
"Teh Inoxu!" Seruan Adul yang bersembunyi di balik meja resepsionis mengagetkanku yang baru saja masuk.
"Astagfirullah! Kurang kerjaan banget sih, Dul!" ucapku sewot dan spontan memukul lengannya.
"Ya lagian Teh Inoxu kebiasaan banget, kalo jalan ngga liat kiri kanan. Nunduk mulu," balasnya terkekeh. Aku hanya menatapnya sinis dan duduk di sofa.
"Mang Adul, ini teh ditaro di mana?"
Suara seseorang yang baru kali ini kulihat membuatku mengerutkan kening. Seolah mengerti, Adul menjelaskan. "Ini keponakan Adul, Teh. Anak sepupu dari kampung. Namanya Mumu, lengkapnya—."
"Munawir," sambung Mumu.
"Ish kamu mah motong wae omongan Mamang. Kenalin, ini Teh Inoxu, penyiar di sini sekaligus tunangannya Bang Win," ucapnya menatap Mumu.
"Teh Inoxu, Mumu ini ngegantiin Adul jadi OB. Kan Adul sekarang sibuk siaran. Jadi, Bang Win nyuruh Adul buat nyari pengganti. Ya udah, Adul ajak aja Mumu dari kampung," jelas Adul.
"Salam kenal ya, Mumu." Aku tersenyum menatap Mumu yang dibalas dengan senyuman juga.
"Nah kalo itu Teh Remi. Dia jomblo permanen, makanya agak galak orangnya. Hati-hati, Mu," kata Adul ketika Remi berjalan masuk.
"Adul ya, mulutnya!" sentak Remi. Gadis itu memelototi Adul sekilas lalu duduk di sebelahku.
"Nah, ada satu lagi nih yang belum dateng. Namanya Teh Gia. Orangnya baik, tapi sayang agak pedes kalo ngomong. Wajar aja, pacarnya jauh."
Aku dan Remi saling berpandangan sebelum akhirnya terkekeh.
"Tuh, kalo itu tuh namanya Kang Utep. Jaga jarak aja sama dia, suka nyium orang sembarangan," jelas Adul. "Apa liat-liat!?"
Kang Utep yang mendapat sentakan Adul hanya bisa menghembuskan napas panjang. "Tolong dong kalian jelasin tuh ke si Adul. Yang ada juga dia nyosor saya duluan, waktu kemasukan setan ben*cong," ucapnya padaku dan Remi sebelum pergi ke toilet dan membuat kami kembali terkekeh.
"Udah sana, ke pantry lagi. Kalo udah beres-beresnya, istirahat aja. Mang Adul mau siaran dulu," ucap Adul pada Mumu.
Setelah Mumu kembali ke belakang, Adul ikut duduk di sofa, tepat di depanku. "Liat ini," ucapnya memamerkan sesuatu yang ia genggam.
"Cie ponsel baru," goda Remi.
"Woyadong! Ponsel Adul sering banget mati mendadak sejak Adul diceburin emak. Pas diceburin, ponselnya lagi di saku," jelasnya. "Hayu-hayu foto," ajaknya lagi. Ia menghadap ke belakang dan mengambil beberapa foto selfie, di mana aku dan Remi berada di latar belakang dengan berbagai gaya dan ekspresi.
***
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Halo pendengar semua di mana pun berada. Malam ini, Adul dan Teh Inoxu hadir menyapa semuanya dalam Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Selama satu setengah jam ke depan, kami berdua akan menemani istirahat malam kalian dengan kisah yang pastinya seru ya gaes ya. Satu lagu dari Sheila On 7 dengan Anugrah Terindah Yang Pernah Kumiliki permintaan dari Earlyntang Asthird akan Adul puterin sesaat lagi. Selamat mendengarkan dan jangan ke mana-mana."
Adul mematikan mic dan langsung memencet serangkaian nomor narasumber untuk dihubungi. Keningku berkerut ketika melihat monitor yang tidak menunjukkan daftar nomor telepon pendengar yang sudah mengirim pesan berformat ke Kisah Tengah Malam.
"Halo? Ready. Oke. Woyadong. Siap!" seru Adul riang sebelum meminta narasumber yang dihubunginya untuk menunggu di ujung sambungan.
"Siapa narasumbernya?" tanyaku penasaran.
"Ada deh, spesial request pokonya mah."
"Awas kalo aneh-aneh," ancamku lirih.
"Tenang atuh, Teh. Tenang," balas Adul.
Setelah lagu yang diputar berakhir, aku bersiap untuk kembali siaran. "Itulah tadi satu lagu yang dibawakan oleh grup band asal Yogjakarta dan terkenal banget sewaktu saya masih sekolah, Sheila on 7. Udah paling bener deh, jaman dulu ngefans sama grup band ini. Lagu-lagunya, ngga ada yang ngga enak. Enak semua!" seruku. "Untuk kisah malam ini, di ujung sambungan, kami sudah terhubung dengan narasumber. Halo dengan siapa di mana?"
"Yuuhuu! Teh Inoxu, Jeng Merlin is coming!"
Suara tersebut menyentakku seketika dan membuatku menengok ke arah Adul yang tersenyum jahil.
"Eh iya, halo Jeng Merlin. Saya kira Jeng ngga bakal nelpon ke sini lagi," ucapku sembari mengusap kening.
"Ya mana mungkin atuh! Saya mah bakal sering nelepon ke Kisah Tengah Malam. Karena apa? Karena saya suka sekali kalau penyiarnya sampai kesel," jawabnya dengan suara yang mendayu-dayu.
"Mau ngasi tebak-tebakan, Jeng Merlin?" tanyaku.
"Hey, ya masa saya mau ngasi tebak-tebakan! Ya mau cerita atuhlah," sentaknya.
"Oh, tumben sekarang mah bener. Ya udah sok, mau cerita apa?"
"Mau cerita pengalaman seru weekend dua minggu yang lalu, waktu nganterin sepupu lamaran ke rumah pacarnya yang—."
"Jeng merlin!" sentakku spontan setelah mendengar perkataan Jeng merlin. "Di sini spesialis cerita horor. Jadi mending, Jeng Merlin cerita itu aja, ya?"
"Ini juga horor kok! Horor buat pacar sepupu saya," balasnya tertawa keras.
Aku menepuk dahiku keras saat menyadari jika tidak ada yang bisa kulakukan. Terlebih, Adul mempersilakan Jeng Merlin untuk mulai bercerita.
"Silakan Jeng Mirlin," ucap Adul.
__ADS_1
"Merlin ya, Merlin. Bukan Mirlin!" suara Jeng Merlin memekik dari ujung sambungan.
"Iya-iya, silakan," balas Adul.
"Jadi gini ceritanya. Hari sabtu dua minggu yang lalu, saya bersiap-siap setelah sholat shubuh untuk pergi mengantar sepupu yang mau lamaran."
"Jeng merlin pake kebaya?" potong Adul tiba-tiba.
"Sembarangan kamu ya Adul, kalo nanya! Gini-gini saya tau kostum yang cocok buat lamaran-lah! Saya pake batik, sama kaya sepupu saya yang mau lamaran, walaupun kata kamu kaya om-om," sindir Jeng Merlin pada Adul yang hanya bisa menganga.
"Kami berangkat pas semua udah siap. Barang bawaan, parcel buah dan kue, serta sepasang cincin cantik dalam kotak. Sepanjang perjalanan sepupu saya dilanda kegugupan yang seumur hidup belum pernah saya lihat karena sosoknya yang dingin. Namun di hari itu, pertanyaan yang ia lontarkan pada saya tentang bagaimana penampilannya membuat saya terharu," nada suara Jeng Merlin berubah total. Ia kini sudah kembali menjelma menjadi Kang Krisna.
"Sebelumnya, pada waktu ia memberi kabar kepada keluarga besar kami bahwa ia akan melamar seorang gadis, nenek kami yang tinggal di luar Indonesia seketika kembali dan langsung melakukan sujud syukur saking bahagianya. Kami semua bersemangat menyambut datangnya hari bahagia untuk sepupu saya tersebut.
Setelah perjalanan yang tidak terlalu lama, kami tiba di rumah gadis itu dengan disambut penuh keramahan dari keluarganya. Sepupu saya hampir saja menangis ketika melihat gadis itu berdiri di depannya dengan memakai kebaya anggun dan juga sepatu hak tinggi sehingga membuat siapapun yang mengenalnya akan merasa pangling. Ya walaupun dia sempat jatuh karena sepatu tersebut menginjak ujung kain yang digunakannya.
Keluarga besar kami dikenalkan dengan keluarga besar gadis itu, dan semua bisa membaur dengan cepat. Walaupun keluarga gadis tersebut masih keturunan ningrat di kota Bandung, kekhawatiran kami jika keluarganya akan bersikap kolot tidak terbukti. Diskusi untuk menentukan tanggal pernikahan dilalui secara lancar dan ditutup dengan acara tukar cincin. Pokoknya, secara garis besar acara lamaran berjalan lancar.
"Kasi tau dong tanggal nikahnya kapan," Adul membuka suara.
"Dih, iyey kepo maksimal! Ngapain nanya-nanya?!" tanya Kang Krisna ketus yang sudah kembali menjadi Jeng Merlin. "Udah ah segitu dulu aja. Babay!"
Aku kembali menggelengkan kepalaku saat melihat sambungan yang sudah diputus seenaknya oleh Jeng Merlin.
"Iya itulah Jeng Merlin dengan kerandomannya. Adul mau ngucapin selamat buat sepupu Jeng Merlin yang baru aja melaksanakan acara lamaran. Semoga dilancarkan hingga hari pernikahan, aamiin. Lagu dari Once dengan Dealova permintaan Ade sugiarti akan Adul puterin sebagai akhir kisah malam ini. Makasi ya gaes ya, sudah mendengarkan sampai selesai. Adul dan Teh Inoxu pamit, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Adul mematikan mic dan melepas headphone sebelum Gia dan Remi menghampiriku untuk memelukku erat. Adul yang hampir ikut memeluk kami ditepis oleh Remi cepat. "Khusus cewek!" ucapnya ketus.
Adul hanya pasrah dan seketika mengeluarkan ponsel barunya."Hayu sambil poto-poto," ajaknya pada kami.
Kami langsung tersenyum dengan masih berpelukan dan Adul mengambil gambar dengan dirinya di depan kami.
"Gantian dong Teh Remi yang ambil foto, Adul keliatan gendut kalo deket banget kamera," ucapnya memyerahkan ponsel kepada remi.
Remi mengambil beberapa kali foto sebelum berhenti untuk melihat hasilnya. Aku dan Gia yang berdiri disebelahnya tercekat, karena melihat sosok lain tepat di pojok studio berupa permen sebesar manusia. Dengan cepat, Remi mengembalikan ponsel pada Adul dan bergegas membereskan barang pribadinya diikuti olehku dan Gia.
Adul sendiri kembali mengambil beberapa fotoselfie. "Hayu ih foto-foto lagi, jangan pulang dulu."
"Ngga!" seru kami bertiga kompak. "Liat deh hasil foto yang tadi," saran Gia. Kami sudah memegang tas di tangan masing-masing dan berjalan menuju pintu.
__ADS_1
Brak! Adul melepas ponselnya hingga membentur meja dan mengikuti kami keluar setelah menyambar tasnya cepat.
"Kebiasaan ish pada ninggalin!" keluhnya setelah berhasil menyusul kami dan melupakan ponselnya yang masih tertinggal di studio.