Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 35


__ADS_3

"Parah si Inoxu, anak orang sampe babak belur gitu," ucap Kang Utep lalu tertawa.


"Hah? Anak orang siapa, Tep?" tanya Teh Opi.


Saat ini, kami sedang dalam perjalanan menuju ke puncak setelah sebelumnya Bang Win dan Kang Utep menemaniku menemui emak Adul untuk meminta maaf dan memberi uang pengobatan, lalu menjemput Teh Opi di rumahnya.


"Si Adul. Adul kemasukan penunggu studio, eh malah ngeha*jar Inoxu duluan. Ya dibales lah, hahaha!"


"Terus gimana?" tanya Teh Opi lagi.


"Kan Utep bilang tadi babak belur, Pi. Gimana sih?"


"Maksudnya, parah ngga?" ralat Teh Opi.


"Mayan. Ya biasalah, berantemnya cewek. Jam*bak dan ca*kar."


Bang Win hanya diam dan fokus menyetir. Ia menatapku sekilas dari spion dalam.


"Entah punya dendam apa itu demit ke Inoxu, sampe nyerang pake badan Adul," sambung Kang Utep terkekeh.


"Bahaya ngga sih kalau terus kaya gitu?" tanya Bang Win tiba-tiba.


Kang Utep terdiam sesaat sebelum menjawab. "Ya bahaya. Liat aja tadi si Inoxu sampe lepas kontrol gitu. Di mata dia yang keliatan sih emang demitnya, tapi kan realnya pake badan Adul. Untung tadi cepet dipisahin. Coba kalo ngga?"


"Terus harus gimana?" tanya Teh Opi penasaran.


"Ya coba aja diruqyah. Katanya sih orang yang bisa ngeliat apa yang ngga bisa diliat orang lain itu karena ada sesuatu yang nempel."


"Kamu juga, Tep?" Bang Win melirik Kang Utep yang duduk di sebelahnya.


"Iya. Tapi namanya dapet kemampuan gitu dari lahir proses ruqyahnya harus bertahap dan dilanjutin dengan ngejaga ibadah. Kalau itu udah dilakuin tapi masi sama juga, ya wallahua'lam," jawab Kang Utep menutup pembicaraan.


***


Setelah tiga jam perjalanan, kami tiba di sebuah vila berukuran besar bergaya Belanda yang terletak di tengah-tengah kebun teh dengan halaman parkir yang luas. Selagi melihat-lihat, Bang Win tidak melepaskan genggamannya dari tanganku.


"Kalau mau bakar-bakaran atau bikin api unggun, bisa di halaman belakang. Nanti disediakan peralatannya dengan biaya tambahan," jelas pengurus vila.


Kami kembali berkeliling untuk melihat-lihat. Saat sedang berkeliling, aku baru sadar jika kemeja flanel kesayanganku sobek karena insiden dengan Adul. Karena itu, aku memutuskan melepasnya dan memasukkannya dalam tas sehingga hanya menyisakan kaos polos hitam.


"Nih," ucap Bang Win memberikan hoodie hitam miliknya untuk ku pakai. "Dingin di sini. Jangan sampai kamu sakit."


Beberapa saat kemudian, Bang Win membayar uang sewa vila untuk tanggal yang sudah disepakati dengan pengurus.


"Gimana, Tep?" tanya Bang Win sesaat setelah kami meninggalkan vila.


"Masih belum keliatan euy. Biasanya yang kaya gitu kan suka sembunyi dulu kalau ada yang dateng. Cuma kalo dari atmosfernya, oke kok."


Aku menatap Teh Opi yang duduk di sebelahku dengan pandangan bertanya-tanya. Seolah mengerti, Teh Opi tersenyum sebelum menjawab. "Kan Utep bisa liat yang gitu-gitu. Jadinya kalau nyari penginapan, dia disuruh liat dulu, aman atau ngga."


"Iya," tegas Kang Utep. "Eh, si Inoxu juga kan bisa liat. Xu, liat ada yang aneh ngga tadi?"


"Ngga sih, Kang. Ngga ada apa-apa," jawabku.

__ADS_1


"Aman kalo gitu," sambung Kang Utep.


Setelah empat jam perjalanan, mobil mengarah ke rumah Teh Opi. Sebelumnya, kami terlebih dahulu mengantar Kang Utep pulang.


"Badan kamu sakit ngga? Kalau ngga enak badan, kita pulang aja. Biar nanti Kisah Tengah Malam, saya yang handle," ucap Bang Win menengok menatapku.


"Aman, Bang," jawabku pendek dan menyandarkan punggung karena mengantuk. Tanpa aku sadari, aku tertidur cukup pulas sehingga tidak sadar saat Teh Opi turun.


***


Aku mengerjapkan mata beberapa kali dan menemukan jika mobil sudah terparkir di halaman bangunan stasiun radio. Kedua pintu belakang mobil terbuka setengah dan Bang Win yang duduk di kursi sebelahku sedang fokus dengan ponselnya.


Tanpa berkata apa-apa, Bang Win mengambil sebotol air mineral dan memberikannya padaku.


"Kalau masih ngantuk, tidur dulu aja. Jam siaran masih lama, kok."


Aku mengangguk dan meminum air mineral lalu kembali menyandarkan punggung. "Bang Win lagi ngapain?" tanyaku pelan.


"Chatting sama kakak kamu," jawabnya tanpa menoleh.


"Hah? Ngapain?"


"Ya chatting aja. Ngobrol biasa kok, ngga ada apa-apa. Kakak kamu seru juga. Siapa sih nama panjangnya?"


"Nyx Hayede Putra," jawabku malas.


"Namanya unik-unik ya?"


"Biasa aja."


Aku menegakkan punggung. "Kok tiba-tiba ngajak makan?"


"Badmood soalnya," kekehnya pelan dan menaruh ponselnya.


Aku tertawa dan keluar dari mobil. "Makan baso ya?" ucapku yang dibalas anggukan.


***


Entah kebetulan atau memang sudah direncanakan, Gia dan Remi tidak datang untuk siaran dengan alasan masing-masing. Untungnya beberapa penyiar masih tinggal untuk merekam siaran off air.


"Adul?" seruku saat melihatnya masuk. "Kok masuk sih? Bukannya istirahat aja."


"Adul pusing Teh di rumah. Emak nyap-nyap terus minta ini itu, mending Adul ke sini aja dari pada panas kuping," jelasnya.


Bang Win tersenyum mendengar jawaban Adul. "Ya udah kamu istirahat aja kalau ngga kuat siaran. Saya sama Oxu yang handle."


"Ngga apa-apa kok, Bang," jawab Adul.


Jam sebelas kurang, kami bertiga beranjak dari sofa dan menuju ke lantai atas.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Halo gaes! Kembali lagi, Adul dan Teh Inoxu dari Kisah Tengah Malam Radio Rebel 12,08 FM akan menemani kalian semua dengan kisah-kisah menarik yang sudah masuk ke email kami. Tapi sebelumnya, Adul akan putarkan satu buah lagu dari Pilot yang judulnya Sepanjang Hidup permintaan dari pendengar yang bernama Izza. Buat teh Izza dan yang lainnya, selamat mendengarkan!"


Adul mematikan mic dan mengangguk-angguk mengikuti alunan lagu. Aku sendiri sedang menyiapkan kisah yang akan dibacakan.

__ADS_1


"Itulah Pilot dengan Sepanjang Hidup," ucapku mengambil alih siaran. "Selamat datang saya ucapkan untuk para pendengar yang baru saja bergabung. Satu kisah dari kiriman dari Anda semoga bisa menemani waktu istirahat malam pendengar semua.


Halo Teh Inoxu dan Kang Adul, nama saya Anda. Saya ingin bercerita tentang kejadian malam kemarin yang dialami suami saya. Kebiasaan suami saya itu nongkrong di dapur sambil merokok dan bermain game.


Waktu itu, karena keasyikan bermain, suami lupa waktu sampai jam dua pagi. Kalau kata suami sih, awalnya biasa aja, tapi tiba-tiba hawa menjadi dingin hingga membuat suami saya merinding. Selain itu, mulai kecium bau ngga enak yang ngga diketahui asalnya dari mana.


Pas dia nengok-nengok, di dekat pintu gudang yang ngga jauh dari tempat suami saya main game, dia lihat ada sosok perempuan berbaju putih dengan kepala menunduk. Karena penasaran, diliatin terus sampai sosok itu melayang dan nembus tembok menuju ke luar rumah.


Sebagai informasi, di sebelah rumah saya itu adalah rumah dukun ilmu hitam. Udah jadi rahasia umum kalau peliharaan dukun itu banyak. Beberapa warga sering bilang kalau mereka ngeliat sosok tinggi, hitam, besar di belakang dukun ilmu hitam ini. Seringnya gangguan makhlul halus juga disinyalir berasal dari rumah dukun tersebut. Takut sih memang, tapi ngga ada yang berani protes.


Paling itu aja cerita dari saya. Maaf kalau ngga begitu menarik. Sehat selalu ya Teh Inoxu, Kang Adul dan tim."


Aku terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Itulah cerita dari Anda. Jujur aja, kalau saya yang jadi Anda, mungkin saya udah memutuskan pindah rumah. Serem banget! Satu lagu dari Adista dengan Kembalilah Padaku yang direquest Jannah akan menjadi penutup perjumpaan kita kali ini. Inoxu, Adul dan tim mohon pamit. Sampai jumpa di kisah lainnya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic dan melepas headphone lalu menelungkupkan kepalaku di meja. Entah kenapa, aku semakin tidak enak badan.


"Pulang?" tanya Bang Win berdiri di sampingku. Adul sendiri sudah pamit pulang beberapa saat yang lalu.


Aku mengangguk dan membereskan barang pribadiku lalu keluar studio bersama Bang Win.


***


"Kamu demam," ucap Bang Win saat kami sudah duduk di bangku belakang mobilnya.


Kakakku berkata jika ia akan menjemputku dan memintaku menunggu sebentar.


"Mau minum obat demam saya?" tanya Bang Win yang kuangguki. Dengan cepat ia mengambil kotak obat dan memberikan satu butir tablet beserta air mineral.


"Oh iya Bang, hoodienya aku bawa dulu ya? Nanti dibalikin kalau dah dicuci."


"Ngga usah dibalikin, pakai aja dulu. Hoodie saya masih banyak."


Aku hanya diam mengangguk karena kepalaku yang semakin terasa berat sehingga rasa kantuk mulai menghampiri.


"Jangan sakit. Saya ngga bisa dan ngga mau ngeliat kamu sakit." Suara lirih Bang Win masih bisa kudengar.


"Besok juga sembuh, Bang. Jangan khawatir," balasku di antara sadar dan tidak.


"Kamu seharian ini udah bikin saya khawatir. Mantan pacar kamu yang mukanya kaya kodok zuma, hajar-hajaran sama Adul, dan sekarang kamu demam."


"Maaf, mau gimana lagi? Udah takdir," jawabku dengan suara lirih.


"Emang muka saya setua itu ya? Sampai dipanggil om-om?"


"Ngga juga sih. Bang Win itu tipe laki-laki yang semakin tua semakin enak diliat," aku bergumam. "Selain itu, Bang Win ngga banyak tingkah, ngomongnya sopan, baik sama siapa aja."


"Kamu mau kalau saya ajak nikah?"


"Mau aja." Suaraku semakin lama semakin lirih.


"Kamu sayang sama saya?"


"Lumayan." Mataku semakin berat dan terasa sulit dibuka.

__ADS_1


"Makasi, Oxu," balasnya lirih yang kemudian kuangguki, sesaat sebelum jatuh tertidur.


__ADS_2