Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 9


__ADS_3

Hujan deras turun ketika aku baru saja memasuki gedung tempatku bekerja sebagai penyiar selama dua tahun terakhir ini. 'Duh, kalau ujan gini, Remi sama Gia pasti telat dateng. Bahaya kalau siaran sendiri,' batinku.


Langkahku perlahan menuju ke arah meja resepsionis. Ada Teh Hani yang merupakan seorang penyiar senior, sedang melihat-lihat monitor komputer.


"Teh, Gia sama Remi udah dateng belum ya?" tanyaku.


"Udah, Xu. Tadi udah lewat, tapi ngga langsung naik. Di pantry kayanya."


"Oh iya atuh, makasi ya Teh." Aku berniat pergi ke arah pantry.


"Xu, sini bentar deh! Ini banyak thread pendengar buat program siaran kalian nih di Twitter. Mau aku print? Tadi aku lagi baca-baca," Teh Hani berkata setelah aku kembali mendekat.


"Wah, boleh deh, Teh. Penasaran isinya kaya apa."


"Cuma saran kritik biasa aja. Kayanya bisa ini sekali-kali dibacain pas lagi on air. Atau ngga bikin sesi tanya jawab gitu. Yang kaya gini bikin pendengar ngerasa dihargain karena penyiar ngebaca kiriman thread mereka. Ntar pasti ratingnya nambah," jelas Teh Hani.


"Wah boleh juga, Teh," timpal Gia yang menghampiri kami. Remi terlihat berjalan di belakangnya dengan membawa sebuah gelas. "Nanti aku bikin konsepnya deh. Buat penyegaran kali ya, jangan bahas cerita mulu."


"Iya, sekali-kali perlu kaya gitu. Udah deh, masuk sana kalian, bentar lagi siaran," kata Teh Hani.


Kami bertiga mengangguk dan berjalan menuju ke lantai dua di mana studio tempat kami siaran berada. Suasana studio terang benderang karena sebelumnya digunakan oleh penyiar lain untuk program berita tengah malam.


"Ujan deres gini awet kayanya mah," aku berkata lirih sembari memeriksa kesiapan mic dan headphone. Remi juga melakukan hal yang sama. Hanya Gia yang duduk santai sembari meminum sesuatu dari tempat minumnya.


"Biarin aja sih, air ini. Kamu kan bukan kerupuk, Xu. Takut banget sama ujan. Kaya yang bakal melempem aja," balas Gia.


"Kalau si Xu kerupuk sih udah dari kemaren kita jadiin seblak ya, Gi?" Remi tertawa lebar menatap ke arahku.


"Udah cepetan lah, udah waktunya siaran ini. Lagu pertama apa?" ucapku sewot.


"Serah kamu aja dah. Playlist kita aman kok."


"Yaudah, awas kalo lama nyarinya," balasku sembari bersiap menyalakan mic.

__ADS_1


"Standby in 3, 2, 1, on air!" seru Remi.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat tengah malam untuk pendengar semua di manapun berada. Malam ini Bandung diguyur hujan cukup deras ya. Hati-hati yang rumahnya jadi langganan banjir, jangan terlalu pules tidurnya, takut nanti pas bangun jadi linglung karena sudah dikelilingi air. Lagu pertama ini request dari saya sendiri. Guns N' Roses dengan Welcome To The Jungle. Selamat mendengarkan."


Aku baru saja mematikan mic ketika Remi berseru cukup keras. "Xu, ada telepon masuk ke saluran Kisah Tengah Malam. Emang kamu udah ngehubungin narasumber?"


"Belum tuh, kan baru beres opening," jawabku.


"Angkat aja ngga apa-apa, niat banget mau cerita kayanya sampe langsung nelpon gitu," timpal Gia.


Aku hanya mengangguk dan mengangkat panggilan tersebut, namun sayang, panggilan terputus. "Yah, keputus nih."


Tidak lama panggilan dari nomor yang sama kembali masuk, namun ketika aku mengangkatnya, lagi-lagi terputus. Ini berlangsung beberapa kali hingga lagu yang sedang diputar hampir selesai.


"Kalau sampe lagu abis dia masih nelpon, blok aja. Langsung hubungin narasumber lain," kata Gia.


"Itulah tadi Guns N' Roses dengan Welcome To The Jungle. Saya ucapkan selamat datang bagi para pendengar yang baru saja bergabung. Mohon menunggu selama beberapa saat, karena saya masih berusaha menghubungi narasumber Kisah Tengah Malam kali ini."


Tepat aku selesai bicara, tanda merah di monitor berkedip menandakan ada panggilan masuk.


"Sepertinya kita sudah tersambung dengan narasumber, tunggu sebentar ya?" Aku menekan tanda menerima panggilan. "Halo? Dengan siapa di mana?"


Dalam hati aku benar-benar berharap agar sambungan kali ini tidak terputus lagi.


"Halo Teh Inoxu. Ini Memey, baru pulang kerja. Maaf tadi teleponnya keputus, sinyalnya hilang," ucap suara di ujung sana.


"Iya Memey, ngga apa-apa. Mau berbagi kisah apa nih sama pendengar semua?"


"Mau cerita pengalaman barusan, Teh. Pas di jalan pulang," jawab Memey.


"Sok, mangga. Silakan Mey."


"Tadi jam sebelas kurang, saya baru pulang dari pabrik yang ngga jauh dari gedung radio tempat Teh Inoxu kerja. Biasanya saya ikut bis jemputan karyawan dari pabrik, tapi karena orang tua saya di rumah pesen nasi goreng, saya pulang sendiri pake angkutan umum karena mau mampir dulu.

__ADS_1


Jarak dari bangunan pabrik sampai ke gerbang itu sekitar satu kilometer. Saya masih jalan sama temen-temen. Dan di gerbang kita pisah. Mereka naik ke bis khusus karyawan, saya keluar ke arah jalan raya. Karena hujan dan udah malam juga, ngga ada angkutan kota yang lewat. Dan saya inget, biasanya di perempatan jalan raya ngga jauh dari pabrik masih suka ada angkot ngetem nunggu penumpang. Jadinya saya memutuskan jalan ke sana.


Di tengah perjalanan, ada mobil sedan yang lumayan ngebut dan ugal-ugalan. Dan naasnya, mobil itu nabrak orang dengan keras."


"Astagfirullah, terus gimana yang ditabrak?"


"Meninggal di tempat, Teh."


"Innalillahi wa innailaihi rojiun," ucapku lirih yang diikuti oleh Gia dan Remi.


"Kasian Teh, jenazahnya masih tergeletak di pinggir jalan kehujanan bersimbah darah sedangkan mobil yang nabrak malah kabur."


"Kamu saksi mata atuh? Kok tau korban udah meninggal? Terus jenazahnya sekarang udah dievakuasi 'kan?" tanyaku penasaran.


"Belum Teh, jenazahnya masih ada sampai sekarang di pinggir jalan. Karena sepi banget, ngga ada yang tau kalau udah terjadi tabrak lari."


"Loh kok gitu? Kamu ngga lapor ke polisi emang? Kan kamu saksi mata," ucapku agak kesal. Bisa-bisanya gadis ini dengan tenang lebih memilih menelepon ke studio daripada menelpon polisi.


"Saya ngga bisa, Teh. Karena, selain saya saksi mata, saya juga korbannya. Tolong saya Teh, saya kedinginan ...."


Satu detik, dua detik, aku berusaha mencerna apa yang baru saja kudengar.


Brak!


Kesadaranku kembali penuh saat melihat Gia dan Remi berlari ke luar ruangan. Dengan cepat aku mengikuti mereka yang berlari ke arah pos satpam di depan gedung siaran tanpa memakai payung. Baju kami sudah sepenuhnya basah kuyup.


"Pak, tolong pak. Ada tabrak lari!" teriak Gia panik. Dengan cepat ia memberitahukan pada para satpam tentang telpon misterius yang kami terima sewaktu siaran. Dengan cepat, dua orang satpam pergi ke lokasi dengan menggunakan motor. Sisanya menelepon polisi.


Setengah jam kemudian, petugas satpam yang menggunakan motor kembali ke pos di mana aku, Gia dan Remi masih menunggu.


"Bener Teh! Ada tabrak lari, kasian banget itu jenazahnya, kehujanan. Mana masih muda lagi, anak pabrik."


Wajah Gia dan Remi terlihat memucat, aku yakin seratus persen, wajahku tidak jauh berbeda dengan mereka.

__ADS_1


Salah satu satpam senior menatap kami dan berkata lirih, "Walaupun terdengar ngga masuk akal. Kejadian ini emang kadang terjadi Teh. Konon, arwah meminta pertolongan pada siapa saja yang sekiranya bisa menolong untuk mengurus jenazahnya. Mending Teteh-Teteh semua sekarang pulang aja. Saya anterin sampai rumah."


Kami bertiga mengangguk dan seolah kehilangan kemampuan berbicara. Hal ini menimbulkan rasa shock dan menjadi salah satu pengalaman yang tidak akan bisa dilupakan.


__ADS_2