
Aku terpaku berdiri di tengah-tengah ruangan yang akhirnya kukenali sebagai ruang meeting. Bedanya, interior ruangan ini terlihat elegan dan antik dengan hadirnya satu set kursi cantik lengkap dengan meja bertaplak motif bunga-bunga. Di atasnya meja ada set gelas untuk minum teh, dengan biskuit serta susu.
Pintu terbuka dan seorang gadis berpakaian gaun berjuntai muncul dengan sebuah buku di tangannya. Wajah cantiknya kemerahan saat terkena sinar matahari sore saat duduk di sebelah meja untuk minum teh.
Ketenangan yang kusaksikan tidak bertahan lama karena masuklah seorang wanita paruh baya berpakaian jarik serta kebaya lusuh tanpa alas kaki. Wanita itu menyuruh gadis berwajah Eropa yang masih menikmati tehnya untuk segera bergegas pergi.
Terlambat! Suara sol sepatu lars panjang terdengar berhenti di ambang pintu. Pemiliknya adalah seorang pria pendek bermata kecil dengan kulit kekuningan. Dengan ekspresi datar, ia mendekati kedua wanita yang sudah sepenuhnya ketakutan lalu menghunuskan pedang.
Teriakan gadis itu bersamaan dengan merembesnya da*rah dari balik gaun cantiknya. Tubuhnya luruh, tepat di samping wanita paruh baya yang sekarang sudah tergeletak tanpa kepala.
"Oxu?" panggil seseorang yang membuatku berusaha sekuat tenaga membuka mata. Namun yang terjadi malah sebaliknya, aku semakin tenggelam dalam kegelapan
***
Mataku menyipit karena sinar matahari yang menyorot. Aku menyadari jika sedang berada di halaman stasiun radio setelah berbalik dan menemukan rumah besar yang sama persis seperti bangunan radio tempatku bekerja. Di depanku ada seorang wanita cantik di usianya yang sudah tidak lagi muda. Sama seperti gadis yang kulihat sebelumnya, wanita ini menggunakan gaun berjuntai yang indah. Banyak orang berkumpul dan duduk di tanah menunggu giliran untuk maju lalu diberi sebuah minuman dalam gelas bambu.
Beberapa orang anak perempuan tanggung yang memakai kain kemben dan tanpa alas kaki datang bergantian membawakan minuman dalam sebuah kendi. Ramuan wanita itu dipercaya bisa menyembuhkan wabah penyakit yang sedang menyerang banyak orang. Aktivitas itu berlangsung cukup lama hingga secara tiba-tiba sebuah mobil besar yang memuat banyak pria berseragam berhenti di depan rumah besar ini. Mereka turun dengan menenteng senjata api serta katana atau pedang panjang. Tanpa banyak bicara, dalam beberapa menit saja mereka sudah menumbangkan semua orang yang terlihat, hingga jatuh tergeletak dalam kubangan darah.
Aku menjerit dan berteriak sekuat tenaga pada mereka yang melakukan pemban*taian. Sayangnya tidak ada yang menyadari keberadaanku, apalagi mendengar suaraku saat aku dengan parau meminta mereka menghentikan aksi yang kejam itu.
"Oxu!" Panggilan kali ini menyentakku kuat ke permukaan. Sesaat aku tidak bisa bernafas hingga akhirnya ada cahaya terang yang perlahan menyelimuti tubuhku.
"Oxu!" panggil suara itu lagi yang kemudian kusadari adalah suara Bang Win.
Mataku terasa berat namun ada dorongan kuat untuk terus membukanya. Dan begitu terbuka sepenuhnya, terdengar seruan hamdalah mengalir dari orang-orang yang mengelilingiku.
Bang Win menatapku dengan pandangan khawatir. Perlahan, ia membantuku duduk dan memberiku segelas air. Setelah beberapa saat, aku mulai mengenali sekeliling dan menemukan Kang Utep serta pak ustad duduk tidak jauh dariku. Gia, Remi dan Adul menatap dari belakang mereka dengan wajah yang sudah penuh air mata.
__ADS_1
"Jagoan," lirih Kang Utep.
Aku mengerutkan kening dan masih diam sampai pak ustad berkata jika semua baik-baik saja. Pria itu berpamitan pulang setelah sebelumnya kembali memberikanku segelas air yang sudah ia doakan.
"Ada apaan sih?" Adalah kalimat pertama yang aku ucapkan.
Pertanyaanku tidak langsung mendapat jawaban selama beberapa saat, sampai akhirnya Bang Win bersuara.
"Kamu tadi pingsan pas di tengah tangga."
"Kenapa?"
"Ada yang mau masuk ke badan kamu, tapi kamu menolak keras. Benturan energi yang saling bertabrakan itulah yang bikin kamu pingsan," jelas Kang Utep.
"Oh ya?" tanyaku tidak percaya.
Aku menyeringai dan menatap mereka satu persatu.
"E*dan kamu Xu! Bikin kaget aja," ucap Gia pelan. Remi dan Adul masih menatapku khawatir.
"Aman," sahutku pendek.
"Hayu pulang, biar Akang anterin," ucap Kang Utep pada mereka bertiga.
Aku bangkit berdiri dan mengamati sekelilingku selama beberapa saat. Mataku terpaku di titik tempat gadis bergaun berjuntai duduk dan menikmati teh untuk terakhir kalinya. Berbagai macam perasaan saling menumpuk dan membuat hatiku sesak.
"Pulang?" tanya Bang Win menyadarkanku ketika yang lainnya sudah meninggalkan kami.
__ADS_1
Aku menggeleng, "Makan."
Bang Win terkekeh sebelum meraih tanganku dan menariknya keluar ruangan.
"Tadi saya udah nelpon mama kamu dan bilang kalau kamu pulang terlambat," ucapnya saat kami berjalan menuju ke sebuah warung makan lesehan di sekitar stasiun radio.
"Terus apa kata mama?"
"Kakak kamu yang bicara, kata dia oke aja asal saya bisa ngembaliin kamu ke rumah sebelum subuh tanpa kurang satu apapun. Kalau ngga ...," perkataan Bang Win terhenti.
"Apa?"
"Kalau ngga dia bakal bikin saya rata sama tanah," lanjutnya.
Aku tertawa geli mendengarnya.
"Tadi saya takut kamu kenapa-kenapa. Selama sesaat saya ngerasa kalau saya bisa ngasih semua yang saya punya hanya supaya kamu baik-baik aja," ucapnya lagi. Tangannya menggenggam erat tanganku dalam saku jaket.
"Saya kira kamu ngga akan bisa bangun lagi. Saya teriak-teriak kaya orang hilang kewarasan waktu tau kamu pingsan sampai Utep mengira saya yang akhirnya kesurupan."
Aku mendongak menatap wajahnya.
"Saya pengen ngejaga kamu terus, tapi saat ini masih belum bisa. Jadi sampai saatnya tiba, tolong pastiin kamu selalu ngejaga diri kamu sendiri buat saya. Ya?"
Aku mengangguk dalam diam.
"Seperti yang saya pernah bilang, saya ngga akan bisa memulihkan diri kalau sampai kehilangan kamu."
__ADS_1
Ucapan Bang Win membuat mataku berkaca-kaca dan hidungku perih. Entah kenapa, semakin hari aku merasakan jika rasa sayangku untuk pria itu tumbuh semakin besar.