
"Huaaa! Tolooong!"
Suara teriakan yang terdengar dari lantai dua membuatku dan Gia yang sedang berjalan di tempat parkir serentak melajukan langkah. Begitu masuk, terlihat pintu studio terbuka dan sosok Bang Win berlari menuju ke arah tangga.
"Kita naek jangan?" tanyaku pada Gia.
"Ngga usahlah, tadi Bang Win udah naek kan? Takut aku mah kalo ada gini-gini teh. Trauma," balasnya seraya duduk di sofa.
Aku sendiri memilih berjalan hingga tepat di depan tangga dan mendongak ke atas, "Bang Win? Ada apaan?"
Tidak adanya sahutan balasan membuatku menghela napas panjang dan ikut duduk di sofa tepat di sebelah Gia. "Eh Gi, itu tadi suaranya Mumu ya? Yang teriak."
"Kayanya sih iya. Kasian itu anak, dari awal dateng di gangguin mulu ya? Kita aja ngga sesering itu. Kita mah digangguin kalo udah songong atau sompral, lah ini si Mumu? Kaya yang sering banget."
"Iya sih kasian. Kemaren aja kata Emak Adul, dia ngadu ke kakaknya, pengen pulang," balasku.
"Iya ya? Mudah-mudahan mah jangan deh. Ada dia rasanya kebantu banget loh. Mau aja di mintain tolong."
"Banget, ngga kaya si Adul dulu. Dimintain beli makan aja manyunnya seminggu," aku menggerutu.
"Oh gitu? Jadi kita bukan besti lagi? Kalian ngomongin Adul?" seru sebuah suara dari belakangku.
"Iya, kamu nyebelin dulu waktu belum jadi penyiar! Dimintain tolong beli makan aja manyun!" balasku menatapnya sinis.
"Oh, itu," Adul terkekeh sembari berjalan menghampiri kami. "Adul lagi putus cinta waktu itu, Teh Inoxu malah nyuruh-nyuruh. Ngga tau sikon banget deh."
Aku mencibirnya dan memberikan tatapan sinis.
"Eh Dul, tadi si Mumu teriak loh dari atas," bisik Gia seraya mencondongkan badannya ke arah Adul.
"Kenapa, Teh?"
"Kayanya kena sawan lagi itu anak. Kasian sih, Dul. Tiap hari kayanya dia digangguin mulu," tambah Gia.
"Iya loh. Dia juga orang yang pertama liat sosok Teh Nday di radio ini. Padahal, kita-kita yang dulu suka ngalamin kejadian aneh, ngga pernah liat. Kang Utep sama Adul aja, liat sosok Teh Nday waktu ada Teh Rebel di sini, yakan?" Aku berkata panjang lebar.
"Iya juga ya?" sahut Gia.
"Mumu kayanya lebih sensitip dibanding Adul deh. Tapi ngga tau juga sih," sambung Adul.
Dari arah tangga, turun Bang Win yang sedang memapah Mumu. Adul yang melihat itu, segera menghampiri mereka dan menggantikan Bang Win memapah keponakannya tersebut. Keduanya berlalu tanpa kata menuju ke arah belakang, di mana kamar yang Mumu tinggali berada.
"Kenapa Bang?" tanyaku langsung pada sosok tinggi yang duduk tepat di sebelahku.
"Biasa, kaya kalian waktu awal-awal siaran tengah malem. Katanya barusan, ada yang nyenggol dia di studio yang kosong, tapi pas diliat ngga ada siapa-siapa, itu kenapa dia jejeritan. Saya sendiri langsung lari ke atas karena takut teriakan Mumu ngeganggu Utep yang lagi siaran di studio kalian," jelas Bang Win. "Mungkin masih proses adaptasi ya? Walaupun saya ngeliatnya kayanya agak aneh, dia lebih sering kena gangguan di banding yang lain."
Aku dan Gia hanya mengangguk mengiyakan.
***
"Remi kapan masuk kerja lagi ya?" tanyaku sekilas saat menghampiri Gia yang duduk di meja kerja Remi. Gadis itu sedang memilih lagu permintaan pendengar dan menaruhnya dalam daftar putar untuk kemudian dipasangkan pengatur waktu.
"Kata Teh Raylen paling cepet minggu depan abis kontrol terakhir. Aku juga sekarang kalo ada apa-apa nanya ke Teh Raylen. Tas Remi yang isinya dompet, ponsel sama yang lain-lain, kan ikut dirampas," jawab Gia menatapku. "Kangen Remi ya?"
__ADS_1
"Iyah. Pengen ngeledekin kepala botaknya," ucapku asal sembari kembali ke meja kerjaku sendiri.
"Ish ish ish, si Xu!" Gia menggelengkan kepalanya pelan.
"Heloow! Adul kembali." Pintu terbuka dan menampilkan sosok Adul yang berjalan ke kiri dan ke kanan.
"Si Mumu gimana, Dul?" tanya Gia seraya berdiri dari meja kerja Remi dan berjalan menuju meja kerjanya sendiri.
"Panik Teh Gia. Katanya ada yang nyolek-nyolek dia di studio sebelah. Tadi begitu Adul naik, ada Bang Win sama Kang Utep juga lagi di sebelah, ngeliat-liat gitu. Kata Kang Utep, ngga ada sosok aneh-aneh kok," bisik Adul keras yang membuat Gia bergidik.
"Udah hayu, siap-siap aja," ucapku menatap keduanya. Setelah mengecek kesiapan monitor, mic dan headphone, aku menyandarkan punggung di kursiku saat Bang Win masuk.
"Mau ikut dengerin siaran?" tanyaku menatapnya lekat setelah ia berdiri di sebelah mejaku.
Tanpa berkata apa-apa, ia menaruh sebuah amplop coklat berukuran sedang. "Pilih satu yang kamu suka," ucapnya singkat sebelum keluar studio.
"Eh apaan itu?" tanya Adul penasaran. Ia mendekatkan cepat kursinya ke arahku dengan mendorongnya dengan kaki.
Gubrak!
Aku melihat sendiri Adul yang terjatuh ke arah depan dan tertimpa kursi beroda.
"Sukurin, kepo sih," ledek Gia sebelum tertawa keras.
"Ish bukannya ditolongin!" sahut Adul sembari berdiri dan menghampiriku. "Apa itu, Teh?"
Aku tidak menjawab dan hanya membuka amplop di tanganku. Gia yang rupanya penasaran, ikut menghampiri. Mataku terbelalak saat melihat isi amplop tersebut yang berisi contoh undangan pernikahan.
"Astaga Xu! Gercep amat ya Bang Win? Wah, ini mah bisa-bisa kamu duluan yang janur kuning melengkung," sahut Gia takjub.
"Laki mah emang harus gitu. Ngga banyak nyeng-nyang nyeng-nyong langsung set!" timpal Adul.
Aku masih mengagumi contoh undangan-undangan di tanganku saat Gia berseru. "Stand by hoi!"
Adul memposisikan diri di sebelahku dan bersiap untuk opening setelah terdengar lagu pembuka Kisah Tengah Malam.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Halo semua, Adul dan Teh Inoxu hadir kembali di Kisah Tengah Malam 12,08 FM Radio Rebel Bandung. Di malam yang mendung ini, kami berdua akan menemani kalian semua dengan kisah yang diceritakan narasumber ya gaes ya. Satu lagu dari Floor 88 dengan Hutang, request dari Queenanaz spesial untuk kamu yang ditagih bayar hutang bilangnya ngga ada uang tapi di story posting foto jalan-jalan terus. Hahaha! Emang banyak jaman sekarang mah, Teh Queen. Gaya hidup elit bayar hutang sulit," kekeh Adul. "Jangan ke mana-mana karena setelah lagu yang akan Adul putarkan tersebut, kami akan kembali lagi ya gaes ya."
Adul mematikan mic dan menatap ke arahku yang baru saja selesai menghubungi narasumber dengan masih tertawa.
"Keren ya? Nyindir utang lewat siaran radio," ucap Adul.
"Ngga usah ngakak! Besok-besok Mang Udin siomay entar yang nagih kamu lewat siaran," jawabku sembari meliriknya.
"Ish, Teteh mah," timpal Adul pelan. Kami mendengarkan lagu yang diputar dan sesekali ikut bersenandung. Lagu ini lumayan viral di berbagai aplikasi pemutar video pendek dan lebih dikenal sebagai lagu Pok Amai-Amai.
"Itulah tadi Floor 88 dengan Hutang. Selamat datang saya ucapkan untuk pendengar yang baru saja bergabung. Dan di ujung sambungan, sudah ada narasumber kita untuk malam ini. Halo? Dengan siapa di mana?" tanyaku.
"Dengan Rani di Kopo, Teh."
"Silakan Teh Rani, ada cerita apa nih?" tanyaku lagi.
"Mau cerita kejadian malem jumat kemarin, Teh."
__ADS_1
"Wah, kalo malem jumat pasti horor nih," sambung Adul.
"Bisa dibilang gitu, Kang Adul."
"Mangga, Teh Rani," aku mempersilakan.
"Sekitar jam 11 malam, saya yang udah tidur tau-tau dibangunin suami."
"Mau ehem-ehem ya Teh?" potong Adul.
"Hahaha, bukan Kang. Suami ngebangunin karena minta ditemenin makan. Ya udah saya bangun dan nemenin dia makan sambil nonton tivi. Awalnya biasa aja, sampai akhirnya kedengeran ada suara tangis. Karena saya kira anak saya bangun, saya samperin ke kamar. Tapi pas diliat, anak saya masih tidur pules. Ya udah saya balik lagi ke depan tivi sambil bilang kalau saya kira barusan yang nangis anak kami, tapi ternyata bukan.
Suami saya cuma diem aja sambil masih terus makan. Ngga lama kemudian, kedengeran ada suara kucing berantem di atas genteng. Karena kaget dan tiba-tiba perasaan ngga enak, saya bilang ke suami supaya makannya agak cepet. Soalnya asli Teh, Kang, hawanya tuh berubah jadi beda banget.
Habis makan, suami bukannya masuk ke kamar buat tidur, tapi malah minta ditemenin ngeroko di teras depan. Saya makin ngga enak hati dan ngga tau kenapa bawaannya nengok terus ke kamar di mana anak saya lagi tidur. Di tengah-tengah ngeroko, suami saya malah masuk ke dalem dan lagi-lagi minta saya supaya nemenin dia di dapur deket kamar mandi karena katanya dia mules. Antara was-was dan kesel, saya nutup pintu depan terus jalan ke dapur."
"Kaya bebek ya Teh, suaminya. Abis makan keluar lagi," celetuk Adul yang berbuah tepukan keras dariku di lengannya.
"Hahaha. Ya kaya gitu emang suami saya mah, Kang. Pas di kamar mandi, saya nyuruh dia kembali supaya cepat. Dan untungnya, ngga lama dia keluar. Cepet-cepet tuh kami berdua masuk ke kamar. Pas saya matiin lampu kamar, karena saya emang ngga biasa tidur dengan lampu nyala, suami malah nyalain lagi lampunya. Saya kesel dong, jadi susah tidur soalnya. Pas saya protes ke suami, dia malah nanya, emang kamu ngga denger suara yang nangis tadi? Yang nangis suaranya perempuan, anak kita kan laki-laki, suara tangisnya juga kedengeran dari atas rumah.
Asli Teh, Kang. Saya langsung merinding waktu suami bilang gitu. Saya sempet mu*kul bahu dia pelan dan bilang supaya ngga usah bercanda. Cuma kata suami, dia lagi ngga bercanda. Dia juga takut, itu kenapa dia minta saya nemenin waktu ngeroko dan pas ke kamar mandi."
"Kuntilanak itu teh?" tanya Adul spontan.
"Kurang tau juga, Kang. Cuma ya heran aja ada suara nangis tapi wujudnya ngga ada," jawab Teh Rani.
"Iya sih, paling horor emang kalo denger suara tanpa wujud," sambungku. "Ada lagi Teh Rani?"
"Ngga ada Teh, segitu aja cerita pengalaman saya malem jumat kemaren. Makasi ya udah ngehubungin saya buat cerita."
"Sama-sama Teh Rani," balas Adul sebelum mematikan sambungan.
"Serem ya gaes ya?" lanjut Adul. "Yang kaya gitu-gitu itu suka bikin merinding tau ngga. Walaupun tadinya kita ngga takut, kalau udah kejadian mah ya lemes juga. Terima kasih ya Teh Rani buat ceritanya. Cerita Teh Rani tanda kalau Kisah Tengah Malam kali ini usai sudah ya gaes ya? Satu lagu daerah permintaan Christina Handayani Lumban Tobing dari Victor Hutabarat dengan Sai Anju Ma Ahu akan menjadi penutup kisah malam ini. Adul dan Teh Inoxu pamit, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Adul mematikan mic dan menyandarkan punggungnya. Sedangkan aku membereskan barang-barang pribadiku ke dalam tas setelah melepas headphone.
"Hayu pulang," ajak Gia yang kuangguki. Kami bertiga berjalan keluar studio dan melihat Bang Win yang baru saja naik ke lantai dua.
"Beres?" tanyanya sembari mengacak rambutku lembut setelah Gia dan Adul pamit pulang.
"Beres," aku tersenyum. Kami berjalan ke bawah dengan saling bergandengan tangan.
"Ada yang kamu suka?" tanyanya tiba-tiba.
"Ada, aku udah misahin yang paling aku suka," jawabku sembari memberikan satu dari kelima undangan yang sebelumnya ia berikan.
Kami lanjut berjalan pelan keluar dari Radio Rebel. "Maaf kalau saya ngga bisa kasih pernikahan mewah dan meriah buat kamu nanti," ucapnya pelan.
"Ngga masalah. Aku juga ngga terlalu suka dengan sesuatu yang mewah dan meriah," jawabku.
"Walau pun begitu, sebenarnya saya ingin ngasih kamu yang terbaik yang saya bisa," tambahnya lagi.
Aku menghentikan langkah dan menatapnya lekat. "Apapun yang Bang Win lakuin buat aku sampai detik ini, itu hal terbaik yang pernah aku dapetin."
__ADS_1
Bang Win tersenyum dan balas menatapku lekat tanpa suara. Genggaman tangannya yang semakin erat di dalam saku hoodie menunjukkan jika ia tersentuh dengan ucapanku barusan.