
Pagi ini aku baru saja masuk ke stasiun radio dan melihat Adul dengan wajah yang kelelahan turun dari lantai atas.
"Adul!" seruku. Ia menoleh dan seketika menghempaskan sapu yang dipegangnya.
"Teteh mah ih, pada tega semuanya! Ninggalin Adul berduaan sama si itu."
Aku terkekeh dan kembali mengingat kejadian dua hari yang lalu saat kami selesai siaran. "Ya maap. Lagian kamu sih, mau numbalin saya. Siapa yang ngga takut coba? Kalau penampakannya semodel yang kemaren! Udah mah badan cuma separo, lidahnya panjang lagi! Kayanya mantan tukang ghibah tuh setan."
"Ish Teteh mah," gerutu Adul. "Eh, tapi Teteh ngapain di sini jam segini? Kan siaran mah nanti malem. Ini belum ada yang dateng loh, baru Adul aja."
"Di suruh Bang Win, katanya mau meeting lagi sebelum jam siaran pagi. Kerjaannya meeting mulu dah, kaya anggota dewan aja."
"Ah elah! Teteh juga seneng-lah di suruh meeting, bisa ketemu Bang Win," ledek Adul.
"Woyadong!" jawabku pendek lalu menuju ke sofa.
"Adul tinggal dulu ya, Teh?"
Aku mengangguk mengiyakan dan mengeluarkan ponselku untuk menghabiskan waktu.
"Xu, nyubuh banget?" sapa Teh Hani yang baru saja masuk.
"Iya Teh, biasa. Nebeng sama kakak tadi," jawabku meletakkan ponsel.
"Oh iya, Teteh lupa ngasi tau. Kemarin ada yang dateng ke sini siang-siang nyari kamu. Dikira kamu siaran siang kali."
"Siapa Teh?" tanyaku.
"Cowok, Xu! Cakep, tinggi, agak gondrong. Cuma Teteh ngga sempet nanya nama karena dia keburu pergi."
"Oh, itu kali Teh, yang mau ambil souvenir Kisah Tengah Malam. Kan yang ceritanya dibacain dapet souvenir," jawabku.
"Iya mungkin, ya?" lanjut Teh Hani berjalan ke arah pantry setelah menaruh tas dan jaketnya di atas meja resepsionis. Tidak lama, ia kembali dengan satu gelas yang isinya terlihat mengepul.
"Ngopi, Xu?" tawarnya.
"Mangga, Teh. Saya belum makan, suka maag kalau langsung dibawa ngopi."
"Ah lemah!" Teh Hani terkekeh.
Dari sofa tempatku duduk, aku bisa melihat jika mobil Bang Win masuk ke tempat parkir.
"Oxu, tolong bantuin saya bikin script buat siaran berita pagi. Opi ngga bisa masuk, ada keperluan keluarga," ucapnya begitu masuk dan melihatku.
Teh Hani kembali terkekeh ketika aku berdiri dan mengikuti Bang Win ke arah studio. Begitu masuk, aku melihat sosok gadis berkemben sedang berdiri di balik meja yang biasa digunakan Bang Win. Dengan mendelik dan menunjukkan tinju, aku mengancamnya hingga sosok itu terkejut lalu menghilang.
"Duduk di sini, tolong bikin script berita ya? Nanti saya yang rekam suara." Bang Win menaruh lembaran kertas di atas meja. "Saya keluar dulu sebentar. Kamu takut ngga kalau saya tinggal?"
"Ngga, Bang. Aman," jawabku pendek dan langsung fokus pada kertas di depanku. Aku mulai mengetik di laptop dan tidak sadar saat Bang Win meninggalkan studio.
Tepat setelah aku selesai membuat script, Bang Win masuk dengan bungkusan berlogo salah satu restoran siap saji di tangannya.
"Makan dulu, abisin," perintahnya. Ia sendiri memegang gelas karton berisi kopi di tangan lalu menuju meja siaran untuk rekaman off air.
Selesai merekam, ia duduk di kursi tepat di depanku dan memperhatikanku makan. "Yang waktu itu dateng?"
"Siapa?" tanyaku menghentikan kunyahan dan menatap mata Bang Win lekat.
__ADS_1
"Itu ... Mantan kamu."
"Ngga tau. Teh Hani cuma bilang ada yang nyari," jawabku kembali makan. "Tapi aku ngga tau siapa."
"Kayanya sih dia."
"Ya kalau dia, emang kenapa? Bang Win kan bisa nemenin aku kalau dia dateng," jawabku santai.
"Dulu kenapa bisa putus?" tanyanya setelah diam beberapa saat.
"Orangnya toxic, racun."
"Galak?" tanyanya lagi.
"Temperamental lebih tepatnya. Sering ngomong kasar. Suka marah tanpa sebab atau kalau ada sesuatu yang ngga sesuai keinginan."
"Terus?"
"Ya putus. Ngapain ngehabisin waktu bareng sama orang yang malah bikin ngga nyaman."
"Kamu malu pacaran sama saya?"
"Hah? Kok tau-tau nanya gitu?" Aku menatapnya heran.
"Umur saya udah ngga muda lagi. Barangkali kamu ngga nyaman pas bareng saya."
"Nyaman kok," aku memotong. "Walaupun kenyataannya emang Bang Win udah tua. Tapi kalau jalan bareng aku, kita keliatan sepantaran. Mungkin karena energi muda aku nular ke Bang Win."
"Saya kok kesel ya dengernya," balasnya menyandarkan punggung di kursi.
"Hahaha. Emang keluarga Bang Win ngga ada yang nyuruh nikah?"
"Eh Bang Win, Bang Win bisa suka sama aku sejak kapan?" Aku nekat bertanya karena penasaran. "Kita kan jarang ketemu karena aku siaran malem. Sebelumnya siaran siang tapi ya ketemu sesekali aja."
"Dari sejak lama. Sejak saya liat kamu suka makan siomay di depan."
"Gitu doang? Cuma gara-gara saya makan siomay?" tanyaku tidak percaya.
"Iya. Saya liat kamu orang yang ngga suka ambil pusing dengan keadaan. Kamu bisa pergi sendiri ke mana kamu mau, bisa makan dengan nikmat walau pun ngga ada yang nemenin. Ngga ribet."
Aku menahan senyum mendengar jawabannya.
"Udah kenyang? Ke ruang meeting yuk?" ajaknya berdiri dan menyodorkan tangan yang dalam waktu singkat sudah kugenggam.
Tepat saat berjalan ke arah pintu, aku menengok ke belakang karena merasa ada yang memperhatikanku dan kembali menemukan sosok berkemben sedang menatapku dengan tatapan marah. Dengan santai, aku mengacungkan jari tengah ke arahnya sambil menjulurkan lidah.
"Ngga usah diladenin. Saya khawatir kalau tiba-tiba tingkah kamu aneh kaya gitu," lirih Bang Win yang membuatku terkekeh.
Di ruang meeting semua sudah berkumpul termasuk Adul.
"Ah elah! Kirain belum dateng si Xu. Taunya lagi pacaran," sindir Kang Utep yang membuat semua yang hadir mengulum senyum.
Aku hampir melepaskan genggaman tangan Bang Win untuk menuju ke sebuah kursi kosong di sebelah Teh Hani saat dia malah semakin mengeratkan genggaman.
"Jangan jauh-jauh dari saya," bisiknya hingga membuat semua yang hadir menjadi diam dan membuat suasana hening.
Gubrak gubrak gubrak!
__ADS_1
Kang Utep menggoncang kursi kosong di sebelahnya dengan tatapan sinis ketika aku mengikuti Bang Win dan duduk di kursi sebelahnya. Gia dan Remi menatapku dengan tersenyum jahil dari tempat mereka duduk.
Meeting kali ini membahas tentang rencana gathering yang akan diadakan di sebuah vila di puncak. Semua yang bekerja di Radio Rebel, akan ikut ke sana selama tiga hari untuk bersenang-senang. Aku melihat jadwal yang terpampang di layar proyektor dan mengangkat suara.
"Bang Win, waktu gathering bertepatan dengan siaran Kisah Tengah Malam. Jadinya gimana? Pakai rekaman off air?" tanyaku. Bukan tanpa sebab aku bertanya. Untuk siaran yang lain, para penyiar sudah terbiasa untuk merekam off air seperti yang tadi Bang Win lakukan.
Bang Win mengangguk pelan dan bertanya pada Gia. "Gi, udah pernah nyoba off air Kisah Tengah Malam?"
"Belum Bang, 'kan biasanya Kisah Tengah Malam berinteraksi sama pendengar dari saluran telepon, baru dua hari ini kita memutus interaksi dan menggantinya dengan membacakan kisah pendengar yang dikirim ke email."
Bang Win diam sejenak dan kembali bertanya. "Gimana enaknya? Mau nyobain rekaman off air?"
"Mau aja Bang. Tapi di tanggal gathering itu bertepatan dengan pengumuman pemenang kuis dari vendor. Dan vendor kirim hasilnya pas di hari yang sama. Jadi kalau off air, kita belum tau nama-nama pendengar yang menang kuis."
"Jadi udah jelas ngga bisa off air ya?" Bang Win mengerutkan kening.
"Ngga bisa," jawab Gia.
"Kenapa ngga siaran di vila aja?" usul Kang Utep. "Kan kita punya perlengkapan portabel. Memang ngga semaksimal di studio karena ada kemungkinan berisik. Tapi kalau siarannya di tempat sepi, kayanya bisa."
"Adul sama Oxu ngga masalah kalau harus siaran di vila?" tanya Bang Win lagi.
"Aman Bang," jawabku dan diangguki Adul.
"Oke kalau gitu, siapin aja alat-alatnya pas mau berangkat nanti. Sekian meeting hari ini. Makasi ya?" Bang Win menutup meeting dan membuat kami semua bubar.
Di depan ruang meeting, Teh Hani menghampiriku. "Xu, orang yang kemaren dateng tuh."
Aku melihat ke arah sofa dan menemukan satu sosok sedang duduk membelakangiku. Setelah mengangguk, aku memutuskan untuk menghampirinya.
"Inoxu!" seru Luigi sembari berdiri dan menyalamiku. "Akhirnya bisa ketemu lagi. Kamu apa kabar?" tanyanya.
"Alhamdulillah baik. Ada perlu apa?" tanyaku balik setelah mempersilakan ia duduk.
"Ngga ada perlu sih, cuma tadi pas lewat dan iseng mampir. Taunya kamu ada. Sekalian mau ngasih ini," jawabnya menyodorkan sebuah undangan.
"Wih, mau nikah dong," seruku sembari memperhatikan undangan di tanganku.
"Iya dong! Kalau kamu masih sendiri ya? Kan aku udah bilang dari dulu, kamu itu terlalu santai, Inoxu! Terlalu ngga peduli sama penampilan diri sendiri. Coba liat? Gaya kamu masih aja sama. Sepatu snakers, jeans sobek, kaos, kemeja flanel. Culun tau! Mana ada cowo yang mau sama kamu."
Rasa kesal perlahan timbul di hatiku dan selama beberapa saat aku mempertimbangkan apakah harus menonjok orang di hadapanku ini atau tidak.
"Saya mau!" seru Bang Win menghampiri kami. Mata Luigi mendelik dengan ekpresi wajah yang bertanya-tanya.
"Saya calon suami Oxu," tambah Bang Win dengan nada menekan.
Luigi menatap Bang Win dari atas sampai ke bawah dan terkekeh pelan, "Selera kamu sekarang om-om?" tanyanya beralih padaku.
Beberapa orang yang hadir selain kami sepertinya bisa merasakan jika suasana mulai terasa memanas. Teh Hani memperhatikan dengan wajah serius, dan Kang Utep yang baru keluar dari studio berdiri diam.
"Inoxu punya gaya sendiri. Dan saya suka gayanya yang ngga pasaran dan lain dari yang lain. Mungkin di mata pria yang biasa-biasa aja kaya kamu, dia ngga terlihat berharga. Tapi di mata saya, dia berharga banget. Maaf bro, kamu dan saya berdiri di level yang berbeda, itulah kenapa, saya bisa ngeliat kalau dia jauh lebih berharga dari perempuan-perempuan di luar sana," ucap Bang Win tajam.
Gubrak!
Aku kaget dan seketika menatap ke arah Adul yang menabrak Kang Utep sehingga membuat sapu, ember dan alat pel yang dibawanya jatuh ke lantai. Sepertinya ia terkesima melihat dan mendengar ucapan Bang Win.
Luigi sendiri hanya mengangguk dan bangkit berdiri. "Saya tunggu kedatangannya," ucapnya sebelum keluar dari stasiun radio.
__ADS_1
Aku menghela nafas lega dan melihat Kang Utep menghampiri Bang Win yang masih berdiri dengan wajah kesal. "Santai Win, masih pagi. Saya kira kamu tadi udah mau nonjok orang barusan. Saya nunggu dari tadi, mau misahin."
"Hampir," jawab Bang Win pendek. "Kayanya saya harus lebih cepat bergerak, Tep," tambahnya lagi sembari menatapku lekat.