
"Xu!" pekik Gia ketika aku sedang duduk di sofa. Datang lebih awal membuatku memutuskan menunggu di sini dari pada di dalam studio seorang diri.
"Ish kamu mah, teriak-teriak aja," jawabku menatapnya.
"Maaf-maaf, jadi gimana kemaren? Siaran sama Bang Win 'kan?"
"Ya ngga gimana-gimana, biasa aja," sahutku pendek.
"Ih kamu mah! Ngga deg-degan?" tanyanya lagi.
"Ngga. Kenapa harus deg-degan? Kamu sendiri kenapa kemaren ngga dateng? Tega banget bikin aku siaran sendiri."
Gia tersenyum malu-malu menatapku. "Pacar aku dateng dari Jepang. Jadinya aku ke Jakarta jemput dia di Bandara."
"Ah elah, jemput pacar toh? Terus itu Bang Win gimana?"
"Gimana apanya? Aku mah kan suka doang, ngga cinta. Suka aneh deh kamu, emang kalau suka udah pasti cinta?" balasnya.
"Ya aku kira kamu naksir gitu, soalnya beda banget kalau pas ada Bang Win," ucapku lagi.
"Biasa aja. Aku malah lagi sedih ini sebenernya."
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Pacar aku dateng ke Indonesia buat bilang kalau maksimal tiga bulan lagi, dia bakal ke sini sama keluarganya, mau ngelamar."
"Lah, kok sedih?"
"Abis nikah aku mau ke Jepang, Xu! Hih kamu mah meni ngga ngerti!"
"Lah bagus kan? Tinggal di luar negeri," balasku.
"Ah kamu mah! Terus nanti kamu siaran sama Remi berdua doang? Eh sama Adul juga deh."
"Ngga mau." Aku menggeleng perlahan dan hampir terlonjak saat suara seseorang memasuki indera pendengaranku.
"Halo Teteh-tetehku, Adul udah sehat!"
Aku dan Gia serempak menoleh dan menemukan Adul yang baru saja datang bersama dengan Remi.
***
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam dan selamat bertemu kembali dengan saya Inoxu dalam Kisah Tengah Malam 12,08 FM Radio Rebel Bandung. Pada malam hari ini, Adul sudah kembali hadir menemani kita semua setelah beberapa hari rehat karena sakit."
"Halo gaes? Adul di sini," sapa Adul setelah aku memberi isyarat.
"Satu lagu dari The Virgin dengan Cinta Terlarang permintaan dari Nur Wulandari akan mengawali kisah kita malam hari ini. Jangan ke mana-mana dan selamat mendengarkan."
__ADS_1
Aku mematikan mic dan menyandarkan punggungku di kursi. Malam ini, kami tidak akan menghubungi narasumber karena Adul akan menceritakan kisahnya setelah kejadian horor di mana kami meninggalkannya sendiri di studio.
"Itulah The Virgin yang digawangi Mita dan Dara dengan Cinta terlarang. Lain dari biasanya, malam hari ini saya tidak akan menghubungi narasumber. Sebagai gantinya, Adul akan menceritakan pengalamannya setelah beberapa hari jatuh sakit setelah terjadinya suatu peristiwa di studio ini. Jadi gimana sih, Dul? Waktu kemarin itu?"
Adul mulai menceritakan awal mula kejadian, di mana penelepon bernama Kunthi mengatakan jika temannya akan datang ke studio setelah kami selesai siaran. Ia juga menceritakan momen saat kami semua bertemu dengan teman sang penelepon.
"Waktu Teh Inoxu dan yang lain lari ke luar studio, Adul teh mau pingsan aja gitu biar ngga ngeliat pemandangan yang mengerikan. Tapi ditunggu-tunggu ngga pingsan-pingsan, Teh. Yang ada malah Adul takut sendiri sampai loncat-loncat sambil jongkok di atas kursi."
"Terus sosok itu ke mana?" tanyaku penasaran walaupun sebenarnya takut.
"Terbang muter-muter di studio ini, Teh. Adul inget, persis kaya di film hantu Palasik. Yang kepala terbang-terbang itu loh, Teh," ucap Adul polos.
"Astagfirullah!" seruku bersamaan dengan Gia dan Remi. "Terus akhirnya pergi, gimana? Adul baca doa-doa?"
"Boro-boro inget, Teh. Yang ada mah takut sama panik. Pengen lari ke luar tapi badan susah digerakin, bisanya cuma kejang-kejang di tempat.
Ini yang kata Adul paling serem mah. Sosok itu pergi setelah ada suara ketawa dari dalam studio ini. Kayanya penunggu studio ini keganggu ada makhluk halus dari luar yang tiba-tiba masuk. Padahal mah ya? Sesama makhluk halus harusnya akrab, biar bisa temenan."
"Ish itu mulut," ucapku kesal seraya menepuk keras tangan Adul.
"Bener tapi Teh, Adul mah udah ngga takut sama penghuni di sini. Walaupun ganggu tapi lama-lama mah kaya biasa gitu. Kalau yang dari luar itu yang takut, karena belum kenal."
"Adul!" tegurku langsung. Entah kenapa aku mendadak merinding. Gia dan Remi juga sudah terlihat pias. "Kalo ngomong jangan songong ih kamu!"
"Ya maaf Teh," jawab Adul tersenyum lebar. Senyum Adul yang ganjil membuatku mengalihkan pandangan.
"Kenal dong, Teh. Banyaknya di sini mah orang Belanda. Tapi mereka baik kok, termasuk yang di studio ini."
"Yang di studio ini?"
"Iya, yang waktu itu megang kaki Teteh. Teteh lari ketakutan padahal saya ngga bermaksud nakutin. Saya mau ngasi tau kalau tali sepatu Teteh lepas, takut jatuh kalau jalan. Tapi Teteh malah lari. Rennen, gaan! Hoewel ik het goed bedoel! (Lari, pergi! Padahal saya bermaksud baik)" kata Adul sembari menyeringai.
Deg! Kecurigaannku menjadi nyata. Adul kesurupan.
Aku menoleh menatap Gia dan juga Remi yang sama-sama menyadari keanehan pada Adul. Dengan pelan, Gia berdiri dan berlalu ke luar studio. Aku sendiri tidak tau harus melakukan apa.
"Maaf, saya kan ngga tau," balasku pelan. Bisa dipastikan siaran kali ini sudah gagal total. "Kalau boleh tau, di tempat ini ada siapa saja?"
"Banyak! Kami semua terikat di sini dan tidak bisa pulang. Yang di dalam tidak bisa keluar dan yang dari luar tidak akan masuk ke dalam," ucap Adul disertai bahasa asing yang sulit kumengerti.
Pintu terbuka dan aku melihat Gia kembali masuk bersama Bang Win yang menatapku lekat. Pria itu duduk di kursi, tidak jauh dari Adul.
"Masing-masing aja ya kan? Apalagi kita hidupnya berdampingan." Sumpah, aku bingung harus bertanya apa lagi pada sosok Adul yang bukan Adul, di sebelahku ini.
"Emang Teteh ngga takut sama saya? Sampai mau hidup berdampingan," tanya Adul lirih sembari menunduk.
"Takut! Jelas takut dong! Saya penakut kok!" jawabku cepat.
__ADS_1
Kik kik kik kik!
Suara tawa itu! Kini aku bisa melihat langsung dari mana suara itu berasal. Badanku seketika lemas dan hampir hilang kesadaran saat tangan Adul terjulur ke arah wajahku.
"Neng geulis, meuni wangi. Abdi reseup, (neng cantik, harum sekali. Saya suka)." Suara lirih itu masuk ke indera pendengaranku dan semakin membuatku lemas. Walaupun berasal dari Adul, namun ini bukan suaranya! Suara ini lebih mirip suara wanita yang sudah tua.
"Bang Win," panggilku lirih. Aku melihat Bang Win berjalan ke arahku dengan bibir yang bergerak pelan merapalkan sesuatu.
"Nyingkah!" ucapnya penuh penekanan. Ia memegang tangan Adul yang sudah hampir menyentuh wajahku. Seketika, Adul menutup matanya dan jatuh tertelungkup di atas meja.
Bruk!
Aku melepas headphone kasar dan berjalan cepat ke arah Gia dan Remi yang menatapku dengan khawatir. Kami bertiga turun ke bawah untuk memanggil satpam agar membantu Bang Win menyadarkan Adul.
Kehebohan terjadi saat Adul sadar. Ia berkali-kali mengoceh dalam bahasa asing. Kadang tertawa, kadang teriak, kadang marah bahkan memaki.
Bang Win dan dua orang satpam yang kelelahan pada akhirnya hanya bisa diam melihat Adul menangis dan kembali berteriak sembari duduk di lantai. Kami semua menunggu seorang ustad yang sedang dipanggil untuk membantu menyadarkan Adul sepenuhnya.
Dengan tiba-tiba mata Adul menatap ke arahku. Dengan pelan, ia bangkit dan mulai berjalan mendekat. Aku, yang sudah sepenuhnya ketakutan, hanya bisa bersembunyi di belakang Gia dan Remi, yang pada akhirnya kompak menyingkir ke samping, juga karena takut. Dengan spontan, aku menutup muka karena kehilangan kemampuan untuk bergerak.
Keningku membentur sesuatu saat semakin menunduk karena ketakutan. Dengan perlahan, aku membuka telapak tanganku dan menemukan jika Bang Win sudah berdiri memunggungiku. Ia berdiri di antara aku dan Adul.
"Keluar duluan, sana. Tunggu di resepsionis. Kalau pak ustadnya udah dateng, saya anterin kamu dan yang lainnya pulang," ucap Bang Win menoleh ke samping. Dengan sisa tenaga yang aku bisa, aku berjalan menuju pintu keluar bersama Gia dan Remi.
Hawa berbeda langsung terasa di luar studio dan membuatku sedikit lebih tenang. Kami bertiga berjalan menuju sofa dalam diam dan duduk berdampingan.
"Serem banget ya?" ucap Gia tiba-tiba.
"Banget. Si Adul bisa jadi media sekarang. Bisa-bisanya aku tanya jawab sama dia tadi," jawabku.
Remi hanya bisa mengangguk merespon ucapan kami berdua.
"Xu. Walaupun di dalem serem, tapi aku bisa nangkep getaran cinta Bang Win ke kamu deh," cengirnya.
"Ish, macem-macem! Lagi kaya gini malah bahas gituan."
"Serius! Gesture dia tuh ngelindungin kamu banget. Keren! Jakador petrus dong Xu!" serunya bersemangat.
"Apaan itu?" tanyaku penasaran.
"Jangan kasi kendor pepet terus! Hahaha!" Gia terbahak yang mau tidak mau membuatku tertawa.
Dari arah pintu, masuk Kang Utep yang juga seorang penyiar, bersama dengan seseorang yang kuperkirakan adalah pak ustad. Benar saja, tidak lama setelah mereka pergi ke atas, Bang Win turun dan membawakan tas milik kami bertiga.
Gia dan Remi menyikutku berkali-kali saat kami mengikuti Bang Win berjalan ke arah di mana mobilnya di parkir.
"Kalau sampe kamu ngga bisa jadian sama Bang Win, kamu culun, Xu!" bisik Gia yang diangguki oleh Remi.
__ADS_1
Pandanganku beralih pada punggung Bang Win dan mengingat jika aku sempat terantuk di bagian itu. Jantungku berdebar kencang, namun entah kenapa, bukan takut yang kurasakan, melainkan rasa lain yang cukup menyenangkan.