Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 15


__ADS_3

"Xu, gawat Xu!" seru Remi ketika melihatku baru saja masuk ke gedung stasiun radio.


"Gawat kenapa?"


"Penyiar berita yang siaran di studio kita bilang kalau sambungan telepon ke monitor terganggu dan ngga bisa dipakai untuk nelpon ke luar," jawab Remi.


"Waduh, terus gimana? Si Gia udah dateng?" tanyaku lagi.


"Udah, lagi di studio sama Teh Hani dan Bang Win nyoba benerin sambungan. Gimana dong? Kalau ngga bisa nelepon narasumber, masa kita harus minta narasumber nelpon kita?"


"Duh, gimana ya?" Aku memijat pelan keningku. Tidak lama, Gia muncul diikuti dengan Teh Hani dan Bang Win.


"Xu, lima belas menit lagi siaran, tapi kita ngga bisa pake saluran teleponnya. Bisa, tapi ngga akan bisa kerekam, jadi pendengar ngga akan bisa denger. Mau pake speaker tapi pasti noise deh, berisik," jelas Gia.


"Paling kalau gitu, harus pake narasumber langsung. Jangan by phone," timpal Bang Win.


Aku bertatap-tatapan dengan Gia dan Remi yang sontak melirik ke arah Teh Hani.


"Duh, sori banget. Teteh malem ini ngga bisa, mau ada perlu," ucap Teh Hani mengerti arti tatapan kami.


Gia beralih menatap Bang Win yang kemudian direspon gelengan oleh penyiar senior itu. "Duh, punten euy. Saya juga ada janji nih sama temen."


Tidak lama kemudian, keduanya berpamitan dan menepuk bahu kami pelan.


"Gimana ini? tanya Gia lirih.


Mataku menatap sosok yang baru saja masuk ke dalam studio dan menuju ke arah pantry. "Adul!" panggilku. Sosok itu menoleh dan menghampiri.


"Lagi sibuk ngga?" tanyaku langsung. Adul ini adalah orang yang bekerja di stasiun radio sebagai office boy.


"Ngga Teh. Jam kerja Adul udah beres kok. Ini mau ke pantry, ngambil sendal Adul yang ketinggalan."


"Bagus!" seruku. Gia dan Remi yang mengerti maksudku langsung menarik tangan Adul ke lantai dua.


"Jadi gini Dul, kita mau minta kamu buat jadi narasumber di acara kami," jelas Gia.


"Jadi Adul di wawancara gitu, Teh?" tanyanya.


Kami bertiga mengangguk.


"Masuk radio?"


Kami bertiga mengangguk lagi.


"Mau ngga?" tanya kami bertiga bersamaan.


Gantian Adul yang menganggukkan kepalanya. Secepat mungkin, aku dan Remi menuju meja kerja kami. Sedangkan Gia memberikan pengarahan singkat.


"Standby, Xu!" seru Remi.


Aku mengangguk dan memasang headphone. Sedangkan Adul malah mengeluarkan ponselnya dan berselfie ria dengan studio ini sebagai latar belakangnya.


"Adul! Ntar aja foto-fotonya!" ucap Gia. "Udah mau mulai nih."

__ADS_1


Adul mengangguk dan mendekat ke mejaku. Gia membawakannya sebuah kursi dan memberikan headphone. "Pake," perintahnya.


"3, 2, 1, on air!" Remi mengangkat jempolnya.


"Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh. Selamat malam dan selamat bertemu kembali dengan Inoxu—."


"Dan saya Adul," potong Adul tiba-tiba.


"Hahaha, iya dan juga Adul, dalam Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung."


Aku meneruskan opening yang terpotong oleh perkataan Adul. Gia terlihat menepuk kening sedangkan Remi tersenyum lebar.


"Malam hari ini saya ditemani Adul yang akan menjadi narasumber kita kali ini. Adul ini—."


"Adul teh obe di sini gaes. Obe di radio Rebel," potong Adul lagi.


"Betul sekali. Adul bekerja juga di radio Rebel. Satu lagu dari Cupumanik dengan Syair Manunggal akan menjadi pembuka Kisah Tengah Malam kali ini. Selamat menikmati, dan jangan ke mana-mana."


"Ya mau ke mana atuh Teh? Kan lagi siaran—."


Aku buru-buru mematikan mic dan menepuk keras kening. Sepertinya menjadikan Adul narasumber bukanlah keputusan yang bijak.


Plak!


"Adul, kalau lagi opening atau kalau lagi ngga ditanya sama Inoxu, jangan ngomong apa-apa," kata Gia memukul bahu Adul.


"Oh iya Teh, maap. Adul kan baru pertama siaran, jadi seneng banget!" jawabnya seraya melonjak-lonjak di kursi.


Aku melempar pandang ke arah Remi dan kami berdua nyengir melihat tingkah laku Adul. Setelah beberapa saat, begitu lagu berakhir, aku kembali menyalakan mic dan memberi tatapan tajam pada Adul disertai jari telunjuk yang kutempelkan di bibir.


"Adul mah sukanya dangdut, Teh Inoxu," sela Adul.


"Iyah Adul, nanti kapan-kapan Teteh puterin lagu dangdut buat Adul. Karena narasumber kita pada malam hari ini bersemangat sekali, saya ngga akan panjang lebar lagi dan akan langsung mempersilakan Adul untuk membagikan kisahnya. Adul, punya kisah apa nih buat dibagiin ke pendengar semua?"


"Kisah serem?" tanya Adul.


"Bebas, kisah apa aja boleh. Tapi pendengar emang suka sih yang serem-serem. Atau kalau ngga, Teteh tanya nih. Adul udah berapa lama kerja di sini?"


"Setahunan-lah Teh," jawab Adul.


"Pernah ada kejadian aneh ngga yang Adul alami di tempat ini?"


"Wah banyak itu mah! Adul pernah dateng habis subuh karena katanya anak siaran berita pagi mau pada dateng lebih awal. Tapi pas nyampe sini, belum ada siapa-siapa.


Ya seperti biasa aja, Adul langsung ke belakang buat ngambil alat bersih-bersih. Pas di gudang belakang kedengeran ada suara orang nyanyi Teh, tapi ngga ada wujudnya."


"Terus? Adul takut ngga?" tanyaku.


"Ngga. Kan ngga ada wujudnya. Apa yang mau ditakutin?" ucapnya polos.


"Wih keren! Adul pemberani, terus ada kisah apalagi? Ceritain semua aja sok."


"Selain suara itu, Adul juga pernah liat penampakan noni Belanda yang mukanya berdarah-darah. Noni ini teh penunggu pohon mangga yang di belakang itu loh, Teh."

__ADS_1


"Iya tau," responku singkat.


"Tau noni Belandanya?" tanya Adul.


"Bukan-lah. Tau pohon mangganya," jawabku nyengir.


"Ih si Teteh mah. Nah yang paling serem itu di studio lantai satu Teh."


Kenapa emang?"


"Setannya Belanda semua. Noni, terus denger-denger mah ada suster kembar, ada juga anak kecil," jelas Adul.


"Seremnya gimana?"


"Seremnya, mereka ngga ngerti bahasa Indonesia atau bahasa Sunda, Teh. Jadinya kalau disuruh pergi malah diem aja."


"Ih kamu mah sompral. Awas didatengin loh," ucapku. Aku melirik ke arah Gia yang menepuk kening dan juga Remi yang menggeleng perlahan.


"Datengin aja, Adul mah ngga takut. Di kampung, Adul sering bantuin pak ustad kalau ada yang kesurupan."


"Ngusir setan?"


"Megangin yang kesurupan, Teh," jawabnya kembali nyengir.


"Pokoknya Adul mah ngga takut. Kalau ada sini, dateng sini! Adul bakal hadapi," tambahnya lagi.


Cukup sudah! Celotehan Adul membuatku mulai takut jika sesuatu akan terjadi. "Ya udah deh Adul, makasi banyak ya? Udah mau meluangkan waktu di sini dan berbagi kisah untuk pendengar Kisah Tengah Malam."


Gia sudah berdiri di belakang Adul dan menutup mulut pemuda itu dengan tangannya.


"Satu lagu dari Superman Is Dead dengan Sunset Di Tanah Anarki akan menjadi akhir perjumpaan kita kali ini. Inoxu, Adul dan seluruh tim mohon pamit, sampai jumpa lagi di Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Dengan cepat aku mematikan mic. "Alhamdulillah," ucapku penuh syukur.


"Ih Teteh, Adul belum pamit tadi," gerutunya.


"Ngga apa-apa, udah diwakilin sama Inoxu," jawab Gia.


Aku melepas headphone dan mulai membereskan barang-barangku saat Adul meminta ijin untuk mengambil foto selfie dari meja tempatku siaran. Setelah kuijinkan, tidak lama kemudian ia terlihat mengangkat kamera dan bergaya dengan berbagai pose.


"Teteh liat! Ih apaan ini," seru Adul menghampiriku dan menunjukkan foto di layar ponselnya. Mataku terbelalak secara otomatis melihat jika ada sepasang tangan yang menyentuh pundak Adul ketika duduk di kursi kerjaku. Hanya tangan tanpa tubuh karena tepat di belakang kursiku adalah tembok. Wajah Gia dan Remi yang ikut melihat foto, memucat dengan cepat.


"Ih kenapa sih pada diem aja? Ngga apa-apa gaes, cuma tangan doang. Adul mah lebih takut sama manusia. Manusia jahatnya lebih dari setan," celetuk Adul.


"Parah nih si Adul ngocehnya! Ayo cepet pulang, ntar kita kena getahnya," ajak Remi. Adul sendiri terlihat duduk kembali di kursiku dan sibuk mengetik sesuatu.


Aku memakai tas ranselku lalu melempar pandang ke arah Adul. Di saat itulah, mataku kembali melotot tanpa kusengaja. Sepasang tangan yang tadinya hanya terlihat dalam foto, kini nampak jelas ada di atas kedua pundak Adul. Tangan pucat keriput dengan guratan warna biru ungu membuat tubuhku kehilangan kemampuan bergerak seolah-olah ada sesuatu yang menahan. Gia dan Remi juga berdiri terpaku tidak jauh dariku.


"Adul?" panggil Gia lirih. "Itu. Tangan. Di bahu. Itu."


Aku menahan nafas dan melihat dengan jelas wajah Adul yang terkejut saat menengok ke arah pundaknya.


"Hiyaa!" teriaknya lantang. Teriakan Adul membawa kesadaranku kembali dan membuatku bisa menggerakkan badan. Dengan cepat aku berlari ke arah pintu, diikuti oleh Gia dan Remi.

__ADS_1


"Hiyaaa! Teteh! Jangan tinggalin Adul! Tolong!" teriaknya histeris. Tubuhnya yang melonjak-lonjak di kursiku seperti cacing kepanasan adalah pemandangan terakhir sebelum aku keluar dari studio.


__ADS_2