
"Mana Mumu?" tanya Emak Adul yang tiba-tiba sudah berada di pintu masuk Radio Rebel.
"Eh, Emak," seruku kaget dan langsung berdiri menghampirinya diikuti oleh Gia.
"Emak kok nanyain Mumu? Kan anak Emak si Adul," tanya Gia setelah kami menyalaminya.
"Entar dulu atuh, Emak cape mau duduk dulu," balasnya berjalan pelan menuju sofa. "Enak sofanya, empuk Neng."
Kami berdua hanya nyengir menanggapi perkataan emak.
"Emak nyari Mumu? Tadi dia keluar, kayanya mau beli makan deh," ucapku menatap wanita bewajah mirip dengan Adul itu.
"Emang ada apa sih, Mak? Gawat banget kedengerannya," timpal Gia.
"Bukan gawat sih Neng. Barusan Emak dapet telepon dari kakaknya Mumu. Katanya, Mumu ngga betah kerja di sini. Banyak setannya! Ah emang dasar Mumu, masa begitu doang takut," jawab Emak.
Aku dan Gia saling menatap dan sepakat dalam diam untuk tidak memperpanjang obrolan mengenai hal tersebut. Dari jauh aku melihat Adul yang sedang berjalan ke arah sini. Dengan segera, aku menyikut Gia pelan. "Mau ada pertikaian keluarga keknya ya, Xu?" lirih Gia.
"Emak, ngapain di sini?" pekik Adul yang masuk dengan sepiring siomay di tangannya.
"Eh, Dul. Itu siomay udah dibayar belum?" tanya Emak.
"Emang kenapa, Mak?" Adul menatap emaknya keheranan.
"Si Udin Mang somay, sering nagih ke Emak! Katanya kamu kalau beli senen-kemis!" sahut Emak.
"Senin-kamis? Wih hebat Adul! Buat buka puasa ya?" tanyaku.
"Boro-boro Neng! Sholat aja harus diguprak-guprak!"
"Terus senen-kemis apaan, Mak?" Gia penasaran.
"Makan senen bayar kemis!" sinis Emak yang sontak membuatku dan Gia tertawa, sedangkan Adul tersenyum malu-malu.
"Nanti gajian, dibayar," gumam Adul.
"Tah 'kan, hampir lupa Emak teh. Mana Mumu?" tanya emak kembali menatap Adul.
"Tadi lagi beli nasi goreng, Mak. Ada apaan sih?" Adul duduk di sebelah emak.
"Kakaknya Mumu ngadu, nelepon Emak. Katanya, Mumu ngga betah tinggal di sini, banyak setannya!" seru emak.
Aku, Gia dan Adul saling berpandangan satu sama lain. "Ya emang tiap tempat 'kan suka ada aja. Namanya hidup berdampingan sih, Mak. Mau gimana lagi," lirih Adul sembari menyuapkan sepotong siomay.
"Iya Emak mah tau! Tapi ngga ada sejarahnya manusia takut sama yang kaya gitu! Kalo ada, sini! Biar Emak kepret sekali!" seru Emak.
"Mak, jangan sembarangan ngomong deh," balas Adul menatap emaknya lekat.
"Halah! Kamu mah, Dul. Sama aja kaya Mumu, penakut!" geram Emak terlihat kesal.
Adul hanya menunduk, namun aku bisa menangkap raut ketegangan dari wajahnya. Matanya berkali-kali melirik ke arah tangga.
"Emak ikut kamu siaran atuh ya, Dul? Mumpung udah di sini, sekalian nungguin si Mumu. Emak juga pengen liat kamu kerja," sambung Emak santai yang entah kenapa membuatku was-was.
***
[Saya masih di luar studio sama Utep dan Kang Saija. Nanti balik lagi ke situ kalau kamu udah selesai siaran. Tungguin saya kalau belum datang, ya?]
Aku membaca perlahan satu pesan yang baru Bang Win kirim dan dengan cepat mengetik balasan.
[Iya]
"Teh, siap-siap," Adul memperingatkan yang kubalas dengan anggukan. Aku menatap monitor, mensetting volume mic sebelum menyalakannya. Setelah kunjungan Teh Rebel tempo hari, tidak pernah lagi terjadi gangguan setiap kami siaran hingga kami tidak perlu was-was lagi.
__ADS_1
Dari headphone yang kupakai, terdengar lagu pembuka program siaran Kisah Tengah Malam. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inoxu dan Adul hadir kembali menyapa para pendengar setia Kisah Tengah Malam dari studio lantai dua 12,08FM Radio Rebel Bandung. Di malam yang lumayan cerah ini, ijinkan kami berdua untuk menemani istirahat malam para pendengar semua dengan sajian kisah yang berasal dari narasumber.
Satu lagu permintaan Rifah Nuraeni Sani dari ST12 dengan Saat Terakhir. Sebagai info, ST12 merupakan kependekan dari Stasiun Timur 12 yang merupakan basecamp tempat di mana para anggota band ini berkumpul dan berlatih musik. Stasiun Timur no 12 sendiri merupakan salah satu nama jalan yang letaknya dekat dengan Stasiun Kereta Api kota Bandung. Untuk para pendengar semua, selamat mendengarkan dan stay tuned terus."
Aku mematikan mic dan menatap Adul yang sudah menghubungi narasumber.
"Apaan si Mumu. Orang di sini aman tentram gini. Mana yang katanya serem? Ada-ada aja itu anak," cetus Emak tiba-tiba. "Emang dasar anak eta teh penakut! Borangan!"
Aku hanya menatap Gia dan Adul yang perlahan terlihat tegang lalu kembali fokus mendengarkan alunan lagu di headphone. Setelah lagu hampir selesai, aku menyenggol tangan Adul dan memberi isyarat padanya agar mengambil alih siaran.
"Itulah dia Saat Terakhir dari ST12. Lagu ini mah nyes banget gitu ya gaes ya. Sedih gitu rasanya ditinggal orang terdekat. Kalau mau ngobrol cuma bisa dateng ke batu nisan aja. Eh jadi ngelantur, maap-maap. Di ujung telepon udah ada satu narasumโ."
"Heh Adul! Kalo ngomong teh jangan klamar-klemer gitu!" sentak emak dengan suara keras yang membuat kami kaget seketika. Gia terlihat panik dan berusaha memberitahu emak agar tidak bersuara keras selama jalannya siaran.
"Maap ya gaes ya, itu suara emak Adul masuk ke mic," Adul berkata lirih. "Udah ada narasumber kita buat malam ini. Halo, siapa ini? Tinggal di mana?"
"Halo Kang Adul dan Teh Inoxu. Ini dengan Lely di Mutumanikam."
"Silakan Teh Lely, mau cerita apa?" tanyaku.
"Mau cerita kejadian waktu nenek saya meninggal, Teh."
"Cepetan, Teh Lely!" seru emak lumayan kencang yang membuatku kembali kaget.
"Emak, plis diem dulu," mohon Gia sembari mengatupkan tangannya di depan dada.
"Mangga, Teh," aku mempersilakan.
"Kejadian ini sekitar tahun 2004 atau 2005 gitu, Teh."
"Yang bener dong! 2004 atau 2005?" tanya Emak berteriak.
"Duh, kaget saya, Teh," ucap Lely spontan. "Saya agak lupa soalnya udah lama banget."
"Waktu itu saya di rumah sendiri saat ibu saya ngabarin kalau nenek meninggal. Sedih, ngga percaya, kangen juga, karena udah berbulan-bulan saya ngga ketemu nenek karena seringnya nenek dirawat di rumah sakit. Karena rumah nenek yang lumayan jauh, saya ke sana bareng sama sodara lain yang rumahnya dekat dengan rumah saya.
Singkat cerita, kami sampai di rumah nenek dan langsung dibawa ke kamar oleh ibu saya untuk melihat jenasah nenek yang masih berada di kamar. Sekilas, saya ngeliatnya, nenek kaya lagi tidur aja gitu, Teh. Mukanya bersih, dan keliatan senyum.
Ngga lama, adzan magrib berkumandang. Saya disuruh ibu saya untuk sholat duluan di kamar, tepat di sebelah kamar nenek. Karena udah sering ke rumah nenek, saya biasa aja. Ngga ada rasa takut sama sekali."
"Ya kali takut di rumah nenek sendiri," timpal emak lagi dengan suara kencang.
"Mak, plis mak, Adul mohon diem dulu," ucap Adul menghampiri emak setelah melepas headphone yang dipakainya.
"Terus gimana, Teh?" tanyaku.
"Pas masuk ke kamar sebelah setelah wudhu, di luar jendela kamar yang belum ditutup, saya ngeliat sosok mirip nenek saya yang lagi pake mukena. Di luar jendela ini kebun-kebun pisang gitu, Teh. Sosok itu ngeliat ke arah saya sampai saya luar biasa takut dan lemes sampai-sampai mau teriak juga ngga bisa. Tapi, yang ada di pikiran saya waktu itu, cuma sholat, sholat, sholat.
Akhirnya saya nekat sholat dengan sosok mirip nenek saya di belakang saya, karena kiblat sholat di rumah nenek menghadap ke arah pintu kamar. Antara takut, gelisah, badan lemes, saya akhirnya berhasil sholat sampai selesai. Begitu selesai, badan saya lumayan agak ringan buat digerakin dan bikin saya cepet-cepet ngeberesin perlengkapan sholat. Karena penasaran, saya ngelirik ke arah belakang dan ngeliat kalau sosok yang menyerupai nenek saya itu udah ngga ada," cerita Teh Lely.
Saya ngga tau itu apa atau siapa yang menyerupai sosok nenek. Cuma yang jelas, saya luar biasa takut dan masih merinding kalau inget waktu itu," jelasnya.
"Itu teh jin yang nyerupain! Roh orang yang udah meninggal mah dikawal malaikat!" sentak Emak kembali yang membuatku sontak memegang dada karena kaget.
"Mak ...," mohon Adul pelan.
"Iyah-iyah, Emak diem," ketusnya.
"Terus Teh Lely gimana abis itu?" tanyaku kembali menghadap ke arah mic.
"Masih takut, Teh. Cuma lama-lama mah ilang sendiri. Alhamdulillah proses penguburan nenek saya lancar tanpa kendala apapun dan saya ngga ngeliat sosok tersebut sampai waktunya kembali ke rumah."
"Alhamdulillah. Saya bisa ngebayangin gimana kagetnya Teh Lely pas ngeliat sosok itu, padahal di kamar sebelah ada jenasah nenek Teteh ya?"
__ADS_1
"Ih kaget banget pokoknya, Teh Inoxu. Untungnya saya ngga sampai ketakutan banget sampai histeris," jawab Teh Lely. "Sekian aja Teh, cerita dari saya. Maaf kalau ngga menarik."
"Santai aja Teh, kan di sini tempatnya berbagi kisah. Makasi ya Teh Lely, sehat selalu," balasku.
"Sama-sama Teh Inoxu, sehat-sehat selalu juga ya," ucap Teh Lely sebelum mematikan sambungan.
"Itulah dia Teh Lely dengan pengalamannya ngeliat sosok yang mirip dengan neneknya yang udah meninggal. Satu lagu permintaan dari Rini Sa'a dari Coklat dengan Jauh akan menjadi ujung kisah kita kali ini. Inoxu, Adul dan tim mohon pamit, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Aku mematikan mic serta melepas headphone sebelum meraih botol air mineral dan meminum isinya yang tinggal setengah sampai habis. "Hayu pulang," ajakku pada yang lain.
"Di mana-mana kalau udah meninggal mah, ya udah aja! Putus semua urusannya sama dunia, jadi ngga mungkin kalau nampakin sosok ke orang lain." Emak masih membahas cerita Teh Lely. "Kalian Teh jangan takut sama gitu-gitu. Derajat manusia itu lebih tinggi! Nih, emak kasih tau ya? Kalau kalian takut, mereka bakal sering gangguin, tapi kalau kalian berani, mereka bakal ngejauh sendiri."
"Iya, Mak," jawabku tersenyum. Gia dan Adul menatapku dengan pandangan memelas.
Saat kami semua sedang memasukkan barang pribadi ke dalam tas, secara tiba-tiba speaker monitor memutar sebuah lagu.
๐ผ๐๐๐ ๐ฉ๐๐ ๐๐ฎ๐๐ช๐ฃ๐ ๐๐๐๐ช๐ ๐๐๐๐ ๐๐ค๐ฃ๐๐ ๐
๐๐๐ช ๐ ๐๐ฃ๐ฉ๐๐ฃ ๐จ๐๐ ๐ฃ๐ ๐จ๐๐ง๐๐ฃ๐ ๐ก๐ช๐๐ช ๐ฃ๐
๐๐ช ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ง๐ค๐ ๐๐ฃ, ๐๐ง๐ค๐ ๐ฃ๐ ๐จ๐๐ ๐ฅ๐๐จ๐๐ฃ
๐พ๐๐ฃ๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐๐ ๐ฉ๐๐ฃ๐๐๐ก๐ ๐๐ค๐ฃ๐๐ ๐ ๐๐๐๐
Kami semua berpandangan satu sama lain, termasuk emak. "Neng, kenapa itu teh lagunya meni serem gitu?" tanyanya pelan.
"Ngga tau, Mak. Ini keputer sendiri, ngga ada yang nyetel padahal," sambungku dengan rasa was-was. Aku melihat ke arah sepatu untuk memastikan tali sepatuku terikat erat jika harus tiba-tiba lari. Tanganku dengan sigap, mencekal tas di depan dada.
"Dul, hayu pulang aja, deh. Emak kok kedinginan di sini," ajaknya sembari berdiri. "Bentar, Emak minum dulu," tambahnya sebelum kembali duduk dan meminum air mineral gelas di meja Gia.
Aku dan Gia melangkah bersamaan menuju pintu studio, dengan Adul tepat di belakang kami saat terdengar lagi suara yang sudah familiar di telinga kami.
Kik kik kik kik!
"Huaa!" teriak Gia menarik tanganku cepat untuk segera keluar. Adul yang tidak kalah kaget mengikuti jejak kami.
"Adul! Jangan tinggalin Emak!" teriak Emak kencang ketika Gia membuka pintu.
Brak!
Baru beberapa langkah keluar dari studio, aku berhenti dan balik menarik tangan Gia. Kami menoleh ke belakang dan membuat Adul ikut berhenti berlari. "Suara apa barusan? Eh, Dul, Emak mana?" tanyaku cepat.
"Duh ketinggalan!" seru Adul menengok ke arah belakang, di mana pintu studio tertutup rapat. Pintu studio adalah pintu dengan kaca buram yang otomatis menutup sendiri setelah dibuka.
Kami menimbang-nimbang selama beberapa saat sembari berdiri, apakah harus kembali ke studio atau tidak.
"Pada ngapain?" tanya Bang Win dari arah tangga bersama Kang Utep.
"Biasa, Bang. Kali ini Emak ketinggalan di dalem," jawab Adul lesu.
Kang Utep dengan segera menuju ke pintu studio dan berusaha membukanya. Sesuatu menghalangi pintu dan membuat pintu tersebut susah dibuka, sehingga Kang Utep mendorongnya sekuat tenaga.
"Astagfirullah, Emak!" serunya ketika masuk.
Aku ikut melihat ke dalam studio tepat di belakang punggung Bang Win. Pemandangan di dalam menjelaskan tentang suara keras yang kami dengar.
Rupanya, saat kami berlari, Emak ikut mengejar kami dengan panik sehingga menabrak pintu studio yang otomatis menutup setelah Adul ke luar.
"Duh, Emak," lirik Kang Utep menggendong emak turun ke lantai satu.
Kami semua mengikutinya saat aku mendengar gumaman lirih Adul. "Alamat masuk ke kolam ikan lagi ini mah."
Perkataannya membuatku dan Gia sontak terpingkal-pingkal.
__ADS_1