Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 58


__ADS_3

"Kenapa senyum-senyum sendiri? Inget pas lamaran kemarin ya?" tanya Bang Win tiba-tiba sembari menggenggam tanganku yang sedang berjalan di tempat parkir.


"Bang Win! Ngagetin aja!" seruku melepas headphone.


"Saya udah manggil dari tadi loh. Kalau kamu ngga denger, ya itu bukan salah saya, yank."


Keinginanku untuk mendebatnya seketika musnah mendengar akhir kalimat yang ia ucapkan. "Ya gimana, orang lagi pake headphone." Aku terkejut sendiri ketika mendapati suaraku yang mendadak lembut.


"Udah, ngga usah diinget-inget momen kemarin. Saya aja biasa kok. Mungkin kamu kelewat grogi, sampai-sampai jatuh waktu jalan pake high heels," kekehnya.


"Bang Win! Udah atuh jangan diungkit lagi. Malu!" ucapku menutup wajah.


"Iya-iya. Masuk aja yuk? Mulai ujan nih," ajaknya.


Aku memandang ke atas langit dan melihat butiran-butiran air yang jatuh satu persatu.


"Saya ngga bawa mobil, nanti nganterin kamunya pake motor aja ya?"


"Mobil Bang Win ke mana emang?" Aku mendudukkan diri di atas sofa diikuti oleh Bang Win yang mengambil posisi di depanku.


"Di pake Krisna. Mobilnya sendiri turun mesin, sedangkan dia ada tugas luar kota. Ngomong-ngomong? Nyx belum pulang?"


"Besok atau lusa kayanya. Lagi sibuk banget dia," jawabku menyandarkan diri.


Bang Win hanya mengangguk dan mengeluarkan sekotak coklat dari saku hoodienya. "Tadi saya beli minum ke Deltamart. Terus lagi ada promo tebus murah, ya karena murah saya ambil aja coklat," ucapnya seraya memberikan coklat tersebut.


"Makasi Bang Win," balasku seraya tersenyum miring. Aku sering sekali jajan ke Deltamart dan coklat ini tidak pernah masuk ke dalam promo tebus murah dikarenakan harganya yang lumayan.


"Assalamualaikum! Helow epribadih!" Adul masuk setelah sebelumnya mengibaskan jaket yang dikenakannya. Langkahnya yang riang seketika berhenti mendadak ketika melihat Kang Utep yang baru turun dari lantai dua.


"Apa liat-liat?" sentak Kang Utep yang semakin membuat Adul menatapnya sinis.


"Apa nanya-nanya?" balasnya seraya duduk di sebelahku.


Aku dan Bang Win terkekeh melihat tingkah keduanya. Kami menunggu sampai beberapa saat kemudian hingga Gia dan Remi datang, lalu beranjak untuk menuju ke studio.


"Yank, saya keluar dulu sama Utep ya?" pamit Bang Win yang dengan segera kuangguki.

__ADS_1


"Bisa-bisanya! Bisa-bisanya Bang Win ngomong gitu di depan jomblo sejati!" keluh Remi seraya mengguncang tubuh Adul di dekatnya berkali-kali.


"Teh Rem, ini Adul pusing. Duh," ucap Adul.


"Sori," balas Remi pendek lalu berjalan menaiki tangga.


Kami segera menuju ke posisi masing-masing begitu sampai di studio. Dalam hitungan detik, tanda on air sudah menyala menandakan siaran dimulai.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inoxu dan Adul hadir kembali dari studio lantai dua Kisah Tengah Malam Radio Rebel Bandung," aku membuka siaran.


"Malam ini kami kembali hadir untuk menemani istirahat kalian semua dengan kisah yang pastinya asik dan menegangkan untuk didengar. Satu lagu dari Pia dengan Lentera Cinta permintaan dari Jannah akan Adul putarkan sebagai awal kisah. Jadi, jangan ke mana-mana ya gaes ya," Adul melanjutkan sebelum mematikan mic, sedangkan aku memilih untuk menghubungi narasumber. Setelah terhubung, aku memintanya untuk menunggu sejenak.


"Mudah-mudahan dapet cerita yang enakeun ya, Teh?" ucap Adul melihatku.


"Aamiin," balasku pelan. Aku ikut bersenandung lirih mengikuti lagu yang sedang kudengar hingga tanpa terasa, lagu sudah menjelang berakhir.


"Itulah dia Pia dengan Lentera Cinta. Selamat datang saya ucapkan untuk para pendengar yang baru saja bergabung. Dan sekarang, di ujung sambungan sudah ada narasumber kita yang akan membagikan kisahnya. Halo, dengan siapa di mana?" tanyaku.


"Selamat malam Teh Inoxu dan Adul. Nama saya Arif di Dago. Saya berasal dari Padang dan ingin membagikan kisah tentang kejadian aneh yang pernah saya alami"


"Cerita ini udah lama juga sih Teh, tapi gak apa-apa?" tanyanya.


"Ngga apa-apa kok Kang, silakan," balasku.


"Kejadian ini terjadi tahun 2009 tepatnya 30 September 2009 saat gempa besar mululuh lantahkan tanah kelahiran saya. Saya yang berprofesi sebagai penarik angkot nekat keluar malam itu untuk mencari rejeki walau pun ada beberapa titik jalan yang aksesnya ditutup imbas gempa.


Karena saya penduduk asli, jadi saya tau jalan alternatif lain dan ini menguntungkan banget karena teman-teman seprofesi ngga ada yang berani keluar karena takut gempa susulan serta penyakit kulit yang sedang marak saat itu.


Alhasil, dari pagi sampai malam angkot saya penuh terus dan itu bikin saya bersemangat hingga lupa kalau hari sudah semakin malam. Tepat jam setengah sembilan, barulah saya berniat pulang."


Aku menahan nafas sejenak karena terbawa suasana yang diceritakan Kang Arif. Saat menoleh ke arah Adul, sesuatu jatuh di atas kepalanya dan membuatku reflek menengok ke arah langit-langit. Tawaku hampir pecah saat menyadari jika seekor cicak baru saja buang air di atas kepala Adul. Dengan pelan aku menggeser kursi menjauh dari kursi Adul, karena cicak adalah salah satu hewan yang kutakuti.


"Terus gimana Kang Arif?" tanya Adul yang membuatku kembali fokus mendengarkan cerita.


"Di tengah perjalanan pulang ke rumah, tepat di dekat sebuah tempat bimbel, angkot saya diberhentiin oleh sekumpulan remaja yang agaknya baru pulang belajar dari Bimbel tersebut. Saya sih seneng aja, karena dapet tambahan penumpang pas sekalian pulang."


Aku kembali melirik ke arah langit-langit dan terlihat jika cicak tersebut merayap pelan serta hampir terjatuh.

__ADS_1


"Awalnya suara berisik khas remaja kedengeran dari arah belakang bangku penumpang tapi pas baru sampai di tengah perjalanan suara berisik itu tiba tiba memelan dan berangsur-angsur menghilang," lanjut Kang Arif.


"Pada ngapain itu anak-anak, Kang?" Adul kembali bertanya dengan nada penasaran.


"Awalnya saya gak curiga Kang Adul, jadi saya ngga tau itu anak-anak pada ngapain. Tapi kok tiba-tiba merinding. Akhir saya beranikan menengok ke belakang. Kang Adul tau apa yang saya lihat?"


"Ya mana tau, kan Akang yang punya cerita," potong Adul cepat sedangkan aku masih berkali-kali menengok ke arah langit-langit.


"Di belakang, saya lihat potongan-potongan tubuh yang meloncat-loncat keluar melalui jendela!"


"Astagfirullah!" seru Adul.


"Saya ketakutan banget dan maksain pulang dalam kondisi lemas dan panik sampai akhirnya tiba di rumah dalam keadaan demam. Dari sejak itu, saya gak berani narik selama sebulan. Takut!" lanjut Kang Arif.


"Iyalah Kang! Siapa juga bakal takut kalo jadi Akang. Serem banget bisa liat potongan-potongan badan orang loncat-loncat gitu. Hiih," ucap Adul. "Ada lagi Kang?"


"Udah, paling segitu aja. Makasi udah ngasi saya kesempatan cerita. Sukses buat Teh Inoxu dan Kang Adul."


"Aamiin, makasi juga Kang Arif di Dago." Adul memutus sambungan.


"Cerita Kang Arif serem banget ya gaes ya? Ngga kebayang kalau Adul di posisinya. Udah pingsan kali! Itulah cerita Kang Arif, semoga bisa menghibur pendengar semua ya? Satu lagu dari Tic Band dengan Terbaik Untukmu akan Adul putarkan sebagai akhir dari kisah malam ini. Adul dan Teh Inoxu pamit. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Adul mematikan mic dan memperhatikanku yang sedang melihat cicak di langit-langit.


"Teh, serem banget deh. Ketemu badan sepotong-sepotong. Loncat-loncat pula, kaya gini," Adul memperagakan tangannya yang menggelepar di atas meja.


"Ish songong," timpal Gia dan Remi yang mendatangi kami. "Mulai lagi Adul ya?"


"Ish, di sini kan ngga pernah ada badan sepotong-sepotong," balas Adul menantang.


Pluk! Ketakutanku terjadi. Cicak jatuh tepat di atas kepala Adul dan membuatku reflek berteriak.


"Bang Win!" teriakku melepas headphone dan menyambar ponsel serta tasku menjauh dari Adul.


Remi dan Gia yang kaget ikut menghindar. Sedangkan Adul, ia histeris karena cicak yang jatuh di kepalanya dikira sebagai potongan jari.


"Tolong! Tolongin adul! Pergi! Adul bercanda! Pergi!" teriaknya kencang. Seperti yang sudah-sudah, ia kejang-kejang di kursi siaran masih dengan cicak di atas kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2