Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 70


__ADS_3

“Saya terima nikah dan kawinnya Inoxu Aisyah Putri Suryanagara binti Kalantara Khatulistiwa Suryanagara dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan logam mulia 12,08 gram dibayar tunai ....”


***


Aku meringis bukan hanya karena udara dingin dan tetesan air hujan yang menerpa wajahku, namun juga karena ingatan yang membawaku pada waktu dua minggu yang lalu di sebuah gedung untuk melakukan proses ijab kabul serta resepsi.


Aku masih mengingat jelas momen di mana Bang Win menatapku dan aku juga melakukan hal yang sama padanya. Melihatnya dalam setelan jas pengantin membuat aku, Gia, dan Remi terpana karena terbiasa melihatnya berpenampilan kasual. Penampilannya di hari itu sungguh jauh berbeda! Sebelumnya, Gia dan Remi yang mendampingiku pun sama terkejutnya saat melihat penampilanku. Aku tampil total di hari itu dalam balutan kebaya hitam berenda dengan taburan mutiara putih.


Gedung tempat akad nikah dan resepsi dilaksanakan adalah hadiah dari Teh Rebel. Pemilik Radio Rebel tersebut menyediakan gedung, lengkap dengan dekorasi pelaminan, stage live musik sampai katering full dengan beberapa stan makanan tambahan. Selidik punya selidik, pada awalnya Bang Win memang bermaksud menyewa gedung milik Teh Rebel tersebut, sehingga dari awal sudah tercantum dalam undangan pernikahan kami. Namun, Teh Rebel membebaskan semua biaya dan menganggapnya sebagai hadiah pernikahan. Sayangnya, beliau tidak bisa ikut hadir karena sedang berada di Kanada bersama keluarganya untuk liburan musim dingin.


Tepat setelah proses ijab kabul, kami menjadi ratu dan raja seharian yang harus berdiri di atas pelaminan. Karena tidak terbiasa, aku dan Bang Win sepakat untuk mengganti sepatu kami dengan sepatu keds yang akhirnya sangat membantu, ketika kami turun langsung dari pelaminan untuk menyapa teman-teman dan kerabat yang hadir. Tidak lupa juga, kami ikut bernyanyi di saat beberapa rekan musisi datang dan menyumbang lagu di acara pernikahan kami.


Momen menyedihkan terjadi di sore hari saat mama dan Nyx serta keluarga besar Bang Win, termasuk keempat mertuaku berpamitan pulang. Setelah menikah, aku akan tinggal di sebuah rumah milik Bang Win yang letaknya tidak terlalu jauh dari Radio Rebel.


Setelah meyakinkanku jika ia akan menjaga mama sebaik mungkin, Nyx menepuk pundak Bang Win dan memintanya juga untuk menjagaku dengan baik. Hal yang aneh, karena Nyx bersikap layaknya seorang kakak yang kehilangan adiknya tapi dalam momen yang membahagiakan.


Kekalemannya hari ini kurasa karena hadirnya Remi yang sudah terlihat pulih seperti sedia kala. Banyak hal yang kusyukuri dalam diam. Berkumpulnya kedua keluarga besar, teman-teman dan sahabat yang hadir dalam kondisi sehat tanpa kurang satu pun serta untaian doa untuk mengawali kehidupan kami yang baru.


Kecanggungan terjadi saat kami tiba di rumah Bang Win dalam kondisi hanya berdua. Kami memulai pembicaraan dengan Bang Win yang berbahasa formal dan aku yang berbahasa santai. Walaupun untuk sebagian orang terasa aneh karena Bang Win masih kerap berbicara formal padaku, namun itu bukan suatu masalah. Aku tidak menuntutnya berubah, begitu pun dia.

__ADS_1


Kami menghabiskan waktu dengan melakukan ibadah bersama, lalu memakan makanan katering yang kami bawa dari gedung dan berbicara ringan hingga waktu tengah malam. Dan ya, keintiman selanjutnya terjadi begitu saja seperti air mengalir walau pun terasa menegangkan. Pada akhirnya aku menyadari jika aku menyukainya ritual malam pertama kami.


"Ngapain senyum-senyum sendiri Nyonya Win?" sapa seseorang tepat di pintu masuk yang tidak lain adalah suamiku sendiri.


"Ini Pak, mau ngejemput bapak Win Patriadi. Saya ada janji makan siang sama beliau, sekalian mau nganter neneknya ke bandara," sahutku datar yang membuatnya tergelak.


"Sini masuk, di luar udah gerimis," sambungnya seraya merangkulku.


Gubrak gubrak gubrak!


Mata sinis Kang Utep dan Adul yang serempak mengguncang-guncangkan kursi resepsionis menjadi hal pertama yang aku lihat begitu masuk.


"Iya nih Teh Inoxu. Kan siaran mah ada Adul kali ah, cuti aja sih yang lama," timpal Adul dengan wajah memelas. "Bikin kepengen ikutan nikah aja jadinya."


"Temenin saya siaran," ucap Bang Win mengabaikan ucapan mereka lalu menatapku lembut serta melepas rangkulannya di bahuku. Sebagai gantinya, ia menggandengku untuk masuk ke studio.


Aku duduk tepat di kursi sebelah Bang Win saat ia siaran. Tangannya kanannya yang tidak lepas dari tanganku, terasa menggenggam kuat, saat membacakan pesan dari para pendengar Radio Rebel yang mengucapkan selamat atas pernikahan kami dengan diiringi sebaris doa agar menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah.


"Mau jalan-jalan habis dari bandara?" tanya Bang Win cepat setelah mematikan mic saat lagu permintaan pendengar diputar.

__ADS_1


"Mau!" seruku nyengir.


"Mau ke mana?"


"Ke mana aja asal sama kamu," balasku to the point yang dibalas dengan kekehan. Perlahan ia bangun lalu menunduk merangkulku dari belakang kursi tempatku duduk.


"Makasi udah hadir ke dalam hidup aku," ucapnya lirih dan terbata-bata.


"Cie, mulai aku-aku sekarang," sindirku yang berakhir dengan tangannya yang mengacak rambutku lembut.


Aku kembali tersenyum saat Bang Win memulai kembali siarannya. Sesekali menahan tawa, saat ada pembaca yang kecewa karena kabar pernikahan kami. Dalam waktu satu jam, siaran selesai dan Bang Win menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Aku lebih tenang sekarang. Bisa jagain kamu full kalau siaran malem," lirihnya dengan mata terpejam.


"Woyadong! Kali tega ngebiarin aku sendirian," balasku santai.


"Ngga. Selama ada aku, kamu ngga akan pernah sendirian lagi. Ngga akan pernah, Oxu," tambahnya.


Aku mendekatkan wajahku dan mengecup dahinya lembut. Di luar dugaan, Bang Win malah membalasnya dengan kecupan di bibir. "Kamu milik aku seorang," sambungnya singkat.

__ADS_1


Aku menatapnya terharu. Sungguh, hatiku penuh dengan rasa haru walau pun tidak kutunjukkan.


__ADS_2