Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 30


__ADS_3

Aku duduk di sofa sebelum jam makan siang dengan sepiring siomay di tangan. Pesan di grup whatsapp-lah yang membuatku datang ke sini walaupun baru dini hari tadi Bang Win mengantarku pulang ke rumah.


"Xu? Rajin banget makan siang jam segini," sapa Teh Hani saat melihatku. Ia menghampiri dan ikut duduk di sofa setelah sebelumnya ke pantry untuk mengambil minum.


"Ngemil ini mah," jawabku. "Mau ada rapat apaan sih Teh?" Rame banget itu di grup."


"Ada deh! Ntar juga tau," jawabnya terkekeh.


"Owner ikut rapat?" tanyaku lagi.


"Ngga, kita-kita aja. Owner mah ngga mau tau menau, lagian dia udah ada agenda sendiri."


Bang Win yang baru keluar dari studio melihatku sekilas lalu berjalan menuju pantry.


'Tuh kan bener! Kalau siang mah cuek banget. Sadis!' batinku.


Tidak lama, pria itu kembali dengan sebotol air mineral di tangan, setelah membuka tutupnya, ia menyodorkan botol itu padaku.


"Bang Win, mau pesen snack ngga buat nanti rapat?" tanya Teh Hani.


"Pesen aja. Tanya Oxu mau apa," jawabnya datar.


Dengan senyum dikulum, Teh Hani mengedipkan mata padaku yang masih menyuap sisa siomay di piring.


"Saya beresin siaran dulu, abis itu kalau semua udah pada dateng, langsung aja ke ruang meeting," ucapnya entah pada siapa sehingga aku dan Teh Hani sama-sama mengangguk.


"Xu, Teteh dengar semalem Adul kesurupan terus kamu pingsan."


"Iyah. Biasa-lah Teh. Ada aja kan di sini mah," jawabku. "Eh Teh, apa rapat kali ini mau ngebahas orang yang mau beli stasiun radio ini kali ya?"


"Bukan, Xu. Tenang aja, stasiun radio ini ngga akan berpindah tangan. Walaupun ownernya bikin radio ini karena iseng, tapi radio ini ada nilai sejarahnya."


"Aku masih belum ngerti struktur di sini kaya gimana. Soalnya ketemunya cuma sama penyiar-penyiar terus," ucapku.


Secara teknis, struktur organisasi radio terdiri dari beberapa bagian seperti director, general manager, marcom manager, general affair manager, music director, public relations, produser, traffic, script writer, penyiar dan operator. Namun, selama bekerja di sini, aku hanya tau jika karyawan di sini tidak terlalu banyak.


"Radio ini kan sebetulnya project iseng, jadi ngga seperti stasiun radio di luar sana yang berdiri karena alasan profesional. Di sini cuma ada owner terus di bawahnya ada Bang Win, Teh Opi dan Kang Utep yang bertanggung jawab atas semua kegiatan di radio ini. Misalnya kaya Teh Opi nih, dia penyiar berita sekaligus script writer dan juga marcom manager yang tugasnya membuat program jangka panjang dan jangka pendek dalam hal pemasaran produk-produk radio," jelas Teh Hani.


"Oh, jadi ngehandle banyak tugas ya?" tanyaku.

__ADS_1


"Yo'i. Kamu doang yang santai, jadi penyiar doang. Remi aja tugasnya dobel, jadi music director sama operator. Gia jadi produser sama traffic yang tugasnya bertanggung jawab atas jadwal iklan di program acara."


"Iya ya? Aku penyiar murni," lanjutku terkekeh.


"Nanti aku kasi tugas baru deh, biar sibuk kaya yang lain dan dateng ke studio ngga cuma buat siaran aja."


"Ngga usah," potong Bang Win yang entah kapan sudah berdiri di dekat kami. "Oxu mau dapet tugas baru."


"Nah bener! Kebetulan program yang baru belum ada produsernya, Bang Win," tambah Teh Hani.


Bang Win hanya menggeleng.


"Terus Inoxu jadi apa?" tanya Teh Hani lagi.


"Jadi istri saya," jawabnya pendek dan langsung kembali masuk ke studio.


Teh Hani terlihat melongo selama beberapa detik. Begitu terdengar suara pintu studio tertutup, dia tergelak hingga harus menutup mulutnya dengan telapak tangan.


***


Rapat dimulai setelah semua penyiar hadir. Rupanya rapat kali ini membahas tentang jam siaran Kisah Tengah Malam yang mendapat rating tinggi sehingga membuat banyak iklan berdatangan.


"Gia, nanti dibagi lagi tugasnya Adul sama Oxu. Mau mereka bergiliran siaran sendiri-sendiri atau mau barengan," kata Bang Win.


"Kan ada saya," sahut Bang Win pendek.


"Uhuk!" Teh Hani terbatuk


"Ah elah!" gumam Kang Utep.


Teh Opi dan dan para penyiar lain hanya nyengir mendengar perkataan Bang Win barusan.


"Gimana Gia aja. Gia pasti tau, rating yang bagus itu waktu kalian siaran bareng atau sendiri-sendiri," lanjut Bang Win.


Gia terlihat mengangguk dan kami melanjutkan pembahasan yang lain. Setengah jam kemudian rapat dibubarkan.


"Temenin saya siaran ya? Abis itu jalan-jalan," ucap Bang Win menarik tanganku pelan ketika keluar dari ruang meeting.


"Iya, tapi mau ke pantry dulu. Haus," balasku yang di respon anggukan.

__ADS_1


"Nanti langsung masuk aja ya?" kata Bang Win lagi.


"Iya."


Aku melihat jika keadaan sudah sepi, entah pergi ke mana para penyiar yang baru saja keluar dari ruang meeting. Gia dan Remi pun sudah kembali pulang setelah tadi berpamitan padaku sedangkan Adul kembali membersihkan studio di lantai atas.


Sosok yang duduk di kursi makan pantry membuatku menghentikan langkah. Sosok gadis muda berwajah Eropa dengan gaun berjuntai menatapku dan tersenyum sebelum ia berdiri lalu melayang menembus tembok. Kejadian itu membuatku luar biasa kaget, namun anehnya tidak ada rasa takut sama sekali. Aku ingat gadis itu, gadis yang sedang membaca buku dan menikmati teh terakhirnya sebelum meregang nyawa di tangan tentara bermata kecil.


Dengan pelan aku mengambil sebotol air mineral dari dalam showcase saat melihat sekaleng kopi. Ingatanku kembali ke malam tadi saat Adul kesurupan dan secara tiba-tiba muncul rasa geli yang membuatku tertawa.


"Hampura nini. Neng poho mun nini teu apal kopi kaleng. Padahal mah nyak, ngeunah kopi na (maaf nenek, neng lupa kalau nenek ngga tau kopi kaleng. Padahal enak kopinya)," kataku pelan.


Kik kik kik kik!


"Hahaha. Heureuy, Ni (bercanda, Nek)," tambahku sebelum berjalan ke luar pantry.


"Yah, kebuka sempurna," lirih Kang Utep yang sudah duduk di sofa saat aku lewat.


"Apaan, Kang?" tanyaku penasaran.


"Mata ke-tiga kamu, Xu. Udah kebuka sempurna."


"Makanya bisa liat gitu-gitu?" tanyaku balik.


"Iya."


"Pantesan, tadi di dapur ketemu nona cantik," tambahku.


"Iya ngga apa-apa. Kayanya kejadian tadi malem deh yang bikin kamu kaya gitu. Tapi mereka ngga ganggu 'kan?"


"Ngga," aku menggeleng.


"Ya udah santai aja."


Aku mengangguk dan berjalan masuk ke studio di mana Bang Win sedang siaran. Tepat setelah menutup pintu, aku melihat satu sosok wanita berkemben sedang berdiri di belakang Bang Win dan merangkulkan tangannya di leher pria itu.


" ...Saya Win Patriadi pamit undur diri, sampai jumpa lagi. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Tepat setelah Bang Win menutup siaran dan mematikan mic, sosok di belakangnya memajukan kepala seolah akan mencium pipi Bang Win.

__ADS_1


Melihat itu, emosiku naik ke level tertinggi. Dengan cepat, aku berjalan menuju ke arah Bang Win yang masih duduk, menunduk dan menarik keras rambut sosok itu sehingga terdengar lengkingan samar. "Nyingkah an*jing! Ieu nu aing! (menyingkir an*jing. Ini milik saya!)," sentakku.


Dengan tiba-tiba sosok itu menghilang setelah menatapku beberapa detik. Bang Win yang terlihat kaget, menatap tepat ke mataku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


__ADS_2