Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 46


__ADS_3

"Nyx, sini deh bentar. Sibuk ngga?" panggilku ketika baru saja sampai di rumah setelah siaran.


"Bentar," jawabnya pendek dan berlalu ke arah dapur. Aku sendiri kembali ke ruang keluarga setelah meletakkan tas dan membuka hoodie yang kupakai. Sedangkan mama, sudah tidur dari sebelum aku berangkat siaran.


"Minum dulu atuh, kamu baru pulang bukannya minum, bersih-bersih, malah langsung manggil-manggil. Sana bersih-bersih dulu, aku tungguin." Nyx meletakkan segelas air putih di atas meja dan menunjuk kamar mandi dengan dagunya.


Aku mengangguk dan pergi ke arah kamar mandi. Setelah selesai, aku kembali menghampiri nyx.


"Minum dulu," suruhnya lagi. Begitu air dalam gelas habis kuminum, ia lalu bertanya. "Ada apaan?"


"Nyx, aku teh kayanya sekarang abnormal deh. Masa di studio bisa liat setan, terus barusan juga ada kejadian aneh. Pas siaran 'kan ada narasumber yang ditelepon studio. Nah kita ngobrol sampe selesai, bahkan aku juga udah closing siaran. Terus aku tau-tau pusing dan diem sebentar. Ngga lama, Gia sama Remi ngingetin aku untuk mulai siaran lagi. Padahal jelas banget itu teh aku baru beres siaran. Pas liat jam, jamnya nunjukin kalau siaran baru aja dimulai. Terus aku iseng nanya-nanya narasumber, eh cerita dia sama persis sama apa yang udah diceritain sebelumnya. Tapi anehnya cuma aku aja yang nyadar. Jadi kaya bisa nerawang masa depan gitu," aku menjelaskan panjang lebar dengan bahasa yang kacau karena gugup. "Ngerti ngga aku ngomong apa?"


Nyx mengerutkan kening, "iya ngerti! Itu mirip kaya dejavu sih. Dejavu itu fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu.


Biasanya dejavu yang dialami manusia berkisar antara tempat atau manusia lainnya. Misal, kamu baru dateng ke tempat A buat pertama kali, tapi kamu ngerasa udah pernah datang sebelumnya dan familiar banget sama tempat itu.


Lain waktu, kamu pertama kali ketemu sama orang, sebut juga A. Kamu ngerasa pernah ketemu sama orang itu sebelumnya. Bahkan kadang kamu langsung ngerasa ngga suka sama si A ini. Padahal baru banget ketemu. Nah ini yang disebut dejavu.


Tapi kalau kejadian kamu tadi mah, kayanya bukan. Karena dejavu lebih menitikkan pada masa lalu sedangkan yang kamu alami terjadi beberapa saat sebelum kamu siaran," jelas Nyx.


"Jadi yang aku alami itu apa?" tanyaku tidak sabar.


"Ngga tau," Jawab Nyx pendek. "Mau dibilang terawangan tapi jaraknya deket banget. Bahaya tuh Oxu! Nanti kamu malah ga bisa bedain mana yang penglihatan, mana yang asli, karena keduanya terjadi berdekatan."


"Terus harus gimana?" tanyaku lagi.


"Ruqyah-lah. Kaya aku."


"Kamu diruqyah? Kenapa? Kok aku baru tau?" Aku menatapnya heran.


"Karena aku bisa liat juga yang ngga-ngga."


"Oh, sama. Turunan kali ya?"


"Iya, karena nenek moyang kita kayanya," jawab Nyx menyandarkan punggung.


"Kata aku sih, kamu diruqyah aja. Walaupun harus rutin, tapi lama-kelamaan aku dapet ngerasain manfaatnya. Terakhir naik gunung, udah ngga pernah ketemu yang gitu-gitu. Kalau sekedar denger suara atau sekelebatan bayangan sih masih, tapi jauh lebih baik lah."


"Kita dapet turunan dari mana sih?" Aku menatap Nyx lekat.


"Sebutin nama lengkap kita berdua," suruhnya.


"Nyx Hayede Putra Suryanagara dan Inoxu Aisyah Putri Suryanagara? Suryanagara?" tanyaku.


"Iyah. Dari papa," jawabnya pelan. "Ruqyah ajalah Oxu. Yang kaya gini-gini ini bukan karena kita orang terpilih atau karena kita hebat. Tapi karena ada makhluk lain yang selalu ngedampingi kita, sehingga kita bisa liat, ngerasain dan bahkan mengalami yang ngga-ngga."


"Kamu tau makhluk apa yang ngedampingi kita?"


Nyx mengangguk, "Katanya mah, penjaga keturunan Suryanagara. Harimau putih. Aku juga baru tau waktu naik ke gunung Salak sama Galih dan Putra."

__ADS_1


Aku terhenyak dan cukup kaget mendengarnya. Dalam hati, aku mulai memantapkan diri untuk mengikuti jejak Nyx untuk diruqyah.


***


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, halo semuanya, Inoxu hadir dari studio lantai dua Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Hari ini seperti siaran terakhir kemarin, saya masih sendiri dikarenakan Adul masih sakit dan belum bisa hadir menemani kita semua. Sebagai pembuka kisah, akan saya putarkan satu lagu permintaan Della Septi dari Fourtwnty dengan Kusut. Selamat mendengarkan!"


Aku mematikan mic dan kembali memilih nomor telepon narasumber yang akan kuhubungi. Keningku berkerut ketika menyadari ada satu nama yang kukenal. Dengan segera, aku menghubunginya dan meminta narasumber menunggu sejenak.


"Selamat datang saya ucapkan untuk para pendengar yang baru saja bergabung. Barusan udah sama-sama kita dengarkan, Kusut dari fourtwnty. Lumayan enak juga ya lagunya? Ngga perlu berlama-lama lagi, di ujung sambungan sudah ada narasumber yang menunggu. Halo? Dengan siapa di mana?" tanyaku dengan jantung berdebar.


"Halo Teh Inoxu, ini Bunga."


"Bunga di Pasirkoja yang waktu itu ngirim kisah lewat email bukan?" tanyaku lagi.


"Betul Teh," jawabnya.


"Alhamdulillah. Saya seneng bisa denger suara kamu!"


"Makasi Teh Inoxu," jawabnya lembut.


"Ada cerita apa nih bunga?


"Mau cerita lanjutan yang kemarin, Teh."


"Mangga," jawabku.


"Yang kata kamu ada warga meninggal setelah pengumuman berita duka di mushola bukan?"


"Iya teh! Nah, akhir-akhir ini ibu-ibu pada nyambung-nyambungin hal itu sama kedatangan warga baru. Awalnya, salah satu dari tetangga Bunga bilang, sebut aja namanya ibu J, kalau keanehan tentang kematian warga bertepatan dengan kedatangan warga baru tersebut. Ibu J bilang, bisa aja sebetulnya warga baru itu adalah orang yang lagi belajar ilmu tertentu yang meminta tumbal."


"Kok gitu sih? Ngga ada bukti nanti jatuhnya fitnah loh," balasku.


"Iya Teh, makanya ibu-ibu yang lain ngga terlalu nanggepin banget. Sampai, istri dari salah satu almarhum cerita. Malam sebelum suaminya meninggal, pintu rumahnya diketuk pas tengah malam dan suara si warga baru ini kedengeran manggil-manggil nama almarhum. Karena dikira warga baru itu butuh bantuan, dibukainlah pintu. Anehnya, ngga ada siapa-siapa. Dan ternyata, istri atau keluarga dari almarhum dan almarhumah yang lain bilang hal yang sama. Sehari tepat sebelum meninggal, kedengeran suara orang manggil-manggil dan ngetuk pintu, tapi ngga ada wujudnya."


"Ya mungkin kebetulan aja kali, Bunga," ucapku cepat.


"Nah awalnya ibu-ibu yang lain mikirnya gitu. Sampai akhirnya si ibu J bilang kalau dia mergokin warga baru ini suka keluar tengah malem keliling pemukiman dan keliatan naburin bunga di rumah-rumah tertentu."


"Serius?" tanyaku kaget.


"Iya serius, Teh. Dan rumah yang kena taburan bunga ini, penghuninya pada sakit."


"Waduh!" celetukku. "Terus gimana?"


"Ya makin menjadi dong omongan para ibu-ibu tersebut. Mereka tiap ngumpul sambil nunggu tukang sayur lewat, pasti bahasnya ini."


"Kok saya malah curiga sama ibu J ya? Hehehe," selaku.


"Kenapa Teh? tanya Bunga cepat.

__ADS_1


"Ngga, kaya yang keliatan banget memantau warga baru, sampai tau kalau warga baru ini suka keluar tengah malam."


"Iya juga ya, Teh?" tanya Bunga di ujung sambungan.


"Iyalah. Tapi mau cerita yang beredar di lingkungan rumah kamu kaya apa, yang penting saya bisa denger suara kamu. Makasi ya Bunga? Udah bersedia dihubungi. Jadi, ucapan kamu yang bilang kalau kamu mungkin akan meninggal karena pengumuman kematian di mushola itu atas nama kamu, terpatahkan ya?"


"Iya, Teh," jawab Bunga pendek.


"Iya atuh alhamdulillah. Ada lagi yang mau diceritain?"


"Udah Teh, segitu aja cerita dari Bunga. Nanti kalau Bunga ada cerita lagi, boleh kirim whatsapp?"


"Boleh banget, makasi ya Bunga udah bergabung dengan Kisah Tengah Malam. Sehat selalu ya?" Aku mengakhiri pembicaraan.


"Makasi Teh Inoxu," jawab Bunga sebelum mematikan sambungan.


"Yak, itulah Bunga dari Pasirkoja. Beberapa pendengar sampai ada yang kirim pesan ke tim Kisah Tengah Malam karena penasaran nasib Bunga. Alhamdulillah, Bunga dalam keadaan sehat wal'afiat. Satu lagu permintaan Arif Zayyan dari Drive dengan Bersama Bintang akan menjadi penutup kisah kali ini. Inoxu dan tim mohon pamit, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic dan langsung melihat ke arah jam dinding. Aman, jam menunjukkan pukul 00:39 yang artinya memang siaran sudah selesai.


"Xu! Hayu pulang," ajak Gia. Ia dan Remi sedang mengemasi tas mereka.


Aku mengangguk dan mulai memasukkan barang-barang pribadiku ke dalam tas ketika terdengar suara barang yang jatuh dan disusul dengan pekikan Gia.


"Tablet aku jatuh! Duh, mana retak," ucapnya nelangsa.


"Makanya naro jangan di pinggir meja. Kesenggol kan?" ucap Remi prihatin.


"Ngga hati-hati kamu mah," tambahku.


Aku meraih tempat minum di meja dan bermaksud memasukkannya ke dalam tas saat Gia berseru, "Xu! Hayu pulang."


Untuk sesaat aku termenung sebelum bangkit dengan cepat dan menuju ke meja Gia, lalu menyambar tabletnya di atas meja hingga gadis itu terkejut. "Ish Xu! Ngagetin aja!" protesnya.


"Pinjem bentar," balasku singkat dan berpura-pura memperhatikan tablet di tanganku yang tanpa retakan.


"Mau pinjem? Sok aja bawa pulang," lanjut Gia lagi.


"Ngga, aku mah cuma pengen liat ini berapa inci layarnya," jawabku sembari memberikan tablet itu lalu berbalik ke arah mejaku untuk mengambil tas.


Prak!


Aku menengok dan melihat Gia yang memungut tabletnya dari lantai. "Tablet aku jatuh! Duh, mana retak," ucapnya nelangsa.


Sambil kembali duduk, otakku dipenuhi dengan banyak pemikiran. Penglihatan yang aku alami tidak membuatku bisa merubah apa yang sudah seharusnya terjadi. Walaupun aku berusaha mencegah tablet Gia agar tidak jatuh, tablet itu akan tetap jatuh bagaimanapun caranya.


"Woi Xu! Hayu ih pulang," ajak Remi menatapku. Gia sendiri sudah memakai tasnya dan bersiap ke luar studio.


"Iya hayu," aku berdiri dengan menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


__ADS_2