
"Adul mana?" tanyaku pada Gia dan Remi yang sudah lebih dulu berada di studio. Aku sendiri hampir terlambat datang karena harus menepi sejenak ketika iring-iringan mobil pemadam kebakaran lewat.
"Ngga kerja dia, demam," jawab Gia menahan tawa.
"Gara-gara yang kemarin itu?"
"Kayanya sih. Katanya juga dia mau resign. Lama-lama takut kerja di sini," tambah Remi.
"Wah, iya? Kata siapa, kalian?"
"Emaknya. Tadi emaknya dateng ke sini dan bilang kalau Adul ngga bisa siaran," jawab Remi.
"Yah, sayang banget, enak ada dia padahal. Walaupun spaneng sama kelakuannya, tapi kita aman tuh dari demit-demit."
"Iya sih," keduanya sepakat.
Aku menuju ke mejaku dan memeriksa segala sesuatunya sebelum Remi memintaku untuk standby. Dalam beberapa detik, acara kami sudah on air.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inoxu hadir dari studio lantai dua Kisah Tengah Malam Radio Rebel Bandung. Apa kabar pendengar semua? Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Allah SWT ya, aamiin. Saya ada sedikit cerita saat dalam perjalanan menuju ke stasiun radio Rebel. Di jalan, saya bertemu dengan iring-iringan mobil pemadam kebakaran.
Seperti yang kita dengar di berita. Akhir-akhir ini banyak kebakaran terjadi di beberapa titik kota Bandung. Dari mulai gudang penyimpanan dus, pasar bahkan balai kota Bandung juga. Penyebab kebakaran rata-rata karena konsleting arus listrik. Buat pendengar semua, mohon waspada ya. Diperiksa lagi itu jalur listrik di rumahnya masing-masing. Kalo terlihat semrawut atau kebanyakan colokan, ada baiknya bikin jalur baru. Pokoknya selalu waspada karena yang namanya musibah bisa dateng kapan aja.
Satu lagu lama dari The Corrs dengan Radio, permintaan teh Iin Susanti akan menjadi pembuka Kisah Tengah Malam kali ini. Stay tuned terus dan jangan ke mana-mana."
Aku mematikan mic dan mulai memilih narasumber untuk malam hari ini. Setelah beberapa kali menghubungi dan hasilnya zonk, sambungan terakhir berhasil diangkat oleh narasumber terpilih berikutnya. Aku meminta untuk menunggu sejenak di ujung sambungan sampai lagu selesai diputar.
"Itulah The Corrs dengan Radio. Salah satu band favorit saya sewaktu masih sekolah. Dulu sempet berkhayal bikin band dengan kakak-kakak saya karena ngeliat band ini yang personilnya juga kakak beradik.
Yak, ngga usah berlama-lama lagi, di ujung sambungan, kita udah terhubung dengan narasumber malam hari ini. Halo? Dengan siapa di mana?"
"Halo Teh Inoxu, ini Jaka di Dago."
"Hai Kang Jaka, mau cerita apa?" tanyaku.
"Mau cerita kejadian pas di kampung temen, Teh."
"Mangga," aku mempersilakan.
"Jadi akhir pekan dua minggu yang lalu tuh saya ikut ke kampung temen sekantor saya di daerah Jawa Timur. Waktu itu, temen saya dapet kabar dari keluarganya kalau ibunya lagi sakit. Karena mendadak dan juga jauh, dia ngga ada waktu lagi buat pesen tiket pesawat atau tiket transportasi umum. Jadinya nekat pulang ke kampung dengan membawa mobil. Karena takut cape di jalan, temen minta saya ikut biar sekalian gantian nyetir. Karena kerjaan juga ngga terlalu banyak, saya mau aja.
Kami berangkat keesokan harinya setelah temen saya dapat kabar dari kampung, dan memutuskan start sebelum subuh. Lama perjalanan ke kampung itu bisa seharian penuh tapi karena udah ada jalan tol Trans Jawa, bisa jadi lebih cepet sampai.
Awal berangkat tuh lancar-lancar aja. Sampai akhirnya kita tiba di kota Surabaya dan bermaksud untuk menyebrang ke pulau sebelah di mana kampung temen saya berada. Pas sampai di jembatan yang cukup terkenal itu, posisi udah magrib. Kami sepakat berhenti dulu di salah satu mesjid pinggir jalan setelah menyeberangi jembatan. Dan ternyata dari posisi kami ke kampung temen saya itu masih sekitar tiga sampai empat jam lagi karena letaknya yang paling ujung. Kami sempet berhenti juga di pusat kota buat makan malam.
__ADS_1
Karena temen saya ngantuk, saya ambil alih buat nyetir lagi. Temen saya udah nyetel gps jadi so far aman aja. Singkat cerita kami sampai juga akhirnya di kampung temen saya sekitar jam sepuluh malam. Kami langsung menemui ibu dari temen saya dan alhamdulillah sakitnya ngga parah. Jadinya ya kita jadi santai juga kan, Teh."
"Iya bener, paling ngga, udah liat kondisi orang tua dulu ya Kang?"
"Bener banget. Menjelang tengah malam setelah semua keluarga temen saya pada tidur, saya dan temen saya malah duduk di teras sambil minum kopi karena emang cuaca di sana itu panas banget. Selain itu, karena lumayan cape, malah bikin kita ngga bisa tidur karena pegel-pegel. Ya jadinya nongkrong aja gitu nyari angin.
Pas banget setelah tengah malam, mata saya ngeliat kaya ada kilatan di langit, tapi bukan petir ya. Kaya cahaya yang jalan gitu teh, warnanya merah menyala. Saya yang penasaran nanya ke temen saya. Anehnya, temen saya malah kaya yang ketakutan terus ngajak saya masuk ke dalam. Setelahnya, dia juga ngajak saya tidur aja. Karena penasaran, saya nanya dong ada apa."
"Kenapa kenapa, Kang?" tanyaku penasaran.
"Jadi, kalau kata temen saya itu. Di kampung dia masih banyak banget yang praktek perdukunan. Dan cahaya yang kami liat sebelumnya itu tanda jika ada seseorang yang ngirim sihir untuk orang yang udah ditargetin."
"Kaya santet gitu Kang?"
"Iya Teh, semacam itulah. Tapi kalau yang dikirim berupa cahaya merah bisa dipastiin besoknya ada yang meninggal."
"Wah! Terus besoknya ada yang meninggal beneran?"
"Ada Teh. Menjelang subuh ada pengumuman di mesjid. Yang meninggal seorang wanita yang lagi hamil tua dan rumahnya ini ngga jauh dari rumah keluarga temen saya."
"Innalillahi, terus gimana Kang?"
"Warga pada kaget karena sebelumnya wanita ini ngga sakit apa-apa. Yang paham mah ya udah ngerti tapi mereka diem-diem aja. Mau nuduh tapi ngga ada bukti, nanti malah bikin rame dan kasian ke keluarga almarhumah. Suasana yang berbeda kerasa banget pas malem setelah tetangga ini meninggal, Teh."
"Horor tapi malah ngga sesepi malam kemarin pas saya baru aja dateng. Jadi kalau kata temen sih, di kampungnya itu, kalau ada wanita yang meninggal dalam kondisi hamil, kuburannya dijaga sampai ke empat puluh harinya."
"Kenapa tuh, Kang?"
"Yang pertama, karena banyak yang mau ngambil kain kafan ma*yat Teh. Katanya sih buat ilmu-ilmu gitu lah, ngga ngerti saya juga. Dan yang kedua, yang buat saya pribadi cukup serem."
"Apa tuh?"
"Kabarnya wanita yang meninggal pas lagi hamil bisa jadi incaran dukun tertentu untuk kemudian dibangkitin lagi tapi dalam wujud berbeda. Kasarnya, kuntilanak teh. Kuntilanak ini bisa jadi anak buah si dukun untuk kemudian jadi kaki tangannya untuk ngirim ilmu hitam."
"Astagfirullah! Terus-terus?"
"Ya ngga tau jadinya gimana, kan saya keburu pulang ke Bandung sebelum empat puluh hari. Cuma yang bikin merinding itu, pengalaman pas saya disapa sama seseorang waktu lagi ngopi sehabis magrib di teras."
"Siapa Kang?"
"Wanita yang udah meninggal itu, Teh. Saya kan ngga kenal, ngga tau wajahnya kaya gimana. Jadi, pas ada wanita hamil tua pakai daster batik panjang negur ya saya jawab. Taunya, temen saya denger kalau saya kaya lagi bicara sama orang, pas dia ngintip dari jendela taunya ngga ada siapa-siapa. Pas nanya saya, saya ceritain aja ciri-ciri wanita hamil yang tadi negur. Eh malah dibilang itu almarhumah. Kata keluarganya temen saya sih yang kaya begitu udah ngga aneh di kampung mereka. Cuma saya yang udah dikasi tau begitu jadi panas dingin sampai pulang kembali ke Bandung."
"Ih Kang, serem amat sih! Tapi aman 'kan pas udah sampai di Bandung?"
__ADS_1
"Aman Teh, alhamdulillah.
"Alhamdulillah. Masih ada lanjutan ceritanya, Kang Jaka?"
"Udah Teh paling gitu aja. Makasi Teh, udah dengerin cerita saya. Sehat-sehat dan sukses ya buat Radio Rebel."
"Terima kasih kembali Kang Jaka. Makasi juga buat ceritanya, sehat selalu ya?" balasku menutup pembicaraan dan mematika sambungan.
"Serem juga ya cerita dari Kang Jaka barusan? Untung kampung temennya jauh dari sini, hehehe. Satu persembahan dari Kahitna dengan Cerita Cinta request dari Ibun Aksha menjadi penghujung pertemuan kita kali ini. Inoxu dan tim pamit, sampai jumpa lagi di Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Aku mematikan mic dan melihat ke arah pintu di mana Bang Win baru saja masuk. "Adul ngga siaran?" tanyanya.
"Ngga, Bang. Sakit dia," jawab Gia.
Aku melepas headphone dan memasukkan barang pribadiku ke tas, lalu menghampiri keduanya. Remi juga terlihat sedang membereskan barangnya.
"Itu, di bawah ada yang nyari Adul, cewe cantik," jelas Bang Win.
Aku terkesiap dan menoleh ke arah Gia serta Remi yang terlihat terkejut. "Duh Bang, suruh pulang ajalah," ucapku lirih.
"Loh kenapa? Orang temennya dateng masa disuruh pulang?"
"Yakan si Adul juga ngga masuk. Lagian nih, ada kejadian pas kemaren siaran terakhir sama dia. Bang Win sih langsung keluar studio, jadi ngga tau," timpal Gia. Ia lalu menceritakan kejadian saat siaran kemarin waktu kami meninggalkan Adul sendiri di studio dengan sosok yang hanya separuh badan.
Tok tok tok!
Tepat setelah bercerita, jendela diketuk dari luar. Aku, Gia dan Remi serentak mendekati Bang Win dan bersembunyi di balik punggungnya.
"Bang liatin Bang, dateng deh kayanya itu temen Adul," aku berkata pelan.
Dengan tenang, Bang Win maju ke arah jendela sedangkan kami bertiga diam di tempat saling berdekatan.
Srek!
Aku melihat Bang Win membuka jendela geser dan melihat sosok yang kami lihat saat siaran terakhir. Jantungku berdegup kencang secara otomatis karena membayangkan tubuhnya yang hanya separuh, melayang di luar jendela.
"Si an*jir! Rek naon ai sia? Nyingsieunan adi-adi aing?! Tong datang deui mun embung diduruk! Mantog! (si an*jing! Mau apa kamu?! Nakutin adik-adik saya?! Jangan datang lagi kalau ngga mau diba*kar! Pulang!)" seru Bang Win.
Mataku membola melihat sosok itu melayang mundur lalu terbang entah ke mana. Lututku lemas dan aku hampir terjatuh di lantai saat Bang Win menutup jendela.
"Beres-beres, kita pulang," ajaknya pada kami bertiga.
Dengan sekuat tenaga aku berjalan mengambil tasku sama seperti Gia dan Remi. Kami keluar dari studio, mengikuti Bang Win yang sudah lebih dulu berjalan ke luar.
__ADS_1