
"Xu!" seruan dari belakang, seketika menghentikan langkahku karena aku tau jelas siapa pemiliknya.
"Remi!" pekikku seraya berlari menghampiri dan memeluknya erat. "Udah bener-bener sehat?"
"Alhamdulillah udah, Xu! Dokter bilang semua aman, jadi aku udah bisa mulai beraktifitas lagi."
"Alhamdulillah," ucapku penuh syukur.
"Makan siomay yuk? Udah lama ngga makan siomay Mang Udin," ajaknya seraya menarik tanganku pelan.
"Hayu!" aku merespon.
Kami berdua sudah lama sekali kehilangan momen seperti ini. Dulu, saat awal-awal siaran malam, biasanya kami menunggu Gia datang sambil memakan sepiring siomay.
"Aku beneran seneng banget liat kamu di sini, Rem," lirihku sembari menatap matanya lekat.
"Makasi banyak, Xu! Mama sama Teh Raylen bilang, kamu terpukul banget waktu aku di rumah sakit."
"Ya emang! Siapa yang kuat ngeliat sahabatnya kaya gitu. Aku ngga akan bisa kaya dulu kalau sampai kamu kenapa-kenapa, Rem," balasku memeluknya.
Ia mengusap kepalaku lembut. "Tenang, mulai sekarang kita bakal bareng terus, ade ipar."
Aku melepaskan pelukanku seketika dan memandangnya dengan mata menyipit. "Ah elah, udah bergerak juga akhirnya si Nyx."
Perkataanku membuat Remi tertawa sehingga aku tidak bisa untuk tidak ikut tertawa bersamanya.
***
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inoxu hadir dari studio lantai dua Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Selama satu setengah jam ke depan, saya akan menemani istirahat malam para pendengar semua dengan sajian kisah dari narasumber. Satu lagu permintaan Noviyanty Azzahra dari Cici Paramida dengan Wulan Merindu akan menjadi awal kisah kali ini. Stay tuned terus dan jangan ke mana-mana."
Aku mematikan mic dan mengalihkan pandangan ke Remi yang mengangkat jempolnya. Tidak lama kemudian, alunan lagu mulai terdengar dari headphone yang kupakai. Saat sedang memilih nomor telepon narasumber, pintu studio terbuka dan menampilkan sosok Bang Win.
"Aman, Rem?" tanyanya.
"Aman, Bang!" jawab Remi kembali mengangkat jempolnya.
Bang Win tersenyum dan berjalan ke arahku. "Aku mau keluar sebentar sama Utep, mau nitip apa?" tanyanya menunduk dan menggeser headphone yang menutupi telinga kananku.
"Nitip roti tawar boleh? Sama selai coklat kacang," jawabku.
__ADS_1
"Boleh, apa yang ngga buat kamu? Pergi dulu ya? Sebelum selesai siaran nanti, aku udah balik lagi ke sini," lanjutnya sebelum mengusap pipiku lembut lalu berjalan ke luar studio.
"Ah elah! Si Tomo kapan sih ke Indonesia? Ditunda-tunda mulu, jadi gemes sama pasangan yang lagi bucin-bucinnya," ucap Gia sinis.
Aku hanya terkekeh mendengar perkataannya dan memilih untuk menghubungi narasumber. Setelah terhubung, aku memintanya untuk menunggu sejenak.
"Selamat datang saya ucapkan untuk para pendengar yang baru bergabung. Satu kisah siap disajikan oleh narasumber kita yang sudah menunggu di ujung sambungan. Halo? Dengan siapa dari mana?"
"Halo Teh Inoxu, ini dengan Tara di Leuwi Panjang."
"Silakan Teh Tara," ucapku.
"Saya dulu tinggal di Jambi, Teh. Di sana kami baru saja menempati rumah kontrakan yang berjajar dua dan masih dikelilingi oleh hutan. Awal-awal tinggal di sana ngga ada kejadian aneh sama sekali, aman dan nyaman pokoknya. Satu-satunya gangguan waktu itu berasal dari anjing liar dan babi hutan. Ya namanya deket hutan kan?
Setelah satu bulan tinggal di sana, saya dan adik saya sekolah di sebuah rumah sekolah di mana ibu saya menjadi gurunya. Kalau siang, ayah datang untuk menjemput kami dari sekolah dan meninggalkan kakak sendirian di rumah.
Di suatu hari, setelah kami tiba di rumah sepulangnya dari sekolah. Kakak udah berdiri di luar rumah dengan muka ketakutan, Teh."
"Ada hewan liar?" tanyaku.
"Bukan. Kakak bilang, di rumah sebelah rumah kontrakan kami ada suara tawa seorang laki-laki, padahal rumah itu belum ada penghuninya. Ayah saya waktu itu khawatir kalau ada orang yang menyelinap masuk dan berniat jahat. Jadinya, beliau memeriksa rumah tersebut dan ternyata di sana ngga ada siapa-siapa. Sorenya, kakak saya jatuh sakit, demam tinggi dan muntah-muntah.
Seiring berjalan waktu, ada satu keluarga yang akhirnya menempati rumah tersebut dan hampir semua anggota keluarganya mengalami hal yang aneh. Mulai dari tidur terhimpit sosok seram, tau-tau dipeluk oleh sosok besar bertangan hancur pas mati lampu, sampai suara orang sedang mandi.
Pernah juga jam dua malam, pintu dapur tetangga saya ini diketuk. Karena penasaran, pemilik rumah memutuskan buat ngebuka dan beliau ngeliat sosok anak kecil yang terbang ke atas. Saya sendiri juga pernah ngeliat sosok anak kecil ini, Teh."
"Astagfirullah, serem banget ada anak kecil melayang-layang," celetukku.
"Serem banget emang, Teh. Saya ngeliat sosok itu pas lagi ngambil minum di dapur dekat kamar mandi. Anak itu ngeliatin saya terus. Pas saya liat balik, kakinya melayang. Dia sempet memegang kaki saya sebelum terbang ke atas terus menghilang. Ngga berapa lama, kaki saya bengkak. Kalau dari beberapa temen ayah yang bisa ngeliat. Mereka itu tinggal di pohon-pohon pisang tepat di belakang rumah."
"Untung sekarang udah ngga di sana lagi ya, Teh Tara?" tanyaku bergidik. Sulit membayangkan tinggal di rumah yang memberikan banyak gangguan.
"Iya teh, untungnya udah ngga di sana lagi, hehehe. Segitu dulu kisah dari saya, Teh. Makasi banyak udah diperkenankan berbagi kisah," ucap Teh Tara.
"Sama-sama ya, Teh? Sehat selalu," ucapku sebelum mematikan sambungan.
"Itulah cerita Teh Tara yang bikin saya merinding. Ngga kebayang gitu, rumah kan harusnya jadi tempat beristirahat yang nyaman, tapi kalau rumahnya serem kaya gitu, bukan rasa nyaman yang didapat tapi ketakutan sepanjang waktu. Satu lagu permintaan Chacha Aurellia dari Ilir 7 dengan Cinta Terlarang menjadi akhir dari Kisah Tengah Malam kali ini. Inoxu dan semua tim mohon pamit. Tetap jaga kesehatan, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Aku mematikan mic dan melepas headphone sebelum beranjak ke meja Remi. "Nyx jemput?" tanyaku langsung. Remi hanya nyengir dan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Ish, aku mah dijemput sama grab," timpal Gia dengan muka memelas sambil memasukkan tabletnya ke dalam tas.
Aku dan Remi terkekeh lalu membereskan barang pribadi kami sebelum ke luar studio. Saat kami bertiga tiba di lantai satu, Bang Win sudah menungguku dengan Nyx di sampingnya.
"Hoi!" seruku pada Nyx.
"Naon?" balasnya pendek sembari melambai ke arah Gia yang berpamitan pulang.
"Cepet dianter, kesian udah malem," ucapku sembari memberi kode mata ke arah Nyx.
"Iya kalem, ini mau. Yuk, Rem?" ajaknya. Mereka berpamitan dan meninggalkanku berdua dengan Bang Win yang langsung menyodorkan sebotol air mineral.
"Lagi ngapain?" tanyaku menatapnya yang sedang terlihat serius di depan laptop.
"Bikin laporan buat vendor, Yank. Cape?" tanyanya balik seraya mengusap kepalaku pelan.
"Biasa aja."
"Makan ketan bakar di Lembang, mau?" tanyanya lirih.
"Ya mau banget-lah!" seruku cepat. "Tumben ngajak ke sana."
"Lagi pengen suasana baru aja. Abis itu berendem ke Ciater yuk?"
"Hayu!" seruku lagi. "Ke rumah dulu berarti, ambil baju."
"Gampang. Bawa baju yang warna hitam itu ya?" ucapnya sangat pelan sembari menunduk. Wajahnya memerah dan ia tidak berani untuk menatapku.
Aku tertegun. Baju hitam itu adalah baju dinas para istri yang dipakai hanya di depan suami.
"Ish, pake malu-malu deh ngomongnya! Iya, bawa yang itu," balasku santai. Ia masih menunduk malu dan dalam seketika rasa gemas menghampiriku. Dengan cepat, aku mengigit lengannya keras hingga ia mengaduh.
"Sini bales gigit," tantangku.
Bang Win menatapku lekat. "Gampang banget buat aku kalau mau bales gigit. Tapi aku ngga mau."
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Aku ngga mau nyakitin kamu, yank," suaranya yang kembali lirih, membuatku semakin gemas dan hanya bisa memeluknya erat dari samping.
__ADS_1