
"Teh Rebel, bisa ikut siaran off air sebentar?" tanya Teh Opi pada sosok yang sedang duduk tepat di depanku. Dengan tersenyum, Teh Rebel mengangguk dan berpamitan pada kami untuk menuju ke salah satu ruang studio. Kang Saija membolehkan para penyiar untuk ikut melihat proses siaran. Dengan penasaran, Aku, Gia, Adul serta beberapa teman penyiar yang lain serentak berdiri dan mengikuti Teh Opi yang melambaikan tangan pada kami.
Hatiku bertanya-tanya saat melihat Teh Rebel berjalan dan berhenti tepat di depan pintu studio yang biasa Bang Win gunakan. Tangannya mengusap lembut pintu yang masih tertutup sebelum mendorongnya pelan.
Sesampainya di dalam, Teh Rebel melihat berkeliling dan menyentuh hampir semua benda di depan matanya. "Ini studio di mana Nday meninggal setelah bekerja tanpa kenal lelah. Kadang kami berdua menginap di sini. Bangunan ini milik orang tua Nday yang diberikan padanya."
Kami semua menengok ke arahnya dalam diam. Setelah Teh Opi memeriksa semua peralatan, ia memanggil Teh Rebel. "Teh, ini buat siaran inspirasi pendengar. Nanti Opi mau nanya sejarah berdirinya Radio Rebel ya, Teh?"
Teh Rebel hanya mengangguk dan memakai headphonenya.
"Halo temen-temen Rebel di mana pun berada. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Opi hadir kembali untuk menginspirasi temen-temen semua dari kisah jatuh bangun narasumber kita pada sore hari ini.
Berdirinya Radio Rebel tidak lepas dari hasil jerih payah para pembangunnya. Dan beruntung, salah satu dari orang yang berperan dalam berdirinya Radio Rebel sudah hadir bersama kita. Regina Maharani Rahman atau biasa dikenal dengan Teh Rebel."
"Assalamualaikum temen-temen semua," sapa Teh Rebel.
"Tanpa banyak orang yang tau, Teh Rebel ini ternyata salah seorang pendiri awal, berdirinya radio kesayangan kita ini, awalnya gimana Teh?"
Zzz! Zzz! Zzz!
Teh Opi mengerutkan kening karena suara berisik yang tiba-tiba terdengar. Kami semua yang hadir ikut berpandangan satu sama lain.
" ...𝙍𝙚𝙗𝙚𝙡 ...."
Entah dari mana suara itu berasal. Namun aku bisa melihat jelas jika wajah Teh Rebel langsung berubah. Ia menghela napas beberapa kali sebelum membuka suara.
__ADS_1
"Hai Nday...."
Kami semua yang hadir saling melirik. Aku mendapati wajah mereka memucat.
"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜?"
"Maaf. Maaf karena baru datang. Maaf karena baru berani ke sini lagi. Maaf, karena butuh waktu sekian lama untuk memulihkan diri," jawab Teh Rebel dengan suara parau.
"𝙈𝙖𝙖𝙛 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙣𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞."
"Ngga apa-apa. Walaupun pada awalnya aku marah, karena kamu ngga nepatin janji. Tapi pada akhirnya aku bisa bertahan, Nday." Teh Rebel menunduk pelan sembari mengusap pipinya.
"Teh Inoxu," panggil Adul. Aku menengok dan membuka headphoneku. "Itu di depan Teh Rebel, di kursi yang kosong, ada yang lagi duduk. Perempuan rambut pendek, pake kacamata sama jaket merah," ucap Adul lirih.
Aku merasa cengkraman pada tanganku yang ternyata adalah Gia.
"Iya. Kayanya itu temen Teh Rebel yang bikin radio ini."
Aku menghembuskan nafas panjang sebelum memakai headphone kembali.
"𝙈𝙖𝙠𝙖𝙨𝙞 𝘽𝙚𝙡, 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙞𝙢𝙥𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖. 𝙒𝙖𝙡𝙖𝙪𝙥𝙪𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙞𝙠𝙪𝙩 𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞. 𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖 𝙡𝙞𝙖𝙩 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙨𝙞𝙡, 𝘽𝙚𝙡."
"Kamu bahagia, terus aku? Ngeliat radio ini bikin aku terluka, Nday. Gara-gara radio ini kamu akhirnya pergi selamanya. Aku pengen banget ngebenci, tapi ngga bisa! Karena ini bukti perjuangan kamu. Bukti perjuangan kamu di tengah sakit, bukti perjuangan kamu di tengah cibiran keluarga kamu sendiri. Sakit Nday...."
"𝙈𝙖𝙖𝙛 𝘽𝙚𝙡... 𝙈𝙖𝙖𝙛 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙣𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙣𝙜𝙚𝙗𝙚𝙧𝙚𝙨𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖... 𝙈𝙖𝙖𝙛𝙞𝙣 𝙖𝙠𝙪..."
__ADS_1
"Sakit Nday... Sakit... Bahkan setelah sekian lama, rasa perih ini masih ada. Pengen rasanya kembali ke waktu dulu. Kalau aku tau akhirnya bakal bikin kamu pergi, demi Tuhan, aku bakal mati-matian ngehalangin rencana kamu!" Teh Rebel menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menangis tersedu-sedu.
"𝙈𝙖𝙖𝙛𝙞𝙣 𝙖𝙠𝙪, 𝘽𝙚𝙡 ...."
Zzz! Zzz! Zzz!
Nguuuung!
Kami semua kecuali Teh Rebel serentak melepas headphone yang dipakai karena bunyi mendengung yang memekakkan telinga. Butuh sampai beberapa detik kemudian, hingga suara dengungan itu memelan lalu menghilang.
***
"Saya masih sakit hati hanya dengan mendengar nama Rebel. Itu kenapa saya ngga suka kalau ada orang yang menyebut nama itu. Tapi pada akhirnya, Nday yang menang. Nama itu sering para penyiar ucapkan di setiap program siaran," ucap Teh Rebel.
Kami semua berdiri di depan meja resepsionis, karena Teh Rebel akan berpamitan pulang.
"Namun melihat banyaknya temen-temen di sini yang secara ngga langsung mewujudkan impian Nday, saya bahagia. Titip radio ini ya? Setelah ini saya akan kembali ke kota tempat saya tinggal, dan mungkin ngga akan ke sini lagi untuk waktu lama. Saya akan fokus pada karir menulis saya. Tolong dijaga baik-baik ya Radio Rebelnya," lanjutnya menutup pembicaraan sebelum menyalami kami semua satu persatu.
Kami semua mengangguk pelan dan melepasnya pergi dengan lambaian tangan.
"Sampai jumpa lagi di lain kesempatan! Assalamualaikum," seru Teh Rebel sebelum sosoknya menghilang ke dalam sebuah mobil yang berhenti tepat di depan pintu masuk Radio Rebel.
"Sedih ya?" timpal Gia masih melambai. Aku hanya mengangguk sebelum Adul mencengkeram lenganku.
"Teh, itu Teh Nday di belakang lagi dadah-dadah ke Teh Rebel," bisiknya.
__ADS_1
"Sshhh, biarin aja," potongku cepat dan melihat mobil yang membawa Teh Rebel berbelok di jalan raya sebelum akhirnya menghilang dari pandangan.