
Malam ini, aku akan siaran bersama Adul. Setelah rapat tempo hari, Gia memutuskan jika kami berdua siaran berdua. Rating tinggi selalu didapatkan jika kami membawakan siaran bersama. Pada malam siaran sebelumnya, hanya aku seorang diri yang membawakan Kisah Tengah Malam karena Adul harus menemani emaknya ke pasar malam.
"Teh Inoxu!" panggil Adul melihatku. Ia duduk di sebuah bangku tepat di belakang gerobak yang berjualan siomay.
"Weis jajan euy," ucapku setelah menghampirinya dan ikut duduk.
"Adul laper, Teh. Emak ngga masak."
"Kenapa ngga masak?"
"Abis uangnya, Teh. Abis beli daster di pasar malem," jawab Adul.
Aku nyengir dan masih menunggunya selesai makan ketika Bang Win menghampiri.
"Oxu ngga makan?" tanyanya ikut duduk. Adul menoleh ke arah Bang Win dengan kikuk lalu mengangguk pelan.
"Ngga, Bang. Masih kenyang."
"Oh udah makan toh," balasnya.
"Belum."
"Terus kok kenyang?" tanya Bang Win lagi.
"Liat muka Bang Win," jawabku santai.
"UHUK! Uhuk uhuk uhuk!" Adul terbatuk-batuk karena tersedak mendengar ucapanku.
"Cupu ah! Makan aja keselek," ejekku sambil tertawa. Sedangkan ekspresi Bang Win? Seperti biasa, tersenyum samar tanpa reaksi berlebihan.
"Woi, ayo masuk!" Gea yang baru saja datang bersama Remi melambai ke arah kami. Setelah Adul menyelesaikan suapan terakhirnya, kami semua beriringan masuk ke dalam stasiun radio.
"Saya ngga nemenin kamu siaran ya? Mau beresin laporan dikit," ucap Bang Win ketika aku dan yang lainnya akan menaiki tangga.
"Iya," sahutku pendek.
"Eh Teh, emang bener yang dibilang Teh Gia kalau Teteh bisa liat setan?" tanya Adul setelah kami bersiap-siap melakukan siaran sepuluh menit lagi.
Aku mengangguk.
"Terus bisa ngehajar setan juga?"
Aku kembali mengangguk.
"Yes!" ucapnya senang.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Adul ngga perlu takut lagi kalo gitu, karena Teteh udah jadi pawang setan," serunya.
Aku menepuk bahunya keras, "Sembarangan banget dih kalo ngomong! Songong tau ngga!"
"Biarin atuh Teh, Adul itu lega karena Teteh sekarang bisa ngusir setan," sambungnya yang membuatku menepuk kening pelan.
"Standby!" seru Remi dari balik meja operator lagu.
"Okey."
"Dalam 3, 2, 1, on air!"
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam dan selamat bertemu lagi dengan Inoxu dan—."
"Dan Adul," sambung Adul.
"Dalam Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Senengnya malem ini bisa hadir kembali untuk menemani waktu istirahat para pendengar semua," lanjutku.
"Betul, Teh! Malem ini kita berdua akan membacakan satu kisah yang berasal dari pendengar setia Kisah Tengah Malam. Oh iya, untuk pendengar yang mau kirim kisahnya, boleh kok! Kirim aja ke email Kisah Tengah Malam biar bisa Adul dan Teh Inoxu bacain," Adul melanjutkan.
"Nah, untuk kisah yang kami berdua bacakan, akan mendapat hadiah souvenir dan bisa diambil di kantor Radio Rebel dengan membawa kartu identitas," aku menambahi. "Untuk pembuka kisah kali ini akan saya putarkan satu lagu lama dari Kahitna dengan Tak Sebebas Merpati, request dari Rina Ina. Jangan ke mana-mana dan selamat mendengarkan."
Aku mematikan mic dan menyandarkan punggung di kursi sementara Adul bersiap untuk membacakan kisah yang sudah masuk.
"Yak itulah dia lagu lama ya gaes ya, dari Kahitna. Sekarang waktunya buat Adul membacakan satu kisah yang sudah masuk. Disimak ya gaes ya?
Bisa dibilang kemampuan ini turunan dari keluarga karena adik saya juga memiliki kemampuan yang sama. Lebih spesifiknya, kemampuan saya itu yang kata orang-orang pahit lidah. Jadi, apapun yang saya katakan, selalu menjadi kenyataan.
Contohnya kaya gini nih, dulu saya pernah hampir diserempet motor, dan tiba-tiba saya mengucap agar orang yang hampir menyerempet saya jatuh dan mengalami patah tangan. Tidak lama dari itu, ucapan saya menjadi kenyataan dan benar saja, orang itu jatuh sehingga tangannya patah.
Ih Teteh, takut gini ceritanya," celetuk Adul menoleh padaku.
"Udah, lanjutin," balasku dengan suara yang lirih.
"Serem ya gaes ya?" tanya Adul pada para pendengar.
"Di lain waktu, saya pernah bertemu pria ganteng yang mengendarai motor ninja. Ngga tau kenapa, saya tiba-tiba berucap jika saya ingin menjadi pacarnya. Dan tau apa? Dua hari kemudian pria itu datang menemui saya dan meminta saya menjadi pacarnya. Padahal, kami sama sekali tidak saling kenal sebelumnya.
Lalu pernah juga, saya melihat seorang pria. Dalam penglihatan saya, pria itu akan meninggal karena kecelakaan, dan ternyata memang benar. Tidak lama dari sejak saya melihat pria itu, dia mengalami kecelakaan sampai akhirnya meninggal.
Di pasar saya melihat ada seorang ibu yang lewat. Dalam penglihatan saya, ibu tersebut menangis karena kecopetan. Tidak lama, hal yang terjadi dalam penglihatan saya juga terjadi. Ibu tersebut dicopet di pasar.
Karena hal-hal tersebut, orang tua saya membawa saya menemui orang yang berpengalaman dalam hal seperti ini untuk menyembuhkan saya. Saya diminta untuk sholat tahajud serta puasa senin kamis sebagai permulaan. Rasanya cukup berat sampai-sampai saya hampir menyerah.
Kata orang yang mengobati saya, kemampuan itu diturunkan dari nenek buyut. Masuk akal karena adik saya pun memiliki kemampuan seperti saya. Saya diikuti oleh penjaga tidak kasat mata berupa ular berwarna hitam dan juga harimau, sedangkan adik saya berupa ular berkepala lima yang memakai mahkota.
Tahap terakhir dari pengobatan adalah mandi di sebuah sendang atau mata air. Karena saya belum menikah, saya mandi dengan ditemani ibu saya. Orang yang mengobati saya berpesan agar saya tidak berbicara kotor dan tidak mengambil apapun yang bukan hak saya. Padahal, saat mandi, saya menemukan sebuah selendang berwarna merah dengan hiasan yang cantik.
__ADS_1
Saat saya memberitahukan selendang tersebut pada orang yang mengobati saya. Dia bilang itu adalah selendang milik Nyi Roro Kidul, dan jika pada waktu itu saya mengambilnya, saya akan bertambah sakti dan menjadi semakin susah untuk diobati. Oh iya, ada keanehan terjadi, saat proses mandi di sendang, disiapkan juga bunga yang jumlahnya sangat banyak. Tapi herannya, setelah selesai mandi, bunga-bunga yang sudah saya gunakan untuk mandi hilang entah ke mana, begitupun dengan selendang tersebut.
Sekarang saya masih menjalankan sholat malam dan juga puasa senin kamis sebagai ikhtiar agar bisa menjadi manusia normal.
Sekian kisah saya, terima kasih sudah dibacakan. Semoga Radio Rebel semakin berjaya."
Adul menarik nafas panjang setelah membacakan kisah pendengar yang cukup panjang sehingga aku memutuskan untuk mengambil alih.
"Ya pendengar semua, itulah kisah dari Nada. Semoga istiqomah dalam menjalani ibadah, karena ibadah-lah yang akan membentengi kita dari pengaruh jahat dari luar. Satu lagu dari Kapten dengan Malaikat Cinta request dari Melly Kurniati Trisiani akan menjadi ujung Kisah Tengah Malam kali ini. Inoxu, Adul dan seluruh tim pamit. Sampai jumpa lagi di Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Wassalamualaikum warahmahtullahi wabarakatuh."
Aku mematikan mic dan melepas headphone lalu tertawa melihat Adul yang kelelahan.
"Serem ya Teh ceritanya?" ucap Adul.
Aku hanya mengangguk mengiyakan karena sedang membereskan barang pribadiku. Gia dan Remi yang sudah selesai berkemas, datang menghampiri meja siaran.
"Tapi Adul mah ngga takut, karena ada Teh Inoxu. Mau ada setan melayang-layang juga oke-lah! Tinggal suruh Teh Inoxu gebuk."
"Ih Adul! Kamu songong terus dih!" sentak Gia sedangkan aku dan Remi melotot padanya.
Tok tok tok!
Gerakan tanganku yang sedang memasukkan botol air mineral terhenti karena suara ketukan. Ketukan tersebut jelas berasal dari jendela.
"Kayanya yang waktu itu dateng lagi ya?" tanya Gia lirih.
"Adul sih ngomong sompral," tambah Remi.
"Udah ngga apa-apa, ada Teh Inoxu kok! Biar Adul buka jendelanya, biar digebuk sama Teteh."
Aku terkesiap mendengar ucapan Adul yang menurutku sangat sompral.
Tok tok tok!
"Ih berisik! Iya-iya, Adul buka jendelanya!" seru Adul seraya berdiri dan menghampiri jendela. Dalam sekali gerakan, jendela sudah terbuka lebar dan sosok perempuan melayang itu terlihat jelas di mataku.
"Apa kamu?! Sini maju! Biar digebuk sama Teh Inoxu," sentak Adul lagi.
Aku melihat sosok tersebut melayang naik turun di luar jendela dan seketika rasa ngeri menyelusup di hati. Gia dan Remi sudah sejak tadi merapat padaku.
Saat sosok melayang itu menatapku dan menjulurkan lidahnya yang panjang, aku berdiri secepat kilat dan langsung lari ke luar studio diikuti Gia dan Remi.
"Bang Win!" teriakku histeris.
"Teteh! Jangan tinggalin Adul!" Adalah kalimat terakhir yang aku dengar sebelum kami meninggalkan Adul sendirian dan dengan cepat menuju tangga.
Bruak!
__ADS_1
Saat aku menoleh, terlihat Adul sudah tergeletak di lantai. Sepertinya ia pingsan karena menabrak pintu studio lain yang tepat berada di depan studio tempat kami siaran barusan.