
Aku memacu kakiku cepat begitu turun dari angkot dan seketika terkejut saat beberapa orang penyiar yang merangkap sebagai pencari berita lapangan berlari ke luar dari Radio Rebel menuju ke kendaraan masing-masing. Tepat di pintu masuk, Teh Hani dan Adul menatap ke arah mereka dengan pandangan khawatir hingga tidak menyadari kedatanganku.
"Teh, berita yang di grup Whatsapp itu bener!?" tanyaku panik. Bagaimana aku tidak gugup? Hampir setengah jam lalu, di grup Whatsapp yang beranggotakan penyiar serta karyawan Radio Rebel, tersebar berita bahwa telah terjadi peristiwa bo*m bu*nuh di*ri di polsek Astana Anyar. Hal tersebut membuatku teringat pada Bang Win yang pagi tadi berpamitan untuk pergi ke kantor salah satu vendor baru, yang letaknya tidak jauh dari lokasi kejadian. Karena panik, tanpa sempat berganti baju, aku segera berlari ke arah jalan raya dan menaiki angkot.
"Bang Win udah ke sini belum, Teh?" tanyaku lagi dengan suara yang semakin gugup.
"Bang Win sama Kang Utep ada janji mau ketemu sama vendor baru, Xu, jadi dari tadi belum dateng ke sini. Emang kenapa sih? Kok cemas banget kayanya?" Teh Hani menatapku lekat.
"Iya, aku tau itu mah. Tadi pagi Bang Win emang pamit mau ketemu vendor baru. Kata dia, lokasi kantor vendornya ngga jauh dari polsek Astana Anyar, Teh! Makanya aku khawatir," jawabku.
"Ya Allah!" seru Teh Hani dan Adul kompak.
"Udah dihubungin, Teh?" tanya Adul.
"Udah, tapi ngga diangkat teleponnya," keluhku mengusap peluh di kening.
"Sabar, positif thinking, Xu. Masuk dulu hayu? Duh kamu meni masih pake piyama gitu sih," lirih Teh Hani menatapku prihatin.
"Ya gimana atuh, Teh? Orang panik. Boro-boro mikirin penampilan," balasku sembari berjalan, lalu duduk di sofa diikuti oleh Teh Hani, sementara Adul berlalu ke arah pantry dan kembali tidak lama kemudian dengan dua Teh Kotak di tangannya.
"Minum dulu, Teh. Insya Allah, Bang Win ngga kenapa-kenapa," katanya sembari memberikan satu Teh Kotak padaku dan satu lagi langsung diminumnya sendiri.
"Ish si Adul, kirain mau ngasi ke Teteh," kata Teh Hani sinis yang direspon cengiran.
Hampir setengah jam kami habiskan tanpa mengobrol dan fokus dengan ponsel di tangan masing-masing. Ketegangan semakin terasa, saat melihat informasi di grup Whatsapp yang mengabarkan jika peristiwa tersebut memakan sebelas korban dari pihak sipil dan juga dari pihak kepolisian. Mereka juga mengabarkan jika tidak melihat sosok Bang Win dan Kang Utep di sana.
"Belum ada kabar nih, Teh," aku berkata lirih dengan rasa khawatir yang semakin memuncak.
Tepat setelah aku berkata seperti itu, ponsel di tanganku bergetar tanda ada panggilan masuk.
"Teh, ada nomer ngga dikenal nelpon, gimana ini? Pasti mau ngabarin yang ngga enak deh!" aku berkata panik dengan suara tinggi.
Wajah Teh Hani dan Adul ikut tegang melihatku. Mereka saling menatap satu sama lain dan terlihat kebingungan.
"Angkat, Xu," suruh Teh Hani.
"Ngga berani, Teh," jawabku yang tanpa sadar sudah meneteskan air mata.
__ADS_1
"Kalo ngga diangkat nanti ga tau, Teh," tambah Adul.
"Ya udah! Adul yang angkat," seruku dengan tangisan yang semakin kencang seraya menyodorkan ponselku padanya.
Adul menelan saliva beberapa kali sebelum meraih ponselku. Dengan gugup, ia menekan tanda terima dan mendekatkan ponsel ke telinganya. "Halo?"
Sesuatu terasa menusukku pelan di dalam sini saat Adul langsung menatapku. Wajahnya tegang dan dengan pelan menyodorkan ponsel kembali padaku.
"Dari Bang Win," ucapnya lirih. Wajahnya yang tadi tegang berganti dengan tatapan yang menyipit.
Dengan cepat aku menerima kembali ponselku dan seketika merasakan kelegaan yang luar biasa saat mendengar suara Bang Win di ujung sambungan.
"Ngga ada apa-apa kan?" sinis Adul. Sedangkan Teh Hani hanya menatap kami berdua dengan bingung.
"Iya, ngga kenapa-kenapa," aku terkekeh. "Bang Win tadi cuma bilang kalau pas kejadian, dia ngga jauh dari lokasi. Itu kenapa, dia ikut bantuin ngebawa korban ke rumah sakit. Karena kondisi di sana tiba-tiba rusuh, ponselnya jatuh, terus mati," jelasku tanpa diminta.
"Alhamdulillah," seru Teh Hani. "Euh, kamu mah, Xu! Meni udah nangis segala, bikin parno tau ngga!"
"Ya maaf, namanya juga khawatir," aku nyengir. "Udah ah kalo gitu. Aku pulang dulu ya?" Saat hampir berdiri dari sofa, Adul dan Teh Hani memberi kode padaku melalui mata mereka sehingga seketika membuatku menoleh ke arah pintu masuk.
Aku diam dan menatapnya yang berjalan menghampiriku dengan seorang wanita berpenampilan modis di sebelahnya.
"Ada yang bisa di bantu?" tanya Teh Hani berdiri. Aku segera pindah ke sofa tepat di sebelah Teh Hani. Sedangkan Adul, ia juga ikut berdiri seolah melindungiku.
"Oh, jelas ada! Saya sama istri saya mau pasang iklan di sini, buat usaha kami. Hitung-hitung buat nambah pemasukan radio ini," jawabnya sombong.
"Bisa. Silakan ikut saya, biar kita bicarakan di dalam," balas Teh Hani dingin.
"Nanti dulu lah, saya mau ngenalin istri saya ke Inoxu, soalnya, dia kemaren ngga dateng ke pernikahan saya." Luigi dan istrinya berjalan dan duduk persis di hadapanku , tepat di mana tadi aku duduk.
"Halo, saya mantannya Luigi yang kata dia kampungan. Sayang banget ya? Selera dia pas kuliah rendah, itu kenapa dia bisa jadian sama saya," aku tersenyum lebar pada wanita di sebelah Luigi.
Wajah istri Luigi tersentak seketika lalu berubah cepat menjadi sinis. "Iya saya tau, kamu Inoxu kan?"
"Beuh, Teh! Kayanya si kodok zuma ini belum move on dari Teteh deh, sampe-sampe nyeritain Teteh ke istrinya," timpal Adul santai lalu kembali duduk di sisiku, begitu juga dengan Teh Hani.
"Iya sih, keliatan," sambung Teh Hani menahan tawa.
__ADS_1
"Kalau masih sembarangan ngomong, saya batal untuk pasang iklan di sini!" sentak Luigi dengan wajah mulai merah.
Jantungku berdetak kencang dan membuatku mengingat masa lalu. Biasanya, setelah wajahnya memerah, Luigi akan kehilangan kendali dan melampiaskan emosinya pada siapa saja. Sayangnya, karena pada saat itu akulah orang terdekatnya, maka aku yang paling sering menjadi sasaran. Makian dan kata-kata menyakitkan itu telah masuk ke dalam hatiku bagian terdalam dan menimbulkan rasa trauma tersendiri. Aku gemetar dan merasa lemas sehingga hanya bisa menunduk karena rasa takut dan cemas yang entah kenapa tiba-tiba hadir.
"Ngga masalah! Kami juga punya persyaratan untuk para klien dan vendor yang akan menjalin kerjasama dengan kami. Walaupun tidak sebesar radio lain yang sudah memiliki nama, Radio Rebel terkenal selektif dalam memilih partner. Begitu juga dalam memilih karyawan serta penyiar. Semua yang bekerja di sini memiliki adab dan attitude yang baik, sehingga tidak menyombongkan diri atau bahkan sampai mengatai orang lain seenaknya."
Suara Bang Win yang penuh intimidasi saat baru saja masuk, membuatku mendongak seketika. Di saat seperti ini, sosoknya yang berdiri di sebelah Kang Utep terlihat dingin dan sinis.
"Kalau kamu datang ke sini untuk bekerja sama, silakan ikut Hani dan lakukan tujuan kamu. Namun jika kamu ke sini hanya untuk pamer di depan istri dan teman-teman saya, maaf kalau saya harus katakan ini. Pintu keluar di sebelah sana," kata Bang Win dingin dan menunjuk pintu dengan dagunya.
"Istri?" tanya Luigi lirih. "Jadi kamu udah nikah sama om-om ini?"
"Masalah buat kamu?" tanyaku balik.
"Ngga sih! Cuma pengen ketawa aja, bisa-bisanya nikah sama om-om. Kaya simpenan tau ngga?"
"Terus? Apa urusan kamu? Kayanya kamu belum move on dari istri saya sampai-sampai sepeduli itu," balas Bang Win.
"Adul juga tadi bilang gitu. Mantannya Teh Inoxu belum move on! Niat amat gitu ke sini mau pamer doang, alesan mau pasang iklan," celetuk Adul memonyongkan bibirnya ke arah Luigi.
"Saya batal mau pasang iklan di sini!" seru Luigi berdiri dengan wajah yang semakin memerah.
"Dih, pede banget! Kaya yakin aja mau diterima," balas Adul lagi.
Ucapan Adul membuat Luigi langsung pergi dengan menarik tangan istrinya kasar. Ada rasa iba, melihat wanita itu diperlakukan sama sepertiku dulu. Sepertinya aku bisa membayangkan, aoa yang akan terjadi padanya setelah ini.
"Kenapa? Aku acak-acakan banget ya?" tanyaku sembari memperhatikan diri sendiri karena Bang Win menatapku lekat. Celana piyama, kaos polos, kardigan panjang, sendal hotel, bahkan rambutku yang kucepol asal-asalan membuatku memaki diriku sendiri dalam hati.
"Cantik," ucapnya singkat dengan pandangan lembut.
"Ah elah! Dul, ngopi ajalah yuk?" ajak Kang Utep sembari menarik tangan Adul, lalu menuju ke pantry dengan diikuti Teh Hani.
"Ngopi sih ngopi, tapi gausah pegang-pegang!" sentak Adul saat berlalu. Aku nyengir melihat mereka bertiga yang salah tingkah sebelum melihat ke arah Bang Win yang masih menatapku sehingga membuatku juga ikutan salah tingkah.
"Aku pulang dulu deh, ya?" pamitku lirih sembari berdiri. Saat berjalan mendekat ke arahnya, Bang Win meraih tanganku dan malah menarikku ke dalam studio.
"Karena udah di sini, sekalian temenin aku siaran," katanya lirih setelah berada di dalam studio sebelum memelukku erat tepat ketika pintu studio telah tertutup.
__ADS_1