
"Teh? Teh Ino, bangun. Teh?"
Suara Mumu yang awalnya terdengar samar, lama-kelamaan semakin mengencang di telingaku dan membuatku mengerjapkan mata. Kepalaku sakit walau pun hanya tinggal menyisakan sedikit rasa pusing.
"Teteh kenapa, Mu?" tanyaku ketika bisa melihat sosoknya dengan mulai jelas.
"Teteh kejatuhan buah mangga di belakang. Mumu kaget banget waktu liat Teteh pingsan."
"Bang Win udah ke sini belum? Jam berapa ini?"
"Udah, Teh. Bang Win keluar lagi mau nyari obat buat nyadarin Teteh. Sekarang hampir jam dua," jawab Mumu dengan tatapan khawatir.
Aku bergerak untuk kemudian duduk. Suasana Radio Rebel sudah hening. Di pos satpam, terlihat jika pak satpam sedang tertidur di kursinya.
"Ponsel Teteh mana ya, Mu?" tanyaku sembari mencari-cari di jaket hoodie yang ku kenakan.
"Ponsel Teteh? Mumu ngga liat ada ponsel pas Teteh pingsan," jawab Mumu lagi dengan kebingungan.
"Yah, padahal Teteh mau ngabarin orang rumah kalau pulangnya bakal telat," gumamku menyandarkan punggung. "Eh, Mu, Teteh haus nih. Boleh minta tolong ambilin minum ngga?"
"Oh iya, Teh. Mumu ambilin dulu ya bentar," sahutnya seraya beranjak. Ketika ia mulai berjalan ke arah pantry, dengan cepat aku bangkit lalu memu*kulnya dengan tas milikku, hingga ia jatuh tertelungkup.
Bug!
Bug!
Bug!
"Oxu! Oxu buka pintunya!" teriakan Bang Win dari luar pintu tidak membuatku berhenti. "Oxu! Astagfirullah, Oxu! Berhenti yank!"
__ADS_1
Entah bagaimana, setelah beberapa menit Bang Win bisa membuka pintu depan dan langsung berlari ke arahku diikuti oleh Kang Saija, Kang Utep serta pak satpam.
"Oxu! Kenapa Mumu kamu pukulin?" tanya Bang Win sembari menarik tubuhku ke belakang.
"Telpon polisi! Dia salah satu begal yang udah bikin Remi celaka!" teriakku lantang.
Semua yang ada terpana dengan perkataanku. "Duduk dulu sini," ajak Bang Win kembali menarikku dan mendudukkanku di sofa.
Mumu sendiri yang keadaannya sudah acak-acakan, dibantu berdiri oleh pak satpam dan ikut duduk di sofa.
"Coba jelasin, Inoxu. Maksud kamu tadi apa?" tanya Kang Saija.
"Saya udah heran dari awal, waktu polisi bilang kalau mereka udah menangkap pelaku pembe*galan Remi. Dari yang saya denger, pelaku ada dua, tapi entah kenapa hanya ada satu pelaku yang ditangkap. Asumsi saya, pelaku satunya masih bebas berkeliaran.
Keanehan kedua saat berbicara dengan Remi setelah sadar. Katanya, malam itu ia melewati jalan alternatif lain untuk sampai di Radio Rebel lebih cepat. Jalan alternatif itu bukan jalan yang diketahui masyarakat banyak. Rata-rata hanya penduduk sekitar Radio Rebel aja yang tau karena jalan tersebut harus melewati satu halaman rumah penduduk, jadi mustahil kalau ada begal yang nekat nyari korban di sana. Bisa babak belur nanti sama warga. Dari situ saya sempet bertanya-tanya, jangan-jangan begal yang mencelakai Remi tau jelas jalan tersebut, termasuk aktifitas warga di sekitar sana sehingga tau jam yang pas untuk mulai beraksi.
"Bohong! Saya ngga mukul Teh Ino. Teh Ino kejatuhan mangga," sahut Mumu.
"Heh Mumu, saya jatuh tepat di depan pantry! Pas banget di depan showcase, saya liat jelas bayangan kamu waktu mukul saya. Lagian pohon mangga jauh dari situ, kamu pikir buah mangga bisa terbang sejauh lima meter terus kena kepala saya secara ngga sengaja?! Pinter dikit kalo mau bo'ong!" sentakku.
"Ini fitnah! Mumu bisa laporin Teh Ino ke polisi," tambahnya lagi dengan suara geram.
"Sok aja! Laporin sana, biar sekalian polisi nyelidikin lagi kasus Remi!" balasku sengit.
"Mu, bisa jelasin? Tadi saya ke sini, tapi kamu bilang Oxu udah pulang. Tapi nyatanya, dia masih di sini. Saya sama Kang Saija dan Utep sampai ke rumah Oxu buat mastiin dia udah pulang atau belum. Kenapa kamu bohong?" tanya Bang Win dengan nada menekan.
"Nah, kan?! Ketauan boong dia! Dia bilang Bang Win mau ke sini lagi karena beli obat dulu ke luar. Tapi aku liat, pintu depan tadi dikunci! Emang bu*suk ya si Mumu! Kamu mau pulang ke kampung juga karena takut keburu keciduk 'kan? Bukan karena takut digangguin penghuni sini!" seruku lagi.
"Utep, telepon polisi," pinta Kang Saija pelan yang langsung diangguki oleh Kang Utep. Mumu sendiri menunduk dan tidak bisa berkutik di bawah tatapan tajam kami semua.
__ADS_1
***
"Terus gimana, Xu? Jadi beneran si Mumu yang ikut ngebe*gal Remi?" tanya Gia tidak percaya.
"Iyah. Pas polisi dateng terus ngegeledah gudang sama kamar dia, ketemu tuh barang-barangnya si Remi. Selain itu ada juga beberapa tas sama dompet yang ngga tau punya siapa."
"Lah, penja*hat kambuhan dia?" tanya Gia lagi.
"Kata polisi sih iya, dia udah masuk DPO (daftar pencarian orang) terkait kasus be*gal sama penco*petan," jawabku.
"E*dan ya dia! Selama ini ternyata kita nampung penja*hat di sini. Pantesan Teh Nday nampakin diri mulu ke dia doang. Eh terus, gimana Adul sama Emak?"
"Adul sama Emak dateng pas abis subuh. Mereka ngamuk dan ngejam*bak si Mumu berkali-kali. Nyx yang ngejemput aku juga hampir aja ngehan*tam Mumu," jelasku.
"Wih, Nyx mirip kamu yak? Diem-diem tapi sekalinya turun tangan, sangar banget!" seru Gia. "Nah, kamu ngapain jam segini udah di sini? Aku mah karena mau rapat sama produser siaran lain," kata Gia menjelaskan duluan.
"Mau hunting persiapan nikah," timpal Bang Win dari arah belakang.
"Cie, lancar ya sampai hari H," seru Gia lagi.
"Aamiin," lirihku dan Bang Win kompak. Aku tersenyum dan bangkit berdiri setelah melihat Bang Win mengangguk samar. "Gi, pergi dulu ya?" pamitku yang direspon dengan lambaian tangan.
"Harusnya saya udah terbiasa dengan sikap galak kamu, tapi nyatanya saya masih aja kaget," ucap Bang Win ketika kami berjalan pelan menuju mobilnya.
"Terus? Nyesel? Takut?" tanyaku menatapnya dengan rasa penasaran.
"Sama sekali ngga. Saya suka liat kamu galak. Lucu dan sang*ar dalam waktu bersamaan. Entah kenapa hal itu malah semakin bikin saya tambah sayang sama kamu. Ada aja yang bikin saya jatuh cinta setiap harinya," jawab Bang Win dengan suara pelan dan menunduk.
"Saya udah ngga sabar nunggu saat-saat setelah kita nikah," tambah Bang Win yang seketika membuat wajahku terasa panas.
__ADS_1