
"Loh, Bang Win? Ngga ikut gathering?" tanya Nyx heran ketika melihat Bang Win turun.
"Lah, Oxu balik juga?" tanyanya lagi.
"Pulangnya dipercepat, soalnya di sana pada panik pas kena gempa susulan," jawab Bang Win.
"Oh yang Cianjur ya? Ya udah deh masuk. Nyx beresin ini dulu," ucapnya sembari mengeringkan mobil.
Aku mengajak Bang Win masuk untuk bertemu mama. Sama seperti Nyx, mama juga heran mendapati kami sudah pulang.
"Mama kira masih besok pulangnya, mama baru mau ngirim pesan ke Oxu, nitip beliin sayuran di puncak," kekeh mama.
"Ya mau gimana, Ma? Semalem tuh pada kaget semua gara-gara gempa, jadinya mending pulang aja," jawabku menyandarkan punggung di sofa.
"Bang Win, ngopi dulu ya? Nyx buatin," ucap Nyx begitu masuk. Sebelum Bang Win menjawab, ia langsung menuju ke dapur.
"Bantuin Nyx sana," bisik Bang Win.
"Biarin ajalah, Nyx yang mau sendiri kok," balasku melirik.
Pada saat memperkenalkan mama dan Nyx, Bang Win sempat menegurku karena aku tidak memanggil Nyx dengan embel-embel kakak, mas, aa atau apapun untuk menunjukkan penghormatan seorang adik kepada kakaknya.
Namun, saat aku dan Nyx sendiri menjelaskan jika saling memanggil nama hanya berlaku di rumah, Bang Win mengerti. Bahkan, Nyx berkata jika dulu, aku memang memanggilnya kakak. Seiring berjalan waktu, Nyx menganggapku bukan hanya sekedar adik. Bisa dibilang kami bersahabat, saling mengisi dan saling melengkapi, tepat setelah papa meninggal. Tidak ada satu pun yang kusembunyikan darinya, begitu pun sebaliknya. Dan sejak itulah, aku terbiasa memanggilnya Nyx tanpa embel-embel apa pun.
"Win, sana istirahat dulu di kamar tamu," suruh mama.
"Iya Ma, makasi. Tapi nanti aja, Win nungguin kopi buatan Nyx," jawab Bang Win tersenyum.
Mama mengangguk lalu berdiri," Mama tinggal dulu kalau gitu ya?"
Bang Win membalas dengan anggukan juga. "Saya selalu nyaman kalau di rumah kamu," ucapnya begitu sosok mama berjalan ke belakang.
"Ya, tinggal di sini aja kalau gitu," ucapku asal.
"Boleh. Secepatnya ya?" sahutnya lagi. Aku hanya menggangguk pelan.
"Nih Bang Win, minum dulu deh. Emang pas di sana kerasa banget gempanya?" tanya Nyx dengan membawa tiga gelas cangkir. "Nih, cappuccino Oxu," sodornya.
"Mayan-lah Nyx, kerasa banget. Padahal bukan di titik gempa. Ngga kebayang di Cianjurnya gimana," sahutku.
__ADS_1
"Nyx juga kemaren sama temen-temen buka donasi buat pengungsi. Kami ngedata barang-barang yang lagi mereka butuhkan banget yang untuk saat ini adalah baju layak pakai buat bapak-bapak. Soalnya banyak yang donasiin baju layak pakai buat emak-emak. Jadinya bapak-bapak pengungsi malah pada pake daster sama gamis."
"Serius?" tanya Bang Win kaget.
"Iya Bang, sekarang kami berdonasi sesuai kebutuhan di lokasi. Bukannya pilih-pilih, tapi malah jadi kasian kalau ngga tepat sesuai kebutuhan kaya mie instan atau makanan. Mie instan udah banyak banget, satu tenda isinya mie semua. Belum lagi beras dan lain-lain. Nah sekarang butuhnya pakaian pria, selimut, alat mandi, sama perlengkapan bayi termasuk susu formula. Jadi diutamakan yang itu dulu," jelas Nyx.
"Saya juga mau bikin bakti sosial yang hasilnya buat donasi pengungsi Cianjur. Nanti saya minta daftar lokasi pengungsi dan apa-apa yang dibutuhkan ya?"
Bukan tanpa sebab Bang Win mengatakan itu pada Nyx. Nyx mantan mahasiswa pecinta alam yang dulu bergabung di banyak organisasi. Hal itu membuatnya memiliki banyak teman, yang kebanyakan dari kalangan sukarelawan atau volunteer. Bahkan, dua sahabatnya, Putra dan Galih adalah anggota Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau yang lebih dikenal dengan Basarnas.
"Siap! Nanti saya kasih Bang Win," jawab Nyx. "Emangnya, Bang Win mau bikin acara apa?"
"Rencananya sih live music akustik. Pengisinya para musisi-musisi yang pernah dateng ke Radio Rebel," jelas Bang Win.
"Wah bagus tuh! Di buka buat umum juga kan? Kalau nanti Nyx bawa pasukan ngga apa-apa?"
"Boleh, silakan aja."
Kami menghabiskan waktu sampai satu jam kemudian untuk mengobrol panjang lebar sebelum Bang Win pamit pulang.
"Win, bawa ya? Buat di rumah. Biar ngga usah repot cari makan lagi," mama menyerahkan sebuah paper bag berisi makanan karena tadi Bang Win menolak makan.
"Ngga repot. Ngga ada orang tua yang merasa direpotkan oleh anak-anaknya. Hati-hati ya? Kabarin ke Oxu kalau udah nyampe rumah." Bang Win mengangguk dan menyalami mama.
"Oxu, saya benar-benar menemukan figur keluarga yang saya inginkan di keluarga kamu," ucapnya sebelum memasuki mobil.
"Bang Win mau aku bilangin ke mama supaya mengadopsi Bang Win?"
"Bukan itu maksud saya," jawabnya terkekeh.
Aku tertawa. "Tenang Bang. Kalau kita nikah, keluarga aku bakal jadi keluarga Bang Win juga," balasku tersenyum.
"Aamiin. Bisa ngga ya?" ia bergumam pelan.
"Bisa-lah! Kan ngga perlu ada hubungan darah untuk menjadi keluarga," balasku.
"Bukan, maksud saya, bisa ngga ya saya ngelamar kamu dalam waktu dekat?"
Aku mulai menatap ke matanya lekat, "Kalau Bang Win memang udah siap. Silakan bilang mama. Tapi sebelum itu, aku juga pengen banget dikenalin ke keluarga Bang Win. Terlepas seperti apa dulu hubungan Bang Win dengan mereka, aku ngga ada hubungannya sama sekali. Kelak mereka bakal jadi mertua aku. Aku juga ingin berbakti ke mereka sebagai menantu."
__ADS_1
Bang Win tersenyum mengangguk dan memasuki mobilnya setelah mengacak rambutku lembut. Aku sendiri tetap berdiri di teras sampai mobil benar-benar menghilang dari pandangan.
***
"Oxu, sini deh!" panggil Nyx begitu aku masuk.
"Naon?"
"Duduk sini dulu bentar," ajak Nyx menepuk karpet di sebelahnya. Tidak lama mama ikut bergabung bersama kami.
"Nyx sama mama udah sepakat, kalau kamu emang udah sreg sama Bang Win, kita setuju-setuju aja," kata Nyx.
"Lah, dari kemaren emang mama sama Nyx ngga setuju?" tanyaku heran.
"Ish! Bukan itu. Bukan setuju kalian berhubungan. Maksud Nyx, nikah ajalah. Kalo berhubungan mah dari kemaren juga kita setuju."
"Emang iya, Ma?" tanyaku penasaran.
"Iya, silakan aja Oxu. Mama lihat Win orangnya baik, bertanggung jawab juga," jawab mama.
"Walau pun dari keluarga yang broken home dan punya masa lalu buruk, tapi kalau kata Nyx, Bang Win hebat bisa bertahan sampai sekarang," tambah Nyx.
"Ya Oxu mah udah bilang, silakan ngomong ke mama. Tapi, Oxu juga bilang kalau pengen kenal sama keluarganya dulu. Walau pun sampe sekarang penerimaan mereka ke Bang Win masih agak gimana gitu. Padahal Oxu tau sendiri, Bang Win udah berdamai dengan diri sendiri dan mengesampingkan ego, berusaha mendekati keduanya. Tapi ya namanya masing-masing udah punya pasangan lagi, pasangan mereka yang baru ini ikut campur juga," jelasku.
"Ngga apa-apa. Yang penting, Win udah bersikap baik ke keduanya. Kalau mereka ngga nerima, ya itu urusan mereka sendiri dan hanya membuktikan kalau mereka orang tua yang egois. Intinya, biarin aja orang tua Win mau bersikap seperti apa, yang terpenting Win jangan ikut melakukan hal yang sama. Biar nanti Allah yang melembutkan hati kedua orang tua Win," kata mama.
"Iya ma," balasku. "Terus, kalo Oxu nikah, berarti ngelangkahin Nyx dong?"
"Ya kenapa emang? Nikah bukan tentang yang lahir duluan yang harus pertama menikah. Kalau Oxu siap ya silakan aja. Nyx kan cowo, telat dikit ngga masalah kok. Bang Win aja telat gitu masih ada yang mau," serunya melirikku sinis.
Aku dan mama terkekeh.
"Tapi bener loh, Oxu. Mama dari pertama udah sreg sama Win. Cara dia dateng ke sini sopan banget. Apalagi pas minta ijin deket sama kamu. Makin ke sini mama makin salut, mau ngajak kamu pergi aja, minta ijinnya ke mama," tambah mama.
"Nah bener! Nyx kan cowo, jadi ngerti banget gimana cowo yang niatnya serius atau cowo yang niatnya cuma main-main. Yang Nyx liat sih, Bang Win serius. Udah Nyx galakin, sinisin, jutekin, tetep aja pantang mundur." Nyx menyandarkan diri di tembok. "Sok atuhlah, nikah aja. Biar kita bisa hajatan."
Aku tertawa dan memeluk mama lalu Nyx dengan erat. "Makasi Nyx," ucapku lirih.
"Oxu! Aing teu bisa napas! (Oxu! Saya ngga bisa napas!)" seru Nyx membuatku seketika melepaskan pelukan dan terkekeh.
__ADS_1
"Tujuan hirup aing tercapai mun nempo maneh jeung mama hirup bahagia (tujuan hidup saya tercapai jika melihat kamu dan mama hidup bahagia)," lanjut Nyx mengacak rambutku kuat-kuat.