
"Aduh ...! Adul laper." Suara Adul terdengar dari ruang keluarga saat kami sedang bersantai dan berbagi cerita setelah makan malam.
"Eh, masih ada makanan ngga?" tanya Teh Opi lirih.
"Ada Teh, tadi Remi pisahin kok buat si Adul. Aman."
Dengan perlahan Adul melangkah menghampiri kami semua. "Badan Adul pada sakit. Ini masih kliyengan," lapornya.
"Ya iyalah, makan kecubung," sela Kang Utep. "Sini deh, duduk dulu. Tenang-tenang dulu, abis itu ntar diambilin makan. Jangan berisik banget yak? Utep sama Win mau rekaman dulu sebentar buat kuis."
Kang Utep memasuki kamar tempatku siaran tadi sore diikuti dengan Bang Win, sedangkan Adul duduk tidak jauh dariku.
"Merunduk! Ada pesawat mau menyerang!" teriak Adul tiba-tiba sembari menatap ke arah jendela yang mengarah ke taman tepat di belakangku.
"Beuh, si Adul! Belum beres itu efek kecubungnya. Nyamar jadi apa lagi dia sekarang?" tanya Teh Hani menahan tawa.
Aku ikut tertawa melihat tingkah Adul dan seketika trenyuh membayangkan jika Bang Win dulu pernah seperti dia.
"Ada b*om segede bola bowling! Merunduk semua!" teriaknya lagi.
"Adul, kamu jadi apa sekarang?" tanya Gia terkikik geli.
"Jadi keset welcome," jawabnya pendek sembari terus merunduk.
"Hahaha!" Semua yang hadir gagal menahan tawa.
"Ada ru*dal lompat-lompat!" serunya lagi.
Aku masih tertawa terbahak-bahak ketika menghadap ke belakang. Nafasku seketika tercekat dan punggungku dialiri hawa dingin secara tiba-tiba.
"Bang Win!" teriakku keras dan langsung berlari menuju ke kamar tempat Bang Win dan Kang Utep siaran. Semua menatapku heran sampai Kang Utep membuka pintu dan terpaku menatap ke arah taman.
"Astagfirullah! Itu taman isinya setan semua!"
Seketika keheningan tercipta selama beberapa detik sebelum semua berhamburan, berlari ke arah kamar. Adul yang masih merunduk ditarik paksa oleh Remi dan menyusulku ke kamar yang digunakan untuk siaran.
"Pada liat apa sih?" tanya Teh Hani dengan nafas terengah-engah.
__ADS_1
"Pantesan Adul tadi bilang pesawat, b*om segede bola bowling sama ru*dal!" seruku.
"Emang apaan yang kalian liat!" tanya Gia penasaran.
"Kuntilanak terbang, kain putihnya melambai-lambai kaya sprei. Terus kepala botak terbang, sama pocong," jawab Kang Utep.
"Astagfirullah!" seru Teh Hani kaget.
"Si Adul masih mabok, makanya dia liatnya kaya gitu. Padahal setan asli," jelas Kang Utep lagi.
Aku bergidik membayangkan pemandangan yang tadi kulihat. "Jangan takut, ada saya," ucap Bang Win lirih seraya menggenggam tanganku.
"Emang Bang Win ngga takut?" tanyaku.
"Ngga, saya dulu sering nyerempet maut. Hal kaya gitu udah ngga bisa bikin saya takut. Saya cuma takut sama Allah. Takut kalau Dia menggariskan takdir yang membuat saya jauh dari kamu."
Aku termenung menatapnya sampai Kang Utep kembali membuka suara. "Astagfirullah, itu setan energinya gede banget, sampe-sampe ruangan ini ikut bergetar."
Sontak, semua memperhatikan barang-barang di sekitar kami yang bergetar pelan.
"Allahu Akbar!"
"Allahu Akbar!"
"Oxu, kenapa?" tanya Bang Win khawatir.
Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya sebelum menyadari sesuatu. "Ini bukan karena setan, ini gempa!" teriakku yang langsung bangkit menuju pintu.
"Gempa!"
"Gempa!"
Teriakanku membuat semua yang sedang bersembunyi di kamar berlarian keluar. Kami menuju taman dan memastikan berada di tempat yang aman dari runtuhan vila yang mungkin terjadi.
"Gempa!" teriak beberapa orang penyiar. Di ujung sana terdengar bunyi kentongan beberapa kali yang menandakan jika telah terjadi bencana alam dan penduduk diminta keluar dari rumah.
"Astagfirullah, gempa susulan efek Cianjur," ucap Teh Opi sembari memeriksa ponselnya.
__ADS_1
"Jang? Ngga kenapa-kenapa?" tanya pengurus vila mengunjungi kami.
"Gempa ya Pak?" tanya Gia.
"Iya Neng, kayanya yang di Cianjur," jawab pengurus vila. "Alhamdulillah atuh kalau pada ngga kenapa-kenapa, saya keliling lagi."
"Iya Pak, mangga," jawab Bang Win.
Setelahnya, Bang Win menghadap ke arah Kang Utep. "Gimana nih, Tep? Aman ngga kalau kita di sini terus?"
"Aman sih, tapi saran Utep mah, jangan ambil resiko."
"Menurut kamu gimana?" tanya Bang Win lagi.
"Besok kita pulang aja. Malam ini kita tidur di ruang keluarga, gelar kasur. Takutnya ada gempa lagi pas kita tidur. Eh, Adul mana?"
"Astagfirullah, Adul ketinggalan di kamar!" seru Remi.
Kami menepuk kening pelan dan Kang Utep berlalu ke dalam. Setelah agak lama, ia kembali keluar dan menggerutu. "Si Adul bener-bener ya! Disuruh keluar ngga mau, katanya lagi jadi pohon teh, jadi kakinya nancep di tanah. Utep gendong aja ke ruang keluarga terus ngedudukin dia di sofa. Eh dia bergaya lagi berenang, katanya sekarang dia jadi ubur-ubur!"
Aku dan yang lain melongo mendengar laporan Kang Utep dan seketika tertawa.
"Besok kita langsung pulang aja deh," putus Bang Win. "Sekarang kayanya udah aman, masuk lagi aja."
Kami mengikuti saran Bang Win dan mulai membereskan perlengkapan tidur di ruang keluarga. Semua berjajar dari pintu depan sampai ke arah dapur.
"Kebayang ya? Yang di pengungsian pasti kaya gini," ucap Remi pelan.
"Iya bener, rasanya gimana ya? Kehilangan keluarga, kehilangan rumah, ngga ada makanan," tambahku.
"Besok kita pulang, abis itu bikin program bakti sosial buat donasi Cianjur," ucap Bang Win pelan.
"Bagus tuh Win!" seru Kang Utep. "Kita bisa live perform, isinya penyanyi-penyanyi yang pernah siaran di radio kita. Jadi donasi lewat hiburan."
"Iya ih, bener banget!" sahut Teh Opi.
"Keren banget. Aku bisa ketemu sama Rompi dong? Penyanyi kesukaan aku. Asik! Bisa foto bareng," seruku bersemangat.
__ADS_1
"Boleh. Asal kamu ngga berlebihan aja nanti pas ketemu," jawab Bang Win menatapku dengan pandangan mengancam.