Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 50


__ADS_3

"Inoxu!"


Aku menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilku. Nihil! Tidak ada siapa-siapa selain aku di tempat parkir Radio Rebel. Menganggap itu semua hanya perasaanku saja, aku kembali berjalan menuju pintu masuk bangunan.


"Inoxu!"


Suara itu terdengar lagi saat aku baru saja duduk di sofa. Kali ini lebih jelas dan lebih dekat. Namun sama seperti sebelumnya, tidak ada siapa pun di sekitarku.


"Gadis itu tidak bisa melihat kita."


"Sepertinya begitu."


"Kita tidak bisa menakutinya lagi!"


Perlahan terdengar suara bisik-bisik seolah aku sedang berada di tengah kumpulan orang banyak. Awalnya aku menganggap jika suara-suara yang kudengar berasal dari dalam kepalaku dan merupakan efek operasi kepala yang beberapa waktu lalu kujalani. Namun, ketika aku menutup telinga, suara-suara tersebut ikut memelan.


"Woi!" sentakku keras. "Siapa yang lagi ngobrol?!"


Keadaan seketika menjadi hening. Aku mulai bernapas lega dan menyandarkan punggungku di sofa.


"Neng geulis, tiasa ngadangu sora Nini? (anak cantik, bisa mendengar suara nenek?)."


Entah dari mana asalnya, suara itu terdengar begitu jelas sehingga membuatku seketika bangkit dari duduk.


"Bisa," jawabku pendek tanpa rasa takut sama sekali.


"Ieu Nini anu cicing di luhur (ini nenek yang tinggal di atas)," ucap suara itu lagi.


"Oh, muhun Ni (oh, iya Nek)," balasku lagi.


"Janten leres, Neng Geulis tiasa ngadangu Nini? (jadi benar, anak cantik bisa mendengar nenek?)"


"Tiasa (bisa)." Aku menguap sejenak.


"Tapi, teu tiasa ningal Nini? (Tapi, tidak bisa melihat nenek?)"


"Teu tiasa (tidak bisa)," jawabku.


Suara berbisik kembali terdengar, kali ini lebih riuh dari sebelumnya seolah-olah aku berada di antara hiruk pikuk manusia.


"Tidak bisa melihat tapi bisa mendengar suara kita!"


"Gadis itu semakin aneh."


"Kecelakaan merubah kemampuannya!"


Cukup sudah! Aku kesal dibicarakan oleh para makhluk tak kasat mata.


"Diem!" teriakku kuat dan berbalik ke arah pintu masuk.


"Astagfirullah Teh Inoxu!" jerit Adul. "Adul salah apa sampe dibentak dan disuruh diem? Adul kaget!" serunya dengan tatapan memelas.


Aku yang merasa tidak enak hati karena disangka membentak Aduh hanya bisa tersenyum lebar dan meminta maaf. "Maaf Dul, Teteh lagi latihan drama."


"Kirain Teh Inoxu marah sama Adul," ucapnya lagi sembari duduk di sofa.


Aku kembali tersenyum meminta maaf dan menyadari jika suara berbisik yang tadi kudengar sudah hilang. Dengan perlahan aku menghampiri Adul dan duduk di depannya.


"Adul," panggilku. Aku harus memastikan satu hal. "Adul dari kapan datengnya?"

__ADS_1


"Dari tadi Teh. Adul liat Teteh bicara sendiri. Mau Adul tegur, tapi Teteh keburu nyentak Adul."


Aku mengangguk. "Liat ada orang lain selain kita ngga?" tanyaku pelan.


"Ngga, Teh." Adul menggeleng.


"Kalau makhluk halus? Ada ngga di sini?" tanyaku lagi masih dengan suara lirih.


"Maksud Teteh setan?"


Aku tersentak mendengar pertanyaan Adul dan memutuskan untuk mengangguk mengiyakan.


"Ngga ada kok, Teh. Eh, tapi bener Teteh jadi ngga bisa liat?" tanya Adul balik.


"Ngga bisa," jawabku pendek.


"Alhamdulillah," ucap Adul. Terdengar kelegaan dalam nada suaranya. "Kenapa Teteh ngeliatin Adul kaya gitu? Teteh malah sedih karena ngga bisa liat yang gitu-gitu?"


"Biasa aja sih," jawabku pelan.


"Harusnya jangan biasa aja, harusnya Teteh bersyukur! Ngga semua hal harus dilihat manusia. Jadi kalau Teteh hanya bisa melihat secukupnya, itu udah bagus banget. Hidup tenang, dan ngga perlu was-was setiap waktu kaya Adul. Adul sendiri, sejak sering kemasukan, malah bisa ngeliat yang gitu-gitu. Keliatannya mah hebat, seru! Padahal dalam hati ngenes! Parno terus bawaannya."


Aku hampir mengatakan pada Adul jika kondisi yang baru kualami ini nyaris membuatku gi*la. Mendengar suara-suara tanpa wujud menciptakan suasana horor tersendiri.


Selain itu, ada satu hal lagi yang kusadari. Adul tidak bisa mendengar suara-suara itu, namun aku bisa. Sedangkan ia bisa melihat mereka, dan aku tidak. Kejadian tempo hari di mana aku serta Adul mendengar dan melihat makhluk halus juga disaksikan dan didengar oleh Remi serta Gia.


Kesimpulan yang kudapat adalah, dalam kondisi tertentu, makhluk halus bisa menampakkan diri dan memperdengarkan suara pada manusia normal. Sedangkan dalam kondisi biasa, hanya Adul yang bisa melihat mereka, dan hanya aku yang bisa mendengar suara mereka.


'Argh!' Aku mengacak rambutku kesal dan mengeluh dalam hati saat tiba-tiba dari belakang kepalaku ada sepasang tangan yang mengusap lembut.


"Biasanya ngga suka kalau rambutnya saya acak-acak, ini malah diacak-acak sendiri." Suara lembut Bang Win memasuki gendang telingaku.


"Kenapa? Kepala kamu sakit?" tanyanya lagi dengan nada khawatir ketika sudah duduk di depanku.


"Mau makan dulu sebelum siaran?" Bang Win menatapku lekat.


Belum sempat aku menjawab, terdengar keributan dari arah tempat parkir Radio Rebel yang menarik perhatianku. Suara-suara yang saling berteriak bisa kudengar dengan jelas dan membuatku berlari ke luar untuk melihat.


"Oxu!"


"Teh Inoxu!"


Bang Win dan Adul memanggilku namun aku tidak berhenti berlari. Saat tiba di tempat parkir, terlihat satu orang gadis sedang bersimpuh di tanah dengan tiga orang gadis mengerubunginya. Pak satpam yang juga hadir tidak mampu menahan ucapan makian dari ketiga gadis yang berdiri itu.


"Kenapa pak?" tanyaku penasaran.


"Ini Neng Inoxu, Teteh bertiga ini bilang kalau Teteh yang ini nyopet dompet mereka," jawab pak satpam menunjuk gadis yang bersimpuh di tanah.


"Saya ngga nyopet! Ini dompet saya!" teriak gadis tersebut.


"Alah, mana ada copet ngaku!"


"Giliran ketangkep aja, ngaku kalau itu dompetnya!"


"Berani-beraninya nyopet!"


Ketiga gadis itu mulai mengeroyok gadis yang bersimpuh dengan ucapan-ucapan mereka. Pak satpam terlihat kebingungan dan beberapa orang mulai berdatangan untuk menonton.


"Pemilik asli dompet pasti tau apa isi dompetnya," ucap Bang Win yang tiba-tiba sudah berada di belakangku bersama Adul.

__ADS_1


"Udah saya periksa, Bang Win. Tapi dompetnya kosong," lapor pak satpam. "Jadi ngga ketahuan siapa pemilik yang asli."


"Saya bukan copet. Mereka bertiga copetnya! Mereka melemparkan dompet saya yang sudah mereka jarah isinya karena saya teriak. Saya cuma mau dompet itu kembali karena dompet itu peninggalan ibu saya. Tapi mereka malah menuduh saya pencopet!"


"Bohong! Udah jelas dia copetnya! Pak satpam, lapor aja ke polisi," seru salah satu diantara ketiga gadis itu.


Keadaan mulai memanas karena mereka saling melemparkan ucapan pedas saat aku mendengar suara lirih bergema yang terdengar sangat jelas di telinga.


"Hei, itu gadis anak penjual gorengan yang pernah kita takuti."


"Iya, sepertinya dia sedang dalam kesulitan."


"Kasihan, dia disangka mencuri barangnya sendiri."


"Itu barang berharga milik gadis itu."


"Bukan, itu milik ibunya yang seorang penjual gorengan."


"Pantas saja, ada foto mereka berdua yang terselip."


"Kasihan sekali. Terkadang manusia lebih jahat dalam menyakiti sesamanya."


Aku memiringkan kepala untuk mendengar dialog selanjutnya dari entah siapa. Saat tidak mendengar lanjutannya, aku mengalihkan tatapan ke pak satpam.


"Pak, telepon polisi, bilang ketiga orang ini pencopetnya," ucapku pelan namun tegas.


Ketiga gadis itu mulai menatapku tidak suka dan mengucapkan kata-kata makian. Bang Win sendiri langsung memasang badan di depanku setelah tertegun sejenak.


"Jangan sembarangan nuduh Teh! Mana buktinya kalau kami yang nyopet!" sentak salah satu dari mereka.


Aku berjalan pelan mendekati gadis yang bersimpuh dan berharap dalam hati jika apa yang kudengar bukan suatu kekeliruan. Setelah menyodorkan tanganku pada gadis itu, ia meletakkan dompet kecilnya di tanganku. Dengan perlahan dan jantung berdebar, aku memeriksa setiap lipatan dan juga selipan. Hatiku mencelos saat tidak menemukan apapun. Di saat aku hampir menyerah, sesuatu teraba oleh jari dan dengan cepat kutarik. Selembar foto berukuran kecil dengan gadis yang bersimpuh serta seorang wanita paruh baya sedang berpose.


Dengan perlahan aku menunjukkan foto tersebut yang membuat ketiga gadis di depanku terdiam dan bersiap kabur.


"Eit, mau ke mana?" tanya Kang Utep yang sudah berada di belakang mereka.


Pak satpam dengan segera menelepon polisi sedangkan aku mengembalikan dompet serta foto di tanganku kepada pemiliknya.


"Hatur nuhun Teteh, ini peninggalan ibu saya sebelum meninggal. Hatur nuhun pisan," ucap gadis itu tersedu. Aku hanya bisa mengusap bahunya pelan karena masih terkejut dengan apa yang kulakukan.


"Tapi Teteh tau dari mana kalau ada foto saya dan ibu di dalam dompet? Saya baru tau detik ini, jika almarhumah ibu menyimpan foto kami berdua dalam dompetnya."


Aku gelagapan untuk beberapa saat sebelum menjawab, "Tadi saya ngga sengaja liat."


Gadis itu mengerutkan keningnya dan orang-orang disekitar menatapku dengan pandangan tidak percaya.


"Masa sih?"


"Perasaan dari tadi dompetnya ga dibuka-buka."


"Kok bisa tau ada foto di dalemnya?"


"Teteh itu bisa ngeliat nembus ke dalam dompet kali."


Aku bergegas berdiri untuk menyingkir. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan apapun untuk saat ini. Saat sedang berjalan menuju ke dalam Radio Rebel, tanganku digenggam dari belakang.


"Jangan takut, ada saya. Di saat kamu khawatir jika seluruh dunia tidak mempercayai kamu, saya akan tetap mempercayai kamu, Oxu."


Langkahku berhenti mendadak dan aku menoleh untuk menatap Bang Win lekat. "Makasi Bang Win. Makasi untuk selalu ada. Aku tau, aku bisa mengandalkan Bang Win."

__ADS_1


Bang Win menggenggam tanganku erat sebelum kembali berkata, "Jangan takut. Saya selalu ada buat kamu. Cuma buat kamu."


Peekataannya membuat tubuhku yang tadinya dingin, mendadak dialiri oleh kehangatan yang menyenangkan.


__ADS_2