
"Teh Inoxu!" panggil Adul melambai ke arahku dari kursi plastik di dekat gerobak siomay Mang Udin.
"Hoi, kenapa kemarin ngga masuk?" tanyaku mengambil posisi di sebelahnya.
"Adul kemarin itu ke kampung, Teh. Ketemu sama keluarganya si Mumu."
"Sama Emak?" tanyaku lagi.
"Iya. Keluarganya kaget banget sama kelakuannya si Mumu. Kata mereka, pantes aja si Mumu baru masuk kerja tapi sering banget ngirim uang banyak."
"Terus gimana sikap mereka pas tau Mumu di penjara?"
"Ya pasrah atuh, Teh. Mau gimana lagi? Orang Mumu yang salah," jawab Adul sembari menerima piring berisi siomay.
"Neng mau juga?" tawar Mang Udin padaku.
"Ngga, Mang. Saya masih kenyang," jawabku tersenyum. "Eh, Dul, liat Bang Win ngga?"
"Tadi mah keluar sama Kang Utep. Tuh liat, mobilnya aja ngga ada di tempat parkir."
"Oh iya, ngga merhatiin," aku menepuk kening pelan. "Ya udah, Teteh masuk dulu ya?"
Adul mengangguk dan meneruskan makan, sedangkan aku berjalan pelan menuju Radio Rebel.
"Hoi, Xu! Sini," lambai Teh Hani di depan pintu masuk.
"Belum pulang, Teh?" tanyaku menatapnya.
"Belum, lagi nunggu di jemput. Eh iya, tadi siang, mantan kamu ke sini. Yang waktu itu hampir ribut sama Bang Win," lapor Teh Hani.
"Si kodok zuma?"
Teh Hani mengangguk, "Teteh denger dia nyari kamu. Karena kamu ngga ada, Bang Win yang akhirnya nemuin dia."
"Wooh! Emang ada apaan, Teh?"
"Ngucapin selamat buat pernikahan kalian. Dia dateng sama cewe, mungkin istrinya kali ya? Kan dia waktu ke sini nganterin undangan nikah."
"Bisa jadi," jawabku pendek. "Udah gitu doang?"
__ADS_1
"Yang Teteh denger sih gitu doang, tapi ngga tau lagi. Soalnya Teteh keburu masuk buat siaran," balas Teh Hani.
"Niat amat si kodok zuma sampe dateng ke sini," lirihku pelan sembari berjalan menuju sofa.
"Biasalah, dibalik pernikahan yang bahagia, kadang suka ada mantan yang mendadak caper," timpal Teh Hani ikut duduk di sebelahku.
Spontan aku tertawa keras mendengar perkataannya tersebut.
***
"Jadi, waktu kuliah saya kost sama temen-teman di sebuah rumah, Teh Inoxu."
"Jadi bukan semodel kost gitu ya, Teh Ayu?" tanyaku pada narasumber.
"Bukan. Pemilik rumah itu rumahnya di mana-mana. Nah satu rumah ini, disewain kamar-kamarnya buat para mahasiswi. Jadi ya rumah dengan banyak kamar modelnya."
"Oh iya ngerti, terus gimana?"
"Lokasinya di komplek pensiunan tentara. Nama jalannya di skip aja ya, Teh. Yang jelas, ada di daerah Sawojajar, Malang."
"Rumahnya gede, Teh Ayu?" tanya Adul.
"Lumayan, Kang. Tipe bangunan jaman dulu tapi ngga jadul-jadul bangetlah. Nah, saya itu dulu termasuk mahasiswa yang sering banget bolos. Waktu itu saya ketagihan cari uang sendiri dengan nyanyi sama band akustik saya dari satu kafe ke kafe lain."
"Hahaha! Ya gimana atuh, Kang? Udah ngerasain nikmatnya cari duit sendiri. Jadi kaya yang semangat aja gitu, pengen lagi.
Suatu malam, seperti biasa, saya masuk ke rumah kost paling akhir karena abis kerja. Temen-temen lain udah pada tau 'kan, rutinitas saya. Jadi mereka ngga pernah ngunci pager sebelum saya pulang. Diantara mereka ada yang suka tidur malem atau masih bangun karena ngerjain tugas. Pas pulang, ngga tau kenapa suasananya sunyi banget, Teh, Kang."
"Ya kan emang udah malem," sahut Adul.
"Beda Kang. Sepi karena udah malem sama hening karena sesuatu sampai daun-daun di pohon aja pada ngga gerak. Hawanya beda banget. Jadinya saya langsung masuk kamar aja langsung tanpa bersih-bersih ke kamar mandi. Cape juga kan? Abis kerja. Tapi ada temen yang tau kalau saya udah pulang.
Paginya, pas saya keluar kamar, temen-temen saya ngeliatin semua. Mukanya pada aneh deh."
"Temen-temen Teh Ayu demit?" tanya Adul spontan.
"Hih Kang Adul, sembarangan! Muka mereka aneh, karena kaget ngeliat saya masih pake baju yang biasa dipake nyanyi sama masih bermake-up full. Salah satu nanya, kenapa saya masih kaya gitu, padahal semalem dia liat saya masuk kamar mandi terus mandi.
Saya jawab aja kalau semalem saya ngga ke mana-mana sesampainya di rumah kost. Langsung masuk kamar dan tidur. Hebohlah semua temen saya, mana salah satu dari mereka ada yang ngetuk pintu kamar mandi, karena ngira saya di dalem."
__ADS_1
"Ish ngeri amat! Jadi nyerupain gitu ya, Teh?" tanya Adul bergidik.
"Kayanya sih gitu. Cuma temen-temen ngga pada sadar, sadarnya pas ketemu saya," jawab Teh Ayu.
"Mantap banget yak?" celetukku.
"Banget, Teh. Mana yang tau kejadian itu bukan satu dua orang aja. Banyakan, karena ada yang mau ke kamar mandi juga buat buang air. Makanya pintu kamar mandi yang isinya disangka saya diketuk. Anehnya itu, pintu kamar mandi kekunci dari dalem terus ngga ada yang nyautin."
"Seremnya sama kaya Radio Rebel ya, Teh?" tanya Adul pelan menatap ke arahku."
"Ssshhh!" Aku menatapnya tajam. "Jangan mulai!"
"Sekian cerita dari saya, Teh Inoxu dan Kang Adul. Makasi loh udah dihubungi. Seneng banget bisa berbagi cerita di Kisah Tengah Malam," sahut Teh Ayu.
"Makasi kembali, Teh Ayu, buat ceritanya. Sehat selalu ya?" balasku sebelum mematikan sambungan.
"Selesainya cerita dari Teh Ayu tandanya kita harus undur diri gaes! Satu lagu yang diminta oleh Minnie Lyy dari Lyodra Ginting dengan Sang Dewi akan menjadi penutup Kisah Tengah Malam kali ini. Adul dan Teh Inoxu pamit, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Adul mematikan mic dan melepas headphone. "Ngga tau aja si Teh Ayu kalau penunggu radio ini lebih dahsyat," ucapnya lirih.
Aku yang sedang melepas headphone menatapnya datar. Gia dan Remi pun melakukan hal yang sama.
"Kamu mah ya, Dul! Udah berkali-kali diingetin masih aja ngga sadar! Jaga omongan hoi!" seru Gia.
"Ah nyebelin lah, Adul mah!" timpal Remi. "Pulang aja hayu?"
Aku berdiri dan memasukkan ponsel ke dalam tas lalu berjalan ke arah pintu bersama Gia dan Remi.
"Teh," panggil Adul lirih.
"Hayu pulang! Ngapain masih di situ?" tanya Gia berbalik dan seketika terdiam. Melihatnya, aku dan Remi ikut membalikkan badan setelah sebelumnya saling menatap.
Tepat di kursi siaran yang tadi kududuki, ada sosok bergaun putih dengan rambut panjang yang menutupi wajah. Kepala sosok itu tepat berada di depan wajah Adul.
Kik kik kik? Kik kik? Kik kik kik kik!
Kengerian mulai menjalari setiap inci tubuhku melihat sosok tersebut memiringkan kepalanya berulang kali, ke kiri dan ke kanan, seolah sedang berbicara dan bertanya pada Adul.
"Hwaaaaa!" teriak Gia menuju ke arah pintu dan membukanya cepat. Aku serta Remi mengikutinya dan sempat melihat ke arah Adul yang mulai kejang-kejang di kursinya.
__ADS_1
Gubrak gubrak gubrak!
'Ah, mulai lagi," batinku seraya berlari menuju ke tangga.