
"Adul!" seruku saat melihat Adul baru saja masuk. "Parah kamu mah! Remi dirawat ngga pernah nengokin, ampe sekarang udah di rumah, juga ngga pernah nengok! Temen, masa gitu?!"
"Ih Teh Inoxu, bukan gitu. Adul juga sakit ini, kan tau sendiri seminggu lebih ngga ikut siaran," jawabnya sembari ikut duduk di sofa.
"Eh iya juga," sambung Gia. "Ke mana aja kamu, Dul? Absen siaran lama banget."
"Dibilangin, Adul sakit! Adul demam, meriang, gara-gara diceburin emak ke kolem lagi. Abis itu ngga dibukain pintu semaleman, jadinya kedinginan tidur di luar."
"Kok bisa?" tanyaku heran. "Kamu bikin masalah apa lagi?"
"Ish Teh Inoxu, kaya Adul yang tukang bikin masalah aja! Adul digituin gara-gara pas pulang, emak tau ponsel baru Adul retak pas kita kabur karena ada yang ikutan foto."
"Hahaha! Kenapa emak marah sampe segitunya?" tanya Gia.
"Itu emak yang beliin. Baru dapet nyicil sekali," jawabnya memelas. Mana retaknya sampe dalem lagi, jadi aja ngga bisa dipake."
Aku dan Gia serempak tertawa lepas. "Sukurin," tambah Gia.
"Eh Mumu ke mana Teh? Tumben Adul ngga liat?" tanyanya.
"Tadi sih ada, abis nongkrong di depan sama pak satpam. Gatau sekarang ke mana," jawabku sembari melihat ke arah jam dinding. Masih ada waktu sebelum siaran.
"Mang Adul!" seru seseorang yang ternyata Mumu. Ia merangkul Adul erat sehingga membuatku dan Gia saling berpandangan.
"Kenapa Mu? Heh Mu, kenapa?" tanya Adul. Bukannya menjawab, Mumu malah terisak. "Sini-sini duduk dulu deh! Kamu mah! Ditanyain bukannya ngejawab malah mewek."
Mumu mengikuti saran Adul untuk ikut duduk di sofa tepat di depanku dan Gia.
"Kenapa sih Mu? Pas ada Adul malah nangis. Kangen kamu teh?" tanyaku penasaran.
"Bukan gitu Teh Ino, Mumu sebenernya udah ngga kuat pengen cerita, tapi Mamang kan kemaren sakit, terus ngga ke sini-sini. Giliran Mumu ke rumah Mamang, diomelin sama Nini. Kata Nini yang serius kerjanya, jangan ditinggal maen, nanti Bang Win marah," jawab Mumu dengan wajah memelas.
"Nini?" tanyaku lagi.
"Emaknya Adul 'kan nininya, Mumu," jelas Adul.
"Oh," aku mengangguk mengerti.
"Emang ada apaan sih Mu? Coba cerita," tanya Adul. Aku serta Gia fokus mendengarkan dan tanpa sadar mencondongkan tubuh kami ke arah mereka.
"Waku awal dateng dan tinggal di kamar belakang itu, Mumu biasa aja Mang, Teh. Cuma pas ke sini-sini, Mumu sering liat ada bayangan item mondar mandir di depan kamar."
"Terus gimana?" Gia bertanya.
"Makin ke sini bayangan item itu sering banget lewat di depan Mumu. Sampe akhirnya, beberapa malem kemaren. Mumu kebangun tengah malem karena denger suara perempuan nangis dari lantai atas."
"Kok bisa kedengeran? 'Kan kamu di belakang," tanya Adul.
"Ya 'kan Mumu penasaran, terus nyari sampai akhirnya di lantai dua, jelas banget suara nangisnya. Awalnya Mumu kira ada Teh Ino lagi siaran, pas diinget-inget malem itu bukan jadwal siaran. Dan pas ngecek studio satu-satu, di ruangan studio ngga ada siapa-siapa."
"Ya 'kan kamu udah Mamang bilangin, kalau tempat ini mah ada yang kaya gitu-gitu. Kok masih kaget aja sih?" balas Adul.
"Ih Mamang, Mumu belum beres cerita. Pas ngeliat ngga ada siapa-siapa, Mumu turun lagi ke bawah. Ketemu sama Teteh penyiar pake kacamata, rambutnya pendek, pake jaket merah tapi basah semua bajunya. Lagi nangis sambil duduk di situ, tuh," sambung Mumu sambil menunjuk sisi sofa kosong di sebelah Gia yang sontak membuat Gia pindah duduk.
"Perasaan di sini ngga ada deh penyiar yang ciri-cirinya kaya gitu," gumam Adul.
__ADS_1
"Ya Mumu ngga tau, 'kan Mumu belum hapal sama semua penyiar di sini."
"Penyiar di sini rata-rata rambut panjang, kalo ngga pake kerudung," tambah Gia.
"Ya Mumu juga akhirnya tau kalau itu bukan penyiar, soalnya pas Mumu ngeliat sosok itu, ngga lama lampu ruangan ini mati, tapi ngga lama. Pas nyala lagi, udah ngga ada, ilang," Mumu berkata takut-takut.
"Woi, pada ngobrolin apa?" seru Kang Utep yang baru turun dari lantai dua.
"Ngga Kang, ngobrol biasa aja," sahut Mumu menunduk.
"Eh, Mu. Tolongin dong di studio atas dipel. Ngga ada ujan ngga ada angin, lantainya basah. Hampir aja Utep kepeleset," sahut Kang Utep ikut duduk di sebelah Adul.
"Hii, sana-sana, jauh-jauh, ntar nyosor lagi," Adul melirik sinis.
"Astagfirullah si Adul, dibilangin ya ini anak! Yang nyosor duluan bukan Utep, tapi kamu!" Kang Utep membantah.
"Hih, alesan!" sambung Adul.
"Udah-udah, ke atas aja yuk? Siap-siap," Gia menengahi.
"Hayu-lah. Eh Mu, mau ngepel ngga? Ayo, sekalian! Mumpung kita pada di atas nih," ucapku yang membuat Mumu bergegas bangkit dan pergi ke belakang.
Kami semua bergegas naik ke atas setelah Mumu kembali dengan membawa alat pel.
***
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam untuk semua pendengar Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Inoxu dan Adul hadir dari studio lantai dua untuk menemani istirahat malam para pendengar semua dengan sajian kisah dari narasumber kami. Satu lagu permintaan Sonia Hermawan dari Mario Gerardus Klau dengan Semata Karenamu akan menjadi pembuka kisah kita. Stau tuned terus dan pastiin jangan ke mana-mana," ucapku membuka siaran.
Aku mematikan mic dan melihat ke arah Adul yang sedang menghubungi narasumber. Di dekat meja Gia, terlihat Mumu duduk termenung dan sesekali melihat ke sekeliling studio. Ia meminta kami mengijinkannya tinggal di sini karena takut jika harus kembali ke bawah seorang diri.
"Mario Gerardus Klau atau yang lebih dikenal sebagai Mario G Klau dengan Semata Karenamu. Di ujung sambungan telepon udah ada narasumber kita ya gaes ya? Ngga perlu nunggu lama lagi, ayo kita sapa! Halo? Dengan siapa ini? Dari mana?"
"Malam, dengan siapa ini?" tanya Adul.
"Dengan Asep di jalan Damai."
"Silakan Kang Asep, mau cerita apa nih?" aku ganti bertanya.
"Mau cerita pengalaman om saya waktu kerja di gunung, Teh Inoxu."
"Mangga, Kang Asep," aku mempersilakan.
"Saya punya seorang om yang berbeda usia 2 tahun. Waktu saya masih sekolah, om saya udah kerja. Sesekali kami masih suka ketemu dan nongkrong bareng sekedar main gitar. Kadang, kami juga suka membawa makanan kecil dari rumah untuk dinikmati bersama-sama."
Zzz! Zzz!
Aku mengerutkan kening dan memegang headphone di telingaku. Walaupun samar, terdengar suara desis atau noise (nois).
Zzz!
"Sewaktu saya lulus sekolah dan bekerja, intensitas pertemuan kami semakin berkurang. Sampai akhirnya, kami ngga pernah lagi nongkrong bareng setelah saya bekerja selama dua tahun. Dari cerita yang saya denger dari keluarga yang lain, om saya ini bekerja di pegunungan. Entah untuk membuka lahan perkebunan atau mengambil batu padas, saya kurang tau. Intinya—,"
Zzz! Zzz!
"—beliau kerja di daerah pegunungan."
__ADS_1
Adul menatapku dan menunjuk headphone yang dipakainya. Saat aku menengok ke arah Gia, Gia juga melakukan hal yang sama.
"Setiap bulan Ramadhan tiba, om saya ini suka pulang ke rumah nenek saya. Kebetulan rumah nenek dan rumah orang tua saya masih satu RT. Seminggu pertama bulan Ramadhan, beliau masih suka ke masjid untuk sholat lima waktu dan juga tadarus Al-Quran. Masuk minggu ke dua, perilaku beliau mulai aneh. Mulai dari sering berteriak tanpa sebab yang jelas, hampir mence*kik ibunya atau nenek saya, memanjat pohon cempedak dan akhirnya berteriak minta tolong karena tidak bisa turun, melompat-lompat seperti hantu film Cina, sampai—."
Zzz! Zzz! Zzz!
"—hampir terjun ke ju*rang yang masih untungnya ada salah satu sodara yang liat dan akhirnya bisa mencegah."
"Ngeri banget sih, Kang?" sahut Adul.
"Emang, Kang. Karena itulah, atas kesepakatan keluarga besar, dibawalah om saya ini untuk diruqyah. Keanehan kembali terjadi, disaat orang yang mengobati membacakan ayat suci Al-Quran, om saya dengan suara yang berbeda, ikut mengucapkan dengan lancar. Begitupun saat dibacakan ayat-ayat Ruqyah. Dengan lantang, om saya mengucapkan ayat-ayat Ruqyah yang dibacakan oleh orang yang mengobati."
Zzz! Zzz!
Aku melepaskan headphoneku dan bangkit menghampiri Gia. "Gi, noise parah ya? Ada saluran yang bocor gitu? Kali siaran orang ada yang masuk ke frekuensi kita."
"Ngga ada, Xu. Stabil semua kok. Cuma emang heran aja ini kenapa bisa noise. Kaya tarik-tarikan frekuensi sama saluran lain," balas Gia. Aku hanya menghembuskan napas panjang dan kembali ke kursiku.
"Proses Ruqyah dilakukan setiap hari selama seminggu penuh. Dan untuk sehari-harinya, om saya ini ngga diperbolehkan keluar rumah karena takut menyakiti dirinya sendiri. Pernah juga beliau diikat, tapi anehnya selalu lepas dan tidak lama kemudian selalu kesurupan. Sampai masuk minggu ke empat bulan Ramadhan, om saya ini sudah sangat lemah karena jarang makan dan minum. Ngga lama, beliau menghembuskan napas terakhir," cerita Kang Asep.
"Innalillahi wa innailaihirojiun," seruku dan Adul kompak.
"Ceritanya ngga selesai sampai di sini Kang, Teh. Setelah om saya meninggal. Ada dua orang sepupu saya yang pergi ke tempat kerja om kami untuk mengambil barang pribadi yang tertinggal. Di sana mereka bertemu dengan salah seorang teman kerja om kami yang memberitahukan kedua sepupu saya kalau kejadian seperti ini sering terjadi. Om saya bukanlah pekerja pertama yang meninggal dengan penyakit aneh setelah bekerja di sana. Sebelumnya, beberapa pekerja tercatat mengalami nasib yang sama. Karena salah satu sepupu saya ada yang penasaran—."
Zzz! Zzz!
"—ia pergi ke gunung tempat om saya bekerja, dengan membawa orang pintar. Mereka membawa seekor ayam hitam yang kemudian ditaruh di gunung tersebut. Sebelah mana tepatnya, saya ngga tau. Kata orang pintar tersebut, jika ayamnya hilang, ada kemungkinan penunggu gunung meminta tumbal. Jika tidak, maka bisa jadi apa yang menimpa para pekerja itu hanyalah kebetulan saja.
Salah satu perkataan orang pintar itu terjadi, saat mereka berbalik bermaksud pergi, sepupu saya kembali penasaran dan menengok ke belakang. Dan yang terjadi, ayam yang sebelumnya sudah mereka letakkan hilang tanpa jejak. Padahal di sekeliling mereka, tidak ada siapapun."
"Ngeri banget ya, namanya—." Zzz! Zzz!
Perkataan Adul terpotong oleh suara noise yang cukup besar hingga beberapa saat kemudian. Ia menengok ke arahku dengan wajah panik. "Kenapa ini, Teh?" tanyanya.
"Ngga tau, nih!" seruku sembari melihat monitor dan mengecek jika ada kerusakan.
Zzz! Zzz!
"...𝙎𝙚𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙢𝙥𝙞𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙪𝙖 𝙝𝙖𝙢𝙥𝙞𝙧 𝙩𝙚𝙧𝙘𝙖𝙥𝙖𝙞, 𝙥𝙚𝙣𝙮𝙖𝙠𝙞𝙩 𝙨𝙞𝙖*𝙡𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙣𝙜𝙜𝙪𝙩𝙠𝙪 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙞𝙨𝙞 𝙨𝙖𝙝𝙖𝙗𝙖𝙩 𝙗𝙖𝙞𝙠𝙠𝙪. 𝘼𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞. 𝘿𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙙𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙠𝙞𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙪𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙧𝙩𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙥𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙝𝙞𝙣𝙖𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜-𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙠𝙞𝙩𝙖𝙧, 𝙙𝙚𝙢𝙞 𝙢𝙚𝙬𝙪𝙟𝙪𝙙𝙠𝙖𝙣 𝙞𝙢𝙥𝙞𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙪𝙖. 𝙈𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙨𝙩𝙖𝙨𝙞𝙪𝙣 𝙧𝙖𝙙𝙞𝙤 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 ...."
"Suara siapa itu, Teh?" Adul semakin panik.
"Xu! Kayanya ada siaran lain yang bocor ke frekuensi kita deh! Itu suaranya masuk," seru Gia.
Aku hanya mengangguk dengan masih memeriksa rekaman suara di monitor.
"Kayanya iya, Gi! Udah ngga bisa diapa-apain kalo bocor mah. Mana ngga sempet closing pula," balasku.
"Ya udah-lah ngga apa-apa, matiin aja semua koneksi suara dari mic sama dari headphone, ntar aku lapor ke Kang Utep," ucap Gia yang kuacungi jempol.
Setelah mematikan semua koneksi. Aku melepas headphone. "Pulang ajalah yuk?" ajakku pada yang lain. Kami membereskan barang pribadi kami dan berjalan ke luar studio.
"Udah beres? tanya Bang Win yang sudah berdiri di dekat pintu studio. "Masih ada sisa lima belas menit lagi padahal."
"Kena bocor saluran lain, Bang," jawabku. "Awalnya ada noise pas narasumber lagi cerita. Lama-lama malah kaya ilang frekuensi. Terakhir suara siaran orang lain yang masuk."
__ADS_1
"Ya udah, nanti biar Utep periksa. Pulang?" tanyanya mengulurkan tangan.
Aku mengangguk mengiyakan sebelum meraih tangannya. Seketika Bang Win mengacak rambutku pelan dengan satu tangan, dan membawa tangannya yang sedang menggenggam tanganku ke dalam saku hoodie yang dipakainya.