
Aku berhenti melangkah mendekati bangunan stasiun radio ketika melihat Bang Win berjalan keluar dari sana. Entah kenapa, aku tidak siap bertemu dengan pria itu malam ini. Situasi canggung saat ia mengantarku pulang, masih bisa kuingat dengan jelas. Selama beberapa saat aku hanya berdiri di halaman dan menunduk memainkan dedaunan pohon mangga yang gugur dengan kakiku.
"Kamu nungguin saya?" sapa seseorang dari belakangku.
"Eh!" Dengan terkejut aku membalikkan badan dan menemukan Bang Win sudah berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana. "Ngga sih, Bang. Lagi mau nungguin Gia sama Remi," elakku.
"Gia sama Remi kan ngga dateng siaran. Pas nganterin kemarin malam, mereka udah bilang kan? Ngga akan masuk dulu karena shock ngeliat Adul kesurupan. Saya malah heran ngeliat kamu di sini. Mental kamu kuat juga untuk seorang yang penakut," ucapnya santai sembari berjalan pelan menuju pintu masuk.
Aku hanya diam dan merutuk dalam hati karena melupakan hal ini. Mau tidak mau aku berjalan mengekor Bang Win.
"Cie," senyum Teh Hani saat melihat kami masuk beriringan. "Akhirnya pecah telor juga ya, Bang Win?"
Aku menatap Teh Hani dengan pandangan bertanya-tanya sedangkan Bang Win langsung duduk di sofa.
"Ngga apa-apa siaran sendirian, Xu?" tanya Teh Hani ikut duduk di sofa.
"Ngga apa-apa, Teh. Paling pake timer buat playlist lagu."
"Semangat ya!" ucapnya lagi. Aku hanya mengangguk dan melangkah menuju tangga dengan ragu-ragu.
***
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung hadir kembali dengan Inoxu di sini. Selama satu setengah jam ke depan, kami akan berbagi kisah dari para narasumber yang sudah mengirim pesan berformat ke nomor whatsapp kami. Sebagai pembuka, satu tembang lawas dari Anie Carera dengan Cintaku Tak Terbatas Waktu permintaan Marjueli akan saya putarkan. Kalau dari permintaan lagunya, kayanya saya manggilnya Mak Mar aja kali ya. Buat Mak Mar dan pendengar lainnya, selamat mendengarkan dan jangan ke mana-mana."
Aku mematikan mic, melepas headphone dan melangkah menuju meja Remi untuk melihat monitor. Setelah memasukkan lagu yang akan ditayangkan di akhir siaran, aku kembali duduk ke mejaku sendiri dan memilih menghubungi narasumber. Keningku berkerut selama beberapa saat sebelum tersambung dengan narasumber. Sambungan telepon langsung diangkat bahkan sebelum nada sambung terdengar olehku. Setelah suara di ujung sambungan terdengar, aku memintanya untuk menunggu sebentar.
"Itulah Anie Carera dengan Cintaku Tak Terbatas Waktu. Mak Marjueli ini kayanya orangnya romantis deh, pada masanya, hehehe. Yak! Narasumber kita sudah hadir dan siap berbagi kisahnya. Halo? Dengan siapa di mana?"
__ADS_1
"Dengan Lena di Jalan Riau."
"Silakan Teh Lena, mau cerita apa nih?" tanyaku.
"Mau cerita tentang kisah cinta saya nih, Inoxu. Kisah cinta yang pada akhirnya harus berakhir walaupun cinta saya tak terbatas waktu."
"Wih keren," balasku. "Kaya lagu barusan ya Teh?"
"Kira-kira begitu."
"Mangga, Teh Lena," ucapku mempersilakan.
"Saya pendengar setia dari pertama kali Radio Rebel pertama kali mengudara. Waktu itu bertepatan dengan kepindahan saya ke kota Bandung untuk menuntut ilmu. Jadinya, di saat saya belum mempunyai teman, saya bisa mengisi waktu luang sebagai mahasiswa baru dengan mendengarkan radio. Waktu itu program favorit saya adalah Cerita Pendengar Rebel."
"Oh, yang dibawain sama Bang Win ya, Teh?" tanyaku.
Lagu dan salam yang saya kirim ngga pernah berubah tiap harinya. Dealova dari Once Mekel dan salamnya untuk seseorang yang terdengar dekat tapi jauh di sana."
"Romantis deh," celetukku.
"Iya, saya jatuh cinta pada seseorang karena suaranya."
"Terus gimana, Teh?"
"Saking seringnya menelepon, penyiar jadi hapal suara saya dan langsung tau lagu dan salam yang akan saya ucapkan sebelum saya bicara apa-apa. Udah jadi rutinitas setiap hari pokoknya. Walaupun sesibuk apapun, saya selalu berusaha menelepon dan minta diputarkan lagu serta mengirim salam.
Ke sininya saya memberanikan diri menjadi narasumber yang berbagi cerita. Cerita saya seputar kehidupan sehari-hari sebagai pendatang dan keinginan bertemu dengan seseorang yang menurut saya waktu itu ngga terjangkau. Tapi penyiar yang membawakan program itu selalu menyemangati saya. Penyiar itu tau kalau di kota ini saya hidup seorang diri dan bahkan menawarkan untuk main ke stasiun radio untuk sekedar mengobrol. Pada akhirnya saya bertemu dengan penyiar yang membawakan Cerita Pendengar Rebel.
__ADS_1
Seringnya bertemu membuat kami berdua dekat dan ngga bisa menghindar dari yang namanya sayang. Kami jadian dan itu merupakan salah satu momen yang paling indah selama saya hidup."
"Bentar-bentar, Teh Lena ini pacarnya Bang Win ya?" potongku cepat.
"Hahaha, udah ngga! Sejak terakhir kali saya pergi menemui dia untuk ngasih kue ulang tahun."
Deg! Otakku berputar dan mengingat kejadian di mana Bang Win menjadi narasumber di Kisah Tengah Malam. Lidahku kelu dan aku tidak bisa menggerakkan badanku. Selama sesaat aku merutuki kebo*dohanku yang tidak langsung menyadari cerita narasumber dari awal.
"Sejak kecelakaan itu, saya ngga bisa lagi ketemu dengan Win walaupun sesekali saya masih suka memperhatikannya dari jauh." Seolah tau jika aku sudah menyadari siapa dirinya, Teh Lena langsung menuju ke inti cerita.
"Seandainya sore itu saya ngga keras kepala dan nekat mengantar kue ke studio, mungkin ceritanya akan berbeda. Saya sedih harus meninggalkan Win terpuruk sekian lama. Saya hancur menyaksikan ia menangisi kepergian saya. Saya marah dan sempat menuntut takdir karena jalan yang harus saya lalui. Saya lelah harus terikat di sini karena rasa sayang yang sangat besar.
Dan pada akhirnya, saya bahagia ketika tau jika Win sudah mulai membuka hati untuk orang lain dan berhenti menyalahkan diri sendiri atas apa yang menimpa saya."
Rasa takut yang sempat menghampiri, hilang entah kemana digantikan dengan rasa sedih yang teramat sangat. Dengan pelan aku menaikkan kakiku ke atas kursi dan membenamkan kepala diantara dua lutut.
"Saya titip Win ya ..." Suara Teh Lena terdengar lirih untuk kemudian menghilang.
Aku tersedu-sedu dan tenggelam dalam tangis.
***
"Kenapa?" tanya Bang Win yang baru saja masuk ke studio. Aku merasa bahuku disentuh pelan.
"Kenapa ngga siaran? Saya nungguin tapi kamu ngga juga mulai sampai jam segini."
Aku mengangkat kepalaku dan memberinya tatapan tidak mengerti. Seolah disadarkan, mataku beralih ke monitor dan seketika terkejut mendapati mic tidak menyala dan menemukan rekaman program siaran yang kosong. Rekaman suara Teh Lena yang seharusnya terlihat grafiknya di monitor pun tidak ada sama sekali. Secara teknis, aku tidak melakukan siaran apapun.
__ADS_1
"Pulang aja. Saya anter," ucap Bang Win. Aku mengangguk mengiyakan dan meraih tas. Ketika akan melangkah keluar studio, tanpa kata Bang Win menggenggam tanganku erat dan tidak melepasnya sama sekali sebelum kami sampai di tempat mobilnya diparkir.