
"Remi belum dateng?" tanyaku pada Gia yang sedang duduk di depan monitor. Gadis itu terlihat sedang sibuk mengutak-atik sesuatu.
"Ngga dateng dia. Sakit gigi katanya," jawab Gia.
"Kamu ngapain?" tanyaku lagi.
"Nyiapin lagu. Kan Remi ngga masuk."
"Oh, oke." Aku menganggukkan kepala dan menuju ke meja kerjaku sendiri.
"Standby ya, Xu!" ucap Gia. "Lagu pertama dari Jikustik, Puisi."
"Siyaaap!" seruku menyiapkan mic dan juga headphone. Setelah aba-aba dari Gia, aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung dengan Inoxu di sini. Selamat bertemu kembali saya ucapkan pada semua penggemar di mana pun berada. Selama satu setengah jam ke depan kami akan menemani istirahat para pendengar semua dengan berbagai kisah. Yang mau berpartisipasi bisa kirim pesan dengan format nama spasi tempat tinggal spasi nomor telpon aktif dan kirim ke nomor 081210969. Request lagu kali ini datang dari produser saya, ibu Gia, Jikustik dengan Puisi. Selamat mendengarkan dan jangan ke mana-mana."
Aku mematikan mic setelah melihat Gia mengangkat jempolnya dan memutuskan untuk menghubungi narasumber untuk kisah kali ini.
"Yak! Itulah Jikustik dengan Puisi. Lagu yang udah lumayan lama ya? Saya inget, dulu gara-gara lagu ini sering diputer di MTV, Inbox di SCTV dan tangga lagu Dahsyat di RCTI, saya mendadak jadi suka nulis puisi. Kayanya keren aja gitu yakan? Bikin puisi buat orang yang disayang. Ahaaai! Hahaha. Selamat datang saya ucapkan untuk pendengar yang baru saja bergabung. Di ujung sambungan, kita sudah terhubung dengan narasumber untuk berbagi kisah pada malam hari ini. Silakan perkenalkan diri."
"Malam Teh Inoxu, saya Dimas dari Buah Batu," ucap suara di ujung sambungan.
"Malam Dimas, silakan. Mau berbagi kisah apa nih sama pendengar?"
"Mau nyeritain kisah cinta saya, Teh," jawab Dimas.
"Nah! Gitu atuh, ceritanya yang lain gitu, jangan horor terus, saya lama-lama kan jadi takut siaran. Sok Dimas, mangga!"
"Waktu kuliah, saya deket dengan salah satu temen perempuan di kelas. Sebut aja namanya Cici. Kita deket banget pokonya Teh. Suka main bareng, ngerjain tugas bareng, jajan bareng, dll. Ke mana-mana berdua terus. Karena deket dan saya nyaman, saya ngeberaniin diri buat nembak."
"Nembak? Oh nyatain perasaan ya?" tanyaku.
"Iya teh, saya minta dia jadi pacar saya."
"Diterima?" tanyaku lagi.
"Diterima."
"Alhamdulillah," ucapku. "Terus cinta-cintaan atuh?"
"Ya gitu Teh. Tapi hubungan kita sehat kok, sekedar main bareng aja dan ngga aneh-aneh."
__ADS_1
"Good!" sahutku.
"Kita pacaran cukup lama sampai akhirnya lulus. Nah, sebelum lulus, saya udah kerja di salah satu perusahaan di kota Bandung. Sedangkan Cici, begitu lulus, dia diterima kerja di salah satu bank, tapi di Jakarta," cerita Dimas.
"Jadinya LDR? Hubungan jarak jauh?"
"Iya. Hampir setahun pokoknya kita LDR. Jujur aja saya sayang banget sama Cici dan pengen serius sama dia. Makanya, saya nyari-nyari lowongan kerja di Jakarta biar bisa sekalian nyamperin dia."
"Wih, ngebelain banget ya?" potongku.
"Banget Teh. Namanya udah sayang kan? Singkat cerita, saya akhirnya keterima juga di salah satu perusahaan di Jakarta. Bahagia banget pokoknya karena saya ngebayangin bisa bareng lagi sama Cici. Di samping itu, saya juga udah niat banget mau ngelamar dia. Akhirnya, saya pindah ke Jakarta, tapi saya ngga bilang sama si Cici ini. Mau bikin kejutan pokoknya.
Setelah beres masalah tempat tinggal dan lain-lain. Saya nyamperin Cici di kantornya. Saya nunggu dia di rumah makan padang depan kantornya."
"Ini posisinya Dimas belum mulai kerja ya?" tanyaku.
"Belum Teh. Baru nyampe Jakarta dan dapet kosan, saya langsung nyamperin si Cici. Udah ngga sabar pengen liat reaksinya."
"Terus gimana? Ketemu sama Cici?" Tanpa sadar aku tersenyum sendiri.
"Ketemu, tapi reaksinya ngga seperti yang saya bayangin. Dia biasa aja waktu tau saya nungguin dia di rumah makan deket kantornya. Saya kira bakal kaget atau gimana gitu, taunya ngga. Malah pas nyamperin ke meja yang saya dudukin, dia nanya ngapain saya di sini. Ya saya cerita aja kalau saya sekarang kerja di Jakarta. Tapi responnya bikin kecewa. Dia bilang kalau hubungan kami cukup sampai di sini. Dan dia minta saya buat jangan nemuin dia lagi."
"Waduh!" ucapku spontan.
"Astagfirullah! Kamu digituin?"
"Iya," jawab Dimas.
"Itu kejadiannya udah lama?"
"Sekitar tiga tahun lalu lah, Teh." Terdengar helaan nafas panjang dari ujung sambungan. "Kabar terakhir yang saya denger, Cici jadi gila dan pulang ke Bandung."
"Gila?" tanyaku penasaran. "Kok bisa gila?"
"Ya karena karma mungkin, Teh. Udah bikin saya sakit sati sampai sebegitunya. Saya udah ngga mau tau lagi. Denger dia gila aja, jujur saya bahagia."
"Ish ngga boleh gitu kamu mah! Walopun dia udah jahat sama kamu, jangan bahagia di atas penderitaan dia. Biarin aja, kan udah dapet balesan sendiri. Yang ada kamu doain biar dia cepet sehat lagi. Dia kan orang yang pernah kamu sayang," nasehatku panjang lebar.
"Iya betul, toh dia udah dapet balasannya sendiri walaupun bukan dari saya. Ki Ujang emang juara deh pokoknya."
"Hah? Ki Ujang? Siapa itu Ki Ujang?" aku bertanya dan perasaan tidak nyaman mulai merambat di hati.
__ADS_1
"Dukun di Sumedang, Teh. Ngga sia-sia saya keluar duit banyak, hasilnya si Cici jadi gila tuh. Hahaha!"
"Apa?? Kamu dukunin?!"
Tut tut tut!
"Halo? Halo Dimas? Halo?" Aku melihat ke monitor dan terhenyak melihat sambungan sudah terputus.
"Hahaha, si Dimas nih! Becandanya ngga kira-kira, masa iya pake dukun. Jangan lah. Walaupun rasanya kesel, jangan jadi jahat seperti orang yang udah jahat ke kita. Kadang gini loh pendengar, kalau kita nerima suatu perlakuan yang kurang menyenangkan, atau saat kita ngerasa didzalimi sama orang, itu ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, itu ujian. Dalam artian kalau kita sabar, Allah akan mengganjar kesabaran kita dengan kebaikan berkali lipat. Kemungkinan kedua, itu adalah balasan atas apa yang kita lakuin tanpa kita sadari.
Ngerti ngga? Mungkin kita secara ngga sengaja udah nyakitin hati orang dan imbasnya ya kita dibikin sakit hati sama orang lain. Hukum tabur tuai lah. Siapa yang menabur bibit yang baik akan kembali dengan hasil yang juga baik. Kalau untuk kasus Dimas, saya ngga mau ngejudge kalo Dimas ngga baik atau Cici ngga baik. Karena apa? Karena saya ngga tau kisah sebenarnya dari kedua belah pihak. Cuma kalau memang Dimas sampai make jasa dukun, sangat disayangkan banget gitu.
Ah udahlah, saya jadi pusing sendiri. Satu lagu persembahan dari Katon Bagaskara dengan Dinda, di Mana akan menjadi penghujung perjumpaan kita kali ini. Jaga kesehatan dengan makan yang teratur serta istirahat yang cukup. Inoxu pamit, 12,08 Fm Radio Rebel Bandung. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Parah banget si Dimas," ucapku setelah mematikan mic dan melepas headphone. Gia yang masih duduk di meja Remi, diam tidak menanggapi ucapanku.
"Bu Gia irit ngomong banget hari ini, tumben!" ucapku lagi. Gia yang masih diam membuat keningku berkerut. Getaran ponsel di atas meja mengalihkan perhatianku. Mataku membelalak dan nafasku tercekat sesaat setelah membaca sebuah pesan yang baru saja masuk.
[Xu, maafin! Ban motor aku kempes, makanya aku ngga bisa dateng ke studio. Maaf ya, kamu harus siaran berdua Remi aja!]
Aku menoleh pelan ke sosok yang masih duduk di meja Remi yang ternyata sedang menatapku tajam dengan senyum yang lebar. Tubuhku seolah dipaku ke lantai. Aku merasakan ketakutan yang luar biasa.
"Selamat ulang tahun!" teriak seseorang dari arah pintu yang ternyata adalah Remi. Ia masuk dengan membawa sebuah kue tart lengkap dengan lilinnya. Sedangkan sosok yang duduk di meja Remi bertepuk tangan dan tertawa terbahak.
"Xu! Selamat ulang tahun! Sori kita ngerjain kaya tadi, kaget banget pasti kan?" ucap Gia.
"Aku yang kirim pesan barusan, Xu. Pake hapenya Gia," tambah Remi dengan wajah meminta maaf.
Otakku berusaha mencerna kejadian ini selama hampir semenit sebelum akhirnya aku berteriak, "Edan emang kalian berdua. Hampir aja aku kena serangan jantung! Nyebelin!"
Keduanya mendekat dan memintaku meniup lilin. Setelah meniup lilin, kami bertiga berpelukan.
𝘓𝘪𝘯𝘨𝘴𝘪𝘳 𝘸𝘦𝘯𝘨𝘪 𝘴𝘭𝘪𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘦𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘳𝘯𝘰...
Sebuah lagu yang tiba-tiba terdengar membuatku terkekeh. "Gia ih, niat banget kamu mah sampe nyetel lagu Lingsir Wengi pake timer"
Gia dan Remi berpandangan dengan tatapan heran.
"Eh Xu, sumpah, aku ngga nyetel lagu itu loh," elak Gia.
Aku mengerutkan kening dan menatap ke arah meja Remi. Gia dan Remi juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Kik kik kik kik!
"Mama!" teriakku spontan dan langsung berlari keluar studio. Gerakanku yang cepat dan mendadak, membuat tanpa sengaja menyenggol tangan Remi yang sedang memegang kue. Hasilnya, kue jatuh ke lantai disusul dengan suara langkah kaki keduanya yang mengikutiku keluar.