
"Ayo cepetan masuk!" sentak Gia berusaha menarikku yang bersembunyi di belakang punggungnya.
"Ngga ah, Gia aja sama Remi aja duluan," sahutku lirih.
"Euh ini anak! Makanya dibilangin jangan sompral, malah ga denger. Sekali lagi ngomong ngawur kaya kemaren, aku tapok itu mulut!" Gia berkata ketus.
"Iya maaf-maaf, ngga gitu lagi," jawabku merasa bersalah.
"Woyadong-woyadong! Giliran zonk aja, lari paling kenceng," sindir Remi.
Aku hanya nyengir menatap keduanya bergantian.
"Buruan masuk!" ajak Gia lagi.
"Iya-iya, hayu atuh barengan," pintaku lirih.
Setelah semprotan kalimat yang dilontarkan keduanya selesai, mereka menarikku untuk masuk ke studio siaran.
"Tapi aku takut, nanti kakiku dipegang lagi."
"Aku temenin! Aku temenin duduk di meja kamu. Terus nanti pas duduk, kakinya angkat aja ke atas kursi, jadi yang mau megang kaki kamu zonk," balas Gia.
"Oh iya ya? Boleh deh, hayu."
Dengan perlahan aku menuju ke meja kerjaku disusul Gia yang menarik kursinya ke sini. Aku melepas sepatu dan duduk dengan melipat kakiku di kursi. Setelahnya, memantau monitor, mengecek mic dan headphone adalah hal-hal yang wajib dilakukan sebelum siaran.
"Standby, Xu!" seru Remi. "3, 2, 1, on air!"
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat berjumpa lagi dengan saya Inoxu dari lantai dua studio Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Di malam yang lagi-lagi gerimis ini, saya kembali dengan berbagai kisah, ya walaupun banyaknya kisah horor ya? Satu lagu dari Laluna dengan Lara hati, request dari Lena Black Maesans akan mengawali kisah kita pada malam hari ini. Stay tuned dan jangan ke mana-mana."
Aku memilih narasumber yang sudah mengirimkan pesan berformat di monitor dan menghubunginya secepat mungkin setelah mematikan mic. Keningku berkerut ketika mendengar suara di ujung sambungan. Setelah menunggunya selama beberapa saat, aku kembali fokus mendengarkan lagu hingga selesai.
"Selamat datang saya ucapkan untuk pendengar yang baru bergabung. Sayang sekali anda-anda semua ngga sempet denger lagunya Laluna. Kalau denger lagu ini tuh ya ngga tau kenapa nyes banget gitu. Ah sudahlah. Di ujung sambungan telepon sudah ada narasumber kita untuk malam hari ini. Silakan, dari siapa dan di mana?"
"Malam Neng, ini dengan Abah di Cijagra." Suara berat yang terdengar dari ujung sambungan menandakan pemiliknya sudah berusia lanjut.
"Malam Abah, mau berbagi cerita apa?" tanyaku.
"Mau berbagi tentang kisah hidup Abah, Neng Inoxu."
__ADS_1
"Mangga, silakan Abah."
"Abah berasal dari pelosok kampung di Garut. Datang ke kota Bandung untuk bekerja selepas lulus sekolah. Di usia Abah yang masih muda, Abah berhasil masuk kerja menjadi buruh di salah satu pabrik tekstil.
Satu tahun bekerja, Abah kembali ke kampung untuk melamar seorang gadis. Gadis ini adalah teman mengaji Abah. Namanya juga di kampung ya, Neng? Pernikahan banyak terjadi di usia muda.
"Abah menikah jadinya?" tanyaku.
"Iya Neng. Setelah punya pekerjaan, Abah memberanikan diri untuk melamar gadis yang Abah cintai. Singkat kata, kami menikah dan Abah membawanya ke kota.
Walaupun kekurangan, kehidupan kami bisa dibilang bahagia. Kami tinggal di kontrakan petak dan membaur dengan lingkungan sekitar. Udah ngga terhitung seberapa sering kami berpuasa karena ngga adanya makanan untuk di makan. Biaya hidup di kota yang tinggi membuat penghasilan Abah pas-pasan untuk hidup sehari-hari. Tapi ya namanya rejeki, perhitungan manusia berbeda jauh dengan perhitungan Allah. Walaupun pusing masalah keuangan tapi kami selalu bisa melewatinya.
Istri Abah, Ambu, adalah wanita yang sangat-sangat lembut. Ngga pernah sekalipun dia protes atau terlihat kesal dengan kehidupan yang kami jalani. Ambu iklas diberi nafkah seadanya. Dia tetap memperlakukan Abah selayaknya kepala keluarga. Terkadang, dia memilih untuk puasa agar Abah bisa pergi kerja dengan perut kenyang. Ini kami rasakan selama kurang lebih dua tahun. Pokoknya kehidupan kami bisa dibilang serba kekurangan."
"Terus gimana, Bah?"
"Abah sering mendengar doa Ambu setiap sehabis sholat yang meminta agar kehidupan kami diberikan keberkahan dalam segala hal. Waktu melihatnya, Abah luar biasa sedih, Neng. Abah merasa gagal jadi kepala keluarga. Jangankan membelikan dia barang yang bagus, untuk memberi makan saja Abah merasa kesulitan. Tapi ya itu tadi, Ambu dengan iklas menerima semuanya.
Memasuki tahun ketiga pernikahan, kehidupan kami menjadi lebih baik karena Abah mendapat kenaikan jabatan di pabrik. Resikonya, Abah mulai sering pulang malam karena lemburan. Ambu masih sangat memperhatikan Abah. Sering kali dia duduk di teras kontrakan kami menunggu Abah pulang kerja.
Di tahun itu juga, ujian-ujian rumah tangga datang pada kami meskipun bukan lagi dalam bentuk materi. Abah menginginkan hadirnya seorang anak dalam pernikahan kami, karena rekan kerja Abah yang seangkatan rata-rata sudah memiliki anak lebih dari satu. Hal ini membuat sikap Abah berubah kepada Ambu. Seringkali Abah melampiaskan emosi di tempat kerja pada Ambu dan mengungkit masalah anak. Namun Ambu hanya bisa tersenyum tanpa membalas Abah sama sekali."
[Sopan kamu teh ke orang tua!] tulisnya dalam tablet.
"Iya Neng, Abah menyesal. Abah menyesal sudah salah melampiaskan emosi ke Ambu. Padahal dia selalu melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik."
"Terus gimana, Bah?" tanyaku penasaran.
"Ambu bertahan dengan Abah yang semakin lama semakin temperamental. Ambu hanya bisa diam walaupun mendapat perlakuan dan kata-kata yang ngga menyenangkan dari Abah. Dia tetap mengurus Abah dengan baik. Sampai dengan puncaknya, Abah dekat dengan salah satu buruh di pabrik.
Diam-diam Abah menjalin asmara di luar sana. Istilahnya pelarian karena Abah merasa jika Ambu tidak bisa memenuhi keinginan Abah untuk mendapatkan seorang anak. Berbulan-bulan hubungan asmara terlarang itu Abah jalani, hingga akhirnya Abah benar-benar mengabaikan Ambu sepenuhnya.
"Ah Abah mah, kesian Ambu," responku.
"Iya Neng, Abah salah. Puncaknya di suatu sore pas Abah mengabarkan kalau akan pulang terlambat. Tanpa Abah tau, Ambu datang ke pabrik untuk mengantarkan bekal makan malam. Sebaik itulah perlakuan Ambu kepada Abah walaupun perlakuan Abah kepadanya malah sebaliknya, Di saat itu juga, Ambu melihat jika Abah sedang duduk mesra bersama dengan wanita yang menjadi pelarian Abah."
"Ya Allah, Ambu gimana, Bah?"
"Abah kaget waktu melihat Ambu. Tapi lagi-lagi Ambu hanya tersenyum tanpa marah sedikitpun. Dia pergi dengan menangis tanpa menghampiri Abah bekal yang dibawanya, ditaruh di meja begitu aja.
__ADS_1
Abah hampir saja menyusul Ambu namun ditahan oleh wanita yang sedang bersama Abah. Abah pikir, Abah bisa menangani Ambu sepulangnya bekerja. Malah setelahnya, Abah kembali bekerja seperti biasa tanpa kepikiran Ambu sama sekali.
Pulang bekerja, Abah kaget karena ada banyak orang di depan kontrakan Abah. Semua tetangga hadir semua. Saat melihat Abah, mereka menegur Abah karena sulit dihubungi ketika bekerja. Tanpa tau apa-apa, Abah bertanya ada apa. Jawaban yang Abah terima membuat Abah seketika terjatuh ke tanah.
Tetangga Abah mengabarkan jika Ambu menjadi korban tabrak lari dan sudah meninggal. Saat ini jenazahnya sudah berada di dalam kontrakan Abah dan sedang diurus oleh beberapa ibu-ibu. Abah histeris dan seketika langsung merasa bersalah. Abah menjerit dan sekuat tenaga masuk ke dalam untuk membuktikan jika kabar yang Abah dengar tidak nyata. Namun apa yang Abah liat, semakin membuat penyesalan serta kesedihan Abah bertambah karena Abah melihat tubuh Ambu yang terbujur kaku.
Satu hal yang makin membuat Abah terpuruk adalah beberapa hari kemudian setelah jenazah Ambu dikuburkan. Abah menemukan sebuah buku tulis lusuh yang isinya catatan belanja serta uang receh yang sangat banyak. Rupanya, Ambu selalu menyisihkan sedikit dari uang belanja yang Abah kasih untuk ditabung. Hasilnya akan dipergunakan untuk membuat warung kecil-kecilan. Dalam catatan terakhir yang Ambu tulis, Ambu ingin membantu Abah berjuang dalam menaikkan perekonomian rumah tangga kami."
"Ya Allah, Ambu." Entah kenapa aku merasakan kesedihan yang teramat sangat, mendengar jika pernah hidup seorang wanita sederhana yang melakukan banyak hal untuk mendukung suaminya walaupun tidak mendapatkan balasan yang setimpal.
"Abah menyesal, Neng. Demi Allah Abah menyesal. Ditambah lagi, ada tetangga yang bilang, jika di hari meninggalnya Ambu, pada paginya tetangga Abah itu sempat mengantar Ambu ke bidan karena Ambu merasa tidak enak badan. Dan ternyata, Ambu sedang mengandung sewaktu pergi ke pabrik tempat Abah bekerja untuk mengantar bekal makan malam. Sepertinya Ambu datang untuk sekalian mengabarkan berita bahagia ini pada Abah." Suara Abah menjadi parau dan terdengar jelas jika beliau menangis.
"Abah menyesal sudah menyia-nyiakan wanita terbaik yang Allah kasih. Abah menyesal sudah membuat Ambu sedih sampai akhirnya meregang nyawa. Abah menyesal tidak bisa meminta maaf di saat-saat terakhir hidup Ambu. Dan Abah sadar, dalam rumah tangga kami, Abah yang sudah gagal menjadi suami."
Aku, Gia dan Remi meneteskan air mata mendengar cerita Abah. Penyesalan memang balasan yang paling menyakitkan. "Saya sedih denger cerita Abah. Terus Abah sekarang gimana?"
"Sejak Ambu meninggal, Abah menutup diri dan keluar dari pabrik tempat Abah bekerja. Bayangan Ambu di saat terakhirnya selalu hadir di tempat itu. Abah ngga kuat. Ngga ada wanita sebaik Ambu. Abah ngga bisa dan ngga tega mengganti sosoknya dengan wanita lain. Itulah kenapa, sampai sekarang Abah masih sendiri."
"Ya Allah Abah ... Yang sabar ya? Ada lagi yang Abah mau ceritain?" tanyaku.
"Paling gitu aja ya Neng cerita Abah. Terima kasih banget udah dikasih kesempatan berbagi cerita," ucap Abah setelah sesaat terdiam.
"Sama-sama ya Bah. Saya jadi ikutan sedih ini. Abah yang kuat ya? Jaga kesehatan selalu."
"Iya, Neng," ucap Abah sebelum mematikan sambungan.
"Ya, pendengar, sedih ya denger cerita Abah barusan? Itulah manusia, baru ngerasa sesuatu atau seseorang itu berharga setelah ngga ada. Duh, jadi sedih pokoknya. Ya udahlah. Satu lagu dari Boomerang dengan Kisah, request dari Mas Yash menjadi penutup Kisah Tengah Malam kali ini. Dari lantai dua studio Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung, Inoxu dan tim pamit. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Dengan cepat aku mematikan mic dan menelungkupkan kepalaku di atas meja. Tanpa aku sadari, air mata sudah keluar, efek dari rasa sedih yang aku rasakan. Walaupun hanya mendengar ceritanya saja, aku kagum dengan ketabahan, kesabaran, kebaikan dan kelembutan Ambu pada Abah. Mendengar jika wanita sebaik itu disakiti membuatku semakin menangis tersedu-sedu.
Kik kik kik kik!
Suara tawa si*alan itu terdengar lagi. Gia dengan cepat mengenggam tanganku. Aku terlalu larut dalam kesedihan sehingga entah kenapa tidak ada rasa takut sedikitpun dalam hati.
Kik kik kik kik!
"Cicing! Ari sia teu nempo aing ker ceurik?! Nyingkah! (diam! kamu ngga liat saya lagi nangis?! menyingkir!)," teriakku kesal dan menggebrak meja.
Ajaib, suara tawa tersebut mendadak hilang. Aku kembali menangis selama beberapa saat di bawah tatapan Gia dan Remi. Setelah merasa lebih baik, kuraih tas dan dengan pelan memasukkan barang pribadiku. Tidak lupa, aku kembali memakai sepatuku.
__ADS_1
"Hayu pulang," ajakku pada keduanya yang masih menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kujabarkan.