
"Teh Inoxu!"
Gawat! Mereka yang tidak kelihatan sudah mulai memanggilku, padahal aku baru saja tiba di tempat parkir Radio Rebel.
"Teh Inoxu!"
Aku menghela nafas panjang dan terus berjalan tanpa menghiraukan mereka.
Pluk!
"Audzubillahiminasyaitonirojim!" teriakku keras sembari berbalik dan menutup mata ketika menyadari ada tangan yang memegang bahuku.
"Ish si Teteh mah! Ini Adul!"
Aku membuka mata setengah dan menghembuskan nafas lega.
"Parnoan banget sih, Teh?" tanya Adul dengan wajah cemberut.
"Woyadong! Ada apaan manggil-manggil?" tanyaku balik dan kembali berjalan menuju pintu masuk Radio Rebel.
"Itu Teh," ucapnya ragu.
"Mau bilang atau mau aku tinggal?" ancamku. Aku menghentikan langkah dan menunggunya bicara.
"Iya atuh iyah. Gini Teh—"
"Kalau aneh-aneh mending ngga usah, Dul. Saya ngga mau Oxu kenapa-kenapa lagi," ucapan Bang Win yang baru datang dari arah belakang memotong perkataan Adul.
"Bukan gitu, Bang Win. Adul kasian ngeliatnya," lanjut Adul lirih.
"Memang ada apa? Masuk dulu yuk? Abis itu ceritain di dalem."
Aku mengangguk ke arah Adul agar mengikuti ajakan Bang Win. Dengan gontai, ia berjalan masuk mengikuti kami.
"Di deket rumah Adul, ada anak hilang. Ibunya histeris banget nyari ke sana ke mari, tapi nihil. Ada yang bilang diculik, ada yang bilang dibawa sama bapaknya. Orang tua anak ini teh udah cerai. Adul sebenarnya juga belum kenal banget, tapi tadi sebelum berangkat dia minta tolong ke Adul."
"Minta tolong apa?" tanyaku.
"Minta tolong buat nyebarin info kehilangan keluarga, Teh. Karena kasian, Adul iyain aja. Bahkan Adul tadinya mau jadiin ibu itu narasumber siaran malam ini, sekalian biar dia umumin kalau anaknya hilang. Barangkali keluarga suaminya denger, terus ngasi kabar. Karena si ibu ini ngga tau harus ke mana lagi nyari mantan suaminya. Tinggalnya pindah-pindah dari satu sodara ke sodara lain," jelas Adul.
__ADS_1
"Oh, saya kira apa tadi. Ya boleh aja kalau itu sih. Minta nomor telepon ibu itu, biar nanti pas kalian siaran, bisa ditelepon," ucap Bang Win yang membuat Adul sempat tersenyum lega namun kembali keruh.
"Sebenernya, ada satu lagi," lanjutnya. "Akhir-akhir ini, Adul sering liat anak kecil keluyuran di sekitar rumah Adul. Bisa dipastiin sih kalau itu bukan manusia. Adul tadinya takut kalau anak kecil ini adalah anak si ibu. Sempet juga Adul nanya foto anaknya si ibu yang hilang. Tapi sayang banget Teh, Bang. Ibu si anak hilang cuma punya foto anaknya pas masih kecil."
"Ya udah, sekarang mah siaran aja dulu. Hubungi ibu itu, Dul. Biar dia siap-siap," suruh Bang Win.
Adul mengangguk dan berjalan ke luar setelah mengeluarkan ponselnya.
"Headphonenya berpengaruh?" tanya Bang Win sembari membenarkan letak headphone di telingaku.
"Banget. Headphone On World Off. Nyaman rasanya ngga denger yang aneh-aneh lagi," jawabku tersenyum.
Bang Win membalas senyumku dan mengacak rambutku lembut sebelum membesarkan volume headphone yang terletak di bagian kiri dan kanan headphone yang masih terpasang di telingaku. Tanpa ia tau, dari tadi tidak ada satupun lagu yang sedang kudengarkan.
"Saya akan ngelakuin apa pun buat kamu, asalkan kamu ngerasa nyaman, Oxu," ucapnya lirih dan bisa kudengar dengan sangat jelas.
"Bang Win ngomong apa?" tanyaku menguji. Aku bahkan melepas headphone tersebut dari telingaku.
"Ngga ada. Saya cuma bilang, headphonenya bagus. Besok saya mau beli buat saya sendiri."
Aku sekuat tenaga menahan senyum, yang hampir tercetak di wajahku.
***
"Berapa umur anak ibu?" tanyaku pelan.
Kami sedang berbicara dengan narasumber yang dimaksud Adul sebelum siaran yaitu seorang ibu yang kehilangan anaknya. Awalnya, kami akan menghubungi bu Retno melalui sambungan telepon tepat saat siaran. Namun, saat tau jika lokasi Radio Rebel tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya, beliau memutuskan untuk datang langsung dan berbincang dengan kami di studio.
"Tujuh tahun Teh. Terakhir kali saya ngeliat Diwa, saat anak saya itu pergi ke sekolah. Waktu saya sampai di rumah pada malam harinya, saya ngga menemukan dia dan mengira jika dia sedang jajan. Setelah ditungguin selama beberapa saat, baru saya mulai panik dan keluar rumah untuk nanya ke tetangga. Sayangnya mereka juga ngga lihat Diwa seharian itu."
"Ada kemungkinan ngga, anak ibu pergi ke rumah keluarga ibu yang lain?" tanya Adul.
"Ngga mungkin, Kang. Keluarga saya lumayan jauh rumahnya dari sini. Di sini pun, saya bisa dibilang warga baru. Jadi, kecil kemungkinan kalau anak saya pergi sendiri ke mana-mana."
"Kalau menurut ibu sendiri gimana?" tanyaku.
"Beberapa orang ngebantu saya untuk nyari Diwa. Beberapa lagi bilang, kalau ada kemungkinan anak saya diculik. Karena itu, saya langsung melapor ke polisi. Diwa harta saya yang paling berharga, Teh. Saya ngga akan bisa hidup tanpa anak saya," jawabnya pelan. Butiran air mata menderas di kedua pipinya.
Aku menggulirkan pandangan perlahan ke arah Adul, Gia, Remi, Teh Hani, Bang Win dan Kang Utep yang berwajah prihatin.
__ADS_1
"Tapi saya yakin, sangat yakin kalau Diwa dibawa oleh papanya sendiri," lanjut bu Retno.
"Kenapa bisa mikir gitu, Bu?" tanya Adul.
"Kami sempat berebut hak asuh anak sampai akhirnya pengadilan memutuskan jika hak asuh jatuh ke tangan saya. Namun, ia tidak diam saja setelah putusan pengadilan keluar. Dia selalu mengikuti ke mana pun kami pindah dan berusaha membawa Diwa bersamanya. Saya udah berusaha menghubungi keluarga besar papa Diwa namun mereka menolak memberikan informasi terkait papa Diwa."
"Kalau ternyata Diwa memang sedang bersama papanya, dan anggep aja papanya Diwa lagi denger siaran ini, ada yang mau ibu sampaikan?" tanyaku.
Bu Retno mengangguk sebelum berbicara, "Tolong kembalikan Diwa pada saya. Saya boleh miskin, saya boleh hidup menderita, tapi memisahkan Diwa dari saya ibarat membu*nuh saya berkali-kali. Sampai kapan pun, kamu tetap papanya Diwa. Itu ngga akan berubah, ngga pernah. Saya hanya punya Diwa di sepanjang hidup saya. Saya mohon jangan diambil. Saya ngga tau bagaimana caranya hidup kalau Diwa ngga ada," ucapnya di sela tangisan.
Mata Teh Hani, Gia, Remi bahkan Adul terlihat berkaca-kaca.
"Baik bu Retno, semoga Diwa cepat ditemukan ya?" ucapku menutup pembicaraan. "Itulah dia bu Retno, ibunda dari Diwa yang sudah menghilang selama lima hari. Untuk para pendengar yang melihat seorang anak dengan ciri-ciri yang disebutkan bu Retno barusan, bisa langsung menghubungi Radio Rebel. Akhir kata, Inoxu, Adul bersama bu Retno dan seluruh tim Kisah Tengah Malam mohon undur diri. Terima kasih atas kebersamaannya, sampai jumpa. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Aku mematikan mic, menatap monitor yang tidak merekam apapun, melepas headphone dan berjalan pelan menuju ke arah pintu studio. Setelah menguncinya, aku kembali duduk di kursiku dan menghadap ke arah Bu Retno. Semua mata menatapku heran kecuali Bang Win, Adul dan Kang Utep.
"Saya ngga bisa jauh dari Diwa, Teh Inoxu. Hati saya sakit," ucap Bu Retno kembali menangis.
Aku menatapnya tajam dan tersenyum sinis. Bukan itu saja, aku juga melipat tanganku di dada dan menumpangkan kakiku.
"Ibu ngga perlu khawatir. Diwa ada di dekat ibu terus kok. Malah saat ini, dia sedang memeluk punggung ibu," jawabku santai.
"Maksud Teh Inoxu apa?" tanyanya kebingungan.
"Saya yang harusnya nanya. Maksud ibu apa? Kenapa ibu bertingkah panik saat Diwa hilang? Padahal ibu tau jelas apa yang terjadi dengan putra ibu tersebut."
Bu Retno terpana selama beberapa saat.
"Ibu bahkan menutup telinga saat Diwa merintih memohon ampun. Saat tubuh kecilnya berusaha keras menahan sakitnya pu*kulan, cu*bitan, tam*paran, bahkan ten*dangan yang ibu berikan padanya. Dan ibu masih nanya maksud saya apa?!" Aku setengah mati menahan emosi yang membuat tubuhku terasa panas.
"Dan ibu tau apa? Setelah semua perlakuan ibu pada Diwa, Diwa masih berkata jika dia sangat sayang pada ibu. Sekarang saya tanya, salah Diwa apa? Kemiskinan yang ibu alami salah dia? Kesusahan yang ibu dapatkan karena dia? Takdir yang ibu jalani juga dia penyebabnya? Kenapa harus mele*nyapkan dia di saat ibu sendiri tidak bisa membahagiakannya?!" teriakku.
Bu Retno turun dari kursinya dan bersimpuh di lantai, tepat di hadapanku.
"Bahkan setelah semua penyiksaan yang ibu lakukan pada Diwa, hingga dia kehilangan nyawanya, dia masih saja memeluk ibu dengan penuh sayang. Saya kecewa! Saya sangat kecewa bisa bertemu dengan wanita bergelar mulia sebagai seorang ibu, yang kelakuannya seperti anda. Maaf kalau saya harus bilang ini. Pela*cur yang mempertahankan anaknya di luar sana, masih beribu kali lebih terhormat di mata saya, dibandingkan dengan ibu!" Aku terengah-engah karena emosi yang sudah berada di level tertinggi.
"Telepon polisi, biar bu Retno mengakui semuanya sendiri. Jika masih ada tersisa sedikit rasa kasih untuk Diwa, dia akan mengakui perbuatannya. Jika tidak, biarkan pengadilan di akhirat nanti yang mengadilinya seadil-adilnya!" Aku berdiri dan menghapus air mataku dengan kasar. Bang Win dengan cepat menghampiri dan menggenggam kedua tanganku untuk menyalurkan kekuatan.
***
__ADS_1
Aku masih duduk termenung di sofa ketika Bang Win membawakan segelas teh hangat dari pantry. Ingatanku kembali ke beberapa saat lalu, ketika bu Retno baru saja sampai di Radio Rebel. Adul memberitahuku tentang anak kecil yang berada di punggung Bu Retno. Rasa penasaran, membuatku mencoba berdialog dengan bocah kecil itu yang akhirnya kutau bernama Diwa. Kang Utep dan Bang Win ikut bergabung, setelah aku dan Adul memberitahu mereka. Berempat, kami membuat skenario siaran agar bu Retno mengakui perbuatannya sebagai orang yang telah mele*nyapkan nyawa anaknya sendiri, Diwa.