Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 68


__ADS_3

[Saya masih di luar sama Kang Saija dan Utep, ngga jauh dari Radio Rebel. Kalau udah beres siaran, telpon aja ya?]


Pesan Bang Win kuterima saat aku baru saja datang di Radio Rebel. Bermaksud untuk duduk di sofa, keningku berkerut karena melihat beberapa bagian sofa basah. Pada akhirnya, aku duduk di kursi resepsionis dan membalas pesan Bang Win.


[Iya. Nanti aku telpon]


"Huaaaa!"


"Mama!" teriakku kencang dan menatap sosok yang barusan berteriak terlebih dahulu. "Hih, Mumu! Ngaagetin aja sih! Saya sampe lemes ini gara-gara kaget!"


Mumu terlihat terkejut sebelum raut mukanya berubah panik. "Duh, Teh Ino maaf! Mumu ngga tau kalau Teteh lagi duduk di situ. Soalnya biasanya kan duduk di sofa."


"Sofanya basah tuh. Siapa sih yang duduk di situ abis ujan-ujanan? Jadi basah kan," ucapku seraya menunjuk bagian sofa yang basah dengan daguku.


"Teh, kan seharian ini ngga ujan. Tadi pas Mumu liat sebelum Teteh dateng, ngga basah kok," jawab Mumu seraya berjalan menghampiri.


"Kok bisa basah ya? Apa ada yang bocor di atas?" tanyaku lirih.


"Bocor apaan ih Teteh? Kan kata Mumu juga ngga ujan," timpalnya.


Aku termenung sejenak dalam diam.


"Tadi Mumu juga teriak karena ngeliat bukan Teh Ino yang duduk di sini."


"Emang liatnya siapa? Dari tadi saya udah duduk di sini loh," sahutku.


"Mumu ngeliatnya teteh rambut pendek pake kacamata dan jaket merah basah yang waktu itu," bisiknya hingga nyaris tidak terdengar.


Deg! 'Teh Nday!' batinku seketika.


"Salah liat kayanya kamu mah, Mu," ucapku pada akhirnya.


"Iya kayanya ya? Ya udah deh, Mumu mau ke luar dulu ya Teh, nyari makan," balasnya sebelum berjalan keluar.


Aku melihat ke sekeliling tempatku duduk dan memasang telinga tajam jika ada suara-suara yang akan terdengar. Nihil! Tidak ada apapun.


"Woi, Xu! Celingak-celinguk mulu," sapa Gia yang baru saja masuk. "Adul ijin ngga siaran, mau nganterin Emak ke dokter."


"Emak sakit apa?" tanyaku menatap Gia.

__ADS_1


"Masup angin kayanya. Eh ngapain duduk di situ sih, Xu? Sini di sofa aja," ajak Gia yang sudah lebih dulu duduk.


"Basah tuh, ngga liat?"


"Eh iya, kenapa nih basah?" tanya Gia sembari menepuk bagian belakang celananya.


"Ngga tau," balasku pendek. "Aku tidak berniat menceritakan apapun pada Gia karena khawatir ia ketakutan.


***


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inoxu hadir dari studio lantai dua Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung menyapa seluruh pendengar setia di mana pun berada. Akhir-akhir ini hujan deras dan angin kencang sering menerpa Bandung ya? Untuk semua pendengar, diusahakan untuk selalu sedia payung atau jas hujan jika akan beraktifitas di luar ruangan. Jangan lupa juga, menjaga asupan bergizi serta istirahat yang cukup agar tidak gampang jatuh sakit. Satu lagu permintaan Rosma Lana dari Wali dengan Baik-Baik Sayang akan menjadi awal kisah kali ini. Stay tuned terus dan jangan ke mana-mana."


Aku mematikan mic dan langsung menghubungi narasumber untuk malam ini. Setelah tersambung, aku memintanya untuk menunggu sejenak.


"Itulah dia Wali, dengan Baik-Baik Sayang. Dan di ujung saluran, kita sudah terhubung dengan narasumber kita. Halo, dengan siapa di mana?"


"Malam Teh Inoxu, ini dengan Agus di Ciganitri."


"Malam Kang Agus, ada cerita apa nih?"


"Mau cerita pengalaman saya waktu ketemu temen kerja almarhum papa saya, Teh."


"Saya dapet tugas untuk mengunjungi rumah salah satu konsumen kantor tempat saya bekerja. Waktu sampai di rumah beliau, sebut saja bapak A, beliau kaget karena katanya saya mirip dengan salah satu temannya di kantor. Mulailah kita ngobrol dan ternyata, beliau teman sekantor papa saya dulu, Teh."


"Wah kebetulan banget ya, Kang?" responku.


"Iya Teh, jadinya begitu urusan kantor udah beres, saya ngga langsung pulang, malah lanjut ngobrol sama bapak A ini. Bapak A cerita, kalau di taun 2011, beliau sempat menelepon ke rumah saya dan kebetulan diangkat langsung oleh papa. Cuma katanya, waktu itu beliau ngerasa aneh karena papa saya ngomongnya ngelantur dan lebih banyak ngga nyambungnya. Karena disangka papa saya lagi sakit, bapak A memutus sambungan.


Saya waktu itu kaget banget dan langsung bilang ke beliau kalau papa saya udah meninggal di awal tahun 2010. Selain itu, di akhir tahun yang sama, telepon rumah sengaja kami minta untuk diputus karena lagi renovasi rumah bagian depan."


"Nah loh, siapa yang ngangkat telepon dong, Kang?" Aku bertanya dengan perasaan yang mulai was-was.


"Ngga tau, Teh. Bapak A ini bilang, setelah dia nelpon ke rumah dan ngobrol sama papa saya, beliau ketemu sama temennya, sebut aja bapak B. Bapak A cerita semua ke bapak B dan bapak B bilang kalau papa saya bener udah meninggal di tahun 2010, karena bapak B ini sempat melayat ke rumah.


Bapak A cerita ke saya kalau dia kaget banget waktu denger berita itu, padahal jelas-jelas dia kenal kalau suara yang ngangkat telepon itu suara papa saya. Ya 'kan ngga mungkin aja gitu, Teh. Orang yang udah meninggal agak lama bisa ngangkat telepon yang pada waktu itu malah udah diputus."


"Iya bener, ngga mungkin kayanya. Tapi kalau denger cerita bapak A, rasanya ngga mungkin juga kan kalau beliau ngada-ngada?" ucapku.


"Iya Teh. Makanya saya pikir, ya udahlah. Mungkin bener bapak A ngobrol sama papa saya, saya ngga mau musingin, nanti malah parno tinggal di rumah sendiri," balas Kang Agus.

__ADS_1


"Emang serem rumahnya, Kang?"


"Dibilang serem sih ngga juga, ya namanya rumah, 'kan ada yang kaya gitu-gitu dan kami sering banget nemuin hal-hal janggal, tapi ngga pernah diambil pusing. Biasa aja gitu, Teh," jawab Kang Agus.


"Iya sih bener, pusing sendiri nanti. Terus lanjutannya gimana, Kang Agus?"


"Oia, pas waktu papa saya meninggal, kebetulan juga, anak saya yang sakit diijinin pulang dari rumah sakit, Teh. Jadinya istri saya sama mertua saya ngga bisa ikut nganter jenazah ke kampung karena nungguin anak saya itu. Sepulangnya dari kampung, saya ketemu sama tetangga deket rumah yang bilang kalau di malam kami semua pergi untuk mengantar jenazah papa saya, anak saya kedengeran nangis. Tetangga ini bilang, mungkin karena masih ngga enak badan dan juga karena gelap, anak saya nangis terus. Oh iya, pas papa meninggal bertepatan dengan hari raya Nyepi dan kami sekeluarga memperingatinya, jadi di rumah emang gelap gulita."


"Tapi anaknya ngga kenapa-kenapa Kang?"


"Jelas ngga kenapa-kenapa, Teh. Karena waktu saya cerita ke istri saya, istri saya bilang, seperginya kami ke kampung buat nganter jenazah papa, anak kami tidur pulas banget sampai pagi," jawab Kang Agus.


"Lah, terus itu yang nangis siapa, Kang?"


"Hehehe. Ngga tau, Teh. Di rumah papa emang banyak kejadian yang kadang ngga masuk akal, kaya barang ilang sendiri, nanti tau-tau muncul lagi. Ya gitu-gitulah. Tapi sejauh ini ngga sampe ngeganggu yang parah. Makanya sampai sekarang, kami nyaman aja tinggal di situ," jelas Kang Agus. "Pernah juga, pas papa udah meninggal, anak saya bilang ke saya pas banget waktu magrib kalau ada kakek. Waktu itu emang kecium wangi khas papa saya."


"Wooh, anak kecil masih bisa liat yang kaya gitu kali ya, Kang?"


"Bisa jadi, Teh. Saya mah ngga mau mikirin, takut parno. Hahaha! Ya paling itu aja cerita dari saya Teh. Makasi udah dibolehin berbagi cerita," sambung Kang Agus.


"Sama-sama ya, Kang. Makasi udah mau cerita, salam buat keluarga," balasku sebelum mematikan sambungan.


"Itulah tadi cerita Kang Agus dari Ciganitri. Berakhirnya cerita dari Kang Agus pertanda berakhirnya juga Kisah Tengah Malam kali ini. Satu lagu permintaan Zaenab Luxfiaty AS dari Peterpan dengan Menghapus Jejakmu akan menjadi penutup kisah kali ini. Inoxu dan tim mohon pamit, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic dan langsung mengecek ponselku. Tidak adanya balasan dari Bang Win pertanda jika ia masih berada di luar.


"Hayu pulang, Xu! Grab aku udah di depan," ajak Gia yang membuatku melepas headphone dan membereskan barangku ke dalam tas. Tidak lupa juga aku memakai headphone yang diberikan Bang Win.


Tepat ketika aku baru saja duduk dan Gia sudah pulang, aku teringat jika belum menelepon Bang Win. Karena terburu-buru melepas headphone yang kupakai, tanganku salah menekan nomor panggilan cepat dan malah tersambung ke nomor ponsel milik orang lain.


Telingaku menangkap samar suara musik yang berasal dari belakang. Karena penasaran, aku melangkah menuju ke sana sembari mendengarkan tajam. Saat melihat ke arah ponselku, keningku berkerut cepat.


"𝙋𝙚𝙧𝙜𝙞! 𝘼𝙙𝙖 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖!"


Suara lirih itu terdengar sangat dekat di telingaku dan seketika membuatku kaget. Namun, rasa penasaran yang semakin meninggi, membuatku kembali melangkahkan kaki ke belakang.


Bug!


Baru beberapa langkah, terdengar suara kencang di telingaku yang disusul dengan rasa pusing tidak tertahankan sehingga penglihatanku gelap seketika.

__ADS_1


__ADS_2