
Aku berjalan pelan dengan tangan kananku dalam genggaman tangan Bang Win. Malam ini, udara terasa lebih dingin dari biasa karena hujan baru saja berhenti mengguyur kota Bandung setelah turun seharian.
"Kalau habis siaran aku belum beres, masuk ke studio aja ya? Mau beresin laporan daftar vendor baru buat dikirim ke Kang Saija," ucap Bang Win.
"Iya," jawabku pendek. "Kalau beres duluan, masuk ke studio aku juga ya? Adul mulai kumat lagi mulutnya, takut kejadian kaya kemaren lagi."
Bang Win hanya tersenyum dan mengangguk. Tepat setelah masuk, di sofa sudah duduk Gia, Remi dan juga Adul. Aku ikut duduk bersama mereka sedangkan Bang Win langsung masuk ke dalam studio setelah menyapa mereka bertiga.
"Siaran minggu depan aku ijin yak?" ucap Gia.
"Kenapa, Teh? Mau liburan?" tanya Adul.
"Ngga, Tomo mau dateng sama keluarganya," jawab Gia tersipu.
"Cieeee!" Aku dan Remi serentak menggoda.
"Cie-cie! Tanya dong, Xu. Siapa yang tadi dianterin sampe pintu masuk. Dikasih gantungan kunci boneka pula," Gia nyengir.
"Sapa emang?" tanyaku penasaran.
"Noh!" tunjuk Gia dengan dagunya pada Remi yang sontak mengangkat gantungan kunci boneka kecil dengan tulisan I love Bali.
"Wah parah si Nyx, aku aja seumur-umur ngga pernah dibawain oleh-oleh kalau dia abis dari luar kota," gerutuku.
Remi hanya tertawa ngakak dan menggoyangkan gantungan kunci itu ditangannya.
"Si Nyx bisa romantis juga ya? Dia kan kalo ke cewe hampir sama kaya Bang Win dinginnya," timpal Gia.
"Ya kalo udah ketemu orang yang pas mah ya bisa atuh," balas Adul.
"Iya sih," jawabku. "Eh Dul, kamu sendiri gimana? Udah punya pacar belum?"
"Ah gamau pacaran dulu Adul mah. Belum kuat modal. Selain itu, kayanya ribet aja gitu, harus perhatian, harus bisa nemenin terus. Belum kalo berantem, bikin sakit hati," jawab Adul lirih.
"Tapi udah pernah pacaran?" tanya Gia.
"Ya udahlah. Sama karyawan toko kain sebelah tuh. Tapi putus soalnya Adul ngga bisa ngikutin mau dia."
"Mau dia emang aneh-aneh?" tanyaku lagi.
"Ya kalau kaya Teh Inoxu, Teh Gia atau Teh Remi yang oke-oke aja diajak makan pinggir jalan, dia mah ngga mau. Maunya di mall, atau ke mana gitu. Uang Adul kan ngepas buat sehari-hari, itu juga dibagi buat emak. Butuh modal gede deh pokoknya!"
"Ya salah ketemu cewe kalo gitu, mah," timpalku. "Cewe yang baik ngga akan ngeberatin dan tau situasi. Tapi, cowo yang baik juga ngga akan mau liat cewenya kesusahan. Jadi ya sama-sama aja gitu."
"Pengen deh dapet cewe yang ngga banyak tingkah, ngga banyak ngomong, ngga banyak permintaan, nurut kalo dikasih tau, sopan, dan mau dengerin Adul," lanjut Adul.
Aku dan yang lain hanya nyengir mendengarnya ketika tepat begitu Adul selesai bicara, sebuah suara yang familiar terdengar.
Kik kik kik kik kik!
Setelah saling berpandangan satu sama lain selama sesaat, kami semua langsung bangun berdiri dan bergegas menaiki tangga dengan setengah berlari.
"Euh, mulutnya si Aduk emang luar biasa!" maki Gia pelan di sela-sela napasnya yang terengah.
***
"Standby! 3, 2, 1, on air!" Remi mengangkat jempolnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, hadir kembali menemani para pendengar semua dari studio lantai dua Kisah Tengah Malam Radio Rebel Bandung, dengan saya, Inoxu dan—."
"Adul ya gaes ya," sambung Adul.
"Yang akan menemani istirahat malam para pendengar semua dengan sajian kisah dari para narasumber," ucapku melanjutkan pembukaan siaran.
"Selama satu setengah jam ke depan, akan ada kisah yang diceritain di sini dan dijamin akan membuat kamu-kamu semua ketakutan, sedih, tertawa, terpana dan terhentak-hentak," lanjut Adul. "Satu lagu permintaan Aisma Zhe Zhe Zhezhe dari Didi Kempot dengan Penyiar Radio akan Adul putarkan setelah ini. Jadi jangan ke mana-mana ya gaes ya," sambung Adul lagi.
Adul mematikan mic dan mulai meliuk-liukkan badannya. "Enakeun lagunya ya, Teh?" tanyanya yang hanya bisa kuangguki karena aku sedang menghubungi narasumber dan meminta untuk menunggu sejenak. Setelah lagu hampir selesai, aku bersiap kembali untuk menyalakan mic.
"Itulah tadi satu lagu dari Didi Kempot dengan Penyiar Radio. Selamat datang saya ucapkan untuk para pendengar yang baru saja bergabung. Di ujung saluran, kita sudah tersambung dengan narasumber untuk malam ini. Halo, dengan siapa di mana?"
"Halo, Neng Inoxu dan Kang Adul. Ini dengan Ibu Chyrin di Pasteur."
"Sirin?" tanya Adul.
"Chyrin. C-H-Y-R-I-N," jawab narasumber.
"Susah bener ya, Teh, namanya? Anak generasi sekarang kayanya," ucap Adul pelan melihatku.
Aku memu*kul pundak Adul sebelum berbicara. "Mangga ibu, mau cerita apa?"
"Mau cerita tentang kisah rumah tangga saya, Neng."
"Bagus, Bu! Sekali-kali gitu kan? Cerita yang masuk jangan horor mulu. Ga tau aja pendengar mah, kalau setan di sini pada seneng digibahin. Abis itu pada muncul deh sambil ketawa-ketawa," celetuk Adul yang membuatku membolakan mata ke arahnya.
"Saya menikah sudah 22 tahun. Suami saya adalah orang yang sangat supel dalam pergaulan. Temennya banyak, baik laki-laki maupun perempuan. Saya udah sering banget ngingetin suami saya untuk membatasi pergaulan dengan lawan jenis, karena takut menjadi salah paham di kemudian hari. Kekhawatiran saya bukan tanpa sebab. Saya pernah didatengin seorang wanita yang bertanya banyak hal tentang rumah tangga kami. Ya saya jawab, bahwa rumah tangga kami baik-baik aja. Suami saya itu seorang pendengar yang baik, makanya banyak yang curhat dan betah ngobrol sama dia.
Suami saya ini hobinya nyanyi dan dulu sering banget ke tempat karoke. Walau ngga sampai punya hubungan sama perempuan-perempuan yang kerja di sana, tapi kebanyakan dari mereka suka sama suami saya. Katanya, suami saya bukan tipe pengunjung yang sering raba sana sini. Paling cuma ngegombalin aja."
"Ibu tau dari mana? Pernah nemu chat di ponsel bapak atau gimana?" tanyaku.
"Eh, bagus atuh, Bu. Suami ibu berarti orangnya terbuka," timpal Adul.
"Bagus dari mana? Yang ada, itu jadi senjata buat suami si ibu. Nanti kan ibu jadi mikir, oh iya suami saya walaupun kaya gitu, buktinya dia selalu cerita, berarti ya bener ngga ada apa-apa. Karena kalau ada apa-apa pasti ditutupi. Nah, orang tipe kaya bapak ini, pinter main trik dan ngambil celah dari situ," jelasku.
"Bisa jadi, Neng. Cuma sekarang suami saya udah ngga pernah lagi pergi ke tempat karoke."
"Alhamdulillah," ucapku dan Adul kompak.
"Tapi sebagai gantinya, dia suka nyanyi di aplikasi karoke gitu. Saya sempet ngga suka karena dulu juga pernah sempet main di aplikasi yang sama. Di aplikasi itu, banyak banget orang-orang yang berkomitmen menjadi suami istri online, dan itu udah biasa banget. Namun, suami meyakinkan saya kalau itu ngga akan terjadi."
"Wah, jangan-jangan nanti kisahnya kaya pelawak itu tuh, Teh. Yang istrinya ketemu mantan di aplikasi nyanyi," potong Adul.
"Ya semacam itulah, Kang Adul," balas ibu Chyrin. "Ucapan suami saya cuma sekedar ucapan aja. Buktinya, tiga bulan belakangan ini, dia menjalin hubungan dengan seorang wanita yang dia kenal dari aplikasi tersebut."
"Astagfirullah," kataku spontan.
"Suami saya menjalin hubungan dengan seorang wanita berkebangsaan Jepang."
Adul langsung menengok ke arah Gia. "Teh, bilangin ke Tomo, kasi tau warganya yang cewe jangan jadi pelakor lintas negara. Di luar negeri pelakor juga ada ya, Teh?" tanyanya kembali kepadaku.
Aku hanya mengangguk mengiyakan seraya menahan tawa mendengar ucapan Adul.
"Terus gimana, Bu?" tanya Adul.
"Mereka berkenalan dua bulan setelah anak sulung saya meninggal dunia di usianya yang ke-18 tahun."
__ADS_1
"Innalillahi wa innailaihirojiun," seruku. Gia dan Remi terlihat menggeleng pelan di kursi mereka masing-masing.
"Luka karena kehilangan anak belum juga sembuh, sekarang saya harus menghadapi kenyataan baru yang menimpa rumah tangga saya. Saya bertahan dengan cinta dan berjuang dengan luka. Bahkan saya ngechat langsung wanita itu. Sayangnya itu keputusan yang salah karena jawaban dari wanita itu semakin membuat saya terluka. Dia mengatakan dengan jujur jika ia mencintai suami saya.
Saat saya menanyakannya pada suami. Suami saya dengan mantap menjawab jika ia memang mau menikahi wanita tersebut. Walaupun katanya posisi saya ngga akan berubah di dalam hatinya, tapi tetap aja, sebagai seorang istri, posisi saya sudah digeser.
Wanita itu berencana ke sini, tapi karena kondisi di Indonesia yang sedang banyak terkena musibah, ia malah meminta suami saya untuk ke Jepang. Suami saya bahkan udah dikenalin ke temen-temen kantornya. Wanita itu juga berjanji untuk memberikan modal usaha untuk suami saya ketika kelak mereka menikah."
"Ibu percaya?" tanyaku heran. "Kali aja itu cewe Jepang cuma modal omongan doang."
"Ngga tau, Neng. Yang jelas, wanita itu belum benar-benar hadir tapi hati saya udah tersakiti. Sampai suami saya bilang kalau saya overthinking. Belum terjadi pernikahan kedua tapi sikap saya seolah-olah kalau saya udah punya adik madu."
"Ya wajar atuh! Walaupun online, 'kan perempuan itu deket sama suami ibu," timpal Adul.
"Iya, Kang. Untuk sekarang saya mau liat dulu ke depannya akan seperti apa, sebelum pada akhirnya menentukan sikap. Makasi banyak udah dibolehin cerita di sini. Sedikitnya, saya ngerasa lega udah berbagi."
"Semangat ya ibu. Mudah-mudahan ibu diberikan jalan yang terbaik oleh Allah SWT. Makasi kembali sudah mau cerita. Selalu sehat ya," balasku.
"Sehat-sehat juga ya, Neng Inoxu dan Kang Adul. Wassalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawabku sebelum memutuskan sambungan.
"Teh, kasian ya ibu tadi. Suaminya ganjen," ucap Adul. "Walaupun Adul laki-laki, tapi agak gimana gitu kalau sampe nyakitin perempuan. Emak juga perempuan, ngga tega aja gitu rasanya."
"Nah, ngga tau Teteh juga, Dul. Ya namanya manusia, ngga semuanya sama. Pokoknya semoga ibu Chyrin dikuatkan dan bisa mendapat jalan keluar terbaik. Aamiin.
Yak pendengar semua, sudah satu setengah jam kami berdua menemani dengan kisah dari ibu Chyrin. Satu lagu permintaan Jumiati BinMohtafako Cahpuguh dari Doel Sumbang dengan Runtah akan menjadi penghujung Kisah Tengah Malam kali ini. Inoxu, Adul dan tim pamit, selamat beristirahat, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Aku mematikan mic dan melepas headphone, lalu memasukan ponsel ke dalam tas. Remi dan Gia menghampiri kami dengan tas ditangan masing-masing. Saat kami ke luar dari studio, Bang Win terlihat baru saja menaiki tangga.
"Beres?" tanyanya tersenyum setelah Adul, Gia dan Remi pamit pulang duluan.
"Beres." Kami berjalan bergandengan ke lantai satu untuk kemudian menuju ke tempat parkir.
"Kaya yang lemes, kenapa?" tanya Bang Win sebelum menyalakan mobil.
"Kenapa laki-laki, khususnya suami, ada yang terlalu berlebihan dalam pergaulan sampai-sampai mengabaikan perasaan istri?" tanyaku balik.
"Hmm, banyak hal. Bisa jadi karena laki-laki ini butuh pengakuan. Misalnya gini, ada seorang suami yang hidupnya biasa-biasa. Tapi karena orangnya supel, dia punya banyak teman di luar sana. Itu semakin mengukuhkan perasaan kalau si suami ini dibutuhkan dan disukai orang banyak.
Untuk beberapa orang yang memiliki sifat narsistik berlebih, hal seperti ini bisa dibilang menyenangkan. Pernah denger ada cerita suami yang sama keluarga perlakuannya biasa tapi ke temen-temennya luar biasa baik? Itu hampir sama. Intinya mereka yang berperilaku seperti ini butuh pengakuan dari dunia luar kalau mereka itu memang orang baik dan menyenangkan," jelas Bang Win.
"Kalau Bang Win sendiri gimana?" tanyaku penasaran.
Bukannya menjawab, ia malah tertawa mendengar pertanyaanku.
"Inoxu Aisyah Putri. Dari sejak aku ngucapin ijab kabul di depan semua orang yang waktu itu hadir, aku udah berkomitmen pada diri sendiri untuk selalu menjaga perasaan kamu. Menyenangkan istri salah satu bentuk dari nafkah batin dalam hal ketenangan hati dan pikiran. Lagipula, ngga ada yang aku dapet dari pengakuan orang-orang di luar sana. Jadi, buat apa? Sekedar pujian dan sanjungan? Aku ngga butuh itu. Aku cuma mau hidup tenang, dengan orang yang aku sayang. Udah, itu aja."
Jawaban Bang Win sontak membuat tenggorokanku tercekat dan mataku berkaca-kaca.
"Kalau udah emosional kaya gini, pasti udah menjelang datengnya tamu bulanan. Mampir ke minimarket dulu yuk? Beli eskrim sama coklat yang banyak, buat stok," ajaknya sembari menyalakan mesin mobil.
Aku seketika tersenyum dan memeluknya erat. Saking eratnya sampai Bang Win susah bernafas.
"Nanti aja di rumah, kalau masih sempet sebelum tamu kamu dateng," ucapnya sangat pelan.
Aku nyengir dan mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Itu ...." sambungnya semakin lirih.
"Baju item? Ada! Siap dipake," balasku sebelum akhirnya tertawa kencang.