Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 6


__ADS_3

"Solider, solider! Yang bilang solider malah duluan kabur! Emang kaya caleg kamu mah, kalo ada maunya aja, teriak paling kenceng. Giliran terdesak, cari aman sendiri," semprotku ketika melihat Gia di studio.


Malam terakhir pertemuan kami, diwarnai insiden suara tawa tanpa wujud. Keluar dari studio, kami berpisah dan langsung pulang ke rumah masing-masing.


"Ya maaf. Tapi spontan loh, pas denger pas rasanya pengen lari."


"Ngga tau ah!" ucapku kesal dan langsung menuju ke meja kerja.


"Pssst psssst, Xu!" panggil Gia.


"Naon?"


"Gimana kalau nanti siarannya, kamu nyeritain kejanggalan di studio ini?" jawab Gia.


Aku menatap wajahnya tidak percaya. "Makin macem-macem kamu mah! Kita ngga ngomongin aja di sini banyak kejadian aneh, apalagi diomongin!"


"Iya ya? Ya udah deh ngga usah aja," balasnya lemah. "Eh tapi, Xu. Rumah sakit XXX tempat Karin kerja itu, kata mamaku emang udah ngga beroperasi."


"Astagfirullah! Belum mulai siaran nih! Kalo sampe ada yang aneh-aneh, aku mau kabur. Bodo amat mau dipecat juga."


"Yeee! Jangan atuhlah. Kita harus memantapkan hati," ucap Gia.


"Serah!"


***


"Satu persembahan dari Westlife dengan Flying Without Wings semakin membuat malam ini meringis alias merinding romantis. Halah! Pendengar pada ngerasa ngga sih? Akhir-akhir ini suhu pada malam hari itu dingin banget loh. Kalau kata mama saya, ini musimnya orang-orang pada jatuh sakit. Jadi pastiin, selalu jaga kesehatan dengan makan yang bergizi, istirahat cukup dan juga berolahraga.


Yak! Di ujung sambungan, narasumber kita sudah menunggu. Silakan perkenalkan diri."

__ADS_1


"Saya Ucuy, Teh Inoxu. Dari Soreang."


"Silakan Kang Ucuy, punya cerita apa nih?" tanyaku.


"Ini cerita pas kemaren ke Jakarta lewat jalan tol Cipularang, Teh."


"Cerita tol Cipularang? Oh aman kalo Cipularang mah. Jalan tol itu jauh dari sini, jadi setannya ngga bakal mampir ke mari," celetukku.


"Xu!" Gia berbisik keras mengingatkan sedangkan Remi menatapku tajam.


"Maaf-maaf," bisikku sembari menangkupkan tangan di depan dada. "Lanjut Kang."


"Jadi ceritanya saya ada meeting nasional di Jakarta dan baru bisa berangkat ke sana setelah pulang kerja. Karena lewat tol Cipularang, ke Jakarta ngga memakan waktu lama. Waktu itu saya berangkat jam lima sore, jalan santai gitu, Teh. Posisi mendung dan sempet gerimis."


"Hawa-hawanya udah ngga enak, nih," celetukku.


"Aman kok, Teh. Pas banget adzan magrib, saya baru sampai di kilometer 90an."


"Bener banget. Sebelum rest area di kilometer 97, hujan agak deras turun lagi. Kontur jalan di sana kan menurun terus menanjak gitu, makanya saya pelan-pelan aja karena niatnya juga jalan santai. Mau mampir juga ke rest area buat makan dan sholat magrib.


Nah, tau-tau dari arah belakang ada mobil mepet dan ngasi lampu jauh. Saya minggir dong, mau ngasi jalan. Tapi ditunggu-tunggu, itu mobil ngga nyalip-nyalip. Pas saya liat di spion tengah, mobil itu pas banget ada di belakang mobil saya. Ya saya kasih lampu untuk pindah jalur ke kanan, eh diikutin lagi, Teh."


"Woh, terus gimana?" tanyaku penasaran.


"Mobil itu ngasi lampu jauh lagi. Lama-lama saya kesel, karena silau kan? Saya pikir, pengemudi mobil belakang itu kayanya pemula, karena suka banget maen lampu jauh. Selain itu, mepet banget pokoknya. Saya ngebut, dia ikut ngebut. Saya pelan, dia juga pelan, tapi ngga pernah nyalip.


Sampai akhirnya ada rambu petunjuk kalau rest area sekitar satu kilometer lagi. Saya tancap gas, Teh. Lama-lama takut juga, dipepet kaya gitu. Pas banget mau masuk ke jalur kiri yang ke rest area, saya liat itu mobil masih mepet di belakang saya. Saya semakin ngebut. Niatnya ambil jalur rest area terus berhenti, pengen tau supir mobil yang di belakang. Pas udah berhenti, saya nengok kan ya ke belakang. Dan Teteh tau ngga? Itu mobil ngilang! Ngga keliatan di mana pun. Padahal tadi jelas banget kalau mobil itu masih ada di belakang mobil saya."


"Serius?" Aku berusaha menjaga nada suaraku agar tidak terdengar ketakutan.

__ADS_1


"Serius banget, Teh. Ngga ada mobil satu pun pokoknya."


"Ngeri banget sih! Kalo misal sampe kenapa-kenapa gimana coba? Ya kan dipepet, dikasih lampu, kalau Kang Ucuy gugup aja, bisa kenapa-kenapa," tambahku.


"Ya itu dia, Teh. Takutnya celaka kan? Kilometer 90-100 udah terkenal banget lah. Nah, setelah itu, kejadian kedua pas di mesjidnya. Saya terlambat ikut sholat magrib berjamaah. Jadinya pas masuk mesjid, cuma tinggal saya. Padahal kalau dipikir-pikir agak ngga masuk akal. Waktu sholat magrib belum terlalu jauh, dan biasanya suka ada juga yang ngga kebagian jamaah. Atau kalau ngga, abis sholat suka pada duduk-duduk sekalian istirahat di teras mesjid. Ini mah ngga ada. Asli ngga ada orang sama sekali, Teh. Pas sholat juga hening banget. Sekilas kecium bau dupa gitu. Cuma yang namanya sholat kan kita berusaha khusuk. Tapi ya itu, perasaan mah ngga bisa dibohongin. Ngga tenang aja bawaannya," jelas Kang Ucuy.


"Terus ada kejadian apa?"


"Begitu salam, tau-tau di dalam mesjid rame banget. Dan suasana ngga sehening seperti sebelumnya. Banyak orang yang sholat, yang duduk-duduk. Ada anak kecil tidur-tiduran, padahal saya yakin banget, sebelumnya ngga ada orang sama sekali."


"Wow, serem juga ya, Kang? Terus Akang nyampe ke Jakarta dengan selamat 'kan?" tanyaku penasaran.


"Ya iya atuh, Teh. Kalo saya kenapa-kenapa mah mana bisa sekarang saya cerita di Kisah Tengah Malam."


"Oh iya ya?" ucapku menepuk dahi. Gia dan Remi terlihat menggelengkan kepala.


"Paling itu aja, Teh, kisah dari saya. Alhamdulillah saya selamat sampai Jakarta dan selamat juga pulang kembali ke Bandung."


"Oke kalau gitu. Kang Ucuy, makasi banyak ya udah mau berbagi kisahnya di sini. Sehat-sehat terus ya?" Aku mengakhiri pembicaraan.


"Sama-sama, Teh Inoxu. Sehat-sehat selalu juga ya?"


Aku mematikan sambungan dan fokus ke arah mic. "Sejarah dibangunnya tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta demgan Bandung adalah dalam rangka menyambut KTT Asia-Afrika untuk memperingati 50 tahun KTT Asia-Afrika (1955-2005).


Tol Cipularang ini diresmikan pada tahun 2005 oleh presiden Indonesia waktu itu yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Mungkin para pendengar udah sering dengar kalau tol ini cukup angker dan banyak kisah-kisah horor yang terjadi di sana. Selain itu, banyak kecelakaan terjadi dan seringnya memakan korban jiwa. Kalau dari keadaan jalan yang panjang, menanjak lalu menurun sih memang bisa dibilang rawan ya? Itulah kenapa, setiap mau berpergian alangkah baiknya jika kita berdoa dan meminta keselamatan pada Allah SWT.


Satu tembang dari Frank Ocean dengan Moon River menjadi penutup perjumpaan kita kali ini. Saya Inoxu mohon pamit. Sampai ketemu lagi di Kisah Tengah Malam setiap hari Senin, Rabu dan Jumat jam sebelas malam hanya di 12,08 FM Radio Rebel Bandung. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic, melepas headphone dan dengan cepat mengemasi barang pribadiku ke dalam tas.

__ADS_1


"Buru-buru banget?" tanya Gia.


"Yo'i, sebelum ada hal yang aneh terjadi," jawabku bergegas memakai ranselku. Seolah membenarkan, Gia dan Remi juga ikut bergegas berkemas. Kami berjalan cepat menuju ke pintu keluar studio.


__ADS_2