
"Inoxu, jangan naik dulu. Lampu studio mati nih. Adul lagi beli sebentar ke Deltamart," ucap Kang Utep begitu melihatku masuk.
"Iya," aku menjawab singkat dan menuju ke arah sofa untuk duduk.
Ting! Sebuah pesan yang ternyata dari Bang Win baru saja masuk ke ponselku.
[Saya masih belum bisa ke studio. Nanti pulangnya hati-hati ya? Tolong minta Nyx jemput kamu]
[Okeii] balasku singkat.
Sudah beberapa hari ini Bang Win tidak datang ke studio karena terserang flu. Sebelum memasukkan ponsel ke dalam tas, aku memutar lagu yang secara otomatis tersambung ke headphone lalu menunggu hingga waktu siaran tiba.
Ting! Baru saja aku memasukkan ponsel, sebuah pesan baru, diterima.
[Xu! Aku ngga bisa siaran malem ini. Oma aku dateng mendadak] tulis Gia.
[Ongkeh] balasku cepat.
Aku kembali mendengarkan lagu dan melihat jam yang baru menunjukkan pukul setengah sebelas.
"Teh, udah dateng? Rajin banget," sapa Adul berjalan masuk. Di tangannya ia membawa kantong plastik yang kuperkirakan adalah bola lampu.
"Woyadong!" balasku singkat.
"Kita siaran berdua aja Teh. Soalnya Teh Gia dan Teh Remi ngga bisa dateng. Teh Gia ada omanya, kalau Teh Remi motornya mogok pas abis dipake kakaknya," kata Adul masih berdiri. "Eh, Adul kasih ini ke Kang Utep dulu deh. Udah ditungguin."
Tanpa menunggu jawabanku, ia langsung melesat ke lantai dua. Aku menyandarkan diri dan menikmati alunan lagu hingga jam sebelas kurang. Setelah memutus sambungan dari ponsel ke headphone dan menaruh keduanya dalam tas, aku beranjak menuju ke arah tangga.
Sesuai kesepakatan, malam ini aku akan siaran sendiri. Adul akan menggantikan Remi menjadi operator lagu dan juga iklan.
"Teh Inoxu! Yuhu! Ayo standby," seru Adul. "Hiji, dua, tilu, mulai!"
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inoxu hadir kembali menyapa semua pendengar Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung di mana pun berada. Malam ini saya kembali dengan berbagai kisah untuk menemani waktu istirahat para pendengar semua, selama satu setengah jam ke depan. Satu lagu permintaan Husnul Atiyah dari Happy Asmara dengan Klebus akan menjadi awal kisah malam ini. Jangan ke mana-mana dan stay tune terus ya."
Aku mematikan mic dan memilih satu nomor narasumber yang akan kuhubungi saat Adul berseru kencang. "Teh Inoxu, ada telepon masuk!"
Aku menatap tanda merah yang berkedip di monitor dan menekan tanda terima. "Halo?"
"Halo Teh Inoxu! Teh, aku mau dong Teh, jadi narasumber Kisah Tengah Malam. Aku teh udah lama pisan ngirim pesen ke nomer WA tapi ngga pernah dihubungi juga. Sebel jadinya! Ya udah akhirnya aku teh mutusin buat nelpon duluan tah!"
Perkataan tanpa jeda yang kudengar membuatku seketika kehabisan kata-kata. "Iya, tunggu sebentar ya? Nanti kita ngobrol abis lagu selesai diputar. Jangan di matiin teleponnya ya."
Aku menekan tanda hold dan bergidik seketika. Suara di ujung sambungan itu jelas terdengar sebagai suara laki-laki, namun ditambah dengan sentuhan nada centil dan genit.
"Itulah Klebus dari Happy Asmara. Enakeun juga ya lagunya? Selamat datang saya ucapkan untuk para pen—."
"Halo Teh Inoxu? Ini kapan atuh kita ngobrolnya? Teteh mah meni lama ih!" Suara narasumber yang memotong perkataanku membuatku terkejut setengah mati.
"Eh iya Kang, maaf. Saya tadi lanjut opening dulu abis muterin lagu," ucapku dengan masih berdebar.
"Lain kali jangan gitu ya, Teh! Masa narasumber disuruh nunggu lama. Ih gimana sih Teh Inoxu ini," omelnya lagi.
"Ya udah, sekarang Akang mau cerita apa nih?" tanyaku mengalah.
"Ey sembarangan ya iyey! Akang-akang! Masa suara mendayu-dayu gini dipanggil Akang?" sentaknya.
Aku terperanjat dan melirik ke arah Adul yang juga terlihat kaget. "Ya terus apa dong? Maunya dipanggil apa?" tanyaku lagi.
"Jeng! Jeng ya! Inget, Jeng!"
"Oh iya siap, Jeng. Ini dengan Jeng siapa di mana?" Aku berusaha bersabar. Sepanjang karirku menjadi penyiar, baru kali ini aku bertemu dengan narasumber yang seperti ini.
__ADS_1
"Ih kepo! Situ okey nanya-nanya saya siapa?" jawabnya ketus.
Aku menepuk dahiku pelan. "Kan biar namanya diketahui pendengar lain, siapa tau jadi terkenal," ucapku asal.
"Dengan Jeng Merlin," jawabnya lagi masih dengan suara ketus.
"Jeng Merlin dari mana?" tanyaku dengan suara lembut.
"Dari tadi nungguin Teh Inoxu!" sentaknya lagi.
Aku mengepalkan tanganku tanda kesal. "Iya maaf, saya udah bikin Jeng Merlin nunggu. Maaf ya?"
"Iyalah boleh. Saya dari Lengkong."
"Oke. Silakan Jeng Merlin, mau cerita apa?"
"Siapa bilang saya mau cerita? Saya mah mau nelepon aja ke Radio Rebel, bukan mau cerita."
"Lah gimana sih? Kan siaran sekarang judulnya Kisah Tengah Malam, yang artinya harus ada yang cerita," balasku.
"Ngga mau ah. Saya mau ngasih tebak-tebakan aja deh buat Teh Inoxu," ucapnya.
"Iyalah boleh. Sok, tebakan apa?"
"Tukang copet apa yang paling nekat?" Jeng Merlin mulai bertanya.
"Hhmm, semua tukang copet kayanya nekat semua deh," jawabku.
"Ih, meni ngga pake mikir dulu. Salah! Yang betul itu tukang copet gigi emas."
Bhuuuh!
"Lanjut deh," tantangku.
"Oke lagi ya? Apa bedanya Teh Inoxu sama lukisan?"
"Apa ya?" gumamku. "Beda sih. Kan saya tiga dimensi kalau lukisan dua dimensi."
"Salah. Kalau lukisan makin lama makin antik, kalau Teh Inoxu makin lama makin cantik."
"Hahahaha!" aku tertawa cukup keras. "Makasi loh Jeng Merlin."
"Ih ge-er," omelnya yang membuatku berhenti tertawa seketika. "Satu lagi nih!"
"Iya, sok apa?" tanyaku penasaran.
"Kenapa zombie selalu barengan ke mana-mana?"
"Hhmm, karena mereka hidup berkelompok," jawabku yakin.
"Salah! Karena kalo jalan sendiri namanya jomblo. Kaya Teh Inoxu!"
"Hahahaha!" Aku menoleh menatap Adul yang tertawa terbahak-bahak.
"Enak aja! Saya punya pacar tau," balasku kesal pada Jeng Merlin.
"Ya terus? Saya kan ngga nanya!"
Aku menepuk dahiku beberapa kali karena kesal.
"Udah ah! Ngobrol sama Teh Inoxu ngga enakeun. Babay," seru Jeng Merlin kemudian sebelum mematikan sambungan secara sepihak.
__ADS_1
Aku melongo untuk beberapa saat karena berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Untungnya, lambaian tangan Adul menyadarkanku dengan segera.
"Lucu banget ya Jeng Merlin. Ini perdana ya, ada narasumber bukannya cerita tapi malah ngasi tebak-tebakan ke saya. Seru sih tapi. Makasi ya Jeng Merlin! Waktu lima belas menit yang tersisa akan saya habiskan dengan memutar lagu permintaan para pendengar yang sudah masuk. Akhir kata, Inoxu dan Adul mohon pamit, wassalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh."
Aku mematikan mic dan menatap lekat ke arah monitor untuk memastikan jika semua sambungan sudah terputus. "Nyebelin banget deh," keluhku sembari membuka headphone. Getaran pada ponsel, membuatku meraih benda itu dan menemukan sebuah pesan masuk baru dari Bang Win.
[Oxu, nanti sebelum pulang, tolong ke studio satu terus ambil tumpukan kertas di meja saya. Habis itu kasih ke Adul buat difotokopi rangkap tiga. Besok pagi-pagi hasil fotokopinya udah di meja saya ya?]
[Iya] balasku singkat.
Aku membereskan barang-barangku dan menghampiri Adul. "Jangan pulang dulu. Bang Win minta tolong fotokopiin kertas di mejanya. Bentar Teteh ambil dulu., tungguin di sofa bawah," ucapku yang diangguki Adul.
Aku berjalan turun dan langsung menuju ke studio satu. Langkahku terhenti saat membuka pintu dan menemukan ruangan dalam keadaan gelap gulita. Saklar lampu yang kutekan berkali-kali tidak juga membuat lampu menyala.
"Yah, putus juga ini bola lampunya," ucapku lirih. Dengan penerangan seadanya dari ponsel, aku berjalan menuju meja Bang Win.
"Untung sayang, kalau ngga mah males disuruh-suruh kaya gini," gumamku lagi.
"Oxu... Inoxu...."
Suara yang terdengar lirih, berat dan serak itu membuat langkahku membeku serta jantungku berdebar.
"Oxu... Inoxu...."
Ketakutan mulai merambati tubuhku secara cepat.
"Oxu...."
Cukup sudah!
"Bang Win!" Aku menjerit dan berlari ke arah pintu studio yang si*alnya tidak bisa dibuka. Dengan histeris aku kembali berteriak dan menggedor pintu, berharap seseorang bisa membukanya dari luar.
"Oxu .... Tolong!"
"Mama! Mama!" teriakku semakin histeris. Aku menarik pintu kuat-kuat bahkan sampai mendorong tembok tepat di samping pintu dengan kaki agar semakin bertenaga saat menarik pintu yang susah dibuka.
Bruak!
Berhasil! Setelah beberapa saat, pintu terbuka dan aku berlari ke luar. Pemandangan di luar studio membuatku terkejut setengah mati. Kang Utep, Adul, Gia, Remi, Teh Hani, Teh Opi, penyiar yang lain bahkan Nyx sudah berdiri tepat di depanku dengan membawa banyak balon serta memakai topi pesta.
"Selamat hari lahir, Inoxu!" teriak mereka semua.
Aku terpana beberapa saat dan masih linglung saat satu persatu maju dan menyalamiku.
"Loh, Win ke mana?" tanya Kang Utep tiba-tiba.
"Bang Win?" tanyaku balik.
"Iya! Di kan di dalem studio. Mau ngasi kejutan kue ulang tahun buat kamu."
Aku kaget setengah mati dan kembali masuk ke studio dengan diikuti yang lain sembari membawa lampu darurat. Pemandangan yang kulihat ingin membuatku menangis dan tertawa bersamaan. Bagaimana tidak, Bang Win terduduk dilantai dengan satu tangan mengusap wajah dan satu tangan memegang kue ulang tahun yang sudah tidak berbentuk. Hoodie yang dikenakannya penuh dengan krim yang berasal dari kue.
"Tadi saya sembunyi di celah antara lemari dengan pintu. Waktu Oxu ketakutan, saya mau nyamperin, tapi kaki saya kejepit. Jadinya saya reflek teriak minta tolong dan berakibat Oxu makin ketakutan. Dia ngegedor pintu dan maksa ngebuka pintu sekuat tenaga, sampai akhirnya saya yang masih terjepit diantara celah lemari dan pintu kena hantaman daun pintu waktu Oxu ngebuka dengan paksa," jelas Bang Win pada semuanya yang sedang berkumpul di sofa.
Dalam beberapa detik keheningan terjadi sebelum pecahnya tawa yang menggelegar. Beberapa mengusap air mata dan beberapa memegang perut dengan masih tertawa.
"Maaf," lirihku sembari sekuat tenaga menahan tawa.
"Ngga apa-apa, pelajaran buat saya agar lain kali ngga usah bikin kejutan horor buat kamu," balas Bang Win.
Aku tersenyum dan ia memegang tanganku lembut. "Selamat ulang tahun. Semua doa terbaik untuk kamu, Oxu," bisiknya di telingaku di antara senyum dan untaian doa dari para sahabat yang mengitariku malam ini.
__ADS_1