
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat bertemu lagi saya ucapkan untuk pendengar setia Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Saya Inoxu, akan menemani pendengar semua, dengan kisah-kisah yang diceritakan oleh narasumber. Karena banyaknya permintaan pendengar yang sudah masuk, tim Kisah Tengah Malam akan kembali membuka saluran telepon untuk para narasumber yang ingin bercerita langsung. Silakan kirim pesan dengan format nama, spasi lokasi tempat tinggal, spasi nomor telepon yang bisa dihubungi, ke nomor whatsapp 081210969. Satu lagu permintaan Effendi Jingga dari Korn dengan Narcissistic Canibal akan menjadi pembuka kisah pada malam ini. Tetap stay tune terus dan jangan ke mana-mana karena di akhir siaran akan ada jadwal event peduli Cianjur."
Aku mematikan mic dan mencari nomor narasumber terpilih, setelah tersambung, aku kembali memintanya menunggu untuk beberapa saat.
Tadi pagi seluruh penyiar dan karyawan Radio Rebel mengadakan rapat berkaitan dengan acara penggalangan dana untuk para korban terdampak bencana alam gempa bumi di Cianjur. Setelah menentukan tanggal malam puncak bakti sosial, semua penyiar diminta untuk mengumumkannya di setiap siaran yang dibawakan.
"Itulah Korn dengan Narcissistic Canibal. Di ujung sambungan sudah ada narasumber kita yang akan bergabung dengan Kisah Tengah Malam. Halo? Dengan siapa di mana?"
"Dengan Mumun, Teh Inoxu. Di Dago."
"Halo Mumun, mau cerita apa nih?" tanyaku.
"Mau cerita pengalaman waktu nginep di penginapan di Solo, Teh Inoxu."
"Siap atuh, mangga," aku mempersilakan.
"Jadi gini Teh, saya sama dua sepupu saya Jejen dan Romlah, suka banget traveling dengan budget murah. Istilahnya backpacker-an gitu. Biasanya kami memilih transportasi dan penginapan murah di kota yang menjadi tujuan kami. Pada waktu itu, kami sepakat untuk ke Solo. Mulailah saya mencari penginapan murah lewat aplikasi. Begitu dapat, langsung saya booking sesuai tanggal perjalanan. Penginapannya masih satu kawasan dengan Pasar Klewer. Jadi strategis bangetlah, Teh.
Pas hari H, kami berangkat dengan kereta ekonomi pagi dan diperkirakan sampai di Solo sore hari. Tapi begitu sampai di stasiun Jogja, kereta berhenti agak lama karena katanya ada kereta lain yang anjlok. Kereta kami cukup lama tertahan di stasiun tersebut hingga akhirnya mulai jalan lagi. Tapi, karena keterlambatan kereta, kami sampai di solo pas udah malem, Teh."
"Terus gimana? Langsung ke penginapan?" tanyaku.
"Iya, niatnya cepet-cepet ke penginapan terus mau keluar buat nyari makan sambil jalan-jalan. Dari stasiun, kami nyewa grab dan sampai di lokasi. Harusnya saya peka, waktu pengemudi grab menyarankan penginapan lain. Tapi karena udah booking dan juga penginapannnya murah, usul dari pengemudi grab itu kami abaikan.
Sampai di sana, termyata penginapannya mirip kost-kostan. Jadi bangunanya itu bertingkat dua dengan kamar-kamar yang berjejer. Kami dapetnya kamar yang belakang, soalnya cuma kamar di belakang yang tempat tidurnya besar dan muat untuk tiga orang.
Sempet curiga, karena waktu itu weekend, tapi ngga keliatan ada pengunjung lain selain kami. Cuma ya, lagi seneng-senengnya dateng ke tempat baru buat liburan, kami mengabaikan itu semua.
Kejadian pertama yang kami alami, pas mau tidur sehabis makan malam di luar. Waktu itu sepupu saya beli martabak manis, kalau di sana mah namanya terang bulan. Nah dus terang bulannya di taro di deket tivi, cuma pas di cari, ngga ada. Sempet agak heboh gara-gara nyariin dus terang bulan. Sampai akhirnya kami mutusin buat tidur aja.
Pas banget mau tidur, kedengeran suara ketukan. Mirip kaya orang lagi malu tembok, Teh. Tapi Karena ngantuk, saya abaikan tuh. Pikir saya orang kamar sebelah.
Makin lama suara ketukan itu makin kenceng dan samar-samar kedengeran suara laki-laki dan perempuan kaya lagi berantem. Kedua sepulu saya sampe ikut bangun dan bilang kalau mending kami pindah kamar. Rasanya ngga nyaman kan Teh kalo denger ada orang berantem gitu?"
__ADS_1
"Iya bener, terus jadi pindah ngga?"
"Jadi Teh, tapi keesokan harinya. Soalnya asli, ngantuk banget! Lagian ribet gitu kayanya tengah malem pindah kamar bawa-bawa barang. Karena saya udah bilang gitu. Kedua sepupu saya setuju dan akhirnya kita nyoba tidur.
Pas paginya, kita ketemu pengurus di sana, dan minta pindah kamar ke bagian depan yang deket dari lobby. Kata pengurusnya sih bisa aja ,tapi kamar di bagian depan, tempat tidurnya cuma satu. Itu juga ukuran untuk satu orang. Karena kami emang udah ngga nyaman di kamar belakang, kami setuju aja walaupun harus nambah biaya buat ekstra kasur.
Singkat cerita, kami pindah ke kamar yang baru. Kamar ini punya jendela yang mengarah ke bagian belakang yang ternyata adalah taman. Sayangnya, karena kurang dirawat, tamannya malah jadi kaya kebon. Habis naro barang, kita bertiga keluar penginapan buat nyari sarapan dan jalan-jalan ke pasar Klewer dan sekitarnya. Seharian kami di luar sampai akhirnya mutusin untuk kembali ke penginapan. Sebelumnya, sempet mampir sebentar untuk makan malam di salah satu warung tenda lesehan.
Perkiraan kami kalau bakal tenang di kamar yang baru ternyata salah besar. Suara ketukan yang kami denger malem sebelumnya, kedengeran lagi plus suara orang lagi berantem. Bukan itu aja, dus terang bulan yang hilang malam kemarin di kamar belakang, tau-tau ada di meja deket tivi. Padahal kami bertiga sadar banget, waktu pindah ke kamar yang baru, ngga ada yang bawa dus terang bulan itu."
"Lah, dusnya jalan sendiri?" tanyaku asal.
"Ih teteh mah! Kami juga ngga tau kenapa itu dus bisa ada di situ. Yang jelas semaleman itu ngga bisa tidur karena takut dan berisik dengerin orang yang lagi berantem
Karena kesel, pas paginya saya ketemu pengurus, saya protes teh. Saya minta pengurus negur orang yang tinggal di samping kamar kami biar ngga terlalu berisik kalau malam. Pengurus penginapan malah heran dan bilang, kalau dari kemarin ngga ada tamu yang datang menginap kecuali kami bertiga.
Malah pengurus itu sempet buka kamar sebelah yang ternyata kosong! Udah deh, dari situ saya sama sepupu-sepupu saya mutusin buat checkout karena yakin ada yang aneh sama penginapan ini.
"Iya ya? Banyak kejadian serupa. Pacaran kebablasan, sampe akhirnya hamil terus pasangan ngga mau bertanggung jawab," aku menanggapi.
"Nah bagian yang seremnya bukan itu aja. Waktu saya nyeritain tentang pengurus penginapan, kedua suami istri itu kaget lagi dan bilang kalau sejak kejadian pembu*nuhan itu, penginapan dikosongkan dan ngga ada satu orang pun yang tinggal di situ.
Ya saya mana tau kan, Teh? Orang saya bayar penginapan langsung lewat aplikasi. Jadi ngga ada transaksi pembayaran yang bisa saya liatin buat bukti kalau saya emang ketemu sama pengurus penginapan. Selain itu, kata bapak penjual baso, pelaku pembu*nuhan di penginapan itu ngga lain si pengurus penginapan. Kabarnya, sekarang dia lagi di penjara. Jadi ngga mungkin bisa ada di dalam penginapan itu."
"Lah, terus itu siapa atuh?" tanyaku bergidik.
"Ngga tau, Teh. Sampe sekarang saya suka merinding sendiri kalo inget. Ini juga nyerita ke Teteh ditemenin Jejen sama Romlah. Yang saya sayangkan, di aplikasi travel, penginapan itu masih terdaftar sebagai penginapan aktif. Kasian kalau ada pengunjung yang kejebak," jelas Mumun.
"Biasanya sebelum ada laporan dari pihak penginapan, pihak aplikasi travel taunya masih aktif. Ini yang bikin banyak pengunjung kena zonk. Sama kaya aplikasi pesan makanan online. Di aplikasi masih aktif, taunya tempatnya udah tutup," balasku.
"Nah iya bener! Kaya gitu kurang lebih, Teh. Ya paling itu aja cerita dari saya. Makasi banget Teh udah mau dengerin."
"Oke deh Mumun, makasi juga ya udah nelepon ke Kisah Tengah Malam. Sehat selalu ya? Salam buat Jejen dan Romlah," ucapku menutup pembicaraan.
__ADS_1
"Sama -sama Teh Inoxu, sehat selalu juga ya?" balas Mumun sebelum mematikan sambungan.
"Itulah dia cerita Mumum dari Dago tentang pengalaman liburannya ke Solo. Buat pendengar yang mau berbagi kisah di Kisah Tengah Malam, bisa mengirimkan pesan berformat ke nomor 081210969. Satu lagu permintaan Lena Black Maesans dari Aura Kasih dengan Long Distance akan menjadi akhir Kisah Tengah Malam kali ini. Inoxu dan tim mohon pamit, sampai jumpa lagi dengan kisah-kisah lainnya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Aku mematikan mic dan diam sejenak karena rasa pusing yang tiba-tiba menyerang.
"Hei, Xu! Xu!" panggil Gia. Saat aku menengok, ia dan Remi sedang menatapku lekat.
"Siap-siap, itu lagunya udah mau selesai," ucap Remi.
Aku mengerutkan kening sesaat, "Lagu apa?"
"Itu lagu Korn yang direquest pendengar! Ih kamu kenapa sih Xu? Kok kaya yang ngga nyambung," tambah Gia.
"Lah, kan tadi udah! Siaran juga udah beres kok!" seruku heran.
"Ih si Xu ya! Mimpi kali dia. Kita baru mau siaran, liat tuh jam berapa ini? Cepetan standby, nanti narasumber kelamaan nunggu," Suara Gia terdengar kesal.
Aku terpana menatap jam yang menunjukkan pukul sebelas lebih sepuluh menit. Dengan hati berdebar, aku menyalakan mic begitu lagu yang diputar telah selesai. Ada yang harus kubuktikan!
"Itulah Korn dengan Narcissistic Canibal. Di ujung sambungan sudah ada narasumber kita yang akan bergabung dengan Kisah Tengah Malam. Halo? Dengan siapa di mana?" Aku bertanya dengan detak jantung yang semakin tidak beraturan.
"Dengan Mumun, Teh Inoxu. Di Dago."
Deg! Kedua telapak tanganku seketika menjadi dingin dan aku terhenyak. "Halo Mumun, mau cerita apa nih?" tanyaku untuk memastikan kembali.
"Mau cerita pengalaman waktu nginep di penginapan di Solo, Teh Inoxu."
"Silakan Mumun," aku hanya mempu mengeluarkan suara lirih.
"Jadi gini Teh, saya sama dua sepupu saya Jejen dan Romlah, suka banget traveling dengan budget murah. Istilahnya backpacker-an gitu. Biasanya—."
Aku tidak memperhatikan cerita dari Mumun karena aku sudah tau seluruh cerita yang akan ia ceritakan. Hatiku semakin tidak karuan ketika menyadari satu hal. Selain bisa melihat makhluk tak kasat mata, aku juga bisa melihat kejadian yang akan datang. Fix! Aku benar-benar abnormal sekarang.
__ADS_1