Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 38


__ADS_3

Seseorang menarik tas yang sedang kupegang ke belakang. "Bang Win?" sapaku tersenyum.


"Ngga dianter sama Nyx?" tanyanya berjalan pelan di sampingku.


"Ngga, kakak lagi ada kerjaan di luar kota."


"Bawaan kamu cuma segini?" tanyanya lagi mengangkat tas milikku di tangannya.


"Iya, kan cuma tiga hari di vila. Emang harus bawa baju sebanyak apa?" tanyaku balik.


"Sebanyak yang dibawa yang lain," jawabnya pendek.


Aku urung bertanya dan mengerutkan kening begitu kami masuk. Beberapa tas pakaian besar, bahkan koper sudah tergeletak tidak jauh dari sofa dan meja resepsionis. Subuh nanti, kami semua akan pergi ke vila yang tempo hari Bang Win survei bersama aku, Teh Opi dan Kang Utep.


Seluruh karyawan dan juga satpam yang tidak memiliki jadwal piket ikut ke sana dengan menggunakan mobil yang dibawa beberapa penyiar. Walau pun waktu keberangkatan masih subuh nanti, beberapa penyiar memilih untuk menginap di sini karena rumah mereka yang jauh.


"Kalau mau tidur, di studio yang biasa saya pake aja. Sofa di ruang meeting udah dipindahin ke sana karena anak-anak pada gelar karpet di ruang meeting."


"Iya," balasku singkat dan menghempaskan diri di sofa.


Bang Win menatapku selama beberapa saat lalu tersenyum. "Pas hoodienya?"


"Pas dong," seruku berdiri dan berbalik badan. Hoodie ini pemberian dari Bang Win. Ada nama OXU tertulis di bagian belakang. Sama seperti miliknya yang bertuliskan WIN.


Gia, Remi dan Adul tiba tidak lama kemudian dengan tas yang cukup besar di tangan masing-masing.


"Mau liburan atau pindahan?" sindirku pada ketiganya.


"Heh, di sana itu dingin, jadi kita bawa banyak baju tebel," balas Gia.


"Cie bajunya samaan cie," ucap Adul melihat ke arahku dan Bang Win.


"Woyadong!" sahutku nyengir yang membuat Adul mencebikkan bibir.


"Ada yang mau kopi ngga?" tanya Adul. Semua mengangguk dan ia berjalan menuju pantry.


"Si Adul kok jalannya kaya gitu ya?" ucap Remi memperhatikan. Aku yang mendengar perkataannya, ikut melempar pandang ke arah Adul.


"Dul, kok jalannya gitu sih? Kaku kaya robot," ucapku pada Adul sekembalinya dari pantry.

__ADS_1


"Panjang ceritanya Teh Inoxu," jawabnya bergerak pelan menaruh botol kopi di meja lalu duduk di sofa.


"Kenapa sih, Dul?" Gia ikut bertanya. "Tadi aku ngga terlalu merhatiin karena kita jalan bareng. Kok sekarang baru keliatan kalo kamu jalannya aneh."


"Ini kerjaannya emak, Teh."


"Kamu digebug emak?" Aku penasaran.


"Ngga."


"Terus?"


"Gara-gara Adul sering kemasukan, emak manggil dukun dari kampung sebelah yang katanya bisa nyembuhin kesurupan," ucap Adul mulai bercerita.


"Pas dateng, bentukannya emak-emak yang badannya gede. Adul di suruh duduk selonjoran, karena katanya mau diperiksa. Ya udah, Adul nurut.


Pas udah duduk, emak dukun mencet jempol kaki Adul keras banget. Mana ngga pake aba-aba sebelumnya. Ya Adul teriak dong sambil nendang-nendang biar tangan emak dukun lepas. Eh emak dukun itu malah bilang kalau setan di badan Adul kuat banget. Terus dia malah semakin semangat mencet-mencet jari kaki Adul yang lain. Makin blingsatan-lah Adul, sampe keluar kata-kata kasar kaya yang Teh Inoxu bilang ke Adul waktu nyangka Adul setan.


Emak dukun bilang lagi. Nih setannya lebih dari satu, yang ini setan sunda nih. Karena kesel, Adul sekalian aja akting kesurupan beneran, teriak woyadong-woyadong sambil menggelepar di lantai. Adul kira emak dukun bakal takut dan berhenti, taunya ngga. Pas Adul akting menggelepar, 'kan tangan Adul ke atas tuh, si emak dukun malah mencet ketek Adul. Sakit banget Teh, sumpah!


Makin kenceng Adul teriak woyadong-woyadong karena nahan sakit. Eh emak dukun bilang lagi, ini nih ketua setannya. Tinggalnya di ketek, asalnya dari Jepang."


"Hahaha!" Aku dan semua yang hadir tertawa keras hingga sakit perut dan mengeluarkan air mata kecuali Bang Win, yang seperti biasa hanya tersenyum lebar. Sedangkan Adul, ia menatap kami dengan tatapan memelas.


"Maaf Dul. Tapi asli, itu emak dukun kamu hebat ya? Bisa tau dari mencet-mencet doang," kekeh Gia.


Kami masih tertawa selama beberapa saat sebelum Remi mengingatkan waktu siaran. Dengan masih menahan tawa, aku, Adul, Remi dan Gia bangkit dan berjalan menuju lantai atas.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat berjumpa kembali dengan saya Inoxu dan—."


"—dan Adul," sela Adul.


"Dalam Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Malam ini kami kembali dengan kisah yang sudah dikirim oleh pendengar di mana pun berada. Satu lagu permintaan dari Ovha Ovey yaitu Drive dengan Melepasmu akan menjadi awal kisah malam ini. Jangan ke mana-mana dan selamat mendengarkan," lanjutku.


Aku mematikan mic dan menyandarkan punggungku di kursi sementara Adul memilih cerita yang akan ia bacakan.


"Itulah Drive dengan melepasmu. Denger lagu ini tuh bikin Adul rasanya nelangsa tau ngga gaes. Sedih gitu rasanya. Ngga usah lama-lama lagi, ini ada satu kisah kiriman dari Frahati di Salendro," ucap Adul.


"Malam Teh Inoxu dan Kang Adul, saya Frahati. Saya mau cerita pengalaman saya sewaktu pulang kemaleman dari sekolah. Rumah saya di Salendro, dan ngga ada angkot yang lewat persis di depan komplek rumah saya karena rute angkot jaraknya kurang lebih satu kilometer dari rumah.

__ADS_1


Nah satu hari, saya pulang kemaleman karena ikut nyiapin acara pensi atau pekan seni di sekolah. Jadinya jam sebelas, saya baru turun dari angkot dan harus berjalan ke arah rumah.


Sepanjang jalan, di kiri-kanan jalan tumbuh semak yang dipangkas rapi karena semak-semak itu sebagai batas antara jalan dan pemakaman umum. Waktu lewat sana masih ada satu dua motor yang lewat. Karena ngga pernah denger cerita aneh-aneh, saya juga biasa aja. Ngga ada rasa takut sama sekali. Tepat lima ratus meter sampai ke rumah, saya tiba di jalan semak-semak yang gelap karena lampu jalan mati. Waktu sampai disitu, kedengeran bunyi dari arah semak-semak.


Srek-srek, gitu. Saya kira kucing, karena emang banyak kucing liar di sekitar situ. Tapi anehnya, suara itu kaya yang ngikutin. Kalau saya berhenti berjalan, suaranya ilang, tapi pas mulai jalan, suara itu kedengeran lagi. Pas sampai di ujung jalan, suara itu makin kenceng. Karena penasaran, saya samperin semak-semak yang letaknya tepat di sebelah kiri saya. Tadinya kalau nemu kucing, mau saya bawa pulang sekalian.


Begitu saya menyibak semak-semak, bukan kucing yang saya liat. Teh Inoxu dan Kang Adul tau apa? Sepasang tangan lagi pada jalan-jalan pake jarinya! Tangannya cuma sepotong gitu jalan-jalan ke sana ke mari! Saya yang waktu itu shock, akhirnya pingsan di tempat dan bangun-bangun udah di rumah. Kata ibu saya, ada tetangga yang nganterin saya pulang.


Karena kejadian itu, saya sakit selama seminggu sampai akhirnya ngga bisa ikutan acara pekan seni di sekolah. Sekian pengalaman horor saya, semoga bisa dibacain di Kisah Tengah Malam. Terima kasih.


Wih, serem banget ya gaes ya, pengalamannya Frahati di Salendro. Amit-amit! Jangan sampe Adul ketemu yang gitu-gitu. Berakhirnya cerita Frahati menandakan berakhir juga Kisah Tengah Malam kali ini. Satu lagu dari Zinidin Zidan dengan Buih Jadi Permadani request dari Khina Cantika akan kami putarkan setelah ini. Sampai jumpa lagi, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Adul mematikan mic dan melepas headphone. "Serem ya Teh kalo ketemu tangan sepotong yang loncat-loncat," bisiknya.


"Jangan mulai deh! Mau kejadian?" tanyaku dengan nada menekan dan seketika membuat Adul menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Oxu, beres?" panggil Bang Win dari arah pintu.


Aku mengangguk dan menghampirinya. "Kenapa Bang?" tanyaku.


"Anterin saya ya?" ajaknya menyodorkan telapak tangan.


Kami berjalan pelan ke arah sebuah taman yang tidak jauh dari radio Rebel. Biasanya di waktu malam, taman itu akan ramai dengan penjual kuliner malam.


"Saya lagi pengen minum bajigur," ucapnya saat kami hampir sampai.


Di taman, kami berdua duduk di kursi taman. Walaupun banyak penjual di sekitar sini, pengunjung taman tidak terlalu banyak karena waktu yang sudah dini hari.


"Saya sebetulnya takut," ucap Bang Win dengan tiba-tiba setelah pesanannya diantar.


"Takut apa?"


"Takut berumah tangga. Takut jika rumah tangga saya kelak sama seperti rumah tangga orang tua saya. Tapi ngga tau kenapa, keinginan untuk berumah tangga semakin besar akhir-akhir ini."


Aku tersenyum menatapnya.


"Kapan aja kamu siap, kasih tau saya ya?" sambungnya.


"Aku siap," potongku cepat.

__ADS_1


"Saya ngga mau janji, tapi saya akan berusaha menjadi suami dan kepala keluarga yang baik walau pun jauh dari kata sempurna," lirihnya sembari meletakkan kepalanya di bahuku.


Aku hanya bisa diam karena kehabisan kata-kata dan hanya mampu mengusap rambutnya pelan.


__ADS_2