Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 39


__ADS_3

"Bang Win," panggil Adul.


"Kenapa, Dul?" jawab Bang Win menengok ketika sedang memasukkan barang ke bagasi.


"Boleh ikut di mobinya Bang Win ngga? Mobil Kang Utep bikin pusing, banyak pewangi jeruknya. Udah gitu AC-nya dingin banget," lanjutnya memelas.


"Boleh aja, tapi duduk di paling belakang sama barang ngga apa-apa? Soalnya bagasi penuh. Jadi kursi penumpang paling belakang juga dipake buat barang."


"Ngga apa-apa, Bang," jawab Adul tersenyum sumringah. Kini ia beralih menatapku, "Di sini siapa aja yang ikut, Teh?"


"Saya, Teh Hani, Gia, sama Remi," jawabku. "Kenapa?"


"Ngga apa-apa, Teh," lanjutnya tersenyum.


Kami menunggu waktu subuh untuk melaksanakan sholat berjamaah sebelum berangkat. Rute yang akan ditempuh untuk ke puncak sedikit memakan waktu karena kami tidak melewati rute terdekat. Rute terdekat harus melalui Cianjur yang terdampak gempa. Sebagai jalan alternatif, kami akan melalui jalan tol.


Tepat sebelum kami berangkat, emak Adul datang membawakan beberapa nasi kuning untuk sarapan di jalan.


"Pantesan tadi nanya-nanya siapa yang ikut di mobil Bang Win, nyiapin nasi kuning ternyata," ucap Teh Hani terkekeh. "Wih, ada bala-bala juga. Emak emang mantap!"


"Win, kita konvoi atau jalan santai aja?" tanya Kang Utep sambil mencomot bala-bala.


"Jalan santai aja, kalau konvoi 'kan harus saling nunggu. Bahaya juga iring-iringan kaya gitu. Berangkatnya bareng, kalau kepisah ya kita janjian aja nanti di mana gitu."


"Oke," jawab Kang Utep berlalu.


Kami masuk ke mobil masing-masing dan perlahan mulai meninggalkan bangunan stasiun radio. Total ada lima mobil dalam perjalanan kali ini.


***


"Teh, bisa minta tolong kecilin AC-nya ngga?" tanya Adul.


"Oke," balasku.


"Kacanya boleh dibuka dikit ngga?"


"Boleh."


"Masih jauh ngga, Teh?"


"Etdeh Adul! Kita baru berangkat loh ini. Masuk tol aja belum," balas Gia.


"Teh," panggilnya lagi beberapa saat kemudian.


"Naon?" jawab Remi.


"Bawa tolak angin ngga?"


"Ada, bentar."


"Teteh," panggil Adul lagi.


"Astagfirullah! Naon Adul?" jawab Teh Hani.


"Geseran dikit kepalanya, Adul ngga bisa liat jalan."


"Iya!"


Perjalanan yang baru dimulai diwarnai dengan tingkah laku Adul yang rewel.


"Adul teh jarang naik mobil, makanya suka pusing-pusing," lanjutnya lagi.


"Tidur aja, Dul," Bang Win bersuara.

__ADS_1


"Iya deh."


Aku dan yang lain hanya menggelengkan kepala melihat Adul.


"Makan nasi kuning ah," gumam Gia membuka bungkusan dari emak Adul.


"Hayu!" jawab Remi dan Teh Hani kompak.


"Xu sama Bang Win ngga makan?" tanya Remi.


"Ngga, masih kepagian," jawabku seraya menoleh. "Bang Win mau nasi kuning?" tanyaku pada sosok di sebelahku yang sedang fokus menyetir.


"Mau," jawabnya pendek.


"Tumben, kan biasanya juga ngga pernah makan berat pagi-pagi."


"Pengen aja," balasnya.


"Gimana makannya? Mau berhenti di pom bensin dulu?"


"Astaga Xu, lama lagi nanti di jalannya. Suapin atuh sama kamu," ucap Teh Hani terkekeh.


Aku melihat ke arah Bang Win dan sempat melihatnya tersenyum samar. "Ya udah deh, sini. Minta satu," lirihku.


"Cie, yang pagi-pagi udah mesra," Adul membuka suara melihatku menyuapi Bang Win.


"Lah, dikirain tidur." Teh Hani menegok ke arahnya.


"Makin pusing kalo dimeremin," sahut Adul.


Keheningan tercipta karena semua sibuk memakan nasi kuning masing-masing kecuali Adul dan aku yang fokus menyuapi Bang Win.


"Eh ini Cipularang ya?" tanya Adul tiba-tiba.


"Iya," jawabku seraya memasukan bekas bungkusan nasi ke plastik sampah. "Ngapa nanya-nanya?"


"Yo'i. Jangan banyak tingkah makanya. Udah tidur aja," suruh Gia.


"Iya-iya," jawab Adul.


Mobil yang dikendarai Bang Win melaju dengan kecepatan sedang. Di belakang terlihat mobil yang dikendarai Kang Utep dan juga Kang Krisna, suami Teh Opi. Dua mobil yang lain sudah lebih dulu mendahului kami.


***


"Alhamdulillah sampe juga," seru Adul begitu turun. "Hiiiih, dingin."


Kami sampai di vila sekitar jam sepuluh pagi. Setelah menaruh barang bawaan di kamar masing-masing, sebagian berkumpul di taman untuk berjemur dan sebagian lagi berjalan-jalan di kebun teh yang terdapat di sekeliling vila ini.


Walau pun hanya memiliki tiga kamar, namun kamar di vila ini cukup luas. Semua perempuan di tempatkan di kamar yang sama. Begitu juga dengan para pria, mereka berkumpul di satu kamar yang sama. Satu kamar tersisa diperuntukkan barang-barang studio termasuk alat rekaman siaran karena sesuai rencana, Kisah Tengah Malam akan siaran on air di vila ini.


"Mau ikut saya?" tanya Bang Win mendekat ketika aku baru saja duduk di taman.


"Ke mana?"


"Jalan-jalan ke kebun teh," jawab Bang Win.


"Ya mau-lah," seruku langsung berdiri dan membuat Bang Win terkekeh. Kami berjalan dengan saling bergandengan tangan.


Kebun teh di sekeliling vila ini ternyata sangat luas. Vila yang kami tempati hanya satu-satunya vila yang berdiri di area ini.


Karena mengobrol, tanpa terasa kami berjalan semakin menjauh dari vila. Semakin ke atas bukit, hawa semakin dingin dan juga mendung. Para pemetik teh yang tadinya banyak kini tidak terlihat satu orang pun.


"Bang, kejauhan deh kita kayanya," ucapku mengedarkan pandang.

__ADS_1


"Kayanya. Kita datang dari arah mana? Saya kok jadi bingung karena kebanyakan liat kebun teh."


"Lah, mana aku tau," balasku.


Kabut yang turun dengan mendadak semakin menghalangi pandangan. Kami berjalan pelan dan melihat-lihat sekitar jika ada penduduk yang kebetulan lewat. Nihil, tidak ada siapapun selain kami berdua.


***


"Yah, malah ujan," seruku mengibaskan butiran air yang mengenai hoodie. Kami berteduh dari hujan yang turun mendadak di sebuah saung di tengah-tengah hamparan kebun teh. Di sebelah kananku ada jalan menanjak yang cukup terjal. Ujung jalan di atas tanjakan tidak terlihat karena kabut yang semakin pekat.


"Oxu bawa ponsel?" tanya Bang Win menatapku.


"Bawa, bentar." Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana dan seketika mencelos saat melihat tidak ada sinyal sama sekali.


"Ngga ada sinyal nih." Aku menunjukkan layar ponselku pada Bang Win yang mendesah pelan.


"Ya udah, tunggu hujan reda aja dulu."


Aku mengangguk dan kembali duduk di bale bambu. Situasi ini membuatku merinding. Selain hawanya yang dingin, kabut membuat sekitar kami berwarna abu-abu.


Saat sedang menunggu, entah dari mana muncul lima orang remaja yang tiga di antaranya terlihat mabuk. Bang Win dengan segera berdiri di depanku bermaksud melindungi. Untungnya, mereka sama sekali tidak mengganggu kami. Dua remaja yang tidak ikut mabuk mengangguk sopan dan memohon maaf atas kelakuan teman mereka.


"Punten Kang, Teteh. Ikut neduh ya? Biasa ini temen lagi pada pusing di rumah," ucap seorang remaja berambut gondrong.


"Iya Kang, biasa anak muda," kekeh yang satu lagi memakai kaos merah.


Bang Win hanya tersenyum mengangguk. Aku yang sedang memperhatikan mereka seketika kaget ketika salah satu dari remaja mabuk itu memeluk tiang bambu penyangga saung.


"Heh ngapain?" tanya si gondrong kaget.


Bukan menjawab, yang ditanya hanya menangis dan berkata jika dia dikutuk menjadi debu yang menempel. Ia terus menangis dan meminta tolong untuk dikembalikan menjadi manusia.


"Euh malah nangis," gerutu si kaos merah.


Belum puas memperhatikan remaja yang sedang cosplay menjadi debu, satu remaja mabuk lainnya berlari menuju pohon di dekat kami dan mengajaknya berkelahi.


"Heh! Sia nu ngarebut kabogoh aing! (Heh! Kamu yang merebut pacar saya!)" serunya sembari memasang kuda-kuda siap berkelahi. Hal ini membuat si gondrong berlari menghampiri dan menariknya keras kembali ke saung.


Bang Win terkekeh sebelum bertanya, "Mabuk kecubung ya?"


"Iya Kang. Biasa, yang murah aja," jawab si kaos merah.


Aku tersenyum kecil melihat mereka. Kini si debu sedang berjongkok dan diam. Ia menjawab sedang menjadi rak sepatu ketika si gondrong bertanya.


Pandanganku beralih ke atas bukit tepat di ujung jalan setapak ketika tiba-tiba nafasku tercekat.


"Bang, liat," bisikku pada Bang Win yang seketika mengikuti arah pandanganku. Dan seperti yang kuduga, matanya membelalak sesaat.


"Ayo pergi aja," ajaknya pelan. Aku mengangguk dan berjalan pelan setelah berpamitan pada si gondrong dan si kaos merah.


Tepat saat akan keluar saung, salah satu dari remaja mabuk itu menunjuk keatas bukit dan berkata kencang, "Eta tempo! Permen na sagede jelema! (Itu lihat! Permennya sebesar manusia!)"


Aku langsung menarik Bang Win dan berlari ketika salah satu dari mereka berteriak kencang. "Eta pocong! (Itu pocong!) Lari!"


Sempat kulihat kelimanya berlari di belakang kami hingga terjatuh dan terpeleset berkali-kali. Aku tidak memelankan langkah dan terus berlari tidak tentu arah hingga samar-samar terlihat vila yang kami tempati.


"Kok aneh ya? Perasaan kita jalan udah jauh banget, tapi ternyata saung tempat berteduh tadi ngga jauh dari vila," ucap Bang Win terengah saat kami sudah sampai di taman.


"Ngga taulah, Bang. Jangan nanya-nanya dulu," sahutku cepat dan masih berusaha mengatur nafas.


"Kalian abis dari mana, sih?" tanya Kang Utep menghampiri kami.


"Kenapa?" Bang Win bertanya balik.

__ADS_1


"Ada yang ngikut tuh, tapi udah aku usir barusan. Lain kali jangan main jauh-jauh deh. Kita ngga tau di sekeliling ini ada apa aja. Inoxu sama Adul 'kan wangi, yang gitu-gitu bisa nyamperin," bisik Kang Utep karena tidak ingin yang lain mendengar.


Aku dan Bang Win hanya berpandangan dalam diam. Seketika rasa was-was menyelusup di hatiku.


__ADS_2