
"Oxu?" sapa Bang Win ketika aku baru saja masuk ke stasiun radio. Ia sedang duduk bersama penyiar yang lain di sofa.
"Sini, Xu," ajak Teh Hani menepuk sisi sofa kosong di sebelahnya.
"Kamu udah sehat? Kenapa masuk?" tanya Bang Win ketika aku duduk.
"Udah Bang, aman kok. Seharian kemaren udah istirahat. Tumben banget jam segini masih pada ngumpul," tanyaku.
"Owner abis dari sini, jadi personel masih lengkap. Mau pulang pada laper, jadinya pada mesen makanan," jawab Teh Opi.
"Saya pesenin makan?" tanya Bang Win masih menatapku.
"Ngga Bang, masih kenyang. Tadi di rumah udah makan."
Aku menghabiskan waktu beberapa saat kemudian hingga Remi dan Gia datang.
"Ke atas dulu ya?" pamitku pada semua yang masih makan dan diangguki oleh mereka.
***
"Nama saya Donny. Saya adalah salah satu relawan yang turun di bencana gempa bumi Cianjur. Saat kejadian, saya baru saja pulang dari rumah orang tua saya di Bogor dan mendapat panggilan dari organisasi yang saya ikuti. Tanpa sempat berganti baju, saya melajukan kendaraan saya menuju lokasi setelah berkoordinasi dengan relawan lain.
__ADS_1
Mendekati daerah terdampak, akses jalan tertutup karena jalan yang amblas dan juga retak sehingga tidak aman untuk dilewati. Jadinya, saya dan beberapa relawan yang baru datang, berjalan kaki menuju tenda pusat relawan.
Kami berbagi tugas dan membagi area evakuasi. Beberapa relawan mendirikan dapur umum, tenda pengungsian, rumah sakit darurat serta tenda logistik. Beberapa yang lain mulai menghimpun donasi untuk keperluan logistik serta obat-obatan.
Untuk relawan yang bertugas mengevakuasi, hal pertama yang kami lakukan adalah mendata para penduduk daerah terdampak sebelum memulai evakuasi. Area evakuasi dibagi menjadi beberapa ring atau lingkaran agar semua area bisa kami jelajahi secara bertahap dan tidak ada yang terlewat.
Karena kebetulan saya termasuk relawan yang awal datang, saya ditugaskan turun di ring satu di mana banyak rumah-rumah yang roboh. Banyak anak kecil yang menjadi korban karena jam kejadian bertepatan dengan waktu istirahat. Saya berkali-kali memohon dan berdoa semoga tidak ada korban yang kehilangan nyawa saat mengangkat reruntuhan.
Banyak orang tua menangis, berteriak dan bahkan pingsan karena anak mereka kemungkinan besar masih berada di bawah reruntuhan. Penggunaan alat berat masih dipertimbangkan karena ditakutkan akan menyebabkan runtuhan yang lebih parah.
Satu yang paling saya ingat adalah ketika saya sedang mengevakuasi sebuah rumah dan samar-samar mendengar suara tangis bayi. Dengan cepat, saya memanggil lebih banyak relawan karena ibaratnya kami berlomba dengan waktu dan malaikat maut. Terlambat sedikit tidak mustahil akan ada nyawa yang melayang.
Setelah melakukan penggalian selama beberapa saat, suara bayi tersebut semakin jelas. Sampai pada akhirnya, saya melihat sesuatu bergerak pelan diantara debu dan batu bata. Dengan usaha yang tidak mudah, kami bisa mengeluarkan bayi tersebut. Sayangnya, tepat di sisi bayi tersebut, tergeletak jenazah sang ibu dengan posisi menelungkup. Besar kemungkinan, sang ibu memeluk bayinya erat untuk melindunginya dari reruntuhan sampai akhirnya meregang nyawa.
Aku diam untuk mengambil nafas beberapa kali sebelum melanjutkan membaca cerita kiriman pendengar.
"Ada juga kejadian aneh yang saya alami di lokasi. Saat itu sudah lewat waktu isya. Evakuasi dihentikan karena sudah malam dan juga keterbatasan alat penerangan. Apalagi, setelah gempa terjadi, aliran listrik putus untuk waktu yang cukup lama.
Saya sedang berjalan kembali ke tenda pusat relawan dari area ring satu saat seorang pria memakai baju koko, peci dan sarung menyapaku. Ia memberitahukan jika ada satu jenazah di salah satu rumah yang saya lewati. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menghubungi relawan lain melalui radio panggil dan meminta mereka kembali ke area ring satu.
Di rumah yang ditunjukkan pria tadi, kami mulai menyisir pelan-pelan. Rumah ini memang belum kami evakuasi, karena menurut data, pemilik rumah beserta keluarganya sudah mengungsi di tenda pengungsian.
__ADS_1
Hampir setengah jam mencari, sesosok jenazah terlihat di antara reruntuhan. Saya segera mengambil kantong jenazah dan mengumpulkan tenaga kembali untuk mengangkat jenazah tersebut. Saat itu, saya tidak memperhatikan dengan baik. Namun, begitu jenazah diletakkan di kantong jenazah, saya bisa mengenali kain sarung serta baju koko yang dikenakan jenazah dan seketika ingat, itu adalah baju yang sama dengan yang dikenakan orang yang memberitahu saya akan adanya jenazah.
Jenazah-jenazah yang sudah kami temukan, dijadikan satu di sebuah tenda khusus sambil menunggu keterangan kehilangan dari keluarga. Dari situlah saya tau, jika jenazah berbaju koko itu adalah sorang guru mengaji anak-anak, yang kebetulan sedang datang bertamu ke rumah salah satu muridnya saat gempa terjadi.
Hari berikutnya, kami menghadapi ujian baru. Logistik, obat-obatan, perlengkapan mandi, serta selimut untuk para pengungsi sulit didistribusikan karena akses jalan yang rusak. Beberapa relawan membabat kebun yang masuk ke area ring dua untuk membuka jalan baru. Saat membuka jalan itulah, kami kembali menemukan beberapa jenazah yang tertimbun tanah dan juga pondasi jalan.
Dari jenazah yang kami temukan di kebun, ada satu jenazah yang membuat saya menangis. Saat jenazah lain ditemukan dalam kondisi memprihatinkan karena sudah cukup lama tertimbun, jenazah itu bersih sama sekali dan mengeluarkan wangi. Dari wajah, kulit, hingga baju yang dikenakannya masih terlihat baik. Entah amalan apa yang dilakukan almarhum semasa hidupnya sehingga diwafatkan dalam keadaan yang baik.
Sampai saat ini, kami masih melakukan evakuasi. Mohon doa dari semuanya agar tidak ada lagi korban jiwa dan proses evakuasi ini berjalan lancar."
Aku kembali terdiam selama beberapa saat sampai Remi memberi tanda untuk menutup siaran.
"Itulah cerita dari Kang Donny yang saat ini menjadi relawan bencana alam gempa bumi di Cianjur. Semoga pekerjaan para relawan semuanya dimudahkan dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Untuk para korban, semoga diberikan kekuatan, keiklasan dan juga kesabaran dalam menghadapi musibah ini. Saya Inoxu dan seluruh tim Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung mohon pamit. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Aku mematikan mic dan melepas headphone. Membaca cerita barusan membuat moodku turun. Sepertinya Remi, Gia dan Bang Win juga merasakan hal yang sama karena mereka tidak seceria biasanya.
"Hayu pulang," ucapku setelah mereka semua masih diam duduk terpaku selama beberapa saat. Ketiganya bangkit dan kami berjalan meninggalkan studio.
"Ini," kata Bang Win memberikan bungkusan.
"Hadiah?" tanyaku pendek.
__ADS_1
"Iya, Bandung sekarang selalu dingin tiap malam. Saya ngga mau kamu sakit lagi."
Aku tersenyum dan kembali menggenggam tangannya menuju ke mobil di tempat parkir.