
"Oxu? Yank?"
Seseorang mengguncang bahu dan mengusap kepalaku lembut. Namun, udara yang dingin membuatku semakin merapatkan selimut.
"Subuh dulu yuk?"
Aku mengerutkan kening dan menyangka jika suara Bang Win yang kudengar hanyalah mimpi.
"Inoxu Aisyah Putri!"
Seketika aku terduduk dan menatap linglung ke segala arah.
"Subuh dulu sana. Abis itu beres-beres, kita pulang ke Bandung." Bang Win menatapku dengan tersenyum geli.
Tanpa berkata apa-apa, aku bangkit menuju kamar untuk mengambil handuk, lalu berjalan menuju ke kamar mandi yang terletak di belakang.
"Xu? Udah bangun?" sapa Gia di pintu dapur.
"Huuh, Adul mana? Kok ngga keliatan?" tanyaku penasaran.
"Ada, tidur di kamar. Udah rada mendingan dia, tapi masih kliyengan parah kaya ibu-ibu hamil muda," kekeh Remi menghampiri.
"Masih belum sadar dia?"
"Dikit lagi," tambah Remi.
Kami mengantri di depan kamar mandi untuk mandi dan berwudhu. Setelahnya, aku berjalan menuju ke kamar. Karena banyak yang sedang sholat di kedua kamar, aku kembali melangkahkan kaki menuju kamar yang digunakan untuk siaran dan menunaikan sholat subuh tepat di sebelah Adul yang sedang tidur. Keputusan yang salah!
"Hiyaaaa! Ada pesawat!" teriaknya begitu membuka mata dan menatapku. Aku menahan tawa sekuat yang kubisa.
"Pesawat jaman sekarang parkirnya sembarangan ya? Bisa-bisanya parkir di sini!" serunya masih menatapku.
"Hahahaha!" Aku gagal. "Teh Hani, tolong amanin si Adul dulu nih, gangguin mulu," aku berkata pada Teh Hani yang mengintip ke dalam kamar ketika mendengar aku tertawa.
"Sini kamu! Sebanyak apa sih kecubung yang kamu makan sampe kelakuan kaya gini? Sadar woi, sadar! Kita-kita bisa kena gebog emak kamu kalo pas pulang kamu masih kaya gini!" gerutu Teh Hani sembari membawa Adul keluar kamar.
Aku kembali melanjutkan sholat lalu mengemasi barang-barangku.
"Kalau udah beres kasih tau ya? Saya mau masukin barang ke bagasi," ucap Bang Win dari ambang pintu. Setelah melihatku mengangguk, ia melangkahkan kaki ke arah depan.
Semua bergotong royong membersihkan vila setelah mengemas barang masing-masing. Adul sendiri terlihat jauh lebih baik setelah mandi.
"Yang mau duluan pulang silakan aja, saya di sini dulu, mau ketemu sama pengurus vila," ucap Bang Win pada yang lainnya.
__ADS_1
"Utep juga di sini dulu deh, biar mobil di bawa Ricky. Gia, Remi sama Hani di mobil Utep aja ya? Biar nanti Ricky yang anter pulang," sahut Kang Utep.
Aku melambaikan tangan pada yang lain begitu mobil yang mereka tumpangi mulai berjalan menjauh dari vila.
"Ini si Adul gimana nih?" tanya Kang Utep.
"Nanti dianterin pulang duluan, sekalian laporan ke emaknya." Bang Win menoleh ke arah Adul yang rupanya sudah kembali tertidur di sofa.
Setelah setengah jam menunggu, pengurus vila datang untuk mengambil kunci. "Kok cepet banget pulangnya?"
"Iya, kondisinya udah ngga kondusif," jawab Kang Utep.
"Nanti kelebihan pembayarannya saya transfer aja ya?" lanjut pengurus vila.
"Ngga perlu Pak, simpen aja buat Bapak," balas Bang Win.
"Makasih atuh kalau gitu. Hati-hati di jalan."
Kami mengangguk dan memasuki mobil. Adul yang masih linglung duduk di kursi penumpang bagian tengah bersama Kang Utep. Perjalanan pulang lebih cepat dari pada berangkat. Dalam waktu tiga jam, mobil sudah keluar dari jalan tol dan mengarah ke rumah Adul.
"Win, kalau emaknya Adul ngamuk gimana? Ini kedua kalinya kita nganter Adul dengan kondisi yang ngga biasa," tanya Kang Utep. Aku bisa menangkap nada cemas dalam suaranya.
"Ya ngga gimana-gimana," jawab Bang Win pendek.
Aku berdebar saat mobil semakin mendekati rumah Adul. Begitu berhenti, terlihat emak sedang menyapu halaman.
"Iya Mak, pas di sana kena gempa susulan. Jadi, karena pada takut, kita mutusin buat pulang lebih cepat," jawabku pelan.
"Mak," panggil Kang Utep. "Ini Mak, di sana kan Adul main sama anak-anak sana. Pulang main, Adul jadi linglung. Taunya kata warga, dia dicekokin kecubung Mak, sama si Tatang," lapor Kang Utep.
"Si Tatang teh siapa?" tanya Emak lagi.
"Pemuda sana, Mak. Adul main sama remaja sana, taunya dia dicekokin kecubung," tambahku lirih.
"Astagfirullah! Terus mana sekarang si Adul?" tanya Emak mulai murka.
"Itu masih di mobil," aku menjawab takut-takut.
Secepat kilat, emak berjalan menuju mobil dan terlihat berusaha membangunkan Adul. Adul yang masih linglung berteriak kencang ketika melihat emak. "Tolong, ada orang-orangan sawah!"
Hal ini membuat emak semakin murka, dengan cepat beliau menarik Adul turun dari mobil dan menariknya ke arah kolam kecil di depan rumah yang berisi ikan air tawar.
Byur!
__ADS_1
Aku, Bang Win dan Kang Utep terpana melihat emak yang mendorong Adul ke dalam kolam.
"Mak!" Teriak Kang Utep terkejut. "Istigfar Mak, nanti anak emak kenapa-kenapa!"
"Teu nanaon! (Tidak apa-apa!), biasa ini mah," ucap emak santai. "Emak dulu juga langsung sadar pas diginiin sama neneknya si Adul."
Kami bertiga saling berpandangan satu sama lain.
"Emak!" teriak Adul dengan baju yang sudah basah kuyup. Tanpa kusadari, para tetangga emak sudah berkumpul di halaman dan menyaksikan peetunjukan ini.
"Nah kan! Apa emak bilang? Sadar kan?" Emak terkekeh.
"Alhamdulillah kalo Adul udah sadar. Kami pamit dulu ya, Mak? Mohon maaf, kita ngga bisa jagain Adul dengan baik," ucap Bang Win pelan. Sepertinya ia shock melihat kelakuan emak Adul.
"Ngga apa-apa, ini mah emang salah si Adul. Mau aja ikut-ikut makan kecubung. Makasi ya udah nganterin Adul pulang," jawab Emak.
Secepatnya kami bertiga langsung kembali ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Adul.
"Pada sadar ngga sih tadi emaknya Adul bilang apa?" tanyaku.
"Yo'i. Kayanya Emak Adul dulu juga pernah gitu," kekeh Kang Utep.
"Like mother like son (seperti ibu seperti itu juga anak)," sambung Bang Win pelan. "Except me (kecuali saya)."
Aku menatapnya lekat dengan perasaan yang tidak bisa kujabarkan.
***
"Sampai ketemu besok," seru Kang Utep keluar dari mobil. Ia melambai sampai mobil kami meninggalkan halaman rumahnya.
"Kamu ngga nyaman sama saya?" tanya Bang Win tiba-tiba.
"Biasa aja. Kenapa bisa mikir kaya gitu?"
"Ekspresi kamu tadi," jelasnya.
"Sedih aja sih," ucapku lirih dan melempar pandangan ke sisi jendela.
"Karena?"
"Buat anak laki-laki, ibu itu cinta pertama mereka. Sedangkan buat anak perempuan, ayah yang jadi cinta pertama mereka. Denger Bang Win ngomong kaya tadi bikin sedih, kaya apa ya? Kaya Bang Win itu udah sedemikian sakit sampai-sampai ngga mau disamain sama mama Bang Win," jelasku.
"Memang," jawabnya pendek. "Saya sebetulnya sudah bisa berdamai dengan diri sendiri dan menerima semuanya. Saya berharap, orang tua saya juga melakukan hal yang sama. Tapi kenyataannya ngga seperti itu. Mereka masih menjaga jarak dengan saya. Saya tau, itu karena mereka merasa bersalah atas perbuatan mereka. Tapi, untuk sekarang, setidaknya mereka bisa bersikap biasa saja pada saya. Anggap saja sebagai penebus atas semua yang pernah mereka lakukan, bukannya semakin menjaga jarak dan membuat saya seperti tidak punya orang tua."
__ADS_1
Aku menggenggam satu tangannya erat untuk menyemangatinya.
"Jadi ngga berlebihan kalau saya bilang, saya hanya punya kamu aja, Oxu," tambahnya lagi yang membuatku seketika terharu. "Cuma kamu."