
Aku sedang berbalas pesan di ponsel saat seorang anak perempuan berseragam sekolah menengah atas menabrakku dari samping. Kami berdua sama-sama sedikit perpental ke belakang.
"Maaf, Teh. Saya ngga sengaja," ucapnya sembari memegang lengannya yang menabrak lenganku.
"Iya ngga apa-apa. Sakit?" tanyaku mulai khawatir karena melihatnya meringis.
"Ngga terlalu, Teh. Maaf, tadi saya buru-buru. Kakak saya udah jemput soalnya."
"Udah dijemput? Iya sok atuh, barangkali kakaknya nungguin," balasku tersenyum.
"Iya, permisi, Teh." Anak itu pamit untuk kemudian berlari ke arah jalan raya. Sweater biru langit-nya berkibar-kibar seiring langkahnya yang semakin cepat.
Aku berbalik dan masuk ke dalam bangunan stasiun radio lalu langsung duduk di sofa. Malam ini giliranku siaran bersama Adul. Tepat jam sebelas kurang lima belas menit, Gia, Remi dan Adul datang dan kami langsung menuju ke studio di lantai dua.
"Bang Win ke mana, Xu? Tumben ngga keliatan," tanya Remi.
"Lagi ada urusan katanya mah," jawabku sembari memeriksa monitor, mic dan headphone.
"Teteh, Adul mules! Teteh opening sendiri dulu aja ya?" Adul berkata lirih sambil memegang perutnya. Ia keluar sebelum aku sempat menjawab.
"Standby, Xu!"
"Ongkey."
"3, 2, 1, on air!" Seru Remi.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam dan selamat datang untuk pendengar setia Kisah Tengah Malam yang sudah mantengin 12,08FM Radio Rebel Bandung. Malam ini Inoxu dan Adul akan menemani pendengar semua selama satu setengah jam ke depan dengan berbagai kisah dari narasumber. Tapi, sabar dulu ya buat yang nungguin Adul karena orangnya lagi ke toilet. Lagu dari Pinkan Mambo dengan Dirimu Dirinya request dari Aryanti Enggresi akan menjadi pembuka kisah pada malam hari ini. Salamnya, buat yang tadi siang lewat rumah aku, seneng deh! Besok mampir aja dulu, jangan cuma lewat. Siapa tau mama setuju. Spesial buat kamu ya? Inisial D-E-N-D-Y. Makasih.
Bentar! Aryanti, kayanya itu bukan inisial ya? Itu mah nama, Dendy! Hahahaha. Tidak berlama-lama lagi, lagu permintaan dari Aryanti untuk Dendy akan segera diputar. Selamat mendengarkan."
Aku mematikan mic dan langsung memilih narasumber malam ini. Setelah tersambung, aku memintanya menunggu di ujung sambungan. Pintu terbuka dan Adul masuk ke dalam studio dengan cengiran lebar. Ia langsung duduk di kursi tepat di sampingku.
"Teh, Bang Win ada di bawah loh," ucapnya masih dengan tersenyum lebar.
"Ya biarin aja, emang kenapa?" tanyaku menoleh.
"Ya ngga apa-apa. Ngasi tau aja Adul mah. Terus ya Teh, tadi Adul denger pas pada ngobrol di sofa. Ternyata Bang Win itu salah satu pemilik radio ini loh Teh."
"Udah tau aku mah, Dul," balasku sembari ikut nyengir.
"Ish, cucok!"
"Udah siap-siap, lagunya mau beres nih!" seruku. Adul langsung mengambil headphone dan memakainya.
"Yak itulah dia Pingkan Mambo dengan Dirimu Dirinya. Di ujung sambungan kita, sudah ada narasumber yang siap berbagi kisah. Halo dengan siapa di mana?" Aku menaikkan volume suara sambungan telepon.
"Halo Teh Inoxu! Ini dengan Arya."
"Kang Arya di mana?" tanya Adul.
"Eh, Kang Adul? Saya di Kebon Kalapa, Kang."
"Kang Arya punya cerita apa nih?" Aku bertanya.
"Cerita pengalaman pribadi, Teh."
"Mangga, Kang."
"Jadi ceritanya, minggu kemarin saya naik gunung sama temen-temen. Kita naik ke Gunung Salak, Teh."
"Gunung Salak teh di mana?" tanya Adul.
"Di Kabupaten Bogor, Kang."
"Emang ngga apa-apa gitu? Naik gunung pas musim ujan kaya gini?" tanya Adul lagi.
"Ya sebetulnya agak ribet sih, karena pasti treknya licin. Cuma karena hobi dan pengelola juga masih membolehkan pendaki buat naik, ya kami naik aja," jelas Kang Arya.
__ADS_1
Aku yang melihat interaksi narasumber dengan Adul memutuskan pergi ke pantry untuk mengambil minum.
"Mau ke mana?" tanya Gia.
"Minum," jawabku berbisik.
"Ikut, aku mau ke toilet. Tapi nanti tungguin dulu ya? Jangan ditinggal."
"Iya," balasku seraya menuju ke pintu keluar.
"Tumben Bu Gia hari ini irit ngomong. Biasanya ngga berhenti-berhenti tuh mulut nyap-nyap," sindirku. Kami berjalan menuju ke lantai bawah.
"Diem Xu! Aing lagi sakit gigi ini, sakit kalau dipake ngomong."
"Hahaha!" Aku tidak bisa menahan tawa.
"Nyebelin emang kamu mah!" sentaknya mendelik.
Aku melihat Bang Win tersenyum padaku setelah sampai di lantai bawah. Dengan segera, aku pergi ke pantry untuk mengisi botol minum sedangkan Gia berbelok ke toilet. Tepat di pintu pantry, Bang Win sudah berdiri di sana dengan sebuah kopi kaleng di tangannya.
"Bang Win asli atau jadi-jadian, nih?" tanyaku langsung.
"Emang ada Win palsu yang niat banget nungguin kamu di sini sambil megang kopi?" Ia bertanya balik dengan nada datar.
"Ya kali aja kan?" Aku terkekeh melihat ekspresinya.
"Nih!" sodornya.
"Xu, hayu!" ajak Gia yang ternyata sudah selesai. Aku mengambil kopi dari tangan Bang Win dan berjalan ke arah tangga.
"Makasi," seruku yang direspon anggukan.
Setiba di studio, aku bergegas memakai headphone dan mendengar Kang Arya sedang bercerita.
"Nah, pas pulang dari naik gunung itu sore menjelang magrib. Karena cape banget, saya cuma sempet cuci muka, tangan dan kaki terus langsung rebahan di kasur," ucapnya.
"Iya Teh. Pas kebangun udah hampir tengah malam. Itu juga bangun karena lapar. Kalau ngga mah, mungkin terus sampai pagi. Karena udah bangun, sekalian aja mau mandi terus sholat.
Waktu saya ke kamar mandi, ibu saya lagi duduk di meja makan. Ya saya bilang aja kalau saya lapar. Harapannya, abis mandi dan sholat bisa langsung makan.
Abis mandi, saya liat lagi ibu saya udah sibuk di depan kompor. Ya udah aja saya langsung masuk kamar buat sholat. Selesai sholat baru inget kalau ponsel saya habis baterai, ya saya charge dong. Langsung saya nyalain tuh karena mau tau kabar temen-teman saya yang naik gunung bareng saya. Pas ponsel nyala, ibu saya teriak dari dapur kalau makanan udah ada di meja makan. Cuma karena nanggung, saya nungguin ponsel dulu sampai bener-bener nyala.
Pas udah nyala, banyak pesan masuk di notifikasi. Dan saya bingung karena ada beberapa pesan dari ibu saya. Jamnya siang, di hari itu juga. Karena penasaran saya buka, dan isinya bikin saya kaget."
"Emang apa isinya Kang?" tanya Adul. Aku bisa menangkap nada penasaran dalam suaranya.
"Ibu saya ngirim pesen kalau beliau dan yang lain pada pulang kampung karena uwak saya meninggal."
"Lah yang di dapur siapa?!" seruku terkejut. Dengan tiba-tiba, aku merinding.
"Ngga ada siapa-siapa teh. Malah kondisi dapur itu bersih kaya belum dipake masak. Dan makanan yang tadi katanya ada di meja, ngga ada sama sekali."
"Hiih! Jadi itu setan?" tanya Adul.
"Mungkin aja," jawab Kang Arya.
"Keren amat ya setan, kalau bisa masak beneran. Bisa gantiin tugas ART," sambung Adul.
Seketika aku menoleh dan menepuk tangannya keras. Remi dan Gia terlihat menepuk kening mereka masing- masing dan menggeleng pelan.
"Terus gimana Kang?" Aku lanjut bertanya.
"Ya saya kabur Teh, ke rumah temen saya. Walaupun saya suka nemu kejadian aneh pas naik gunung, tapi kalau di rumah sendiri dan menyerupai ibu saya mah baru pertama kali. Sedikit banyak saya was-was gitu."
"Iya sih, saya juga kalau di posisi Kang Arya pasti udah lari," jawabku.
"Hehehe, shock kan Teh?"
__ADS_1
"Pastinya," timpal Adul.
"Ya paling gitu aja Teh cerita dari saya. Mau request lagu sama kirim salam boleh?" tanya Kang Arya.
"Boleh banget Kang."
"Mau lagunya Boomerang yang Pelangi. Salamnya buat yang lagi ngerjain tugas di sana. Semangat pokoknya!" sahut Kang Arya.
"Siap, makasi ya Kang, udah berbagi kisah di sini. Sehat selalu," ucapku menutup pembicaraan.
"Sama-sama, Teh Inoxu dan Kang Adul." Tidak lama sambungan telepon terputus.
"Jadi itu tadi pengalaman Kang Arya sepulangnya dari naik gunung. Serem ya gaes ya?" kata Adul mengakhiri siaran.
"Makasi banget udah tetep stay tuned bersama kami di sini. Adul dan Teh Inoxu pamit dulu. Nanti kita ketemu lagi dengan kisah lain yang ngga kalah seru. Lagu dari Boomerang dengan Pelangi semoga bisa menemani istirahat malamnya ya gaes ya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Adul mematikan mic dan mengangguk-anggukan kepala mengikuti lagu yang baru diputar. Aku sendiri melepas headphone dan berkemas.
"Hayu cepet pulang, kepala aku nyut-nyutan nih," pinta Gia. Aku hampir tertawa saat melihat pipinya yang bengkak sebelah. Dengan beriringan, kami keluar dari studio dan turun ke lantai satu.
Bang Win langsung mengalihkan pandangannya ke arahku begitu aku turun. Dengan pelan aku ikut duduk di sofa setelah Remi, Gia dan Adul berpamitan.
"Baru mau diminum?" tanya Bang Win ketika melihatku membuka kaleng kopi.
"Iya, tadi ngga sempet."
Tiba-tiba saja hujan turun walau pun tidak deras. "Pulang ah," ucapku sembari berdiri.
"Bentar," sahut Bang Win dan pergi ke ruangannya. Tidak lama ia kembali dengan sebuah payung.
"Tadi Bang Win ke mana?" tanyaku. Kami berjalan pelan menuju mobil Bang Win yang di parkir. Hujan yang semakin deras membuat wajahku terciprat air. Anak sekolah yang tadi sempat menabrakku ketika baru datang ke sini terlihat sedang berteduh di bawah pohon pinggir jalan.
"Kantor polisi."
"Hah! Kenapa?" Aku berhenti melangkah.
"Jadi saksi mata. Ada yang ditabrak tadi pagi. Pas di depan mata saya."
"Di mana?" aku bertanya.
"Di situ," Bang Win menjawab dengan mengarahkan dagunya ke jalan raya yang berada di depan bangunan stasiun radio.
"Korbannya?" tanyaku lagi.
"Anak SMA, meninggal di tempat. Ngga bawa kartu pengenal apapun. Akhirnya saya berinisiatif untuk mengumumkan di radio."
"Ketemu, keluarganya?"
"Ketemu akhirnya, karena korban pakai sweater biru langit yang jadi ciri khas."
"Apa? Sweater biru langit?" Aku menatap Bang Win tidak percaya.
"Iya," tegasnya.
Aku menahan napas dan dengan pelan menengok ke arah anak sekolah yang masih berteduh. Walau pun jarak kami lumayan jauh, tatapan tajam anak itu membuat napasku sesak.
Bang Win menunduk menatapku lalu menengok mengikuti arah ke mana aku melihat. Seketika ia menggenggam tanganku erat.
"Oxu?" panggilnya yang membuatku mengalihkan pandangan ke wajahnya. "Ada yang kamu lihat ya? Abaikan aja oke? Jangan takut, ada saya."
"Bang Win ngga liat anak itu di bawah pohon?" tanyaku.
"Ngga. Karena saya ngga punya kemampuan seperti kamu. Saya tau karena Utep bilang kamu berbakat," jawabnya.
Aku menunduk untuk meredakan rasa takut sekaligus kaget karena perkataan Bang Win.
"Oxu. Kapan pun kamu ngerasa takut, kamu bisa cari saya. Saya ngga janji, tapi kapan aja kamu butuh saya, saya akan usahakan selalu ada."
__ADS_1
Aku mengangguk pelan dan mengeratkan genggaman pada tangannya. Dengan pelan kami kembali berjalan menuju ke arah mobil Bang Win yang tidak jauh dari pohon, tempat anak sekolah korban kecelakaan itu masih berteduh.