
"Audzubillahiminasyaitonirojim bismillahirohmanirohim," ucap Gia lirih ketika memasuki studio. Aku dan Remi mengekor di belakangnya.
"Aman gaes!" seru Gia lega.
"Aman gimana? Kan setan mah ngga keliatan," potongku cepat.
"Xu! Bisa ngga sih, itu celetukan agak direm? Bahaya tau ngga, omongan sompral kaya gitu!" tegur Remi.
"Ya emang bener 'kan? Kalo urusannya sama setan mah, ngga keliatan itu yang bahaya. Ga tau lagi ada di mana. Bisa aja tau-tau nyolek kita dari belakang," balasku.
"Udahlah hayu cepetan! Bentar lagi waktunya siaran. Kalian sih, bukannya langsung masuk buat siap-siap malah pada nongkrong di tukang siomay," Gia berkata sambil berjalan ke mejanya.
Dengan segera, aku juga menuju ke mejaku dan mempersiapkan segala keperluan untuk siaran. Remi sendiri mulai menyalakan monitor dan memberitahukan lagu yang akan diputar.
***
"Saya baru seminggu menempati rumah dinas sebagai fasilitas yang diberikan kantor tempat suami saya bekerja, Teh. Awalnya sih ngga ada yang aneh, aman-aman aja. Tapi, beberapa hari kemudian mulai ada kejadian-kejadian yang bikin heran."
"Apa tuh, Teh?" tanyaku.
"Saya sering banget nemuin helaian rambut panjang di lantai pas lagi nyapu atau ngepel. Saya sendiri berambut pendek. Anak saya yang baru dua tahun juga berambut pendek. Suami saya apalagi, ngga punya rambut dia mah," Teh Tia menjelaskan.
Malam ini narasumber Kisah Tengah Malam adalah seorang ibu muda dengan satu anak yang baru saja pindah ke kota Bandung.
"Terus gimana, Teh?"
"Ya saya buang aja. Kepikiran sebentar, tapi ngga sampe yang gimana gitu. Belum juga kerasa takut, padahal suami pulangnya suka malem terus," jawab Teh Tia.
"Anak Teteh ngga rewel? Kan katanya kalau suka ada yang aneh-aneh, biasanya anak kecil suka peka duluan."
"Sama sekali ngga. Anak saya kan baru belajar ngomong. Kadang dia suka ngeliat ke arah atas terus ngoceh gitu. Saya kira ya biasa aja namanya anak kecil. Cuma kalau diperhatiin, sering banget kaya gitu. Pernah saya nanya, dia liat apa, lagi-lagi anak saya itu nunjuk ke atas.
Puncaknya pas dua malam kemarin. Suami saya yang biasanya pulang larut, malam itu mah pulang cepet. Karena ada waktu luang, kita bertiga main dulu di ruang keluarga sebelum akhirnya suami saya ngantuk. Dia masuk ke kamar sementara saya masih nemenin anak saya. Ngga tau kenapa anak saya ini tidurnya malem banget, Teh. Paling cepet itu jam 10. Padahal biasanya di tempat yang sebelumnya, ngga pernah selarut itu.
Nah, pas kita masih main, suami saya keluar kamar dan dia nanya, mana mie instan punya dia. Saya heran dong, kok bisa tau-tau nanya kaya gitu. Jadinya saya nanya balik, dan kata dia, ngga lama setelah dia rebahan, saya masuk ke kamar terus nawarin dia mie instan. Padahal sumpah Teh, saya dari tadi masih nemenin anak saya main di ruang keluarga."
__ADS_1
"Suami Teteh gimana reaksinya?" tanyaku penasaran.
"Dia cuma garuk-garuk kepala terus bilang kalau kayanya dia ngelindur. Tapi dia ngga balik lagi ke kamar, malah tiduran di sofa yang ada di ruang keluarga. Saya heran, dan mikirnya kayanya suami saya mulai ngerasa kalau ada yang ngga beres dengan rumah yang kami tempati."
"Teteh ngga nanya-nanya ke tetangga gitu? Atau kalau ngga, 'kan biasanya tetangga suka jadi informan." Aku menghembuskan nafas panjang.
"Eh Jeng, tau ngga kalau rumah Jeng itu hantunya," ucapku sembari mengira-ngira menirukan sang tetangga.
"Ngga ada, Teh. Tetangga jarang pada keluar rumah. Paling ketemu kalau papasan aja di jalan. Itu juga cuma senyum aja, belum pernah ngobrol gitu."
"Terus ada kejadian apa lagi, Teh?" Mataku bergerak ke arah jam dinding dan melihat jika durasi masih cukup lama.
"Pas banget tadi malam. Suami saya lagi tidur di kamar , dan saya ketiduran di ruang keluarga sama anak saya waktu lagi nonton tivi. Tiba-tiba tengah malam, suami lari keluar kamar dan ikut tiduran di sebelah saya. Saya tanya kenapa, dia diem aja ngga ngejawab. Tapi sekilas saya liat kalau mukanya kaya yang kaget. Karena saya masih ngantuk, ya saya abaikan aja.
Paginya, suami kan libur nih Teh, kita ada rencana main ke rumah ibu saya. Pas di jalan saya keingetan kejadian semalem, ya saya nanya aja kan. Suami saya kaya yang ragu gitu mau bilangnya, tapi pas udah saya desak, dia ngomong juga."
"Ada apaan semalam?" tanyaku penasaran.
"Jadi suami itu tidur menghadap ke meja rias saya. Karena suami kalau tidur harus gelap, lampu kamar dimatiin, tapi masih ada cahaya yang masuk dari ruang keluarga. Nah, pas kebangun karena mau ambil selimut, dia liat ada bayangan perempuan di kaca rias saya, Teh."
"Astagfirullah!" ucapku spontan.
"Ya namanya juga setan, Teh," ucapku lirih.
"Ih Teh Inoxu mah malah nakut-nakutin," sahut Teh Tia.
Aku nyengir sendiri dan melirik ke arah Remi dan Gia yang sudah menatapku dengan sinis. "Ya maaf, Teh Tia. Kan Teteh sekarang lagi di rumah ibu Teteh, aman kan?" balasku.
"Iya sih Teh, cuma saya jadi ragu mau balik ke rumah itu lagi. Kayanya ke depannya mau nyari kontrakan aja deh, cuma ya harus ngumpulin uangnya dulu. Walaupun manusia katanya makhluk paling sempurna, tapi kalo ngalamin kejadian gitu pasti mau pingsan rasanya."
"Hahaha, Teteh bisa aja deh. Masih ada lanjutan ceritanya?"
"Udah Teh segitu aja. Maafin kalau ceritanya ngga terlalu menarik. Makasih udah mau dengerin cerita saya," ucap Teh Tia.
"Sama-sama Teh Tia, makasi juga udah mau berbagi cerita di Kisah Tengah Malam. Sehat selalu ya?"
__ADS_1
"Sehat selalu juga ya Teteh," balasnya sebelum memutus sambungan.
"Yak pendengar setia Kisah Tengah Malam 12,07 FM Radio Rebel Bandung. Baru aja kita denger satu kisah dari Teh Tia di rumah yang baru ia tempati. Ke depannya, semoga ngga ada gangguan lagi ya di rumah Teh Tia, kasian dia punya anak kecil.
Satu lagu lama dari Astrid dengan Ratu Cahaya akan menjadi penghujung perjumpaan kita kali ini. Eh tapi tau ngga pendengar semua? Lagu ini tuh jadi salah satu soundtrack film yang cukup terkenal pada masanya. Judulnya Tusuk Jalangkung kalau ngga salah. Itu loh, yang datang ngga dijemput, pulang ngga diantar. Beda jauh sama temen yang suka manfaatin. Dateng ngga diundang, pulang minta ongkos, hahaha! Eh maap, malah jadi cerita. Akhir kata, Inoxu dan seluruh tim pamit. Selamat beristirahat, dan sampai jumpa lagi setiap hari senin, rabu dan jumat jam sebelas malam di Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Ayo cepet pulang!" sahutku setelah mematikan mic dan melepas headphone. Kami bertiga secepat kilat berlomba membereskan barang masing-masing dan hampir berjalan ke arah pintu saat pintu diketuk dari luar.
"Mamang siomay?" tanyaku heran.
"Jangan-jangan ada yang pesen siomay, tapi sebenernya bukan kita, Xu," bisik Remi.
"Bisa jadi. Kan kita tadi udah makan siomay, ngapain juga Mamangnya ke sini? Ini mah kayanya ada yang nyerupain, terus pesen siomay," aku membalas dengan berbisik.
"Neng, punten. Mamang mau pulang, udah malam," sahut Mamang.
Aku, Remi dan Gia berpandangan tidak mengerti.
"Iya atuh Mang, hati-hati di jalan. Saya juga ini mau pulang," jawabku lirih.
"Ih Neng mah, Mamang bukannya mau pamit. Tapi mau nanya, tadi uang siomay yang Nenh makan mana? Neng dan Neng satunya langsung pergi aja padahal belum bayar."
Aku menepuk dahiku keras dan terdengar jika Gia terkekeh. Dengan cepat kukeluarkan uang dan memberikannya pada mamang. "Maaf Mang, lupa. Tadi buru-buru mau siaran."
"Ngga apa-apa Neng. Makasi ya?" Mamang berjalan menjauh. Kami bertiga berpandangan sejenak lalu ke luar dari studio. Tepat di depan tangga lantai satu, mamang siomay terlihat sedang mondar-mandir.
"Mang, katanya mau pulang?" sapa Remi.
"Kata siapa Neng? Kan mamang baru keluar sore, ini mau ngider lagi," jawabnya.
"Mamang ngapain di sini? Mau nungguin piring siomay?" tanyaku.
"Bukan, Neng. Mau nungguin Eneng semua. Tadi kan belum bayar pas abis makan siomay."
"Lah? Barusan di atas kan udah saya bayar," kataku heran.
__ADS_1
"Atas? Mana ada Mamang ke atas. Ngga berani atuh Neng, lagian dari tadi Mamang berdiri di sini kok."
Perkataan mamang membuat punggungku seketika menjadi dingin. "Remi, Bayarin dulu!" seruku sembari berlari ke luar gedung meninggalkan Remi dan Gia yang terpaku di tempat bersama dengan mamang siomay.