
"Cie yang grogi, sampe jatuh gegara sepatu hak tinggi."
"Ngga apa-apa padahal pake sepatu keds, daripada jatuh."
"Jadi pengen liat si Inoxu pake kebaya."
Kalimat-kalimat tersebut menyapa telingaku ketika baru saja masuk. Di sofa, kembali berkumpul penyiar-penyiar senior yang sedang bersenda gurau. Semua tertawa seketika waktu melihatku menatap sinis.
"Naitu dia! Eh ngapain dateng jam segini? Disuruh yayang?" tanya salah satu di antara mereka.
"Aku justru mau nanya, ngapain jam segini belum pada pulang? Malah ngumpul di sini," balasku sembari duduk di pojok sofa. "Ini jamnya penyiar malam tau."
Teh Hani tersenyum sebelum menjawab. "Tadi abis rekaman suara Kapolsek, Xu."
"Buat apaan Teh?" tanyaku penasaran.
"Ya buat disiarin pas ditengah-tengah iklan. Kan himbauan."
"Maksud aku tuh, emang ada apaan sampai harus ngerekam himbauan," balasku.
"Kasus pembegalan meningkat akhir-akhir ini, Xu. Makanya Kapolsek dateng untuk ngerekam himbauan yang isinya jangan keluar malem kalo ngga penting-penting banget. Korbannya udah banyak," jelas Teh Hani.
Aku mengangguk tanda mengerti.
"Itu makanya penyiar-penyiar masih pada ngumpul karena abis nge-copy rekaman himbauan, buat disiarin di program masing-masing. Tuh, Gia juga udah di atas, lagi nge-copy," tambahnya lagi.
"Oya? Ish bukan bilang dari tadi Teh Hani mah. Ya udah, aku ke atas dulu ya, Teh?" pamitku berdiri lalu bergegas ke atas.
"Woi," sapaku pada Gia yang sedang fokus menatap monitor.
"Xu, sini deh!" ajaknya. "Dengerin." Gia memberikan headphone padaku. Keningku berkerut mendengar suara samar yang terekam.
"Barusan banget aku copy master rekaman, tapi beberapa kali didengerin ada noise gitu. Aku yang salah pas proses copy file atau gimana ya?" tanya Gia.
"Diem dulu," potongku, lalu kembali mengulang rekaman dengan volume lebih besar.
"πΆπ, ππππππ ...."
Nafasku tercekat dan seketika aku menoleh ke kiri dan kanan.
__ADS_1
"Kenapa, Xu?" tanya Gia heran.
"Ada suara minta tolong loh yang ke-rekam."
"Serius?" Wajah Gia mulai takut.
"Serius. Gi, tolong. Gitu," jawabku.
"Lah kok manggil nama aku sih?" Gia semakin takut.
"Mana tau. Apa mau nyoba copy ulang? Kali yang tadi noise ga sengaja," saranku lirih.
"Iya deh." Gia kembali melakukan proses copy rekaman yang memakan waktu sekitar lima belas menit. Mataku berpaling ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih.
"Udah nih," sela Gia setelah beberapa saat. "Hayu dengerin, aku takut dengerin sendiri."
Aku mengangguk dan menunggunya menekan tombol play saat entah kenapa tiba-tiba tubuhku merinding.
"ππ, πΆππ, ππππππ ...."
Gia dan aku saling menatap sebelum akhirnya melepas kasar headphone yang kami pakai dan berlarian menuruni tangga. Di sofa, semua orang sudah membubarkan diri sehingga tidak ada siapa-siapa.
"Argh!" teriakku dan Gia karena terkejut oleh suara dari belakang kami. Saat menengok, Mumu menatap kami berdua dengan tatapan heran.
"Ngga apa-apa. Kaget doang," ucapku sembari duduk di sofa dan diikuti Gia. Mumu sendiri kembali ke pantry setelah melihat kami berdua tenang.
"Xu! E*dan, itu suara siapa? Manggil-manggil nama kita loh!"
"Ngga tau, ga usah nanya aku! Aku aja kaget tadi dengernya. Mana suaranya lirih banget, sedih gitu bawaannya," jawabku.
"Ya udah kita nunggu di sini aja dulu deh, sampai yang lain pada dateng. Heran, tadi rame banget di sini. Tau-taunya udah pada bubar," tambah Gia.
Aku hanya mengangguk dan berusaha mengatur napasku yang masih belum beraturan.
"ππ ...."
Suara itu terdengar lagi dan membuatku gugup. Setengah mati aku menahan ketakutan agar Gia yang duduk di sampingku tidak ikut takut. Hatiku mencelos saat mengingat jika aku meninggalkan ponsel serta headphoneku di dalam tas di studio.
"ππ ..., πππ ππππππ ππππππ ππππ ππππ πππππππππ πππππ, π’πππ πππππ ππππππ ππππ ππππππ. πππππ’πππ ππππππ’π πππ’π ππππ. ππππππππ πππππ, πππππ’π ππππ ππππππππ ππππππ, ππ."
__ADS_1
Aku menegakkan tubuh untuk menyimak perkataan selanjutnya. Walaupun samar, aku merasa jika suara tersebut familiar.
"π°ππ ππππ ππππππ ππππππ ππππ ππππππ ππππ πππππππππ ππ ππππ-ππππ. πππππ-πππππ πππ’π ππππ πππππππππ ππππππ π’π, ππ? ππππ ππππππ, πππ π ππ πππππππ ππππ πππ πππππ ππππππ. π±ππππ ππ’ππππ. π°ππ ππππ ππ’πππππ ππππ πππππππππ π’πππ πππ’π ππππ.
πΌππππππ π’π ππ? ππππ πππ ππππ πππππ πππ. π°ππ πππππππ ππππππ ππππ πππππ ππππ ππππ π πππππππ πππππ π ππππ πππππππ. π°ππ ππππ ππ’πππππ πππππ πππ πππππ πππ’π ππππ. πΏππππππ πππ ππππππππ ππππππ ππππ πππππππ π ππππ. πΌπππππ πππππ πππππ πππ ππππ ππππππ. π±ππππππ ππππππ π’π, ππ? π°ππ πππππ ...."
Air mataku menderas seketika hingga aku menutup wajah dengan kedua telapak tanganku.
"Xu? Heh, kenapa?" tanya Gia mengguncang bahuku pelan. Aku masih menangis karena menyadari suara siapa yang barusan kudengar.
"Teteh, kenapa?" Mumu ikut menghampiriku. Sepertinya ia mendengar jika aku menangis.
"Oxu!" Bang Win memanggil dengan wajah yang tegang begitu masuk. Ia tercekat melihat air mata di wajahku.
"Ayo ikut," ajaknya. "Gia juga, ayo ikut."
"Mau ke mana Bang Win? Tas kami masih di atas, bentar aku ambil dulu," ucap Gia sebelum melesat ke lantai dua dengan di temani Mumu.
"Aku tadi denger suaranya. Katanya dia pamit," aku berkata di sela-sela isakan. Bang Win menggenggam tanganku dalam diam.
"Ayo Bang. Mau ke mana kita?" tanya Gia setelah kembali dari studio dan menyerahkan tasku.
"Rumah sakit. Remi kena begal waktu dalam perjalanan ke sini. Motornya mau direbut, tapi karena dia ngelawan, begal itu menyabetkan alat tajam ke kepala Remi. Kami dapet kabarnya beberapa saat lalu dan langsung membuat penyiar yang masih di sini nyusul ke rumah sakit," jawab Bang Win lirih.
Gia seketika memelukku erat. "Jangan bilang kalau suara yang tadi kita denger itu suara Remi."
"Ayo?" ajak Bang Win. "Mu, titip kantor ya? Saya udah minta beberapa penyiar ke sini buat nemenin. Kalau takut, tunggu bareng pak satpam aja di depan."
Mumu mengangguk dalam diam.
***
Setelah perjalanan ke rumah sakit yang menurutku lama, kami tiba di depan sebuah ruang ICU. Tidak ada yang diperbolehkan masuk karena menurut Teh Hani, Remi dalam kondisi kritis dan mengalami koma.
Aku dan Gia menatap mama Remi yang sedang menangis dan menghampirinya untuk menemani. Seketika wanita itu memeluk kami satu persatu dan meminta kami memaafkan kesalahan Remi.
Tubuh Remi yang ditutupi selimut dan terpasang banyak selang yang menyambung ke berbagai alat, dapat kulihat dari kaca kecil di pintu ICU.
"Aku ngga tau kamu bisa denger aku atau ngga. Tapi kalau kamu denger, tolong bangun, Rem. Kamu salah satu sahabat baik aku. Aku ngga akan bisa sama seperti dulu kalau sampai kamu pergi ngedadak kaya gini. Bangun Rem! Kita udah janji bakal sahabatan sampai tua. Sampai punya anak, sampai punya cucu, kelak. Tolong bangun! Semangat Rem, semangat!" ucapku lirih diantara air mata.
__ADS_1
Sosok Bang Win yang sudah berdiri di belakangku terlihat dari pantulan bayangan di pintu ICU. Ia memegang bahuku erat untuk menyalurkan kekuatan.