudah di dalam mobil.
"Ngga, aku nunggu suara Remi. Kali aja dia ngomong sesuatu. Tapi sejauh ini ngga," jawabku pelan.
Nyx hanya diam dan menekan pedal gas pelan. Sesuatu menyakiti hatiku dari dalam saat melihat sosok Remi di ICU. Sepanjang perjalanan dari rumah sakit ke Radio Rebel kami tempuh dalam keheningan.
***
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Inoxu hadir dari studio lantai dua Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Selama kurang lebih satu setengah jam ke depan, saya akan menemani para pendengar semua dengan kisah-kisah dari narasumber. Untuk pembuka, satu lagu permintaan Atik Rezekiani dari Armada dengan Penantian akan saya putarkan. Stay tuned terus dan jangan ke mana-mana."
Aku mematikan mic dan menoleh ke arah kursi yang biasa diduduki Remi. Selain aku, Gia juga melakukan hal yang sama. Merasa ada yang perih di dalam sini membuatku merebahkan kepala di atas meja dan kembali menangis hingga Gia datang menghampiri lalu memelukku erat. Kami berdua tenggelam dalam tangis tanpa suara, berusaha meringankan sedikit sakit di hati.
"Siap-siap lagi sana," ucap Gia lirih mengusap air matanya. Aku melakukan hal yang sama dan meraih botol air mineral. Semoga suara parauku tidak terlalu mengganggu jalannya siaran.
Di tengah lagu, aku memilih satu nomor telepon yang akan kuhubungi untuk menjadi narasumber malam ini. Moodku luar biasa buruk, sehingga selama beberapa menit, aku hanya menatap barisan nomor telepon di monitor tanpa menghubungi satupun narasumber.
"Xu, fokus oke? Aku tau kamu teh sedih, tapi ada tanggung jawab yang harus kita lakuin," kata Gia dari balik mejanya.
Saat aku tersadar dan memilih acak satu nomor yang tertera, sebuah panggilan masuk. Aku mengangkatnya dan meminta seseorang di ujung sana untuk menunggu karena ia berkata jika ingin menjadi narasumber.
"Selamat datang saya ucapkan pada para pendengar yang baru saja bergabung. Satu lagu yang sudah saya putarkan dari Armada semoga bisa menemani istirahat malam para pendengar semua. Di ujung sambungan sudah ada narasumber kita yang akan berbagi kisah. Halo, dengan siapa di mana?"
"Halo, Xu. Ini Teh Raylen. Teteh nelpon pake nomor sepupu. Ponsel Teteh kehabisan daya."
__ADS_1
Tenggorokanku tercekat ketika menyadari siapa yang menelepon. Kakak Remi.
"Teh," ucapku parau.
"Ngga ada apa-apa, Xu. Teteh pengen aja sekali-kali nelpon ke program yang Remi pegang. Walaupun dia udah berkali-kali minta Teteh nelpon, di waktu Teteh bisa, dianya malah ngga di situ. Tolong biarin Teteh cerita ya, Xu? Teteh pengen ngelepas rasa sesak," balasnya.
"Iya Teh," jawabku sekuat tenaga. Gia sudah terlihat menangis di kursinya.
"Kami terlahir hanya dua bersaudara. Dari waktu Remi masih kecil, papa udah pergi selamanya ninggalin kami. Itu kenapa, mama mengambil alih semua tanggung jawab untuk menghidupi kami berdua. Walaupun pas-pasan dan dulu sering banget nahan lapar. Makin ke sini, kehidupan kami membaik seiring dengan diangkatnya mama dari seorang buruh pabrik menjadi mandor.
Di mata Teteh, Remi adalah adik yang ngga banyak tingkah. Selulusnya dari sekolah menengah atas, dia menolak buat kuliah karena ngga mau membebani Teteh yang waktu itu baru mulai kerja. Selepasnya sekolah, dia kerja serabutan di mana aja untuk dapet uang jajan sendiri dan akhirnya, dia bisa ikut kelas penyiar. Itu juga dia ngga membebani Teteh dan mama. Dia memakai uangnya sendiri untuk mendaftar hingga lulus, sampai takdir membawanya masuk ke Radio Rebel. Dia cerita, di Radio Rebel, dia diberi kesempatan untuk mempelajari bagian lain yang masih berkaitan dengan penyiaran, yaitu bagaimana cara menjadi music director sekaligus operator."
Keheningan yang tercipta membuatku yakin jika Teh Raylen sedang menangis.
"Selama bekerja di Radio Rebel, kami sering bertukar pakai motor. Kalau jam Teteh kerja, dia seringnya mengalah dengan berjalan kaki, padahal jarak dari rumah ke Radio Rebel cukup lumayan. Namun, sejak dia pegang program tengah malam, kami bisa lebih leluasa bergantian menggunakan motor karena Teteh pulang kerja di waktu sore.
Teteh sering nawarin dia untuk ngambil motor baru, dan dia selalu menolak. Katanya, kalau Teteh punya uang, tolong kasih aja ke mama sebagian, dan simpen sebagian lagi buat diri Teteh sendiri.
Kondisi Remi sekarang bikin Teteh luar biasa sedih. Adik yang selalu mengalah, ngga banyak nuntut, selalu pintar membawa diri, sekarang diam ngga berdaya di rumah sakit."
"Mohon doa terbaiknya untuk Remi ya, Xu? Kalau memang ini takdir Remi. Insya Allah Teteh iklas. Teteh ngga mau ngeberatin jalan dia. Teteh serahkan semuanya kepada pemilik asli Remi. Walaupun jelas, hidup ngga akan pernah lagi sama setelah kehilangan orang yang kita sayang. Paling gitu aja ya, Xu? Makasi banyak kamu dan Gia udah mau jadi sahabat Remi. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Aku menangis dalam perih dan tidak sanggup untuk melanjutkan siaran. Dengan tangan gemetar, tanganku langsung memutar lagu lalu kemudian mematikan mic. Gia kembali menghampiriku dan kami menghabiskan beberapa saat dalam tangis. Memang benar, keberadaan seseorang akan terasa berharga di saat orang tersebut tidak lagi bisa mendampingi kita.
Pintu studio terbuka dan menampilkan sosok Bang Win serta Kang Utep. Keduanya berjalan mendekat dalam diam.
"Begal yang nyelakain Remi udah ketangkep. Barusan polisi ngabarin," ucap Kang Utep pelan. Aku mengangkat wajahku seketika.
"Bang Win mau ke kantor polisi?" tanyaku.
Dengan ragu Bang Win mengangguk. "Aku ikut," tambahku.
__ADS_1
"Aku juga," timpal Gia.
Bang Win berpandangan dengan Kang Utep selama beberapa saat sebelum mengangguk. Pria itu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Nyx dan memberitahukan jika ia akan mengajakku ke kantor polisi.
Kami berempat menuju ke kantor polisi dalam keheningan yang mencekat. Ketika sampai, aku terkejut mendapati mobil Nyx sudah berada di tempat parkir. Pemandangan yang kulihat di dalam lebih mengejutkan lagi karena melihat Nyx sedang meninju seseorang. Beberapa petugas menahannya, namun tidak mampu menangani kekuatan Nyx yang entah dari mana. Di depannya, orang yang barusan ditinju Nyx hanya tersenyum mengejek.
"Itu kenapa, Pak?" tanyaku pada seorang petugas polisi.
"Itu neng, si aa itu tadi begitu masuk langsung nonjok begal yang baru ditangkep. Yang kasus pembegalan sekaligus penganiayaan, korbannya perempuan, masih koma di rumah sakit."
"Yang di jalan RRR?" tanyaku lagi.
"Betul."
Mendengar itu seketika emosiku naik ke level tertinggi. Dengan langkah lebar aku mendekati pria yang masih tersenyum mengejek ke arah Nyx dan menonjoknya tepat di mata. Tidak itu saja, aku berhasil mencengkeram rambutnya dan menarik sekuat tenaga. Semua yang ada di situ terlihat terkejut termasuk Bang Win dan Kang Utep yang berusaha menarikku menjauh. Saat Bang Win mengangkat tubuhku dari belakang, aku masih sempat melayangkan tendangan ke arah perut begal itu.
"Bisa tenang ngga?! Kalau ngga, saya kunci di sel semua nih!" seorang petugas yang kelihatan berpangkat membentak kami semua.
"Kunci aja, Pak! Asal serahin dulu orang itu biar saya gebukin," teriakku lantang. Bang Win yang kaget sontak menutup mulutku dengan telapak tangannya.
"Tolong tenang, Teh. Kekerasan ngga akan menyelesaikan apapun," sambung petugas tersebut. Aku hanya diam dan berhenti meronta. Nyx mendekat dan menarikku untuk duduk di salah satu kursi panjang.
"Harusnya tadi kamu tendang burungnya, biar sakitnya ngga nanggung," lirih Nyx yang membuat Bang Win, Gia dan Kang Utep terpana.
"Saya tadi emang ngabarin kalau pelaku pembegalan di jalan RRR udah ditangkap, tapi ngga nyangka kalau kalian semua dateng pada dini hari terus bikin keributan di sini. Proses hukum akan berjalan, dan pelaku akan ditahan di sini sampai berkas lengkap. Sekarang mending kalian pulang aja dulu. Tenangin diri dulu," ucap petugas polisi yang tadi mengancam ingin memasukkan kami semua ke dalam sel.
Dalam diam kami beranjak keluar setelah mengangguk pelan ke arah petugas tersebut. Saat tengah berjalan menuju tempat parkir, ponselku bergetar. Sebuah panggilan dari Teh Raylen masuk.
"Xu ...," panggilnya. Terdengar isakan di latar belakang ujung sambungan.
Aku diam dan menyimak.
__ADS_1
"Remi, Xu ...."
Dengan segera aku mematikan telepon dan meminta Nyx mengantarku ke rumah sakit.