
"Teteh!" seruku sembari berlari menghampiri Teh Raylen. Terlihat di bangku tunggu, mama Remi sedang menangis.
"Remi kenapa, Teh?" tanyaku dengan napas terputus-putus.
"Tadi, begitu Teteh selesai nelpon kamu pas siaran, Remi kena serangan jantung. Keadaannya kacau banget. Banyak dokter sama perawat berlarian. Kondisi Remi ngedrop banget, Xu. Bahkan tadi garis EKG-nya lurus tanda henti jantung. Dua dokter bergantian ngelakuin CPR (pijat jantung) dan alhamdulillah Remi balik.
Dan beberapa saat lalu, begitu dokter udah keluar dari ICU. Perawat ngelaporin kalau ada pergerakan dari Remi. Sekarang mereka masih ngecek di dalem. Itu kenapa Teteh nelpon kamu."
Aku menghembuskan napas lega walaupun belum sepenuhnya. Setidaknya, Remi dalam kondisi bergerak beberapa saat lalu.
Nyx serta yang lainnya sudah ikut duduk di bangku tunggu. Gia menemani mama Remi yang masih menangis dan aku berjalan menuju pintu ICU. Sosok Remi yang dikelilingi para dokter dan perawat membuatku kembali trenyuh.
"Rem, sehat lagi yuk? Bisa kan ya? Jangan ninggalin aku sekarang. Apalagi selain keluarga kamu, aku, Gia, dan temen-temen di Radio Rebel, ada Nyx juga yang nungguin kamu," bisikku lirih.
Bang Win berjalan ke arahku dan memegang bahuku pelan. "Mau ke mushola? Saya temenin," tanyanya.
Aku mengangguk setelah sebelumnya melihat jam di ponselku. Saat sedang berpamitan pada yang lain, Gia dan Mama Remi pun ingin ikut bersama kami ke mushola.
"𝙆𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙠𝙚𝙖𝙙𝙖𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙙𝙞𝙝𝙖𝙙𝙖𝙥𝙞, 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙧𝙞𝙣𝙜𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙠𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙡𝙚𝙬𝙖𝙩 𝙙𝙤𝙖. 𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙨𝙪𝙡𝙞𝙩, 𝙩𝙚𝙩𝙖𝙥 𝙥𝙚𝙧𝙘𝙖𝙮𝙖 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙥𝙞𝙣𝙩𝙪 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙞𝙩 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙪𝙠𝙖 𝙡𝙚𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙤𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙢𝙥𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙗𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖"
Aku selalu mengingat nasehat yang sering diucapkan mama. Ya, saat semua terasa sulit, pintu langit akan tetap selalu terbuka.
Air mataku turun tanpa kuperintahkan saat aku memohon untuk kesembuhan Remi. Walaupun manusia hidup dengan membawa takdirnya sendiri, kekuatan doa juga tidak kalah dahsyat dan aku percaya penuh akan hal ini.
Cukup lama aku bersimpuh dan memohon hingga kakiku terasa kebas. Alunan ayat suci Al-Quran menandakan jika waktu subuh akan segera tiba. Masih dengan memakai mukena, aku berdiri dan menyandar di tembok mushola untuk sedikit melepas lelah.
"Xu," sapa Gia yang sudah duduk di sebelahku. "Nunggu subuh dulu kita?"
Aku hanya mengangguk dan menutup mataku. Gia memberitahu jika Mama Remi sudah kembali ke ruang ICU bersama Teh Raylen saat aku masih berdoa.
"Kamu jelek banget tadi pas ngamuk di kantor polisi," ucap Gia.
"Biarin, kesel aku tuh. Bisa-bisanya ada orang, udah jahat ke orang lain, eh masih cengar-cengir. Beda halnya kalau dia keliatan nyesel. Ini mah boro-boro," jawabku pelan.
__ADS_1
"Sabar atuh, kamu mah suka gitu deh. Pendiem, tapi sekalinya emosi bisa mele*dak-le*dak."
Kami masih menunggu selama beberapa saat ketika ponselku berbunyi. Dari Teh Raylen.
"Xu! Alhamdulillah, Xu! Remi udah sadar!" ucapnya begitu panggilan kuangkat. Aku terpana selama beberapa saat sebelum melakukan sujud syukur lalu bangkit berlari ke luar mushola dengan masih memakai mukena dan meninggalkan Gia.
"Xu! Jangan ninggalin," pekik Gia melihatku berlari.
Aku berlari di sepanjang koridor rumah sakit dan mengejutkan beberapa penunggu pasien, dokter, serta perawat yang berpapasan denganku karena mukena yang berkibar-kibar. Seruan istigfar bersautan di belakangku.
Tanpa mempedulikan itu semua, aku terus berlari hingga nafasku sesak dan berhenti tepat di depan pintu ruang ICU di mana aku melihat jika Teh Raylen dan Mama Remi sedang berada di dalam ruangan dan mengusap kening Remi yang masih berbaring.
"Xu!" seru Gia yang datang menyusul dengan membawakan tas serta sepatuku. "Bikin kaget deh tau-tau lari! Mana aku disangka setan lagi sama orang-orang. Mereka pada baca taawudz waktu aku lewat pas ngejar kamu!"
"Remi udah sadar," ucapku pelan.
"Hah?"
"Remi udah sadar," ulangku.
"Woi, lepas dulu itu mukena," tegur Nyx yang baru datang dari arah belakang bersama Bang Win dan Kang Utep.
"Remi udah sadar," aku memberitahu.
"Udah tau," balas Nyx pendek. "Eh mending balik ke mushola aja dulu sana, udah subuh. Biar aku yang nunggu di sini."
Aku menatapnya dengan mata menyipit.
"Udah, sana," suruhnya lagi.
"Bang Win pinjem sendal," kataku. Dengan segera ia melepaskan sendalnya.
"Kang Utep," panggil Gia.
__ADS_1
"Iya-iya, nih pake," balas Kang Utep menghembuskan napas sembari melepaskan sendal yang dipakainya.
***
"Aku sengaja berangkat agak awal karena di grup chat Gia bilang mau dateng lebih awal buat nge-copy file rekaman himbauan dari Kapolsek. Kasian, barangkali Gia takut sendirian di studio. Kalau Xu 'kan emang biasa dateng awal karena bareng sama A Nyx," Remi bercerita setelah ia pindah ke ruang perawatan di sore harinya. Aku, Gia dan yang lain pulang ke rumah masing-masing setelah menengok Remi setelah sholat subuh.
"A Nyx? Aa?" tanyaku pelan.
Gia nyengir dan Remi terlihat salah tingkah.
"Astaga banget loh. Bisa-bisanya aku ngga tau kalo kamu sama Nyx deket," gumamku. "Apa sekarang aku harus manggil kamu kakak ipar, Rem?"
"Mau dilanjutin ngga ceritanya?" tanya Remi balik.
"Iyalah!" seruku " Terus gimana?"
"Pas baru berangkat, aku udah ngerasa diikutin sama dua orang pake satu motor, parahnya aku malah ngambil jalan potong yang sepi dengan harapan cepet nyampe. Eh, langsung deh diberentiin sama mereka. Pas mereka mau ngerebut, ya aku tahan. Kan itu motor Teteh aku. Kalau motornya ilang kasian Teteh nanti ngga bisa kerja, pikirku gitu. Mereka makin kenceng ngerebutnya, sampe akhirnya aku teriak, mereka malah ngeluarin go*lok. Ya kena deh," cerita Remi.
Aku dan Gia mendengar ceritanya dengan penuh rasa tegang hingga tidak sadar menahan napas.
"Kamu meni nekat pisan sih!" seruku.
"Ya aku kan hidupnya pas-pasan. Jadi sebisa mungkin mempertahankan benda berharga satu-satunya. Aku ngga kepikiran mereka bakal nekat sampe ngeba*cok. Pikir aku mereka akan kabur kalau aku teriak."
"Harusnya kamu lepasin. Harta bisa dicari, nyawa mah ngga," gerutuku. "Berapa sih harga motor, biar ntar dibeliin satu."
"Halah, Xu! Kamu aja pas-pasan kok, gaya banget mau ngebeliin motor. Padahal mama kamu sama A Nyx berkecukupan, kamunya aja gengsi ngga mau ngerepotin mereka."
Aku tersenyum. Itulah Remi, dia tau persis jika aku membiayai diriku sendiri tanpa campur tangan mama dan Nyx. "Yang bilang aku mau beliin kamu motor, siapa?" tanyaku balik. "Aku cuma bilang dibeliin, tapi bukan aku yang beliin."
"Terus siapa?" tanya Remi.
"Gia. Noh, dia anak orang kaya!" seruku menatap Gia yang menepuk dahinya pelan.
__ADS_1
Tingkah Gia membuatku dan Remi sontak tertawa. Dengan pelan aku memeluk Remi yang masih tertawa diikuti oleh Gia. "Makasi Rem, udah baik-baik aja."