Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 71


__ADS_3

"Assalamualaikum warahmatullahi wabatakatuh. Kisah Tengah Malam hadir dari studio lantai dua 12,08 FM Radio Rebel Bandung dengan Inoxu dan Adul di sini. Apa kabar semuanya? Mohon maaf baru hadir kembali untuk menemani para pendengar semua, karena—."


"Karena Teh Inoxu baru beres bulan madu," potong Adul cepat.


"Iya betul! Saya habis madu bulan—."


"Bulan madu, Teh," ralat Adul.


"Iya itu, dan meneguk indahnya dunia. Hahaha! Satu lagu permintaan Mami AHN dari Coklat dengan Karma akan menjadi awal kisah malam ini. Salamnya untuk Uffay yang sudah memporak porandakan hati dan kepercayaan aku. Wah Uffay, kamu ngapain sih? Setelah lagu tersebut akan ada kisah dari narasumber kita semua. Jadi, stay tuned terus dan jangan ke mana-mana." Aku mematikan mic dan melihat Adul yang sedang memilih nomor narasumber untuk dihubungi.


"Beres," gumam Adul sebelum kepalanya meliuk-liuk mengikuti alunan lagu.


"Itulah dia, Karma. Lagu ini terkenal banget dan sering jadi lagu kebangsaan untuk para barisan manusia tersakiti ya gaes ya? Ups bercanda! Di ujung telepon sudah ada narasumber kita, ayo kita sapa! Halow, siapa dan di mana?" Adul memulai siaran kembali.


"Halo Kang Adul, Teh Inoxu. Ini dari Aerea di suatu tempat."


"Waduh, Teh. Ini demit bukan?" tanya Adul berbisik padaku.


"Ssshhh!" balasku sembari meletakkan telunjuk di bibir.


"Silakan Teh Aerea, mau berbagi kisah apa?" tanyaku lagi.


"Kisah asmara saya yang berujung horor, Teh Inoxu."


"Tuh kan, Teh. Jejadian ini mah kayanya," celetuk Adul lagi sebelum aku menepuk bahunya kencang.


"Mangga, Teh Aerea," aku mempersilakan.


"Saya adalah istri muda—."


"Wah, Teh! Pas banget ya sama lagu karma barusan?" tanya Adul spontan. Aku memberinya tatapan tajam sehingga ia menutup mulutnya seketika.


"Mohon maaf, Teh, atas gangguannya. Silakan dilanjut," kataku.


"Oh iya Teh, ngga apa-apa. Saya adalah istri muda kesayangan seorang pengusaha di daerah Jawa Barat, sebut saja sebagai Pak Haji. Pak Haji ini umurnya sebelas tahun lebih tua dari pada saya dan sudah mengejar saya sejak dari bangku sekolah menengah pertama. Kami menikah selulusnya saya dari sekolah menengah atas karena suruhan orang tua, karena ia melunasi hutang-hutang mama saya.


Awal menikah, banyak cacian, hinaan dan juga makian yang datang dari istri pertama Pak Haji. Namun, saya tetap tegar dan terus melangkah bersama dengannya, karena saya tau, ia lebih menyayangi saya dibanding istri pertamanya sehingga lama kelamaan, timbul juga rasa sayang dalam hati saya.


Kehidupan pernikahan kami berjalan lancar pada awalnya, walaupun saya sering dihina dan dicaci. Perlakuan Pak Haji sangat menyenangkan dan juga menguatkan batin saya yang terkadang lemah. Ia kerap bersikap romantis dan penuh perhatian.

__ADS_1


Sampai suatu hari, ada hal di luar logika menimpa saya. Hal ini dikarenakan, ada seseorang yang ingin menghancurkan rumah tangga Pak Haji dengan saya, begitu pun dengan rumah tangga Pak Haji dengan istri pertamanya.


Awalnya, saya berkumpul dengan para sahabat untuk melakukan olahraga aerobik seperti biasa. Satu dari sahabat saya, adalah anak indigo. Ia meminta saya untuk diruqyah karena menurut penglihatannya, saya bermuka rata. Ia juga mengatakan ada orang yang membuat Pak Haji ji*jik dan tidak mau bertemu dengan saya lagi.


Entah kebetulan alasannya memang itu atau memang ada alasan lain, sikap Pak Haji berubah terhadap saya. Hubungan kami yang biasanya mesra dan romantis, secara tiba-tiba menjadi hambar. Pokoknya memang aneh menurut saya.


Beberapa hari setelah perubahan sikap Pak Haji, saya membereskan beberapa pot di halaman rumah dan secara ngga sengaja menemukan sebuah bungkusan plastik yang terselip di antara dedaunan. Karena pada saat itu Pak Haji sedang berada di rumah saya, saya memberikan bungkusan tersebut yang ternyata berisi kemenyan putih. Pak Haji memutuskan untuk membakar kemenyan ini di depan rumah. Saat ia membakarnya, sesuatu terasa seperti menabrak saya sampai-sampai saya ngga ingat apa-apa lagi.


Menurut Pak Haji, saya marah-marah kepadanya. Karena Pak Haji juga memiliki sedikit ilmu kebatiann, ia berhasil membuat saya sadar setelah beberapa saat. Saya bingung karena yang jelas saya ngga pernah ngerasa seperti itu.


Kali kedua, saat sedang membereskan kamar, ada sesuatu bergerak di bawah tempat tidur. Karena penasaran, saya mencoba meraihnya dan berakhir dengan rasa terkejut ketika melihat anak ular berwarna hitam yang ada dalam genggaman saya.


Satu yang paling membuat saya takut, adalah di saat malam terakhir Pak Haji menginap. Waktu itu, saya bangun di tengah malam untuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, saya hanya bisa berdiri terpaku karena saya melihat jelas diri saya sendiri sedang kejang-kejang di lantai kamar mandi seraya membenturkan kepala berkali-kali ke tembok.


Seketika saya beristigfar dalam hati dan merasa kembali sesuatu menghantam badan saya kuat. Saya berteriak dan memanggil Pak Haji yang pada akhirnya harus menyeret saya keluar dari kamar mandi. Badan saya kaku dan saya menangis menjerit-jerit sampai anak pertama saya ikut membantu menyadarkan saya.


Bahkan saya hampir memukul anak bungsu saya yang dalam penglihatan saya berupa sosok anak kecil bermata hitam yang sangat menyeramkan. Hal tersebut mereda setelah adzan subuh berkumandang.


Siangnya, pak Haji pulang ke rumah istri tuanya. Saat akan pergi, dia bilang jika ia merasa ada yang aneh dengan rumah yang kami tempati dan entah kenapa ia selalu kesal bahkan mu*ak ketika melihat saya. Karena hal itu juga, ia menyuruh saya untuk mencari guru spiritual yang bisa mengajari saya untuk lebih fokus beribadah serta mendapatkan ketenangan.


Abah, guru spiritual saya berkata, jika benar ada orang yang masih serumah memiliki niat jahat dan bermaksud menghancurkan rumah tangga saya dengan Pak Haji. Ngga lama dari itu, pembantu di rumah kami yang notabene masih muda berhenti bekerja dan pulang kampung.


Mudah-mudahan ke depannya, hubungan kami bisa menjadi lebih baik lagi, karena bagaimana pun kami telah menjadi satu keluarga besar. Paling gitu aja, Teh, Kang, cerita dari saya. Maaf kalau kepanjangan," cerita Teh Aerea panjang lebar.


"Halo? Teh? Kang? Saya udah selesai cerita," sahutnya lagi yang membuatku tersentak dan spontan menarik tangan Adul yang sedang menopang dagunya hingga kepalanya jatuh ke atas meja.


Brak!


"Eh iya, Teh Aerea, maaf. Saya terkesima banget denger ceritanya. Tapi alhamdulillah ya kalau sekarang udah ngga ada ganggungan apa-apa lagi," seruku sembari menahan tawa melihat Adul mengusap wajahnya pelan.


"Iya alhamdulillah udah ngga pernah ada kejadian aneh lagi kok, Teh Inoxu. Sekian cerita dari saya, maaf kalau kepanjangan."


"Makasi ya teh Aerea, sehat selalu bersama keluarga," balasku menutup pembicaraan sebelum mematikan sambungan.


"Akhir dari cerita Teh Aerea menjadi penanda bahwa berakhir pula Kisah Tengah Malam kali ini. Satu lagu terakhir permintaan Ibun Aksha dari Rossa dengan Terlalu Cinta akan menjadi penutup kisah. Inoxu, Adul dan tim mohon pamit, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic dan tertawa lepas melihat Adul yang masih cemberut.


"Maaf, Dul. Teteh tadi spontan aja narik tangan kamu," ucapku diantara tawa.

__ADS_1


"Ish Teteh, mah! Adul lagi ngantuk digituin, kaget tau!" gerutunya.


Aku melepas headphone dan memasukkan ponsel ke dalam tas saat Gia berjalan menghampiriku.


"Hayu!" ajaknya.


Kami bertiga meninggalkan studio dan menuju ke lantai bawah di mana aku melihat Bang Win duduk di sofa dengan laptop yang masih menyala di hadapannya.


"Beres, Yank?" tanyanya ketika Adul dan Gia sudah berpamitan pulang.


"Alhamdulillah beres," jawabku sembari duduk di sebelahnya. Ia mengacak rambutku pelan dan menggenggam tanganku.


"Bentar ya, lagi uoload file rekaman dulu sebentar," ucapnya yang kuangguki.


Sesuatu melintas di likiranku saat mengingat narasumber yang barusan berceeita di Kisah Tengah Malam.


"Bang Win?" oanggilku oelan.


"Ya, yank?"


"Bang Win ada rencana mau nikah lagi ngga?" tanyaku.


Perkataanku membuatnya menoleh dengan cepat. "Ngga ada. Walaupun saya ngga tau ke depannya bakal seperti aoa, tapi saya berprinsip jika menikah itu cukup sekali seumur hidup," jawabnya sembari menatapku lekat.


"Ada yang lagi kamu pikirin?" tanyanya balik.


"Ya kepikiran aja sih kalau nanti Bang Win nikah lagi. Bisa aja kan? Kalau udah takdir mah," balasku.


"Ya mungkin. Tapi untuk sampai ke arah sana akan ada campur tangan saya pribadi. Contoh, saya harus menikah lagi, akan ada pilihan untuk iya atau tidak. Keputusan yang saya ambil pada akhirnya akan menjadi takdir saya karena kita sebenernya ngga tau takdir kita seperti apa. Kalau iya, ya bisa jadi takdir saya menikah dua kalinya. Kalau tidak, ya bisa jadi juga takdir saya hanya menikah satu kali.


Jadi yang kamu bilang, kalau saya menikah lagi karena takdir, itu pasti ada step by step-nya. Ngga langsung terjadi begitu aja," jelasnya.


"Misal, ada seorang laki laki yang ingin menikah lagi. Saat terlaksana ia berkata kalau ia ditakdirkan untuk menikah dua kali dan memiliki dua istri. No! Bukan gitu konsepnya. Ia bisa menolak kalau ia mau. Ia punya kendali penuh atas apapun pilihannya. Dan itu sama sekali berbeda dengan takdir.


Sesuatu bisa dibilang takdir, jika kita terus menerus menolak akan suatu perkara namun pada akhirnya perkara tersebut tetap menimpa kita tanpa bisa dielakkan lagi. Jadi jangan terlalu menggampangkan dalam melakukan sesuatu lalu mengaitkannya dengan takdir."


Aku mengangguk mengerti.


"Itulah kenapa, saya selalu berdoa agar Allah memperkenankan hati saya tertaut hanya pada satu manusia yaitu kamu," jelasnya dengan suara lirih.

__ADS_1


Jawabannya seketika membuatku memeluknya dari samping secara spontan.


__ADS_2