
Semua mata para penyiar yang sedang duduk di sofa menatapku selama beberapa saat sebelum kalimat bernada ledekan meluncur keluar dari mulut mereka.
"Cie Inoxu tumben euy dateng jam segini."
"Disuruh yayangnya palingan mah."
"Kalau ada penyiar yang dateng pas bukan jam siarannya udah pasti ada apa-apanya ini mah."
"Traktir dong Xu!"
"Iya dong, makan-makan gitu."
"Eh, halalin aja langsung padahal mah ya?"
Aku meringis mendengar ucapan mereka dan tanpa ambil pusing ikut duduk di sofa. Perkataan mereka hampir semuanya benar. Aku memang muncul di studio sebelum jam makan siang karena permintaan Bang Win. Padahal, hari ini jadwal siaranku kosong.
"Oxu, udah dateng?" sapa Bang Win yang baru keluar dari salah satu studio.
"Win, cupu ah nanyanya! Kalau udah ada di sini ya berarti udah dateng dong," jawab Teh Opi yang disambut gelak tawa yang lain.
Mengabaikan semua itu, Bang Win berjalan menuju ke arahku. "Ayo?" ajaknya.
Aku berdiri tanpa tau akan diajak ke mana. Yang terpenting, menjauh dari kalimat ledekan yang berasal dari mereka. Dengan perasaan yang campur aduk, aku mengekor Bang Win yang berjalan ke luar stasiun radio ini sampai di pinggir jalan besar.
"Temenin saya makan di seberang ya? Abis itu temenin siaran di studio," ucapnya tanpa menoleh.
Aku mengangguk dan menunggu sepinya kendaraan yang lewat. Tepat saat akan menyeberang, Bang Win menggenggam tanganku dan tidak melepaskannya sampai kami duduk di sebuah rumah makan yang tidak jauh dari stasiun radio.
"Gia jadi resign?" tanyanya membuka pembicaraan setelah memesan makanan untuk kami berdua.
"Kayanya sih jadi. Nunggu hitungan waktu aja."
"Jadinya kamu siaran sama Remi aja?"
"Iya-lah Bang. Tapi ngga tau kalau nanti ada penyiar lain yang rada lowong dan bisa ngisi jadi produser Kisah Tengah Malam. Emang kenapa Bang Win nanya-nanya?" tanyaku balik.
"Pengen nanya aja," jawabnya pendek sembari meminum Teh Kotak. "Kamu bosen ngga ketemu saya terus?"
"Ngga sih, biasa aja."
"Ya udah. Kalau gitu nanti pas Gia jadi resign, saya ambil alih programnya."
"Makin sering ketemu dong kita?" Aku menatapnya tepat di mata dan mengalihkan pandanganku saat ia menatapku balik.
"Ya emang itu tujuannya."
"Alhamdulillah," balasku keceplosan yang dalam sekejap membuat wajahku terasa panas.
__ADS_1
Bang Win hanya terkekeh mendengar perkataanku dan mulai makan karena pesanan kami sudah diantar.
***
Aku duduk di kursi, tidak jauh dari meja Bang Win. Ia baru saja memulai siaran dengan memutar tema lagu sebuah film yang sedang tayang di bioskop. Aku masih memperhatikannya, saat ia menarik laci meja kerja dan mengeluarkan sebatang coklat yang lumayan besar, lalu memberikannya padaku dengan tersenyum tanpa berkata apa-apa. Hatiku mendadak terasa hangat oleh perlakuannya yang menyenangkan.
"Suka sama isi paketnya?"
"Suka," jawabku tersenyum dan kembali mengingat saat-saat aku membuka paket pemberian dari Bang Win. Sebuah foto candid diriku di belakang meja siaran dan diedit sedemikian rupa sehingga memunculkan kesan elegan dan estetik. "Saya baru tau kalau Bang Win berbakat."
"Dalam hal fotografi?" tanyanya.
Aku menggeleng, "Dalam hal mengambil foto orang secara diem-diem. Mirip paparazzi."
"Hahaha!" ia terbahak. "Saya suka liat kamu pas siaran. Kayanya menikmati banget."
"Woyadong! Kalau ngga, mungkin udah dari lama saya berhenti kerja."
"Kamu mau ikut siaran?" tanyanya tersenyum yang kembali membuat hatiku menghangat.
"Ngga ah, lain kali aja. Saya nemenin Bang Win aja dulu."
"Kalau nemenin, sini. Duduk deket saya, ngga akan saya apa-apain kok," ucapnya lirih.
Aku mengangguk dan menggerakan kursi dengan kakiku sehingga mendekatinya. Dalam beberapa menit, Bang Win sudah memulai siaran. Baru kali ini aku duduk begitu dekat dengan seorang pria sehingga dari tempatku duduk, aku bisa leluasa memperhatikan setiap lekuk wajah Bang Win.
Ucapannya membuatku nyengir dan menyandarkan punggung di sandaran kursi. Sebotol air mineral ia keluarkan dari dalam tas, membukakan tutupnya lalu menyodorkan botol itu ke arahku.
Sumpah! Baru sekali ini aku mendapat perlakuan sederhana namun menyenangkan dari lawan jenis. Dalam hati aku mengerti, kenapa Teh Lena sangat menyayangi Bang Win hingga membuatnya terikat di dunia sekian lama. Mengingat Teh Lena, menerbitkan kesedihan tersendiri. Hampir satu jam aku larut dalam pemikiranku hingga tidak sadar jika Bang Win sudah menutup siaran.
"Ngelamun aja sih?" tegurnya setelah melepas headphone.
"Ngantuk," balasku pendek.
"Mau jalan-jalan?"
"Mau," jawabku tersenyum.
"Oke. Tunggu bentar ya? Saya ke toilet dulu."
Aku mengangguk dan melihat sosoknya berjalan keluar dari studio. Saat sedang melihat ponselku, aku merasa seseorang sedang memperhatikan. Dengan cepat, aku mengangkat wajah dan tersentak melihat sosok Adul yang berdiri di dekat pintu.
Nafasku sesak dan seketika ketakutan memenuhi sendi-sendi saat menyadari jika sosok di hadapanku bukanlah manusia. Adul sudah resign dan tidak mungkin berdiri di sini dengan memakai seragam office boy.
"Ai sia, teu kapok keneh?! Hayang diduruk?! (kamu, ngga kapok juga? mau diba*kar?!)," sentakku keras. Sosok yang menyerupai Adul itu masih menatapku dengan lekat.
"Si an*ying, kalahkah melong!? Nyingkah! (si an*jing, malah ngeliatin!? menyingkir!)," sentakku lagi.
__ADS_1
Kaki dan tanganku mulai mendingin karena sentakanku tidak berpengaruh apa-apa.
"Teh Inoxu."
Gawat! Setan itu sekarang memanggil namaku. Dengan sisa keberanian terakhir yang aku miliki, aku kembali menyentaknya. "Nyingkah sia! (menyingkir kamu!)."
Sia-sia saja! Sosok itu tidak bereaksi apapun bahkan perlahan mendekatiku. Karena ketakutan yang teramat sangat, aku merasa lemas dan pada akhirnya semua gelap.
***
"Oxu?"
Suara seseorang yang memanggil, membuatku lambat laun mendapatkan kesadaran penuh. Suasana ruangan yang asing membuatku bingung selama beberapa saat sampai akhirnya aku mengenali jika ini adalah ruangan meeting.
"Minum dulu," seseorang yang ternyata Bang Win menyodorkan gelas yang berisi teh manis hangat. Setelah merasa cukup, pria itu mengambil gelas dari tanganku dan bersimpuh di sebelah sofa tempatku berbaring.
"Masih pusing?" tanyanya.
Aku menggeleng.
"Lemes?"
Aku mengangguk pelan dan kembali memejamkan mata, hingga sebuah sentuhan lembut di kepala membuatku membuka mata lalu berusaha duduk.
"Kamu kenapa? Adul bilang kamu tadi maki-maki dia, terus pingsan."
"Adul? Adul tadi di sini? Bukannya dia resign?" tanyaku balik sebelum menjawab pertanyaan Bang Win.
"Adul ngga jadi resign. Pusing katanya kalau ngga kerja, emaknya marah-marah mulu di rumah. Tadi dia masuk ke studio karena saya suruh buat fotokopi kertas yang ada di meja saya. Pas ketemu kamu, katanya kamu malah nyuruh dia pergi dan ngga lama kemudian malah pingsan."
Aku menutup wajah dengan kedua tanganku karena malu yang teramat sangat.
"Hei, kenapa Oxu?" tanya Bang Win lagi.
"Tadi emang saya ketemu Adul. Karena katanya dia resign, saya kira yang tadi masuk ke studio itu setan. Ya saya sentak biar pergi, pas ngga pergi-pergi juga, saya makin takut sampai akhirnya ngga inget apa-apa lagi," jelasku lirih.
Bang Win tertawa dengan keras. Ia bahkan menutup wajah selama beberapa saat. "Jadi kamu pikir Adul yang barusan itu setan?"
"Iya," aku mengangguk.
"Kamu tuh ya, ada-ada aja. Masih lemes? Mau pulang aja?"
"Katanya mau jalan-jalan?!" seruku bernada protes.
"Hahaha, iya. Yuk jalan-jalan."
Aku tersenyum dan bangun berdiri. Setelah merasa lebih baik, aku berjalan menuju ke arah pintu dengan Bang Win di belakangku.
__ADS_1