Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 18


__ADS_3

Aku berjalan gontai memasuki stasiun radio. Siaran malam ini akan menjadi mimpi buruk karena Gia dan Remi secara bersamaan mengabarkan jika mereka berdua tidak bisa hadir. Secara teknis, siaran tetap bisa dilakukan setelah sebelumnya aku harus mengatur timer untuk memutar lagu. Suasana studio yang horor-lah yang membuat nyaliku minus.


"Teh Hani," sapaku melihat Teh Hani yang sedang duduk di sofa dan memainkan ponselnya.


"Awal banget, Xu, datengnya?" tanyanya ketika aku ikut duduk di sofa.


"Iya Teh, dianterin kakak sekalian dia mau ada kerjaan ke luar kota," aku menjawab seraya mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam ransel.


"Gimana siaran? Aman?"


"Ah, ada aja loh Teh. Sekarang tuh tiap mau kerja berasanya uji nyali. Mana Gia sama Remi ngga dateng. Sendirian ini mah," keluhku.


"Sabar, hampir semua penyiar di sini ngalamin kok. Digangguin, diusilin, siaran sendirian, dan lain-lain. Apalagi para penyiar senior dari sejak pertama kali radio ini berdiri." Teh Hani menaruh ponselnya dan menatapku lekat. "Yang senior-senior itu lebih ed*an lagi pengalamannya, karena mereka generasi pertama waktu masuk ke bangunan ini setelah puluhan tahun kosong."


"Teteh salah satunya?" tanyaku penasaran.


"Teteh mah generasi kedua-lah. Masuk setahun setelah radio ini berdiri."


"Yang senior dari awal siapa?" tanyaku lagi.


"Sekarang tinggal tiga orang penyiar. Satu yang pegang siaran berita, satu yang pegang podcast musik sama satu lagi yang pegang siaran ulasan film."


"Woh, Bang Win atuh Teh?" Aku kaget karena ternyata Bang Win adalah seniornya para senior. Pria itu memang memegang program siaran ulasan film berbagai genre dari seluruh dunia.


"Iya," Teh Hani nyengir. "Tau ngga kalau dulu juga ada program siaran kaya yang kamu pegang itu. Cuma, dulu mah nama programnya Cerita Pendengar Rebel kalau ngga salah, dan disiarkan tiap jam lima sore. Bang Win sama Teh Opi yang pegang."


"Teh Opi penyiar berita sekarang? Yang waktu itu kata Teteh punya penggemar fanatik yang terobsesi itu bukan?" tanyaku.


"Bener! Kan siarannya ganti-gantian, pas giliran Teh Opi pegang, ya itu tadi. Ada yang nelpon buat berbagi cerita awalnya mah, lama-lama sering banget sampai-sampai nekat ngirim paket. Udah gitu sering ngikutin pulang karena waktu itu Teh Opi 'kan belum nikah dan kost deket sini. Teh Opi takut-lah, apalagi semakin kesini paketnya semakin aneh-aneh kaya mainan orang dewasa, terus foto vulgar yang gambar mukanya diganti pake muka Teh Opi."


"Serem banget sih, Teh. Terus gara-gara itu siarannya dihapus?"


"Bukan. Teh Opi emang sempet vakum beberapa lama karena takut. Dan yang lanjutin itu Bang Win. Sebenernya kalau ngga ada yang aneh-aneh mah asik. Jaman itu, para pendengar kadang suka main ke sini. Jadi nambah temen-lah, rame banget pokonya."


"Waw!" seruku. "Terus bisa berhenti kenapa?"


"Karena ada satu peristiwa yang menimpa Bang Win."


"Apaan Teh?" tanyaku berbisik dan memajukan tubuh ke arah Teh Hani.

__ADS_1


"Bisa ngga sih kalau mau tau itu nanya ke orangnya langsung?" Suara seseorang dari belakang membuatku terkejut setengah mati.


"Eh, Bang Win," sapaku nyengir seraya mengangguk ke arahnya. Teh Hani sendiri tertawa lepas. Besar kemungkinan, dia tau jika dari tadi Bang Win sudah berdiri di belakangku.


"Tuh orangnya ada, tanya aja langsung. Kalau ngga, tarik aja buat jadi narasumber malam ini. Lagi gabut dia," sahut Teh Hani.


"Boleh aja," sahut Bang Win pendek. Dia ikut duduk di sofa bersama kami. "Daripada dapet narasumber yang aneh-aneh lagi."


"Mau dong, Bang! Mayan, jadi ga takut siaran kali ini, sendirian soalnya," seruku. Bang Win hanya mengangguk sedangkan Teh Hani mengulum senyum.


***


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. 12,08FM Radio Rebel Bandung Kisah Tengah Malam kembali mengudara dengan kisah dari berbagai narasumber. Win Patriadi menghaturkan salam, untuk para pendengar semua di mana pun berada. Yang baru pulang kerja, yang mau beristirahat atau yang belum bisa tidur selamat mendengarkan sajian kisah dari kami selama satu setengah jam ke depan. Setia dari Jikustik permintaan dari Christina Handayani Lumban Tobing akan diputar mengawali kisah malam ini. Selamat mendengarkan dan jangan ke mana-mana."


Bang Win mematikan mic dan tersenyum ke arahku yang berdecak kagum dalam hati. Senior akan tetap menjadi senior karena pengalamannya yang jauh lebih banyak.


Sebelum siaran tadi, Bang Win bertanya apakah ia diperkenankan untuk menyapa para pendengar seperti dulu ia membawakan program siarannya. Dengan cepat, permintaan itu aku setujui.


"Yeay, Bang Win! Luar biasa sekali malam hari ini karena kedatangan penyiar senior ya? Buat pendengar setia radio Rebel pasti tau kalau Bang Win ini dulu pernah membawakan satu program bernama apa, Bang?" tanyaku setelah kembali mengambil alih siaran sesudah lagu berakhir.


"Cerita Pendengar Rebel," jawab Bang Win.


"Betul. Awal radio Rebel ini berdiri saya memang langsung memegang program Cerita Pendengar Rebel sebagai salah satu upaya untuk mendekatkan diri dengan para pendengar. Waktu itu sih alhamdulillah banyak yang suka, saya juga selalu mempersilakan siapa saja yang mau main-main ke studio. Sayangnya program itu hanya bertahan dua tahun karena satu dan lain hal," jelas Bang Win.


"Boleh diceritain, Bang?" tanyaku.


"Boleh aja. Satu kejadian menimpa Opi yang sekarang menjadi penyiar berita. Waktu itu memang Cerita Pendengar Rebel diputar setiap hari senin sampai sabtu, jadinya kami berdua bagi tugas setiap tiga hari sekali berganti-gantian. Ada salah satu penggemar yang ngefans banget sama Opi sampai-sampai melakukan hal-hal yang melebihi batas. Opi yang merasa dite*ror mengundurkan diri hingga akhirnya saya yang melanjutkan seorang diri."


"Terus kok bisa berhenti, Bang?"


"Karena ada satu peristiwa yang bikin saya terpuruk. Saat itu saya memutuskan untuk mengakhiri program tersebut," jawabnya.


"Boleh diceritain ngga? Kalau keberatan mah ngga usah aja ngga apa-apa," kataku pelan. Secara tidak sengaja aku menoleh menatap Bang Win yang ternyata sedang menatapku juga.


"Boleh aja. Jadi waktu itu ada salah satu pendengar yang sering nelpon untuk sekedar cerita. Pendengar itu seorang mahasiswi di salah satu universitas ngga jauh dari sini. Dia datang dari luar kota dan hidup di sini seorang diri. Karena bosan, mulailah dia sering menelpon sekedar bercerita, dan karena seringnya juga, saya udah hapal suaranya begitu tiap kali dia menelepon. Lama-lama kami dekat, sampai saya berani ngasih nomor pribadi yang bisa dikontak setiap saat. Dia juga sering dateng ke sini, kadang sendirian kadang sama temennya. Singkat kata kami menjalin hubungan."


"Wih, Bang Win dapet pacar euy," celetukku. "Sekarang pendengar itu udah jadi Nyonya Win?"


"Ngga bakal. Karena dia udah meninggal karena kecelakaan."

__ADS_1


"Hah?" aku terkejut dan tanpa sadar membolakan mata.


"Waktu itu, dia bilang mau datang sebelum saya siaran, untuk ngebawain kue ulang tahun buat saya. Karena hujan angin, saya ngelarang dia buat dateng. Tapi anaknya nekat, susah dikasih tau. Nanggung katanya karena dia udah beli kue.


Singkat kata, ternyata dia ngga dateng di waktu yang udah dijanjiin. Saya kira pada akhirnya dia nurut karena emang hujannya deras banget. Ya udah, saya lanjut siap-siap untuk siaran.


Saat siaran, dia nelpon ke Cerita Pendengar Rebel. Saya kira mau cerita-cerita aja seperti biasa, ngga taunya dia mutusin saya lewat sambungan telepon dan didengarkan oleh orang banyak. Kaget, kesel, marah, sedih, kecewa dan bertanya-tanya jadi satu. Cuma waktu itu rasa marah yang lebih mendominasi. Diputusin dan didengarkan orang banyak itu rasanya malu banget dan saya ngerasa dimainin.


Setelah siaran, saya udah berniat untuk nyamperin dia di tempat kostnya. Tapi pas banget mau ke sana, temennya dateng dan bawa kabar yang lagi-lagi bikin kaget. Dia bilang, pacar saya kecelakaan saat dalam perjalanan ke stasiun radio ini dan meninggal di tempat. Yang bikin kaget, kecelakaan terjadi satu jam sebelum siaran."


"Lah terus siapa yang nelepon?" tanyaku cepat.


"Mungkin arwahnya. Karena saya inget kata-katanya yang bilang kalau kita berdua udah ngga mungkin bersama. Dia juga bilang akan terus sayang sama saya dan akan selalu berdoa dan berharap untuk kebahagiaan saya. Itu bikin saya shock dan trauma untuk ngelanjutin program Cerita Pendengar Rebel. Dan sejak kejadian itu juga, saya menarik diri dan belum memulai hubungan dengan siapapun sampai sekarang."


"Wooh," seruku. "Orang yang udah meninggal nelpon ke studio itu mirip sama kejadian pas ada yang nelpon ke Kisah Tengah Malam waktu itu, Bang."


"Iya, seperti itulah kira-kira. Kaya yang ngga masuk akal, tapi saya ngalamin sendiri. Kamu juga kan?" tanyanya balik.


"Iya," jawabku pelan. Entah kenapa muncul rasa kasihan terhadap Bang Win setelah mendengar ceritanya.


"Bang, makasi ya udah mau berbagi kisah malam ini. Saya doain Bang Win secepatnya menemukan belahan jiwa. Move on gitu Bang, udah lama juga kan kejadiannya?"


"Udah kok, udah nemu," jawabnya pendek seraya menatap mataku lekat.


"Alhamdulillah kalau gitu. Sekali lagi makasi ya Bang Win? Pendengar semua, itulah kisah dari Bang Win yang melatarbelakangi berhentinya program Cerita Pendengar Rebel. Terima kasih sudah mendengarkan dari awal sampai akhir. Inoxu dan Bang Win dari Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung mohon pamit. Satu lagu dari Marcel dengan Peri Cintaku permintaan dari Titi menjadi ujung perjumpaan kita kali ini. Sampai jumpa lagi, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic dan melepas headphone. Bang Win sendiri sudah melakukannya terlebih dahulu. Ia menuju meja Remi dan melihat ke arah monitor.


"Pulang, Bang Win?" tanyaku.


"Udah beres-beresnya?" tanyanya balik. Aku mengangguk.


"Pulang sama siapa?" tanyanya lagi.


"Sendiri, naek Grab."


"Saya anterin. Saya juga mau pulang," ucapnya mengangkat pandangan dari monitor.


"Asik," seruku. Pulang malam terkadang menjadi semakin menyeramkan setelah mendengar kisah horor dari para narasumber. Setelah beberapa menit menunggu, aku berjalan mengikuti Bang Win keluar dari studio.

__ADS_1


__ADS_2