Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 48


__ADS_3

"Papa?" panggilku pada sosok yang sedang duduk membelakangi. Aku tidak bisa melihat wajahnya namun dari postur tubuh, aku yakin jika itu adalah papa.


"Papa!"


Aku benar, itu adalah papa! Secepat yang kubisa, aku berlari ke arahnya lalu memeluknya kuat. Tangan kasar papa mengusap rambutku lembut, menimbulkan kenyamanan tersendiri.


"Capek ya, Nak?" tanya papa masih terus mengusap kepalaku.


Aku mengangguk dan menangis seketika. Papa adalah orang pertama yang akan kucari begitu sampai di rumah. Walaupun sosok Nyx bisa mengisi kekosongan setelah papa tiada, namun tetap saja, posisi papa tidak akan pernah terganti.


"Oxu kangen papa," lirihku masih disela isakan. "Kapan Oxu bisa ketemu papa lagi?"


"Nanti ada waktunya, Nak. Sampai waktunya tiba, sabar dulu ya?" Papa mendorong tubuhku pelan untuk menatap mataku dan mengusap air mata yang mengalir. "Hiduplah bahagia dan sehat selalu. Jadilah anak yang kuat, anak kuat yang ngga akan pernah digoyahkan oleh angin kencang ...."


"Oxu kangen papa ...," aku merintih dalam tangis saat menyadari bayangan papa perlahan memudar sebelum aku bisa memeluknya kembali dengan erat.


***


"Oxu! Bangun Oxu!" suara Nyx memasuki indera pendengaranku.


"Penyiar mah beda ya? Di bawah pengaruh obat bius aja masih sempet-sempetnya siaran." Suara asing seorang wanita terdengar di antara suara berisik yang perlahan semakin kencang.


"Iya, ade saya emang udah bercita-cita jadi penyiar dari sejak di dalam kandungan." Suara Nyx terdengar menimpali.


"Alhamdulillah."


Di antara suara-suara yang berisik, suara mama bisa kukenali dengan jelas. Aku berkali-kali mengerjapkan mata yang terasa berat sampai akhirnya kembali menyerah pada rasa kantuk yang tidak bisa tertahankan.


***

__ADS_1


Aku tidur cukup lama sehingga kepalaku berdenyut. Rasa kantuk perlahan menghilang saat aku berkali-kali membuka mata. Sosok Gia dan Remi yang sedang duduk di sofa tepat di ujung ruangan menjadi hal pertama yang menarik perhatianku.


Grook!


Aku berusaha memanggil keduanya, namun suara yang keluar dari mulutku yang kering lebih mirip dengkuran.


"Suara apaan itu, Rem?! Kaya suara babi ya? Jangan-jangan di rumah sakit ini ada siluman babinya," ucap Gia menatap Remi lekat.


"Bisa jadi! Duh, Kak Nyx lama banget sih keluarnya. Bang Win juga kenapa belum balik ya?" balas Remi.


Keduanya kembali fokus pada ponsel di tangan masing-masing saat aku melirik ke arah botol air mineral di meja samping tempat tidur.


Grook! Grook! Grook!


Aku terkejut dan kesal setengah mati! Bermaksud memanggil keduanya agar memberikanku minum namun yang ada kedua sahabatku itu malah berlari ke luar ruangan. Aku menghembuskan nafas putus asa ketika tanganku menyentuh sebuah benda dengan tombol abu-abu yang tersambung pada sebuah kabel. Dengan cepat, aku menekannya berkali-kali.


"Alhamdulillah, Xu udah sadar!" seru Gia hampir menangis. Remi yang berdiri di sebelahnya terlihat menutup mulutnya dengan mata yang juga berkaca-kaca, sedangkan perawat, dengan teliti memeriksa keadaanku sebelum kembali ke luar ruangan.


"Udah oke ya? Pasien udah bisa dikasih minum, dikit-dikit aja tapi. Nanti kalau pengaruh obat bius udah ilang sepenuhnya, pasien bisa dibantu buat duduk," kata dokter yang baru datang bersama perawat.


Sepeninggal dokter dan perawat, Gia meraih botol air mineral dan memasangkan sedotan. Dengan mengangkat kepalaku sedikit, ia membantuku minum.


"Woi!" seruku setelah minum dan merasa lega karena suaraku sudah kembali normal.


"Kenapa?" tanya Remi kaget.


"Ngga apa-apa. Cek sound aja," balasku terkekeh. Keduanya menatapku lekat selama beberapa saat sebelum akhirnya memelukku erat.


***

__ADS_1


"Kita semua kaget waktu di tempat parkir liat Bang Win lari kaya orang kesurupan ke arah jalan. Kirain ada begal atau copet, ngga taunya dia nyamperin kamu yang udah ngegeletak di jalan. Darah di mana-mana sampai kita yang ada di situ luar biasa shock," cerita Gia.


"Bang Win juga ngga kalah heboh. Dia nangis dan teriak-teriak kaya waktu kamu pingsan di tangga dulu. Tapi kali ini lebih parah. Dia bersimpuh di sebelah kamu dan manggil-manggil nama kamu kaya orang gi*la. Berkali-kali dia mau ngangkat kamu untuk dibawa ke rumah sakit tapi dilarang sama Kang Utep. Kata Kang Utep, kalau sembarangan diangkat, nanti kondisi kamu bisa semakin parah," sambung Remi.


Keduanya bercerita tentang malam di mana aku tertabrak motor yang lewat.


"E*dan sih Bang Win. Keliatan banget takutnya kehilangan kamu. Ikut sedih ngeliatnya. Dia masih tetep di sebelah kamu dan ngga pernah ngelepasin tangan kamu sedetik pun sampai ambulan dateng," tambah Gia.


"Iya bener! Dia baru pulang ke rumah hari ini dari sejak kamu masuk rumah sakit, dioperasi sampai akhirnya sadar. Kata dokter mah, ada luka robekan di kepala. Sebenernya ngga serius, tapi ternyata ada penggumpalan darah sedikit. Itu yang bikin kamu harus secepatnya dioperasi, Xu." Remi menghapus air matanya setelah melanjutkan ucapan Gia.


"Aku pitak dong sekarang?" tanyaku sembari menyentuh bagian kepalaku yang ditutupi perban.


Gia dan Remi menatapku heran, "Si Xu udah sehat, Rem. Dia lebih khawatir kepalanya pitak daripada nyawanya melayang," sahut Gia sinis.


Aku dan Remi sontak terkekeh mendengar ucapannya.


***


"Saya ngga mau kamu salah paham walau pun mungkin kamu udah terlanjur begitu. Bunga itu adik dari Baron. Baron sendiri adalah teman sekolah saya dulu, sebelum pindah ke Jepang. Ayah mereka adalah suami mama yang sekarang. Keduanya sempat menentang pernikahan ayah mereka dengan mama, namun keberatan mereka tidak pernah didengar. Itu kenapa, keduanya lebih memilih ikut dengan ibu mereka dibanding tinggal dengan ayah mereka. Saya sadar, mereka ngga mau menyakiti saya, dan saya pun cukup tau diri untuk menjauh. Itulah kenapa hubungan diantara kami bertiga bersifat emosional. Ngga lebih," jelas Bang Win panjang lebar. Pria itu datang di sore hari setelah Gia dan Remi pulang.


"Aku kaget aja sih, karena Bunga tau-tau meluk Bang Win. Dan sikap Bang Win setelahnya, makin bikin aku bingung. Mungkin karena itu aku ngga fokus waktu jalan dan akhirnya ketabrak," balasku.


"Mood saya berantakan kalau ketemu mereka. Ada emosi, kasihan, kesal, banyak lagi," jelas Bang Win.


"Dan untuk Bunga, saya udah pernah bilang sekali ke kamu dan itu berlaku seumur hidup. Saya ngga punya siapa-siapa selain kamu, Oxu. Itu ngga akan pernah berubah. Saya minta maaf kalau udah bikin kamu kepikiran. Saya berniat menjelaskan semua saat Gia dan Remi bilang kalau kamu udah duluan pulang. Di tempat parkir, saya ketemu bapak satpam yang bilang kalau ada seseorang yang ditabrak motor. Ngga tau kenapa, feeling saya bilang kalau itu kamu dan ternyata benar. Kamu tau rasanya gimana waktu saya liat kamu tergeletak di jalan? Sakit Oxu, sakit banget. Ada perih di dalam sini yang ngga bisa hilang sebelum saya bisa liat kamu dalam kondisi ini." Bang Win menunduk.


"Maaf udah bikin khawatir," ucapku lirih. Aku tersentak ketika merasakan jatuhnya tetesan air pada permukaan tanganku yang digenggam Bang Win.


"Jangan kenapa-kenapa lagi," tambahnya lirih dengan masih menunduk. Aku mengangguk dan ikut menangis bersamanya dalam hening.

__ADS_1


__ADS_2