
Aku berjalan pelan sembari menikmati hangatnya sinar matahari pagi. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, namun aku sudah berada tepat di depan Radio Rebel. Bukan tanpa sebab, di grup chat semalam, salah satu owner radio yaitu Kang Saija berkata jika besok, ia menginginkan kami semua hadir tepat jam setengah delapan. Kang Saija ini adalah orang yang sempat mengikuti proses siaran Kisah Tengah Malam pada saat baru saja tayang, dan mendukung penuh program ini.
"Masih ngantuk ya?" sapa Bang Win tepat di depan pintu masuk. Aku hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam lalu duduk di sofa.
"Kan baru nyampe rumah jam dua tadi, abis siaran," ucapku. Akhir-akhir ini siaran Kisah Tengah Malam tidak dapat berjalan lancar seperti biasa. Gangguan noise atau berisik, bahkan suara yang tiba-tiba hilang sering kali harus kami hadapi. Padahal, Kang Utep bilang tidak ada yang salah dengan peralatan pendukung.
"Emang mau ada apa sih? Tumben banget owner minta kita kumpul semua pagi-pagi gini." Aku menatap Bang Win yang sedang fokus dengan ponselnya tepat di depanku.
"Kabarnya, owner mau ke sini."
"Kabarnya? Owner? 'Kan ownernya Bang Win sama Kang Saija," balasku.
"Kalau saya sendiri bilang owner mau ke sini, itu tandanya bukan saya atau Kang Saija, Oxu." Bang Win tersenyum. "Dan kalau saya bilang 'kabarnya', itu tandanya belum pasti."
"Emang ada owner lain lagi?" Gia yang baru datang bersama Adul langsung menimpali.
"Ada. Dia yang namanya ngga boleh disebut, tapi pada kenyataannya, namanya sering kali disebut."
"Ish, Bang Win malah main teka-teki," aku terkekeh.
"Nanti juga kalian tau, saya sendiri kaget soalnya. Kalau memang yang dimaksud Kang Saija adalah owner yang 'itu', maka ini adalah kunjungannya pertama kali setelah Radio Rebel resmi berdiri."
Aku dan Gia serta Adul saling berpandangan satu sama lain.
***
"Yang mana sih orangnya?"
"Tajir banget pasti, bikin radio 'kan ngga main-main biayanya."
"Cowok atau cewek ya?"
"Kayanya mah cowok deh."
"Harusnya kita kasih penyambutan meriah."
Telingaku menangkap banyak sekali kalimat-kalimat yang berseliweran dari mulut para penyiar dan juga karyawan radio. Sama sepertiku, mereka kelihatan penasaran akan sosok owner yang misterius.
__ADS_1
Aku menoleh ke arah ruang meeting dan menemukan jika Bang Win, Kang Utep, Teh Opi, dan Bang Saija sudah berada di dalam sana lebih dari setengah jam yang lalu.
"Xu, kamu ngga dapet bocoran dari Bang Win?" tanya Gia berbisik.
"Bocoran ujian?" tanyaku sekenanya.
"Ish, tentang siapa yang mau dateng!"
"Ngga. Aku ngga banyak nanya, terus Bang Win juga ngga banyak cerita," jawabku.
"Ih, Adul deg-degan deh! Kira-kira owner yang ini galak ngga ya? Apa jangan-jangan mau dievaluasi hasil kerja kita ya? Terus yang kinerjanya jelek mau dipecat?" tanyanya dengan nada cemas.
Perkataan Adul sontak membungkam semua mulut yang berada di situ. Masing-masing mulai merasa cemas dan takut jika apa yang Adul katakan benar terjadi.
***
Mataku menatap ke sebuah angkot yang berhenti tepat di depan Radio Rebel. Dari dalam angkot, keluar seorang perempuan muda menggunakan kerudung, dan berkacamata tebal. Sepertinya ia mahasiswi yang memiliki kepentingan di daerah sini.
Aku mengerutkan kening dan menegakkan tubuh saat melihatnya berjalan dengan penuh percaya diri memasuki tempat parkir Radio Rebel. Walaupun pakaian yang digunakannya hanyalah hoodie yang ukurannya kebesaran, celana jeans sobek serta sepatu converse yang diinjak di bagian tumit, entah kenapa aku bisa melihat, jika perempuan itu memiliki gestur yang elegan dan anggun.
"Xu, kita buka lowongan penyiar?" tanya Gia yang mengikuti arah pandanganku.
"Iya. Keliatan biasa aja, tapi bahasa tubuhnya ngga main-main. Elegan banget, percaya diri dan misterius dalam waktu bersamaan," jawab Gia.
Kami berdua menunggu dengan tidak sabar hingga perempuan itu berdiri tepat di depan pintu masuk.
"Punten, mau nanya. Kalau Kang Saija sama Bang Win ada?" tanyanya pada salah satu penyiar yang sedang berjongkok dan merokok di dekat pintu masuk.
"Oh, ada Teh! Masuk aja, semua lagi pada ngumpul."
"Oh iya, makasi," senyum perempuan itu lalu bergerak masuk.
Tiba di dalam ia menanyakan hal yang sama. Matanya yang lembut menatapku sehingga membuatku tidak bisa untuk tidak tersenyum melihatnya.
"Hei, udah dateng!" sapa Kang Saija ramah. Kami semua yang sedang duduk sontak berdiri dan memandang mereka lekat.
"Iya nih. Maap telat ya? Tadi bingung naik angkot yang mana, soalnya udah lama ngga ke sini."
__ADS_1
Satu persatu mulai menyalami perempuan itu, Bang Win, Teh Opi, dan Kang Utep. Setelahnya mereka semua mempersilakannya langsung masuk ke ruang meeting. Tidak berapa lama, kami semua juga ikut dioanghil ke dalam.
Di ruanv meeting, aku cukup twrkejut menemukan jika perabotan yang biasa ada di dalam ruangan ini sudab hilang. Sofa, kursi, meja meeting, digantikan oleh hamparan karpet lengkap dengan alas duduk serta bean bag.
"Silakan duduk, temen-temen," ucap Kang Saija.
Kami semua mengikuti ucapannya dengan hati penuh tanda tanya.
"Ada yang mau saya sampaikan." Kang saija membuka pembicaraan setelah melihat kami semua termasuk Mumu, sudah duduk. "Seperti yang udah temen-temen tau. Radio Rebel udah lima tahun berdiri, tepatnya hampir enam tahun. Dan juga, mungkin yang temen-temen semua tau, Bang Win dan saya adalah pemilik dari radio ini."
Kami semua mengangguk.
"Itu semua betul adanya. Namun, selain kami berdua, ada lagi pemilik lain radio tempat kita bekerja ini. Pemilik ini adalah orang yang namanya ngga pernah mau disebut. Namun, nyatanya kita sering kali menyebutnya.
Radio ini yang saat itu belum memiliki nama, dibangun oleh beliau dan sahabat baiknya. Namun, karena satu dan lain hal, beliau meminta saya dan juga Bang Win yang saat itu baru pulang dari Jepang, untuk membantunya mendapatkan izin resmi berdiri serta mengelola radio ini hingga bisa sebesar sekarang. Dan sekarang, saatnya saya memperkenalkan beliau pada temen-temen semua. Regina Maharani Rahman, atau Rebel, pemilik utama radio ini."
Semua menatap ke arah perempuan di sebelah Kang Saija yang dengan ramah tersenyum dan melambai pada kami semua.
***
"Hari ini saya datang ke sini hanya untuk sekedar berkunjung. Tempat ini, radio ini, memiliki nilai sejarah tinggi untuk saya pribadi. Awalnya, saya dan sahabat saya, Nday, ikut sebuah organisasi radio kampus di tempat kami kuliah. Sayangnya, organisasi tersebut harus tutup karena lama kelamaan semakin minim peminat. Niat awal saya mengikuti organisasi tersebut hanya sekedar iseng. Namun berbeda dengan Nday. Ia memang ingin menjadi penyiar dan sangat mencintai dunia penyiaran. Hubungan saya dengan Nday sangat dekat, bahkan mungkin melebihin saudara. Saya yang tidak memiliki saudara perempuan, bertemu dengannya yang adalah seorang anak tunggal.
Setelah organisasi radio kampus dihapus, Nday memiliki impian untuk mendirikan stasiun radio sendiri hanya agar ia bisa siaran sesuka dan sepuas hati. Sebagai sahabat, yang bisa saya lakukan adalah mendukungnya.
Dengan perjuangan yang ngga bisa dibilang mudah, kami berhasil mendirikan radio ini yang saat itu belum bernama. Kami sering mengobrolkan, jika kelak radio ini sudah berdiri secara resmi dan ia menjadi penyiar yang terkenal.
Saya sering menggodanya dengan berkata, jika suatu hari nanti saya akan menjadi penulis dan menulis cerita yang akan ia bawakan saat siaran. Ucapan saya tersebut rupanya menjadi bahan bakar Nday untuk terus maju, walaupun banyak yang menyangsikan.
Di tengah jalan untuk meresmikan radio ini, kami terbentur masalah biaya, pendaftaran frekuensi dan banyak lagi. Kami harus mencari frekuensi kosong sendiri untuk kemudian didaftarkan secara resmi. Nday bekerja siang malam di tempat ini untuk mencari saluran yang tepat, hingga akhirnya kami bisa mendaftarkan frekuensi radio ini yaitu 12,08 FM dan disahkan oleh surat keputusan dari Direktorat Jendral Hukum dan Perundangan-Undangan Departemen Kehakiman.
Sayangnya, perjuangan Nday untuk selangkah lagi menuju impiannya, terhenti. Setelah frekuensi ini resmi didaftarkan, Nday kembali melakukan uji coba siaran siang dan malam tanpa henti untuk mengetes alat pemancar radio. Karena bekerja terlalu keras serta sempat ke luar untuk melihat pemancar yang masih seadanya dalam kondisi hujan lebat. Nday menghembuskan nafas terakhirnya di sini, di salah satu studio tempat ini. Penyakit jantung bawaannya yang sering membuatnya dilarikan ke rumah sakit kambuh dan tanpa ada yang tau, ia meninggal di tempat ini.
Saya sendiri baru mengetahui kematiannya setelah tiga hari jenazahnya berada di sini sebelum ditemukan. Sedih? Iya. Hancur? Iya. Kehilangan? Pasti. Tapi, menyerah? Tidak! Nday mengorbankan dirinya untuk mencapai impiannya, dan saya tau saya yang harus melanjutkan.
Karena keterbatasan kemampuan saya. Saya meminta tolong Bang Win dan Kang Saija. Bertiga kami membuatnya hingga resmi berdiri dan memiliki nama. Sesuai surat wasiat Nday, radio ini bernama Rebel yang ia dedikasikan untuk saya. Rebel sendiri adalah panggilan saya semasa kuliah.
Saya lahir di bandung, berdarah setengah sunda. Namun, karena dari kecil selalu mengikuti ayah saya keliling Indonesia, saat kembali ke Bandung untuk kuliah, saya sama sekali tidak mengerti bahasa sunda sehingga teman-teman memanggil saya dengan sebutan Regina Bele*gug (bodoh) atau Rebel.
__ADS_1
Dan kedatangan saya kali ini hanya untuk bernostalgia dan mengenang kerja keras sahabat saya. Titip radio ini ya? Semoga di tangan teman-teman semua, radio ini semakin maju."
"Aamiin," seruan menggema di ruang meeting. Tepat ketika suasana kembali hening, dari sudut pojok ruang meeting, terdengar sahutan Amin yang lain.