
Jauh kau pergi meninggalkan diriku
Di sini aku merindukan dirimu
Kini kucoba mencari penggantimu
Namun tak lagi 'kan
seperti dirimu oh kekasih
(Tinggal Kenangan - Gaby)
***
Gerimis yang turun selepas isya membuatku hampir terlambat untuk siaran kali ini. Untungnya, Remi dan Gia sudah bersiap sehingga kami bisa langsung siaran, setibanya aku di studio.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam saya ucapkan untuk para pendengar setia Kisah Tengah Malam di mana pun berada. Inoxu hadir untuk menemani istirahat malam para pendengar semua dari studio lantai dua Radio Rebel Bandung. Hujan malam ini lumayan awet ya? Kayanya merata juga di setiap sudut kota Bandung. Kondisi kaya gini itu paling pas dinikmati sambil rebahan dibawah selimut hangat, sambil dengerin kisah-kisah yang akan saya suguhkan untuk pendengar semua. Satu lagu permintaan Dini Anis dari Ungu dengan Tercipta Untukmu akan mengawali kisah kita pada malam ini. Stay tuned terus dan jangan ke mana-mana."
Aku mematikan mic dan menyandarkan tubuhku. Berlari di sepanjang tempat parkir setelah turun dari mobil Nyx menyisakan sedikit kelelahan yang membuat nafasku masih tidak beraturan. Setelah merasa lebih baik, aku menghubungi salah satu nomor pendengar yang sudah Remi berikan. Menurutnya, nomor tersebut secara berkala selalu mengirim pesan berformat ke nomor whatsapp Kisah Tengah Malam. Setelah terhubung, aku meminta narasumber untuk menunggu sejenak.
"Selamat datang saya ucapkan kepada para pendengar yang baru saja bergabung. Satu lagu dari Ungu baru saja saya putarkan untuk menemani istirahat para pendengar semua di malam gerimis ini.
Dan di ujung sambungan, sudah ada narasumber kita yang akan berbagi kisah. Halo, dengan siapa di mana?"
"Halo Teh Inoxu, ini dengan Gaby di Bandung," suara lembutnya memasuki gendang telingaku.
"Bandungnya di mana, Teh Gaby?"
"Di Otista, Teh Inoxu."
"Oke, Otista alias Otto Iskandar Dinata. Silakan Teh Gaby, mau berbagi kisah apa?" tanyaku lagi.
"Mau curhat aja boleh, Teh?"
"Boleh, mangga," aku mempersilakan.
"Saya bahagia banget Teh, akhirnya bisa dihubungi oleh Teh Inoxu. Saya mengirim pesan berkali-kali untuk menjadi narasumber di Kisah Tengah Malam dari sejak siaran perdana, namun baru kali ini saya dihubungi. Serius Teh, saya bahagia banget.
Saya seorang pelajar tahun terakhir di salah satu sekolah menengah atas kota Bandung. Sebentar lagi, saya akan menghadapi ujian akhir untuk menentukan kelulusan. Sayangnya, saya kehilangan semangat di tahun terakhir saya sekolah."
"Kenapa Neng? Abis putus cinta?" tanyaku menggoda.
"Ngga juga Teh, bisa dibilang lebih parah dari itu. Saya dipisahkan secara paksa melalui jalan takdir."
__ADS_1
"Gimana cerita awalnya?" tanyaku lagi.
"Saya dekat dengan seseorang yang merupakan teman sekolah saya saat di kelas sebelas. Kami sering ngobrol, belajar dan main basket bareng sampai akhirnya hubungan kami diwarnai dengan rasa sayang. Singkat kata, saya berpacaran dengan teman saya ini.
Pertama kali dalam seumur hidup, saya baru ngerasain gimana rasanya sayang sama orang. Perlakuan yang saya terima dari dia membuat saya ngerasa istimewa. Terkadang, kami ngobrolin harapan-harapan kami berdua di masa depan. Lulus sekolah bersama, kuliah, bekerja, lalu menikah dan memiliki keluarga.
Saya sayang banget sama dia, Teh Inoxu," ucapnya lirih.
"Teteh ngerti apa yang kamu rasain, Neng. Pertama kali ngerasa jatuh cinta dan mendapatkan perlakuan yang istimewa, tidak dialami semua gadis seusia kamu. Wajar kalau kamu ngerasa kaya gitu. Tapi, perlu diinget, hidup kamu masih panjang, ada hal-hal lain yang harus kamu pikirin selain soal asmara," balasku.
"Iya Teh, saya juga ngerti. Itu kenapa berkali-kali saya berusaha fokus dan mengalihkan perhatian untuk hal yang lain tapi ngga bisa. Dalam pikiran saya, saya hanya memikirkan nama dia. Bagaimana kelak saya hidup dengannya, menghabiskan waktu dengannya, menjadi orang yang selalu dekat dengannya. Dunia saya rasanya hanya berputar dengan dia sebagai porosnya.
Itulah kenapa, dunia saya hancur. Hancur sehancur-hancurnya saat takdir menggariskan peristiwa yang membuat kami berpisah selamanya."
"Maksudnya gimana, Neng?" tanyaku. Entah kenapa aku merasa sesuatu akan terjadi.
"Pacar saya udah meninggal karena kecelakaan motor, sepulangnya dari rumah saya, di saat kami sudah sepakat untuk sama-sama mendengarkan siaran perdana Kisah Tengah Malam dan berjanji untuk saling meminta diputarkan lagu yang sama."
"Innalillahi wa innailaihi rojiun," ucapku spontan.
"Iya Teh. Dia udah ngga ada, dan ninggalin saya sendiri. Buat apa obrolan kami dulu tentang masa depan kalau ternyata hanya saya yang harus terus berjalan menuju mass depan sedangkan dia abadi di dalam tanah. Buat apa? Semakin banyak kenangan yang tercipta semakin dalam juga luka yang saya rasain sampai-sampai untuk bernapas pun rasanya sesak. Saya kangen dia, Teh."
Walaupun tidak terlihat, aku yakin seratus persen jika Gaby menangis di ujung saluran.
"Neng, kamu ngga apa-apa?" tanyaku memastikan.
"Ngga apa-apa, Teh Inoxu. Oh iya Teh, saya boleh nyanyi ngga?" tanyanya.
Aku melihat jam dinding untuk memperkirakan durasi sebelum mengiyakannya. Tidak lama, petikan gitar yang mengalun, terdengar lembut namun memberikan perasaan sedih secara bersamaan.
Pernah ada rasa cinta
Antara kita kini tinggal kenangan
Ingin kulupakan
Semua tentang dirimu
Namun tak lagi kan
seperti dirimu oh bintangku
Jauh kau pergi meninggalkan diriku
__ADS_1
Disini aku merindukan dirimu
Kini ku coba mencari penggantimu
Namun tak lagi kan
seperti dirimu oh kekasih
"Bagus banget," ucapku spontan setelah Gaby selesai menyanyikan lagu tersebut. "Kalau boleh tau, judulnya apa? Itu ciptaan kamu sendiri?"
"Iya Teh, lagu ini ciptaan saya sendiri untuk pacar saya. Judulnya Tinggal Kenangan." Suara Gaby terdengar lirih. "Teh Inoxu, makasi banyak udah mau menghubungi saya. Saya seneng banget bisa bicara sama Teteh. Saya pamit ya, Teh. Semoga Teteh sehat selalu."
Aku hampir membalas ucapannya saat melihat jika sambungan telah terputus.
"Terima kasih Gaby, udah berbagi kisah bersama saya di sini. Jujur, saya suka dengan lagu yang barusan Gaby nyanyikan. Kesannya tuh dalem banget. Sedikitnya, saya bisa ngerasain perasaan kehilangan yang dirasakan oleh Gaby. Untuk Gaby, semangat ya!
Tidak terasa sudah satu setengah jam saya menemani para pendengar semua. Terima kasih sudah membersamai saya sampai akhir. Inoxu pamit, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Aku mematikan mic dan langsung merebahkan kepalaku di atas meja tanpa sempat membuka headphone. Cukup lama aku bertahan dalam posisiku, hingga Gia dan Remi menghampiri dan menyentuh bahuku pelan.
"Sedih ya?" tanya Remi. Aku mengangguk dengan kepala masih di atas meja.
"Pulang aja hayu?" ajak Gia yang kembali kuangguki lalu beegerak memasukkan barang pribadiku dengan malas ke dalam tas. Tidak lama, pintu studio terbuka lebar dan menampilkan sosok Bang Win, Kang Utep dan Teh Hani. Ketiganya masuk dengan wajah tegang.
"Barusan abis siaran sama yang namanya Gaby?" tanya Teh Hani.
Aku mengangguk, "iya Teh, kenapa?"
"Server kita hampir down karena banyaknya yang nge-mention dan kirim pesan ke Radio Rebel," tambah Kang Utep.
"Emang ada apaan Kang?" tanya Gia.
"Beberapa saat lalu ada sebuah live di Instagram. Isinya seorang gadis bernama Gaby yang sedang menelepon ke Radio Rebel. Di beberapa menit terakhir, dia menyanyikan sebuah lagu yang katanya ciptaannya sendiri," ucap Bang Win.
"Iya bener, dia tadi nyanyi di sini. Ada apa sih?" tanyaku penasaran.
"Di live itu, setelah dia menyanyi, dia menyi*let pergelangan tangannya sendiri. Penonton heboh dan langsung menghubungi pihak berwajib serta Radio Rebel."
Aku terbelalak mendengar penjelasan Bang Win. "Percobaan bu*nuh diri?" tanyaku lirih.
"Bukan. Bu*nuh diri, karena beberapa saat yang lalu dia dinyatakan meninggal," jawab Kang Utep.
Aku terduduk seketika dan merasa sesuatu yang tidak terlihat mence*kik leherku hingga membuatku kesulitan bernapas. Air mata keluar tanpa kuperintahkan, dan membuat tenggorokanku semakin tercekat. Aku merebahkan kepalaku kembali di atas meja dan berharap jika tangisan bisa meringankan sedikit rasa sakit di dalam sini karena menyadari jika aku adalah orang terakhir yang berbicara dengan seorang gadis muda yang sudah berniat mengha*bisi dirinya sendiri tanpa bisa kucegah.
__ADS_1
Sebuah usapan di kepala menjebol pertahananku hingga tangis yang tertahan berubah menjadi isakan tanpa jeda.