
"Udah dipindahin, Teh?" tanyaku bersama Gia dan Remi di belakang Teh Hani yang akan memasuki studio tempat kami siaran.
"Udah, Xu! Liat tuh udah ngga ada."
"Alhamdulillah," jawabku lega.
Teh Hani menuju ke salah satu kursi, kemudian duduk. "Kalian mau pindah studio ke lantai satu?" tanyanya serius.
"Boleh emang?" tanya Gia balik.
"Ya boleh aja. Kasian kalian bertiga ketakutan terus tiap kali siaran di sini."
"Kalau di bawah mah rame terus ya, Teh?" tanyaku lagi.
"Ya kalau malem sepi juga. Paling yang ada pak satpam di pos. Itu juga jauh kan? Di halaman depan."
"Ngga apa-apa deh Teh. Yang penting studio kami ngga serem kaya yang ini," timpal Remi.
"Kata siapa studio bawah ngga serem?" Teh Hani kembali bertanya.
"Loh, kan Teteh nyuruh kita pindah ke bawah karena khawatir kita ketakutan diganggu demit sini kan?" tanyaku balik karena penasaran.
"Hahaha, bukan itu! Studio di sini rata-rata emang berpenghuni semua. Cuma kalau di bawah, kalian bisa lari cepet keluar tanpa Teteh khawatir kalian jatuh di tangga," cengir Teh Hani.
"Astagfirullah! Kirain khawatir kita ketakutan, taunya lebih khawatir kita jatuh karena sering ditakutin." Gia menatap sinis dan menghembuskan nafas panjang.
"Ngga ada sejarahnya setan bisa bunuh manusia kali ah," ucap Teh Hani terkekeh. "Yang ada mereka bikin kalian ketakutan, panik, terus ngga sadar lingkungan. Jatuh-lah, apa-lah. Gitu."
"Ya udahlah di sini aja kalau sama-sama serem. Eh tapi, kalau di studio bawah ada apaan sih Teh?" tanyaku.
"Suster kembar."
"Wow, suster perawat atau biarawati?" tanya Remi.
"Perawat. Tapi jaman dulu."
"Eh Teteh, gimana kalau Teteh jadi narasumber kita kali ini? Wawancara gitu, jadi ngga by phone." Gia menatap Teh Hani dan mengajukan usul.
"Boleh aja, Teteh juga free kok."
__ADS_1
"Ya udah Xu! Siap-siap deh," perinta Gia.
Aku mengangguk dan menuju ke mejaku untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
***
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam dan selamat datang di Kisah Tengah Malam. Inoxu mengudara dari studio lantai dua 12,08FM Radio Rebel Bandung. Tumben-tumbenan malam ini langit cukup cerah ya di luar. Secerah hati saya karena kali ini ada sesuatu yang berbeda yang akan kami sajikan untuk pendengar semuanya. Satu lagu dari /Rif dengan Raja, request dari pendengar atas nama Novi Jessie dan Riri akan mengawali perjumpaan kita kali ini. Selamat menikmati ya kalian berdua dan para pendengar semua. Selamat menghalu jadi raja, hehehe."
Aku mematikan mic dan mengeluarkan air mineral dari dalam ranselku. Teh Hani sendiri yang malam ini akan menjadi narasumber, sedang memainkan ponselnya, menunggu Remi menyiapkan mic tambahan di mejaku.
"Ready, Teh," ucap Remi yang diangguki Teh Hani.
Sepanjang karirku sebagai seorang penyiar, ini adalah pertama kalinya aku melakukan siaran dengan seorang penyiar senior. Entah karena antusias atau perasaan tenang karena ditemani penyiar lain, atmosfer studio terasa berbeda. Terasa lebih profesional dan juga menenangkan.
"Yak! Itulah /Rif dengan Raja. Ini lagu booming banget waktu saya masih sekolah dan pertama kali liat vokalisnya, langsung suka banget. Andy /Rif walaupun gayanya nyentrik tapi punya daya tarik luar biasa. Ke sininya baru tau ,kalau ternyata sang drumer atau lebih dikenal sebagai Magi /Rif itu ternyata adik dari sang vokalis dan merupakan teman kuliah tante saya di Fakultas Sastra Universitas Padjajaran. Yakan ate? Hehehe.
Tidak berlama-lama, kali ini Kisah Tengah Malam akan membagikan kisah untuk pendengar semua fresh from the oven dalam artian dari narasumber langsung yang berada di studio.
Sudah hadir bersama kita semua, Teh Hani yang merupakan penyiar senior di Radio Rebel. Pastinya pendengar udah ngga asing kan? Teh Hani ini yang membawakan program Tangga Lagu Suara Rebel atau biasa dikenal dengan GAGU SUREBEL."
"Halo Teh?" sapaku basa-basi.
"Hahaha, Teteh bisa aja. Punya kisah apa buat dibagiin di sini, Teh?"
"Karena program ini judulnya Kisah Tengah Malam, kayanya yang cocok itu kisah-kisah serem ya, Xu?" tanya Teh Hani.
"Bebas, Teh. Walaupun saya harus nyiapin nyali dulu, tapi ngga apa-apa deh," jawabku nyengir.
"Oke kalau gitu. Seperti yang kebanyakan para pendengar tau, Radio Rebel itu hampir lima tahun berdiri. Lokasi stasiun radio dari awal berdiri masih sama sampai sekarang karena ini merupakan properti pribadi pemilik stasiun radio ini.
Inoxu tau sendiri lah ya? Bangunan stasiun radio ini kaya gimana. Biar pendengar ada gambaran, saya jelasin dulu ya? Di bagian depan ada halaman yang bisa digunakan umtuk parkir. Begitu masuk, kita akan masuk ke bangunan beraksen Belanda karena emang bagian depan stasiun radio yang merangkap kantor itu bangunan Belanda asli.
Di situ juga ada tiga studio yang dipake khusus buat siaran berita. Nah, di bagian belakang bangunan Belanda dibangun bangunan tambahan yang lebih modern tempat pantry, kamar mandi dan juga ruang rapat. Di lantai duanya, full semua studio buat siaran yang jumlahnya ada lima. Salah satunya studio tempat Kisah Tengah Malam mengudara."
"Ada kejadian aneh yang pernah Teteh alami ngga selama jadi penyiar di sini?" tanyaku.
"Ya banyak. Tapi yang paling ngga bisa dilupain itu di studio tiga lantai satu, yang di bangunan Belanda asli. Teteh pernah liat penampakan suster kembar. Ngga ganggu tapi lumayan bikin kaget kalo pas siaran tau-tau mereka nongol."
"Wow! Teteh tau kisah awalnya gimana bisa ada suster kembar itu? Itu suster perawat atau suster biarawati?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Suster perawat, Xu. Jadi kan tadinya komplek ini tuh komplek orang-orang Belanda. Dan sempet dijadiin tempat untuk ngerawat para tentara Belanda yang sakit. Katanya sih, suster kembar itu yang kerja di sini. Sampai akhirnya mereka meninggal dibu*nuh tentara Jepang. Dan sekarang, komplek ini jadi komplek Tentara Republik Indonesia alias TNI. Para pendengar pasti tau deh lokasinya di mana."
"Serem ya Teh?" ucapku lirih.
"Lumayan kalau untuk pertama kali mah. Tapi kalau udah biasa sih ngga. Kadang mereka nampakin diri sekilas-sekilas. Atau kadang menyerupai siapa gitu."
"Wah jangan-jangan mamang siomay," celetukku.
"Bisa jadi. Itu kaya sapaan sih kalau kata Teteh mah. Waktu kaget pas pertama kali liat, Teteh langsung lari kaya kalian kemarin-kemarin. Lama-lama cape juga, ya udah diemin aja. Toh mereka ngga ganggu."
"Jadi ngga perlu takut ya Teh?" timpalku.
"Ngga perlu."
"Oke deh kalo gitu. Teh Hani, makasi banyak buat waktu dan kesediannya berbagi kisah di sini ya? Semoga Teteh sehat terus." Aku memutuskan menutup siaran.
"Aamiin, kalian juga ya, sukses pokoknya."
"Makasi Teteh. Nah pendengar semua, ngga kerasa ya satu setengah jam udah kita lewati bersama. Lagu terakhir dari /Rif dengan Lo Toe Ye akan menjadi ujung perjumpaan kita kali ini. Inoxu dan seluruh tim pamit, 12,08FM Radio Rebel Bandung. Wassalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh."
"Alhamdulillah lancar! Enak ya siaran sama penyiar senior. Adem gitu rasanya," ucapku setelah mematikan mic dan melepaskan headphone.
"Iya ya, beda banget gitu hawanya. Nyaman," timpal Gia.
Kami bertiga membereskan barang pribadi masing-masing dan bermaksud pulang, sedangkan Teh Hani masih duduk santai memainkan ponselnya saat tiba-tiba terdengar suara tawa seseorang.
Kik kik kik kik!
"Teh?" panggilku lirih. Teh Hani hanya menengok ke arahku sekilas dan suara tawa tersebut semakin membesar.
Cukup sudah! Aku bersiap untuk lari, namun Teh Hani mencekal tanganku. Gia dan remi sendiri terpaku di tempat.
"Tong ngaganggu siah! Tong nunjukkeun sora, tong nunjukkeun rupa! Mun henteu, diduruk ku aing! Nyingkah! (Jangan mengganggu! Jangan menunjukkan suara, jangan menunjukkan wujud! Kalau ngga, saya bakar! Menyingkir!)" sentak Teh Hani keras sembari menggebrak meja setelah meletakkan ponselnya. Sebelah tangannya masih memegangi tanganku.
Ajaib, suara tawa tersebut hilang dalam sekejap.
"Hayu beres-beres, kita pulang," ucap Teh Hani.
Kami bertiga kembali membereskan barang kami, lalu keluar ruangan mengikuti Teh Hani yang lebih dulu keluar.
__ADS_1