Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 54


__ADS_3

Pagi ini suasana di Radio Rebel cukup ramai. Para penyiar dan karyawan radio bersama-sama mempersiapkan acara untuk donasi bencana alam gempa bumi Cianjur. Beberapa pria saling bekerja sama membuat stage sebagai tempat para musisi bermain musik yang terletak di tempat parkir Radio Rebel. Untungnya, lokasi Radio Rebel berada di kawasan hunian Belanda tempo dulu dengan banyak pohon yang rindang di kiri kanan jalan sehingga stage berada di tempat yang teduh.


Beberapa orang sisanya, sibuk mempersiapkan stan untuk vendor-vendor mitra Radio Rebel yang rutin memasang iklan di hampir semua program. Mereka menyumbangkan beberapa produk seperti kopi instan, minuman instan, mie instan, snack kemasan, roti dan juga kaos serta jaket, untuk dijual ke masyarakat umum dan hasilnya akan didonasikan penuh.


Musisi dan publik figur yang akan tampil secara bergantian hari ini ada sebanyak enam orang. Waktu pelaksanaan dimulai setelah waktu dhuhur dan berakhir menjelang magrib.


Salah satu public figur yang rencananya akan hadir ialah seorang dokter yang juga merangkap sebagai selebtok atau selebriti Tiktok. Di aplikasi tersebut, dokter ini memiliki jumlah pengikut yang banyak karena konten yang dibagikan tidak jauh dari dunia kesehatan.


"Xu, bantuin Teteh nyiapin ruang tunggu bintang tamu yuk?" ajak Teh Hani saat aku sedang sibuk memasang stan.


"Hayu Teh, aku beresin ini dulu ya? Teteh duluan aja, nanti aku nyusul."


Aku bergegas membereskan pekerjaanku dan langsung menuju ke ruang meeting yang sudah disulap sebagai ruang tunggu. Sofa, karpet, lengkap dengan bean bag sudah tertata rapi.


"Tinggal order makanan sama minumannya nih. Pesen apa ya?" tanya Teh Hani bingung.


"Ada spesial request ngga?" tanyaku balik. Bukan tanpa sebab aku bertanya. Terkadang bintang tamu yang diundang untuk mengisi suatu acara meminta menu khusus untuk makanan atau minuman. Beberapa cukup rewel tapi banyak pula yang menyerahkan semuanya kepada pihak penyelenggara.


"Cuma satu nih dari Kartika. Dia minta donat Je-ko sekotak yang isinya donat taburan almond semua."


"Beres," ucapku seraya mengeluarkan ponsel untuk mencatat.


"Halow Teh Inoxu, Jeng Merlin is coming," suara mendayu-dayu yang berasal dari belakang membuatku berbalik seketika.


"Kang Krisna?" tanyaku tidak percaya. Kang Krisna adalah suami dari Teh Opi yang saat ini sedang tersenyum lebar menatapku.


"Yoi! Minyak apa yang bikin mabok?" tanyanya tiba-tiba.


"Mana ada," ucapku pendek.


"Ada-lah! Minyaksikan kamu tersenyum. Heyaaah!"


Teh Opi dan Teh Hani tertawa terpingkal-pingkal.


"Ah elah! Nyebelin banget sih, pake nyamar-nyamar jadi Jeng Merlin," aku melirik sinis.


"Opi yang suruh," jawab Kang Krisna meringis.


Kami berempat kembali bergerak mempersiapkan ruang tunggu hingga tanpa terasa sudah menjelang dhuhur.


"Istirahat dulu, makan, sholat," ucap Bang Win berdiri di ambang pintu. "Oxu mau makan apa?"


"Nasi padang," jawabku sambil memasang taplak meja.


"Iya, hayu. Mau makan di luar atau pesen aja? Stage udah beres, anak-anak udah bisa istirahat," jelas Bang Win.


"Ke luar ajalah ya. Sekalian aku mau ngambil pesenan donat."


Ia mengangguk dan menungguku menyelesaikan sisa pekerjaan, sebelum kami berdua berjalan ke luar dari Radio Rebel.


***


"Teh," panggil Adul.


"Naon? Aku tuh suka deg-degan tau, kalau kamu manggil," kataku menoleh.


"Adul bikin grogi ya?"

__ADS_1


"Bukan! Kalo Adul manggil itu tandanya ada yang ngga beres," lirikku sinis.


"Ish Teteh mah. Adul cuma mau bilang, dokter selebtok itu pengen ketemu Teteh. Katanya dia fans Teteh di siaran Kisah Tengah Malam."


"Masa?" tanyaku tidak percaya.


"Iya. Malah dia bilang pengen banget bisa ikut siaran, berbagi cerita di Kisah Tengah Malam."


"Wih, keren tuh. Tarik aja, Xu," Gia menimpali.


"Iya Xu! Cakep banget itu dokter. Masya Allah banget lah!" tambah Remi.


"Iyalah boleh, jarang-jarang ada selebriti mau ikut siaran program lain selain program musik atau podcast," balasku.


"Yes!" seru Gia dan Remi bersamaan.


***


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Kisah Tengah Malam kembali mengudara dengan saya, Inoxu dari studio lantai dua 12,08FM Radio Rebel Bandung. Bersama saya malam ini sudah hadir seorang narasumber istimewa. Kenapa istimewa? Karena beliau adalah seorang dokter, publik figur, selebriti Tiktok dan juga Instagram. Siapa dia? Eits, tahan dulu! Satu lagu dari Linkin Park dengan Crawling akan saya putarkan terlebih dahulu sebelum berbincang dengan narasumber istimewa kita. Buat yang penasaran, stay tune terus dan jangan ke mana-mana."


Aku mematikan mic dan menatap ke arah Adul yang balik menatapku dengan wajah nelangsa. Beberapa saat lalu, siaran yang tadinya akan dilakukan olehku dan Adul gagal seketika karena dokter Abo selaku narasumber menolak Adul ikut serta dan hanya mau diwawancarai olehku saja.


"Teh Inoxu, saya ngefans banget loh. Abis siaran boleh foto-foto bareng?" tanya dokter Abo.


Aku melihat ragu ke arah Bang Win dengan wajah datar serta mata dinginnya, sebelum mengangguk ragu, "Boleh aja dokter."


"Jangan panggil dokter, kita kan ngga lagi di rumah sakit. Panggil aja Aa," ucapnya lagi.


Aku hanya mengangguk dan menggeser kursi tempatku duduk, sedikit menjauh. Bang Win terlihat berkali-kali menatap tajam sosok dokter di sebelahku.


"Yak, itulah dia Crawling dari Linkin Park. Linkin Park ini salah satu band favorit saya dari sejak sekolah. Keren banget pokoknya! Selamat datang saya ucapkan untuk para pendengar yang baru saja bergabung. Dan tidak perlu berlama-lama lagi, saya akan berbincang dengan dokter Abo yang sudah hadir sebagai narasumber di Kisah Tengah Malam kali ini. Apa kabar dokter?"


"Kalau boleh tau, sekarang dinas di rumah sakit mana?"


"Di rumah sakit XYZ. Rumah sakit swasta terkenal di kota Bandung. Langganannya para selebritis dan artis."


"Keren," responku. "Selain sebagai seorang dokter. Dokter Abo juga seorang influencer, selebtok dan selebgram ya?"


"Iya dong! Saya itu ngga pelit ilmu. Ya walaupun ilmu yang saya dapet ngga gratis sih. Tapi karena saya orangnya welas asih, saya bagiin aja sedikit ilmu medis yang saya punya. Itulah kenapa, saya terkenal banget di Tiktok dan Instagram."


"Berapa banyak pengikutnya sih dok?" tanyaku mulai penasaran.


"Banyak-lah. Saking banyaknya saya sampai lupa. Mungkin separuh penduduk negara Indonesia."


"Wih, keren banget! Ada pengalaman yang ngga bisa dilupain ngga dok, selama menjadi dokter?" Aku menahan rasa kesal yang entah kenapa mulai naik.


"Jelas ada. Namanya saya dokter ya kan? Saya ketemu dengan berbagai macam jenis pasien. Dari yang sakit ringan hingga yang sakit berat. Setiap pasien memberikan pengalaman baru untuk saya. Jadi ngga ada pengalaman istimewa yang sampai ngga bisa dilupain. Biasa-biasa aja."


"Oh gitu," aku mengangguk. "Kan dokter dinas di rumah sakit yang menurut sebagian orang angker. Pernah punya pengalaman horor ngga?"


"Ngga dong. Saya orang yang sangat realistis. Jadi ngga percaya yang gitu-gitu. Untungnya juga belum pernah ngalamin sendiri."


"Tapi kan banyak cerita-cerita seram yang beredar?"


"Itu cerita yang cuma dilebih-lebihkan oleh orang-orang penakut. Ngga ada itu yang namanya setan bisa ngeganggu manusia. Kalau ada, sini! Saya pengen kenalan sekalian nanti saya ajak ngopi."


Aku tersentak dan dengan cepat menoleh ke arah dokter Abo yang masih duduk dengan santai. "Dokter pasti tau, kalau di setiap IGD ada kalimat yang sangat tabu untuk diucapkan. Karena konon, hal yang akan terjadi adalah kebalikan dari kalimat tersebut."

__ADS_1


"Oh, larangan untuk bilang IGD sepi?" tanyanya.


"Iya. Nah di sini juga sama. Ada kalimat yang tabu untuk diucapkan karena hal yang akan terjadi bakal sama persis seperti ucapan tersebut."


"Masa sih?" tanyanya lagi. Aku mendengar nada penasaran dalam suaranya.


"Iya. Dan dokter tadi udah nyebut kalimat itu malah," aku terkekeh. Mataku melirik Adul yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya. Tidak lama, ponselku bergetar tanda sebuah pesan masuk.


"Oh, yang saya bilang kalau di sini ada setan, mau saya ajak kenalan dan ajak ngopi?" dokter Abo lanjut bertanya.


"Iya," aku menjawab pendek dan dengan pelan memainkan jariku diatas ponsel.


[Oke] ketikku. Send!


"Teh Inoxu masih kolot ya? Percaya yang gitu-gitu," sambung Dokter Abo.


Aku hanya tertawa mendengarnya, "Kan setiap tempat punya cerita sendiri."


"Iya tapi tetep aja saya ngga percaya. Kalau emang iya ada, saya pesan dong, setannya yang cantik. Yang pinter nyanyi kalau bisa," ia terkekeh.


Aku kembali tersenyum dan mengangguk pelan. Mataku melihat ke arah Remi, Gia, dan Bang Win yang perlahan berjalan ke luar studio.


"Pesanan siap diantar," ucapku lirih.


"Apa, Teh Inoxu?" dokter Abo menatapku keheranan.


"Ngga. Ngga apa-apa. Dokter, terima kasih banyak sudah hadir di Kisah Tengah Malam. Terima kasih juga sudah berpartisipasi dalam event donasi. Semoga ngga kapok ya?"


"Tenang Teh Inoxu, saya ngga akan kapok kok kalau diajak siaran. Apalagi sama Teh Inoxu yang cantik," jawabnya.


"Hahaha, dokter bisa aja. Yak pendengar semua, itulah bincang-bincang saya dengan dokter Abo. Terima kasih sudah membersamai kami hingga akhir siaran. Inoxu dan tim mohon pamit. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic dan melepas headphone sedangkan dokter Abo sendiri langsung mengambil ponselnya dan memintaku berfoto bersama.


"Lingsir wengi ...."


"Eh, siapa itu yang nyanyi, Teh?" Dokter Abo sontak menurunkan tangannya yang sedang memegang ponsel. Kepalanya melihat ke sekitar studio dan menemukan jika hanya ada Adul yang duduk di sana.


"Kok suara perempuan ya? Padahal Teteh lagi ngga nyanyi," ucapnya lagi.


"Oh, itu penunggu sini. Kan saya tadi udah bilang, hati-hati dokter. Di sini juga ada kalimat yang tabu untuk diucapkan. Tuh liat." Aku menunjuk ke arah Adul dengan daguku.


Mata dokter Abo yang membola terlihat jelas olehku saat ia menatap ke arah Adul yang sudah bersimpuh di lantai dan menyanyikan lagu lingsir wengi dengan suara yang semakin keras.


"Orang itu kemasukan penghuni sini karena tadi dokter bilang mau kenalan dan ngajak ngopi," kataku dengan suara lirih dan menahan senyum.


Aku masih menahan senyum karena memperhatikan ekspresi dokter Abo saat tiba-tiba Adul mendekat ke arah kami dengan mengesot cepat di lantai.


Brak!


Dengan kasar aku berdiri, lalu berlari ke arah pintu studio meninggalkan dokter Abo dengan Adul yang sudah memeluk erat kakinya.


"Teteh! Teteh! Tolong! Teh inoxu! Tolongin!" teriak dokter Abo histeris.


Gubrak gubrak gubrak!


Karena penasaran, aku berbalik tepat di depan pintu studio dan melihat Adul yang kini sudah duduk di pangkuan dokter Abo seraya mengguncang-guncang bahu pria malang itu.

__ADS_1


"Hahahah!" Sambil tertawa, aku membuka pintu lalu keluar dari studio.


"Selamat ngopi bareng, Neng kemben," ucapku lirih sebelum berjalan menuju tangga sembari mengingat rencana yang aku dan Adul susun lewat whatsaap saat tadi sedang siaran. Tentu saja dengan sepengetahuan Gia, Remi dan Bang Win.


__ADS_2